TUHAN,
AJARLAH KAMI BERDOA

(Seri Pengajaran Doa
Bapa Kami):

“Datanglah
Kerajaan-Mu”

(Mat. 6:10a)

 

oleh: Denny
Teguh Sutandio

 

 

 

Setelah
kita menguduskan nama-Nya, maka Kristus mengajar kita untuk mengharapkan
kerajaan Allah datang. Apa itu Kerajaan Allah? Kapankah itu datang?

 

Di
dalam Perjanjian Lama, Kerajaan Allah dimengerti secara fenomena yaitu Allah
yang menjadi Raja yang berdiam di bumi. Kerajaan-Nya itu ditegaskan-Nya di
dalam 1 Tawarikh 17:14, “Dan Aku akan menegakkan dia dalam
rumah-Ku dan dalam kerajaan-Ku untuk selama-lamanya dan takhtanya akan kokoh
untuk selama-lamanya.” Kata “dia” menunjuk kepada salah satu
anak Daud (ay. 11). Lalu, kata “kerajaan-Ku” di ayat 14 jelas menunjuk kepada
kerajaan Allah melalui umat Israel yang dimulai dari dibangunnya Bait Suci. 

 

Di
dalam Perjanjian Baru, kerajaan Allah/Sorga diperkenalkan pertama kalinya Di
dalam Matius 3:2, Yohanes Pembaptis berseru, “Bertobatlah, sebab Kerajaan
Sorga sudah dekat!” Berita ini juga diulang oleh Tuhan
Yesus sendiri di Matius 4:17. Apa itu Kerajaan Allah? Kerajaan Allah adalah
kerajaan di mana Allah berdaulat memerintah. Di dalam terang Perjanjian Baru,
kita belajar bahwa Kerajaan Allah tidak lagi berbentuk tempat yang jelas/nyata
di bumi seperti di dalam Perjanjian Lama, tetapi dimengerti sebagai sebuah
kondisi di mana Allah memerintah sebagai Raja baik di Sorga maupun di bumi di
mana hal itu direalisasikan oleh Kristus sendiri (Mat. 12:28). 

 

Karena
bukan berbentuk tempat di bumi, maka Kerajaan Allah di dalam Perjanjian Baru
juga dikaitkan dengan hal-hal kekekalan (Rm. 14:17) dan Injil Kristus sendiri
(Kol. 4:11). Di bagian lain, Kerajaan-Nya langsung dikaitkan dengan Sorga
(2Tim. 4:18).[1]

 

Dengan
berdoa “Datanglah Kerajaan-Mu”, kita diajar Kristus langsung untuk mengharapkan
kedaulatan Allah sebagai Raja itu datang kepada kita tatkala kita berdoa.
Dengan kata lain, kita diajar Kristus untuk mengharapkan Kerajaan Allah itu
memerintah atas doa dan hidup kita sehari-hari, sehingga doa dan hidup kita
berpusat kepada Allah saja. Dengan mendoakan hal ini, kita dituntut untuk
menyerahkan kepemilikan hidup kita kepada Allah sebagai Raja, sehingga hidup
kita total dikuasai oleh-Nya. Biarlah hidup kita benar-benar mencerminkan hidup
sebagai anak-anak Raja yang merajakan Kristus di dalam hidup kita sehari-hari.

 










[1] Dalam bahasa Yunani, “di Sorga” di
dalam 2 Timotius 4:18 seharusnya diterjemahkan: (Kerajaan) Sorgawi-Nya, karena
kata epouranion berbentuk kata sifat
(heavenly = Sorgawi).







“Tuhan sering kali menggunakan dosa-dosa orang lain untuk menyingkapkan 
kelemahan kita sendiri.”
(Rev. Bob Kauflin, Worship Matters, hlm. 382)

Kirim email ke