PRAYER – THE BEAUTY OF CHRISTIAN LIFE
oleh: Pdt. Hendra Gustiana Mulia, M.Th. Nats: Efesus 6:18b Pendahuluan Kalau kita melihat dalam ayat ini maka kata berdoa pasti akan berkaitan dengan pengalaman kita dalam berdoa atau bagaimana cara kita berdoa. Barangkali cara berdoa yang sering kita lakukan adalah dengan melipat tangan dan menutup mata. Lalu bagaimana mungkin kita dapat berdoa setiap waktu dengan cara demikian? Mungkinkah kita dapat melakukannya pada saat kita sedang berkendaraan? Ketika Paulus mengajarkan kita berdoa setiap waktu di dalam Roh maka seperti tidak ada artinya untuk kita karena mungkin hampir tidak pernah kita lakukan. Berdoa seperti menjadi sesuatu tata cara yang wajib kita lakukan atau menjadi suatu paksaan untuk kita di mana kita harus berdoa. Berdoa tidak lagi menjadi spirit di dalam kehidupan kita karena doa itu tidak dijalankan dengan kesungguhan hati dan tidak menjadi bagian yang semestinya dalam hidup kita. Apa sebenarnya berdoa setiap waktu di dalam Roh? Sebenarnya apa yang Paulus ajarkan dalam kitab Efesus ini adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Kalau kita membaca seluruh kitab Efesus maka sebenarnya Paulus menunjukkan bagaimana doa itu menjadi bagian dalam kehidupannya. Dalam Efesus 1:1-23, Paulus dalam teks asli bahasa Yunani terus-menerus berdoa. Kita dapat melihat bahwa kitab Efesus dimulai dengan doa, di tengah-tengah kitab Efesus pun, Paulus menyelipkan doa dalam Efesus 3:14-21 dan di akhir kitab Efesus, Paulus menyampaikan pesan untuk berdoa setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jaga di dalam doa dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang kudus. Dalam hal ini kita dapat melihat bahwa Paulus terus memberikan doanya di saat dia menulis surat Efesus ini. Seorang komentator memberikan komentar bahwa sebenarnya pada waktu Paulus menuliskan setiap kata atau kalimat di dalam surat Efesus ini maka kata-kata itu adalah a prayerfull words, kata-kata yang dilandasi dengan sebuah doa. Kata-kata yang bernafaskan doa dari awal sampai akhir kitab Efesus sehingga dapat dikatakan bahwa doa itu menjadi nafas di setiap kata, setiap bahasa yang muncul dalam kitab Efesus ini. Kita dapat melihat Paulus dengan contoh teladan yang diberikannya dimana Pulus menunjukkan bahwa doa itu seolah-olah membaptiskan setiap kata yang berada dalam kitab Efesus ini, yang mengaliri kata yang sejuk yang keluar dari satu mata air yang segar melalui doa-doanya. Itulah sebabnya Paulus berkata berdoalah senantiasa di dalam Roh. Kita tidak akan mengerti apa yang dimaksud Paulus dengan berdoa senantiasa di dalam Roh kalau kita hanya berdoa di malam hari dengan tata cara yang biasa kita lakukan. Ada suatu bentuk ajaran yang membagi doa dalam 4 bagian yang disingkat dalam ACTS. Mereka mengajarkan jemaat di dalam berdoa dengan 4 langkah yaitu : 1. A itu berarti adoration atau penyembahan atau memberi pujian kepada Allah 2. C itu berarti confession atau pengakuan kepada Allah 3. T itu berarti thanksgiving atau ucapan syukur kepada Allah 4. S itu berarti supplication atau permohonan kepada Allah Tidak ada yang salah dengan ajaran seperti ini, boleh-boleh saja kita melakukannya, hanya permasalahannya kita sebagai mempelai dari Tuhan, kita bayangkan bila kita setiap saat datang kepada Tuhan dengan tatacara berdoa seperti itu terus menerus maka kita akan merasakan kering, kita akan merasakan hambarnya suatu hubungan karena tidak adanya komunikasi timbal balik di mana kita lebih mendominasi dibandingkan Allah. Tuhan ingin kita berdoa setiap waktu di dalam Roh artinya di dalam Roh kita senantiasa ada di hadirat-Nya. Di dalam Roh, sebenarnya, sejak kita bangun sampai kita tidur kembali di malam hari maka kita selalu berada bersama-sama dengan Dia. Kita bisa berbicara dengan isteri atau suami atau juga dengan orang lain tanpa perlu menyusun kata-kata atau mengaturnya, bukan? Begitu juga ketika kita berdoa kepada Allah. Pada saat kita berdoa setiap waktu maka sebenarnya kita seperti berjalan senantiasa dengan seseorang yang kita kasihi. Prayer in the spirit menjadi suatu bagian yang indah dari doa kita bukan sekedar pada waktu kita berbicara tetapi juga termasuk pada saat kita diam tanpa berbicara tetapi kita berada senantiasa bersama dengan Tuhan. Kita dapat menikmati waktu bersama dengan Tuhan tanpa perlu kita mengatur kata-kata atau dengan segala tatacara, bahkan saat kita berdiam diri pun tanpa sepatah kata, kita masih dapat bersama-sama dengan Tuhan. Pada waktu kita sedang bekerja kita pun masih bisa menyiapkan waktu sekedar beberapa detik untuk berbicara dengan Tuhan atau pada saat jam istirahat kerja, kita menyediakan waktu beberapa menit untuk berbicara dengan Tuhan. Kalau kita bisa mengerjakan itu maka kita akan merasakan sukacita, kita akan merasakan indahnya hidup karena kita berjalan bersama dengan Tuhan yang kita kasihi dan yang sangat mengasihi kita. Penutup Setiap waktu kita bisa berbicara dengan Tuhan, seperti kita berbicara dengan anak-anak kita atau dengan orang yang kita kasihi dan setiap waktu pula kita bisa merasakan kasih Tuhan, merasakan kedekatan dengan Tuhan. Inilah yang menjadi keindahan hidup Kristen. Janganlah kita melewatkan kehidupan Kristen kita menjadi orang Kristen yang miskin. Kalau Tuhan berikan hidup Kristen yang indah, mari kita jalani satu kehidupan Kristen yang indah. Terlalu sering kita datang kepada Tuhan dengan berbasa-basi sehingga kehidupan Kristen kita menjadi kering, tidak mempunyai arti, tidak ada perubahan di dalamnya, hanya sekedar kewajiban yang harus kita lakukan dan kita tidak dapat menikmati indahnya hidup bersama dengan Tuhan. Untuk itu kita perlu berdoa setiap waktu agar kita dapat menikmati kehadiran Tuhan di setiap waktu, berada di dalam hadirat Tuhan setiap waktu dan di dalam setiap waktu itu kita berkomunikasi dengan Allah yang kita kasihi sehingga kita dapat mempunyai kehidupan Kristen yang indah. Tuhan Yesus memberkati kita semua. Sumber: Ringkasan Khotbah Kebaktian Umum I di Gereja Kristus Yesus (GKY) Green Ville, Jakarta hari Minggu, 5 Juni 2011 http://www.gkyjgv.org/index.php?option=com_blog_calendar&view=blogcalendar&Itemid=121 Profil Pdt. Hendra G. Mulia: Pdt. Hendra Gustiana Mulia, S.Th., M.Div., M.Th. dilahirkan pada tanggal 4 Februari 1952 dan memperoleh gelar Sarjana Theologi (S.Th.) dari Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang; Master of Divinity (M.Div.) dan Master of Theology (M.Th.) dari Reformed Theological Seminary, U.S.A. “Tuhan sering kali menggunakan dosa-dosa orang lain untuk menyingkapkan kelemahan kita sendiri.” (Rev. Bob Kauflin, Worship Matters, hlm. 382)

