FIRMAN
TUHAN = KHOTBAH?

 

oleh: G. I.
Jeffrey Siauw, S.T., M.Div.

 

 

Dalam pertemuan-pertemuan
ibadah, sebelum pembicara berdiri di depan, biasanya liturgis atau worship
leader akan mengatakan “Kita akan mendengarkan Firman Tuhan”.

 

Memang pembicara biasanya
kemudian membacakan satu atau beberapa bagian Firman Tuhan. Tetapi saya kira
yang dimaksud liturgis atau worship leader dengan “Kita akan mendengarkan
Firman Tuhan” adalah “Kita akan mendengarkan khotbah”.

 

Khotbah bukanlah Firman Tuhan.
Saya kira tidak ada pengkhotbah waras yang berani mengangkat naskah khotbahnya
tinggi-tinggi sambil berseru “Ini adalah Firman Tuhan!”.

 

Kita bisa mendefinisikan
khotbah sebagai:

“Penjelasan akan Firman Tuhan
supaya pendengar mengerti Firman Tuhan”

“Usaha mengekspos pendengar
kepada Firman Tuhan sehingga mereka berhadapan langsung dengan Tuhan yang
berfirman”

 

Atau hal-hal yang serupa
dengan itu, tetapi jelas khotbah bukanlah Firman Tuhan itu sendiri.

 

Saya tidak bermaksud
menyalahkan liturgis atau worship leader
yang mengatakan “Kita akan mendengarkan Firman Tuhan”. Kalimat itu sah saja
karena memang dalam ibadah, Firman Tuhan akan diperdengarkan dan juga
dijelaskan.

 

Tetapi 2 hal yang ingin saya
ajak kita cermati:

Pertama, kalimat itu sudah
menjadi kalimat yang terlalu biasa diucapkan sehingga liturgis atau worship
leader, jemaat atau bahkan si pembicara sendiri, tidak terlalu menganggapnya
serius. Pokoknya apa saja yang akan dibicarakan oleh si pembicara langsung
disebut “Firman Tuhan”. Saya pernah datang dalam suatu persekutuan. Acaranya
adalah pemutaran film dan sebelum film diputar, si pembicara pertama-tama akan
memberikan pengantar film tersebut sebelum akhirnya nanti mengajak jemaat
mengkritisi film itu berdasarkan konsep Firman Tuhan. Jelas si pembicara tidak
akan mengajak membuka Alkitab, tidak membacakan Firman Tuhan dan tidak
menjelaskan arti Firman Tuhan. Tetapi worship leader sudah terlalu biasa
mengucapkan kalimat itu, maka ketika tiba waktunya si pembicara akan naik dan
memberikan pengantar film tersebut, dia langsung mengatakan “Kita akan
mendengarkan Firman Tuhan”. Kalau sampai sejauh itu, saya rasa kita sudah salah
kaprah.

 

Kedua, tidak jarang setelah
khotbah, jemaat mengatakan kalimat-kalimat seperti demikian:

“Wah Firmannya bagus sekali
Pak!”

“Firman Tuhan hari ini sangat
keras, tetapi kita harus belajar menerimanya”

 

Kalau memang yang dimaksud
adalah Firman Tuhan sesungguhnya (Alkitab), kalimat-kalimat di atas tidak
salah. Kalau yang dimaksud adalah penjelasan Firman Tuhan (khotbah) menolong
dia mengerti betapa indahnya rencana Tuhan yang tertulis dalam Alkitab, atau
karena khotbah itu dia mengerti teguran dari Firman Tuhan bahwa ada dosa-dosa
di mana dia harus bertobat, maka kalimat-kalimat di atas juga tidak salah.
Tetapi sering kali yang dimaksud adalah ‘khotbah’nya dan bukan ‘Firman
Tuhan’nya.

 

Mengapa saya mempermasalahkan
ini? Pertama ini berkaitan dengan definisi dan keseriusan kita memandang Firman
Tuhan. Kedua, saya tidak rela kalau ada pengkhotbah yang khotbahnya tidak
tepat, walaupun diuraikan dengan bagus atau ‘keras’, lalu orang bilang
“Firmannya bagus atau Firmannya sangat menegur”. Itu bukan Firman Tuhan! Bahkan
itu salah sama sekali karena tidak sesuai dengan Firman Tuhan!

 

Tugas pengkhotbah adalah
menjelaskan Firman Tuhan, membawa pendengar untuk mengerti Firman Tuhan dan
berespons kepada Firman Tuhan. Dia mungkin melakukannya dengan memakai
ilustrasi, menjelaskan latar belakang bagian-bagian Firman Tuhan, memakai
kalimat-kalimat dari theolog-theolog atau filsuf-filsuf, atau menceritakan
kesaksian hidupnya. Tetapi lewat semua itu, tujuan utama adalah supaya
pendengarnya mengerti dan mengamini Firman Tuhan.

 

Maka tidak semua yang
dikatakan di atas mimbar harus kita anggap Firman Tuhan. Setiap pengkhotbah
harus berpikir apakah melalui kalimat-kalimatnya, dia membawa jemaat mengerti
Firman Tuhan? Dan setiap jemaat, seperti yang pernah dikatakan Paulus
“menanggapi (menguji) apa yang mereka katakan”. Kalau khotbah itu memang
membawa kita mengerti Firman Tuhan dengan benar, mari kita bersyukur untuk 
bagian
Firman Tuhan itu dan kita bersyukur untuk khotbah yang disampaikan yang
menolong kita mengerti, dan akhirnya kita harus berespon kepada Firman Tuhan
itu sendiri. Bagaimanapun, kita harus taat kepada Firman Tuhan dan bukan kepada
khotbah.

 

 

 

Sumber:

http://jeffreysiauw.blogspot.com/2009/10/firman-tuhan-khotbah.html

 

 

 

Profil G. I. Jeffrey Siauw:

G.
I. (Guru Injil) Jeffrey Siauw, S.T., M.Div. adalah gembala sidang Gereja 
Kristus Yesus (GKY) Singapore.
Beliau menyelesaikan studi Sarjana Teknik
(S.T.) jurusan Teknik Industri di Universitas Trisakti, Jakarta dan Master of 
Divinity (M.Div.) di Institut
Reformed, Jakarta. Saat ini beliau sedang menyelesaikan studi Master of 
Theology (M.Th.) bidang
Perjanjian Baru di Trinity Theological College, Singapore. Beliau menikah
dengan Yudith.



“Tuhan sering kali menggunakan dosa-dosa orang lain untuk menyingkapkan 
kelemahan kita sendiri.”
(Rev. Bob Kauflin, Worship Matters, hlm. 382)

Kirim email ke