ORANG ZELOT

Berbeda dengan Farisi, Saduki, dan Samaria, tentang Zelot kurang banyak
dikenal pada umumnya seperti ketiga lainnya itu. Kata Zelot biasa dipakai
untuk menunjukkan sikap iman seseorang, tetapi juga ditujukan kepada
orang-orang yang tergabung dalam golongan tertentu yang mempraktekkan
keyakinan iman mereka secara khas yang menjadi golongan keempat yang secara
khusus disebut di kalangan yahudi di Yudea khususnya pada masa Tuhan Yesus
masih hidup didunia, ini bisa kita baca terutama dalam sumber literatur
non-biblikal yang beredar sekitar masa pelayanan Yesus seperti kitab
Deuterokanonika Makabe dan karya sejarawan Josephus. 

Arti kata Zelot

Simon, salah seorang murid Yesus disebut dalam Alkitab disebut sebagai orang
Zelot (Luk.6:15; Kis.1:13), mungkin disebut demikian karena sifatnya yang
'Zelot' (giat/rajin/patuh) atau termasuk golongan 'Zelot' yang
rajin/giat/patuh akan hukum-hukum Allah. Rasul Paulus menyebut dirinya
sebagai 'Zelot yang patuh akan agama' (Kis.22:3; Gal.1:14; Flp.3:6), dan
banyak anggota gereja mula-mula termasuk 'Zelot, rajin memelihara hukum.'
(Kis.21:20-22).

Golongan orang Zelot disebut Josephus sebagai kalangan Yahudi tertentu yang
mempercayai 'falsafah yahudi keempat' (Antiquities 18:1:1,6;23) dan Yudas
yang memimpin pemberontakan kepada Roma (6 M) dianggap sebagai penulisnya.
Josephus menyebut orang Zelot sebagai kekuatan politik sedini awal abad
pertama (Jewish War 4:161-64;4:208-14;4:283-389). Orang Zelot menolak
membayar pajak kepada raja kafir atas dasar bahwa itu merupakan penghianatan
kepada Allah, raja Israel yang benar. Mereka disebut Zelot karena mereka
mengikuti contoh Matatias, keluarga dan pengikutnya yang  menyerukan patuh
kepada hukum Allah ketika Antiochus IV menekan agama Yahudi (1Makabe
2:24-27)  dan teladan Pinehas, cucu Harun, yang menunjukkan kepatuhannya
akan hukum pada saat penyesatan melanda orang Israel di padang belantara
(Bil.25:1-15; Mzm.106:30-; 1Makabe 2:54). 

Asal Muasal Keyakinan Zelot

Menurut kitab yang ditulis deuterokanonika Bin Sirakh, Pinehas disebut
sebagai orang mulia yang ketiga dihadapan Tuhan setelah Musa dan Harun
(Sirakh 45:1,6,23-24). Semangat Zelot yang dikaitkan dengan nama 'Pinehas'
menunjukkan bahwa kegiatan/kerajinan/kepatuhan yang tulus akan hukum Allah
pada akhirnya dipercaya akan mendatangkan belas kasihan Tuhan, penebusan
kepada seluruh bangsa Israel, dan kembalinya berkat dan damai dari Allah.

Ketika pemberontakan Matatias pada tahun 6 M dihancurkan oleh penguasa
Romawi, mereka tetap menjaga semangat kepatuhan itu selama 60 tahun lamanya.
Anggota keluarga Yudas adalah pemimpin-pemimpin Zelot, dua dari anaknya
disalibkan oleh Alexander di tahun 46 M (Josephus, Antiquities 20:5:2), dan
yang ketiga, Menahem, berusaha merebut kepemimpinan pemberontakan terhadap
Roma pada tahun 66. Kegiatan orang Zelot meningkat pada waktu perang melawan
Romawi di tahun 66-73 M ketika Bait Allah dijarah oleh tentara Romawi.
Timbulnya ketidak puasan dikalangan para imam mendorong Eleazar, putra Imam
Besar Ananias, untuk memimpin pemberontakan. 

Semangat Orang Zelot

Semula mereka menang karena semangat agama mereka dan mereka merasa Tuhan
mengembalikan kemerdekaan mereka karena kesetiaan mereka, namun kemudian
karena tidak adanya kesatuan dikalangan Zelot sendiri karena banyaknya
fraksi didalamnya, mereka kemudian terdesak namun semangat Zelot mereka
masih terus terasa di kalangan Yahudi sampai waktu yang lama, tetapi sebagai
kelompok perlawanan dan kekuatan politik kegiatan mereka memudar sesudah
itu. Apalagi, untuk  meredakan kemarahan Roma, para imam kepala dan para
petinggi Farisi yang takut kehilangan posisi sosial dan politik di hadapan
penguasa Roma kemudian menjauhkan diri dari para pemberontak dan orang Zelot
itu sehingga terjadi pertentangan di kalangan yahudi sendiri. Jadi disamping
kurangnya kesatuan di kalangan Zelot sendiri, antara para pemberontak dan
golongan aristokrat di Yerusalem terjadi perbedaan kepentingan sehingga
mereka tidak sejalan.

Penghancuran Yerusalem sempat menyatukan Roma dan propinsi Siria yang
sama-sama ingin melebarkan sayap ke Yerusalem dan Palestina, apalagi pada
tahun 70 M, dibawah Titus Yerusalem dikalahkan dan Bait Allah dibakar dan
dihancurkan sampai rata dengan tanah. Dengan adanya peristiwa itu Zelot
sebagai kekuatan politik menghilang dan hanya tersisa sebagai semangat
keagamaan saja.

Salam kasih dari YABINA ministry (www.yabina.org).

Kirim email ke