ORANG SADUKI

"Pada hari itu datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang
berpendapat, bahwa tidak ada kebangkitan." (Matius 22:23)

Berbeda dengan orang Farisi, data mengenai orang Saduki lebih sedikit, namun
keduanya sering dibicarakan bersama oleh Tuhan Yesus Kristus, karena
sekalipun pandangan keduanya sering bertentangan, keduanya sering hadir
bersama dan keduanya berperan besar dalam Mahkamah Agama (Sanhendrin)
sekitar masa ketika Tuhan Yesus hidup dan melayani di bumi. 

Asal Muasal Nama Saduki

Mengenai asal-usul orang Saduki tidak jelas, ada yang berpendapat bahwa
orang Saduki berasal dari keturunan Zadok yang di masa raja Salomo dianggap
sebagai garis keturunan imam yang murni (Yeh.44:15-;48:11), namun kenyataan
menunjukkan bahwa keluarga imam besar Hasmonian bukanlah keturunan bani
Zadok, dan adanya huruf 'd' ganda dalam tulisan bahasa aslinya (baik dalam
kata Ibrani maupun Yunaninya, dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan
satu huruf 'd'), kenyataan ini mendatangkan keraguan bahwa nama Saduki
berasal dari nama Zadok.

Ada empat teori mengenai siapakah orang Saduki itu: pertama, golongan ini
dianggap sebagai partai politik yang aktif dalam percaturan politik Yahudi;
kedua, dianggap sebagai partai agama karena peran mereka cukup besar dalam
Mahkamah Agama; ketiga, dianggap sebagai kelompok aristokrat di pedesaan
(berbeda dengan orang Farisi yang banyak berperan di daerah perkotaan); dan
yang keempat dianggap sebagai pejabat pemerintahan. Orang Saduki bersifat
eksklusif dan kurang bersahabat kepada pendukung mereka seperti sikap mereka
kepada orang asing, karena itu kurang banyak penganutnya di kalangan umum
kecuali beberapa pengikut dari kalangan berada. 

Orang Saduki umumnya menjadi imam dan pada awal pemerintahan Hasmonian
beberapa imam Saduki menduduki kursi di Sanhedrin dan berperan besar sebagai
imam termasuk ada yang menjadi imam besar, namun setelah masa Salome
Aleksandra (76-67 SM) peran itu dialihkan kepada orang Farisi. Di bawah
pemerintahan raja Herodes dan orang Romawi, orang Saduki kembali menduduki
sebagian besar kursi Sanhendrin, tapi setelah penghancuran Yerusalem oleh
tentara Romawi (70 M), kelompok ini menghilang. 

Siapakah Orang Saduki Itu?

Josephuslah yang pertama kali menulis tentang orang Saduki dan dikaitkan
dengan keberadaan orang Farisi dan Esenes yang bersama-sama hadir pada saat
Jonatan Makabe menjadi Imam Besar di tahun 152-143 SM (Ant.13:171-73). Pada
waktu itu orang Farisi yang paling menonjol perannya. Pada masa akhir
pemerintahannya John Hyrcanus (135-104 SM), orang Saduki berpisah dengan
orang Farisi karena Farisi menghendaki pemisahan  jabatan raja dari imam
besar, ini mengakibatkan raja mendekati orang Saduki. Pertentangan meningkat
dengan raja Alexander Janneus (103-76 SM) anak John Hyrcanus, namun sebelum
ia meninggal dunia, ia menyuruh isterinya Salome Alexandra yang
menggantikannya (76-67 SM) agar melibatkan orang Farisi disamping orang
Saduki dalam pemerintahannya karena orang Farisi makin meningkat
pengaruhnya. 

Orang Saduki dalam banyak hal bertentangan dengan Farisi dan memuncak ketika
Salome Aleksandra meninggal, Saduki memilih Aristobulus II anak Salome
sedangkan Farisi memilih John Hyrcanus II saudara Aristobulus. Ketika Roma
menguasai Yudea (63 M) John Hyrcanus II dipilih sebagai Imam Besar. 

Orang Saduki Pada Masa Tuhan Yesus Hidup Dibumi

Pada masa kehidupan Tuhan Yesus di bumi seperti yang tercatat dalam
Perjanjian Baru, kita dapat menjumpai beberapa keterangan tentang orang
Saduki, dan keberadaan serta kehadirannya sering disebutkan bersamaan dengan
orang Farisi (Mat.3:7;16:1,6,11,12;22:23-34; Luk.20:27-28;
Kis.4:1,2;23:6-8), bahkan Imam Besar Kayafas adalah pengikut Saduki
(Kis.5:17). Kayafas dan orang Sadukilah yang berada didepan dalam mengadili
dan menghukum Yesus yang dituduh ingin menghancurkan Bait Allah karena Yesus
pernah memberikan perumpamaan tentang Bait Allah yang dirubuhkan dalam tiga
hari (Mat.26:3,57; Mrk.14:53-65).

Orang Saduki terkenal konservatif, mereka hanya mengakui otoritas hukum
Torat yang tertulis dan kesucian Bait Allah, tetapi mereka menolak ajaran
tentang kekekalan roh, kehidupan sesudah mati dan kebangkitan (Mat.22:23),
dan juga tentang adanya malaekat dan setan. Orang Saduki percaya tidak ada
takdir atau pemeliharaan Allah, manusia memiliki kehendek bebas dan pilihan
bebas untuk menentukan yang mana baik dan mana bukan dan Tuhan tidak
berperan disini (Jos: Ant.13:173;J.W.2:164-65). Itulah sebabnya orang Saduki
sering berseberangan dengan Tuhan Yesus yang mengajarkan hal itu dan orang
Farisi yang mempercayai hal-hal itu. 

Salam kasih dari YABINA ministry (www.yabina.org) 

Kirim email ke