ALLAH ITU
MAHATAHU DAN MAHAHADIR, SO WHAT??

 

oleh: Ev.
Yuzo Adhinarta, Ph.D.

 

 

 

Teks Alkitab: Mazmur 139:1-12,
23-24

 

 

 

Apa yang ada di benak pemazmur
ketika mengutarakan kalimat-kalimat seperti dalam perikop yang kita baca? Apa
keunikan pengalaman Kristiani akan kemahatahuan dan kemahahadiran Allah jika
dibandingkan dengan pengalaman religius para pemeluk agama dan kepercayaan yang
lain?

 

Keunikan pengalaman Kristiani
bersifat fundamental dan esensial, selain juga tentunya bersifat individual dan
subjektif. Keunikan pertama terletak pada natur pengalaman Kristiani itu
sendiri, yaitu: pengalaman bergaul dengan satu-satunya Allah yang hidup, yang
menyatakan diri-Nya sebagai “TUHAN,” Allah yang esa dan sejati yang kita kenal
di dalam Kristus itu. Ia adalah Allah yang mendekatkan diri-Nya dan menjalin
relasi pribadi dengan kita. Bukan Allah menurut konsep manusia yang hanya
bertahta di singgasana imajinasi manusia. Namun, Ia adalah Allah yang
berinkarnasi, aktif menyatakan diri-Nya secara pribadi kepada orang-orang yang
dipilih-Nya, dan menjalin relasi dengan umat-Nya. Ia adalah “TUHAN” yang
“menyelidiki dan mengenal aku,” yang “mengetahui,” “mengerti pikiranku dari
jauh,” dan “memeriksa aku.” Ia adalah “Allahku,” bukan sekedar “konsepku” atau
“pikiranku” tentang Allah. 

 

Keunikan kedua, buah dari
keunikan pertama, adalah hadirnya transformasi hidup secara utuh. Pengalaman
bergaul dengan Allah yang hidup akan membawa seseorang masuk ke dalam dimensi
spiritual yang belum pernah dikenali dan dialami sebelumnya. Sebagaimana air
memancar keluar dari mata air, maka hidup yang baru (bukan semata aspek
kognitif atau kebiasaan hidup) juga mengalir dari roh yang diperbarui melalui
pergaulan dengan Allah ini. Pergaulan ini melibatkan totalitas hidup manusia
sedemikian rupa sehingga kemahatahuan dan kemahahadiran Allah itu tidak hanya
hadir dalam pikiran, namun dihayati dan termanifestasi dalam perasaan dan
tingkah laku sehari-hari. Ketika menghayati kemahatahuan dan kemahahadiran
Allah, pemazmur berseru: “Sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN. …
ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?” Betapapun bagusnya bahasa rohani yang
membungkus tingkah laku rohani seseorang, tapi jika tidak kembali kepada hidup
Alkitabiah, semua itu hanya religiusitas lips-service
dan antroposentris yang tidak lebih daripada fenomena kejiwaan manusia.
Sebaliknya, hidup Kristiani sejati adalah kehidupan yang selalu dipersembahkan
(Rm. 12:1-2) di hadapan dan hadirat Allah yang mahahadir (Luther: “coram Deo”), 
dan apapun yang kita
lakukan selalu “berurusan dengan Allah” (Calvin: “negotium cum Deo”). Lihat 
Yusuf (Kej. 39:8-9)!

 

Keunikan ketiga, manifestasi
keunikan kedua, adalah munculnya rasa takut akan Tuhan, rasa takut berbuat
dosa, dan ketulusan hati sebagai wujud penghayatan akan kemahatahuan dan
kemahahadiran Tuhan. Pemazmur menyadari bahwa sekalipun manusia berdosa
telanjang di hadapan Allah yang mahatahu dan mahahadir, namun manusia berdosa
masih sering berusaha untuk “menyemat daun pohon ara dan membuat cawat” bagi
dosa dan agenda pribadi. Seseorang yang memiliki pengalaman kepada Allah yang
otentik akan senantiasa dibawa kepada rasa ketelanjangan, dan pada saat yang
sama kerinduan untuk senantiasa disucikan dan dimurnikan. “Selidikilah aku,”
“ujilah aku,” dan “tuntunlah aku di jalan yang kekal” akan senantiasa menjadi
doa bagi orang-orang yang bergaul dengan Allah yang sejati. Tidak disangkali,
seseorang yang hendak menyembah Allah “dalam roh dan kebenaran” (Yoh. 4:24)
harus menumbuhkembangkan kepekaan akan kemahatahuan dan kemahahadiran Allah
ini.

  

Pertanyaan Refleksi:

·               
Apa
yang sebenarnya terjadi dalam diri (roh dan pikiran) Anda ketika Anda hidup
tidak sesuai dengan pengetahuan Anda akan kemahatahuan dan kemahatahuan Allah
ini? 

·               
Apa
yang menjadi penghalang utama Anda untuk mengalami kemahatahuan dan kemahadiran
Allah dalam hidup sehari-hari?

·               
Langkah-langkah
konkrit dan kreatif apa yang perlu Anda rencanakan dan lakukan untuk mengatasi
penghalang-penghalang di atas?  

 

 

 

Sumber:

http://www.facebook.com/note.php?note_id=459863749885

 

 

 

Profil Ev. Yuzo Adhinarta:

Ev. Yuzo Adhinarta, S.T., M.Div.,
M.Th., Ph.D. adalah dosen Theologi Sistematika dan Etika di Sekolah
Tinggi Theologi Reformed Injili Indonesia (STTRII) Jakarta. Beliau
menyelesaikan studi Sarjana Teknik (S.T.)
di bidang Teknik Sipil di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Surabaya; 
Master of Divinity (M.Div.) di STTRII
Jakarta; Master of Theology (M.Th.)
dalam bidang Theologi Sistematika dan Doctor
of Philosophy (Ph.D.) dalam bidang Theologi Sistematika dan Theologi
Historika di Calvin Theological Seminary, U.S.A. di Calvin Theological
Seminary, U.S.A. pada tahun 2003. Beliau telah menikah dan dikaruniai dua orang
anak: Jason Ken Adhinarta dan Janice Faye Adhinarta.

 

 

 

Editor
dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio.

 



“Tuhan sering kali menggunakan dosa-dosa orang lain untuk menyingkapkan 
kelemahan kita sendiri.”
(Rev. Bob Kauflin, Worship Matters, hlm. 382)

Kirim email ke