Kehidupan
di dalam iman Kristen bukanlah sebuah kehidupan yang tanpa masalah dan selalu
mulus, namun penuh dengan berbagai macam pergumulan entah itu pergumulan yang
bersifat theologis-filosofis, praktis, maupun emosional, misalnya: digoncang
oleh berbagai filsafat dan sains modern yang meragukan Kekristenan, ditinggal
orang yang dikasihi, mengalami berbagai macam penderitaan, maupun dikecewakan
oleh pendeta/orang Kristen lain. Jangan heran, seorang Charles Templeton yang
dahulu seorang penginjil dan rekan Billy Graham menjadi seorang atheis. 
Bagaimana
kita sebagai orang Kristen menghadapi semua tantangan itu dan bagaimana pula
menguatkan orang Kristen lain yang menghadapi berbagai macam pergumulan iman
tersebut?

 

Temukan jawabannya dalam:

Buku

BATAS-BATAS IMAN

Bagaimana Tetap Beriman Saat:

é  
Tertimpa
Musibah

é  
Ditinggal
Orang yang Dikasihi

é  
Dikecewakan
Gereja

é   Digoncang Penemuan dan Pengetahuan yang
Meragukan Tuhan

 

oleh: Prof. Ruth A. Tucker, Ph.D.

 

Penerbit: Insight, PMBR Andi, 2005

 

Penerjemah: Widi Herijati dan Dono Sunardi.

 

 

 

Di
dalam bukunya Batas-batas Iman, Dr. Ruth A. Tucker tidak hendak melemahkan iman
kita, tetapi sedang memaparkan bahwa perjalanan iman Kristen adalah sebuah
perjalanan yang penuh dengan pergumulan dan pergumulan itu bukanlah pergumulan
sepele. Di dalam buku ini, ada 3 bagian. Bagian 1 yang terdiri dari 5 bab
memaparkan pengalaman pribadi Dr. Tucker, Charles Templeton, dll tentang
pergumulan iman mereka dalam mencari dan mengenal Allah. Di bagian 2, Dr.
Tucker mencoba menganalisis berbagai pergumulan tersebut, misalnya: ditinggal
anak yang terkasih (pengalaman Dr. Nicholas Wolterstorff), mengalami berbagai
musibah, dikecewakan oleh orang Kristen yang munafik, digoncang oleh filsafat
dan berbagai penemuan sains, dll. Melalui pengalaman pribadinya dan pengalaman
dari orang Kristen lain, Dr. Tucker menjelaskan bahwa pergumulan iman tersebut
dapat mengakibatkan seseorang meninggalkan iman Kristen atau bisa juga justru
menguatkan iman Kristen. Jangan heran, seorang yang dulunya berapi-api melayani
Tuhan akhirnya meninggalkan iman Kristen bahkan bisa mendorong orang lain untuk
menjadi atheis (Dr. Tucker menyebutnya “misionaris” atheis/ketidakpercayaan). 
Hal
ini dibahasnya di bagian 3 bukunya di bab 11 dan 12. Lalu, apakah iman Kristen
dapat dipercaya? Pada bagian 3 di bab 13 dan 14, Dr. Tucker mencerahkan pikiran
kita bahwa ada sisi iman Kristen yang merupakan misteri yang perlu kita sadari
dan misteri itulah wilayah iman yang tidak bisa dianalisis dengan pikiran kita.
Tugas kita bukan menjelaskan secara rasional misteri tersebut, namun
menerimanya dengan iman. Biarlah melalui buku ini, kita boleh bersyukur kepada
Allah tentang iman Kristen kita yang sungguh-sungguh agung, paradoks, namun
tetap misteri.

 

 

 

Profil Dr. Ruth A. Tucker:

Prof. Ruth A. Tucker, B.A., M.A., Ph.D. lahir di Spooner,
Wisconsin pada tanggal 17 Juli 1945. Beliau
pernah menjadi Associate Professor of Missions di Calvin Theological
Seminary, U.S.A. dari tahun 2000-2006. Beliau
menyelesaikan studi Bachelor of Arts (B.A.)
dalam bidang Sejarah di LeTourneau University, Longview, Texas; Master of Arts 
(M.A.) dalam bidang American Studies di Baylor University,
Waco, Texas; dan Doctor of Philosophy
(Ph.D.) dalam bidang Sejarah di Northern Illinois University, DeKalb, Illinois,
U.S.A. Beliau menikah dengan John Worst pada tanggal 28 Agustus 2004 dan
dikaruniai 1 orang anak: Carlton Rand Tucker, (yang lahir: 13 Juli 1974) serta
seorang cucu: Kayla Tucker (yang lahir: 19 Juni 1996). Beliau adalah anggota
jemaat di La Grave Avenue Christian Reformed Church.



“Tuhan sering kali menggunakan dosa-dosa orang lain untuk menyingkapkan 
kelemahan kita sendiri.”
(Rev. Bob Kauflin, Worship Matters, hlm. 382)

Kirim email ke