INTROSPEKSI DIRI:

Bergumul
Melihat Allah dan Diri Terlebih Dahulu

 

oleh:
Denny Teguh Sutandio

 

 

 

Mengapakah
engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu
tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu:
Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam
matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau
akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata
saudaramu."

(Mat. 7:3-5)

 

“Tuhan sering kali menggunakan dosa-dosa orang lain untuk
menyingkapkan kelemahan kita sendiri.”

(Rev. Bob Kauflin, Worship
Matters, hlm. 382)

 

 

 

Injil Matius 7:1-5 merupakan salah satu khotbah
Tuhan Yesus di bukit yang konteksnya berbicara tentang penghakiman. Jelas, 5
ayat tersebut bukan berarti bahwa Kristus melarang penghakiman sama sekali
(karena di ayat 21-23, Ia pun sedang menghakimi), tetapi Ia mengajar 2 prinsip
menghakimi: menghakimi dengan standar yang adil (Mat. 7:2) dan menghakimi diri
sendiri terlebih dahulu (Mat. 7:3-5). Artinya, sebelum menghakimi orang lain,
lebih baik lihatlah diri sendiri terlebih dahulu. Dengan kata lain, sebenarnya
Kristus sedang mengajar prinsip penting tentang apa itu introspeksi diri. Apa
arti introspeksi diri? Introspeksi diri berarti:

Pertama, melihat kaitan Allah
dengan diri. Di titik pertama, kita harus menyadari bahwa introspeksi diri
berarti berusaha mengaitkan perspektif Allah melihat setiap kita. Bagaimana
caranya? Dengan merefleksikan segala sesuatu yang Allah ajarkan baik melalui
Alkitab maupun khotbah yang benar-benar bertanggung jawab langsung pada diri
kita. Dengan kata lain, kita berkata kepada Allah seperti Raja Daud, 
“Selidikilah aku, ya Allah, dan
kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah
jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Mzm. 139:23-24) Sering
kali, kita lebih suka mengaitkan ayat Alkitab atau khotbah tertentu dengan
orang lain dengan mengatakan, “Wah, khotbah ini cocok untuk si X.” Kita lupa
satu hal bahwa khotbah dan Alkitab itu pertama-tama bertujuan untuk mengajar
dan menegur kita agar kita hidup makin memuliakan Allah. Saya tahu hal ini
tidaklah mudah, namun belajarlah mulai sekarang untuk selalu merefleksikan
setiap ayat Alkitab dan khotbah langsung kepada diri kita dan berhenti untuk
mengaitkannya dengan kesalahan orang lain.

 

Kedua, melihat diri terlebih
dahulu. Setelah mempersilahkan Allah mengenal dan menguji kita, maka pengenalan
kita akan Allah membawa kita untuk selanjutnya mengenal diri kita masing-masing
terlebih dahulu. Sejujurnya, kita sebagai manusia paling mudah untuk melihat
orang lain dan kelemahannya, bahkan sering kali kita mengingat kelemahan orang
lain lebih daripada kelebihannya. Kita paling mudah mengungkit kelemahan orang
lain dan menyebarluaskannya kepada orang lain. Bahkan ada yang sampai memalukan
kelemahan orang lain (X) di depan saudara-saudaranya, lalu berdalih untuk
menegur si X (demi kebaikan si X). Sampai titik ekstremnya, ada yang sampai
setiap malam terus memikirkan kelemahan orang lain dan bahkan tidak pernah
memikirkan kelemahan diri. Jujur, sebagai manusia berdosa yang diselamatkan
melalui anugerah Allah pun, saya tidak luput dari kelemahan itu, namun dengan
sekuat tenaga, saya terus berusaha untuk tetap melihat kelemahan sekaligus
kelebihan orang lain, meskipun itu sulit. Melihat orang lain itu bukan tidak
boleh, tetapi sebaiknya itu kita lakukan setelah kita melihat diri. Mengapa
kita diperintahkan Kristus untuk tidak terus melihat (dan menghakimi/menilai)
orang lain? Karena ketika kita terus-menerus melihat dan menghakimi orang lain,
kita merasa diri seolah-olah lebih hebat, pandai, bijaksana, dll daripada orang
yang kita lihat/hakimi tersebut dan itu lama-kelamaan mengakibatkan kita
menjadi sombong. Dan kesombongan termasuk salah satu dosa yang Tuhan benci,
karena itu berarti lebih mengandalkan diri ketimbang Allah, padahal diri
sendiri yang terbatas dan berdosa tidak layak untuk diandalkan! Untuk mengobati
kesombongan itu, Rev. Bob Kauflin dalam bukunya Worship Matters mengungkapkan, 
“Tuhan
sering kali menggunakan dosa-dosa orang lain untuk menyingkapkan kelemahan kita
sendiri.”
(hlm. 382) Di sini, kita belajar bahwa ketika kita terus melihat kelemahan dan
dosa orang lain, sebenarnya ada teguran Tuhan di situ bahwa hendaklah kita
terlebih dahulu melihat kelemahan kita sendiri. Misalnya, kita sering kali
melihat X itu munafik karena tingkah lakunya tidak sesuai dengan imannya, namun
sadarkah bahwa ketika kita melihat X itu munafik, sebenarnya Tuhan sedang
menggunakan cara itu untuk menyadarkan kita bahwa kita sendiri seorang yang
munafik? Jika demikian, adalah suatu hal yang bijak jika sebelum kita melihat
dan menilai orang lain, hendaklah kita melihat diri kita sendiri terlebih
dahulu. Benahi diri kita terlebih dahulu, baru kita melihat orang lain.
Artinya, ketika kita berusaha menilai X itu munafik, apakah di saat yang sama,
kita juga melihat diri kita juga sama-sama munafik? Kalau ya, biarlah kita
tidak terus menilai orang lain itu munafik sebelum kita membenahi diri kita.

 

Ketiga, menuntut diri terlebih
dahulu. Beberapa orang selain menilai orang lain, ternyata juga suka menuntut
orang lain untuk memenuhi keinginannya. Di dunia ini, banyak sekali orang yang
pandai menuntut orang lain (bahkan Allah), tetapi tak pernah menuntut diri
terlebih dahulu. Contoh praktisnya adalah sebuah curhat seorang wanita di surat
kabar Jawa Pos tanggal 4 Mei 2011 tentang suaminya yang suka mencemburuinya
ketika si istri berdiskusi tentang pekerjaan dengan rekan bisnis lawan jenis.
Si suami yang pencemburu ternyata sendiri juga akhirnya berselingkuh dengan
wanita lain. Dengan kata lain, si suami paling jago menuntut si istri untuk
setia dengannya, padahal si suami sendiri tidak setia dengan si istri. Bukankah
si suami sendiri tidak fair? Di dalam
Kekristenan, banyak pemimpin gereja kontemporer mengajar jemaatnya untuk
menuntut Tuhan dengan ajaran, “Name it
and claim it!” (Sebut dan Tuntutlah!) yang menyatakan bahwa klaimlah janji
Tuhan yang memberkati anak-anak-Nya. Orang-orang ini hampir tidak pernah
menuntut diri dan jemaatnya untuk benar-benar mengerjakan panggilan Tuhan
dengan sungguh-sungguh, namun hanya mau menuntut (baca: menagih) janji Tuhan,
seolah-olah Tuhan itu pelupa dan perlu diingatkan terus-menerus! Itu namanya
menghina Tuhan! Di negara kita sering terjadi demonstrasi para buruh menuntut
kenaikan gaji buruh, tetapi apakah mereka pernah menuntut diri mereka sendiri
untuk bekerja lebih keras sesuai kenaikan gaji yang diidamkannya? Ternyata
kebanyakan tidak. Mereka sambil berdemonstrasi menuntut hak asasi manusia (HAM)
mereka sendiri, tetapi mereka tidak sadar bahwa mereka pun sedang melanggar HAM
orang lain yaitu atasan mereka, karena aksi demo tersebut sudah mengurangi jam
kerja mereka (sudah mengurangi jam kerja, masih minta naik gaji? Cape dech)! 
Inilah wajah dunia kita yang
suka menuntut orang lain, tetapi enggan menuntut diri. Kristus mengajar kita
untuk menuntut diri terlebih dahulu. Ingatlah, ketika kita menilai X itu
munafik, padahal kita sendiri munafik, maka panggilan kita bukanlah mengubah
orang lain secara instan, tetapi menuntut kita terlebih dahulu untuk berusaha
bertobat untuk tidak munafik. Inilah wujud kita membenahi diri. Ketika kita
ingin pasangan hidup kita (dalam konteks: berpacaran dan menikah) setia,
tuntutlah diri kita terlebih dahulu untuk setia dengan pasangan kita! Tentu
kesetiaan kita ini bukan supaya kesetiaan kita dibalas oleh pasangan kita,
tetapi itu merupakan langkah awal sebagai respons kita telah ditebus oleh
Kristus. Sebagai orang yang telah ditebus Kristus, maka kita harus menjadi
garam dan terang bagi dunia dengan berkomitmen untuk hidup sesuai firman Allah
dan memuliakan-Nya, termasuk: suci, setia, jujur, tulus, dll.

 

Bagaimana dengan kita sebagai orang Kristen? Sudahkah
kebenaran firman Allah benar-benar menjadi dasar dan standar kita untuk melihat
Allah, melihat diri, dan menuntut diri terlebih dahulu ketimbang melihat dan
menuntut orang lain? Saya mengetahui hal ini sangatlah sulit, tetapi dengan
pertolongan Roh Kudus, bersediakah kita berkomitmen untuk melihat Allah,
melihat diri, dan menuntut diri terlebih dahulu ketimbang melihat dan menuntut
orang lain? Biarlah Roh Kudus terus-menerus menyadarkan kita untuk hidup bagi
kemuliaan Allah. Amin. Soli Deo Gloria.



“Tuhan sering kali menggunakan dosa-dosa orang lain untuk menyingkapkan 
kelemahan kita sendiri.”
(Rev. Bob Kauflin, Worship Matters, hlm. 382)

Kirim email ke