HIDUP
YANG BERBUAH

 

oleh: Pdt.
Agus Gunawan, Th.M.

 

 

 

Nats: Yohanes 15:1-8, 16

 

 

 

Tuhan menghendaki buah yang nyata dari
hidup Kekristenan kita. Buah yang nyata dari gereja dan orang percaya. Kalau
kita periksa lebih dalam, memang seringkali kita melihat buahnya tidak ada.
Gereja dan orang percaya tidak menghasilkan buah yang nyata. Itu sebabnya ada
kekecewaan demi kekecewaan di luar sana terhadap gereja dan Kekristenan. Banyak
di antara kita bermimpi bahwa kita sudah betul-betul berbuah. Lagu-lagu yang
kita nyanyikan, kata-kata yang kita ucapkan berbicara mengenai menghasilkan
sesuatu, memuliakan Tuhan, berbuah dan menjadi terang tetapi kalau kita lihat
dan kita coba periksa, apakah kita sudah betul-betul sampai ke arah sana? Kalau
yang namanya berhasil, tentunya paling sedikit dapat dibuktikan secara
obyektif, ada di depan mata kita dan bukan berdasarkan impian yang subyektif.
Kalau kita mengklaim bahwa gereja atau orang Kristen itu berbuah maka mestinya
ada sesuatu yang bisa dibuktikan, yang tidak bisa dilawan atau disangkal oleh
orang lain kerena di dalam dirinya ada kebenaran. Kita dapat memperhatikan
kisah Daniel dalam masa 4 kerajaan, dia dipakai terus menerus karena tidak ada
orang yang bisa melampauinya dan Alkitab mengatakan dia tidak bisa dilawan. 

 

Seperti yang Tuhan Yesus katakan: “dari
buahnya pohon itu dikenal.” Dan “hendaknya terangmu
bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan
memuliakan Bapamu yang di sorga.” Kita rindu untuk berbuah dan berbuah yang
benar adalah bisa dirasakan dan orang bisa melihatnya. Ada pohon yang berbuah
sangat banyak, ada yang banyak, tetapi juga ada yang lebih sedikit karena pohon
itu sakit. Pohon itu sakit oleh karena ada benalu di dalamnya dan akhirnya kita
menyadari bahwa pohon itu butuh perawatan, disegarkan kembali untuk bisa
berbuah. Begitupun dengan kehidupan rohani orang percaya yang mengklaim dirinya
sudah berbuah, tetapi adakah bukti nyata di mana buah itu dirasakan oleh orang
lain? 

 

Dalam hal berbuah maka Alkitab mengatakan:

1.       Itu adalah visi, misi, target, gol dari Tuhan sendiri. 

Yohanes 15:16 mengatakan: “Bukan kamu yang
memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu,
supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang
kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” Di sini kita
melihat bahwa Tuhanlah yang menjadi inisiator utama di dalam proyek hidup kita.
Kita punya visi, misi, target dalam hidup kita tetapi kalau mengacu kepada ayat
ini, sebenarnya Tuhanlah yang di dalam kekekalan dan kuasa-Nya sudah menetapkan
kita, bukan hanya diselamatkan tetapi ditetapkan bahwa kita harus berbuah. Kita
percaya bukan karena kita memilih tetapi kita dipilih. Dibalik pemilihan itu
ada suatu target yang Tuhan beri yaitu supaya kita berbuah. Dengan kata lain,
hal berbuah bukan lagi opsi bagi orang percaya. Bahwasanya berbuah itu adalah
suatu mandat, perintah yang Tuhan berikan, yang sudah ditetapkan sejak lama.
Kita mempunyai tujuan, Tuhan ingin kita berbuah. Kita terlalu sering menekankan
kepada theologi anugerah. Memang tidak salah. Tetapi salahnya kita sering lupa
kepada theologi tentang buah. Kita mengalami dalam hidup ini bahwa Tuhan
memberikan anugerah-Nya, pemeliharaan-Nya tetapi yang dipertanyakan selanjutnya
adalah di mana buahnya itu?

 

2.       Relasi konstan dengan Allah yang terus-menerus. 

Tuhan Yesus berkata: “Tinggallah di dalam
Aku, di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Apa maksudnya tinggal?
Apakah “tinggal” sama dengan pergi ke gereja? Apakah “tinggal” sama dengan
pergi ke kebaktian doa? Inti dari kata “tinggal” adalah memiliki hubungan
relasi terus-menerus dengan Tuhan. Kita harus mengalami hubungan pribadi dengan
Tuhan secara terus-,menerus. Dia di dalam kita dan kita di dalam Dia. Dalam
bagian ini kita harus mau atau rela menyerahkan hidup dan membuka diri kepada
hubungan dengan Tuhan dan Tuhan tidak pernah memaksa. Kita tidak akan mempunyai
relasi yang baik dengan Tuhan kecuali kita membuka diri kepada Tuhan dan secara
sengaja kita memang mau berhubungan secara pribadi terus-menerus. Di sinilah
kita melihat bahwa di luar Tuhan kita tidak dapat berbuah apa-apa. Tidak bisa
berbuah apa-apa artinya di dalam dunia spiritual rohani, kita tidak bisa
melakukan apa-apa karena kita tidak mempunyai kekuatan. Sama seperti kipas
angin yang menghasilkan angin karena ada dynamo yang menggerakkannya tapi
jangan lupa kalau dia tak terhubung dengan sumbernya yaitu listrik maka tidak
akan menyala karena tidak akan ada kekuatan untuk menggerakkannya. Hidup
berbuah sangat dekat hubungannya dengan sejauh mana kita membiarkan diri kita
dipengaruhi oleh Tuhan Yesus. Banyak orang Kristen yang jatuh dalam satu model 
Kekristenan
yang monoton. Setiap pagi saat teduh, pergi ke persekutuan doa, datang ibadah
setiap Minggu, tidak salah memang, itu harus tetapi pertanyaannya apa yang
terjadi dengan ibadah itu. Apakah setiap kali kita ibadah, kita bertemu,
berkoneksi dengan Tuhan Yesus? Sejauh mana hubungan kita dengan Tuhan? Apakah
terjadi pertumbuhan atau tidak? Banyak orang bertahun-tahun menjadi Kristen
tanpa pertumbuhan apapun, jangankan bicara buahnya yang luar biasa, bahkan
prosesnya sendiri mengalami problem.

 

3.       Firman yang tinggal di dalam diri kita. 

Dikatakan bahwa “Jikalau kamu tinggal di
dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu
kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” ini berarti bukan hanya sekadar
komunikasi, tetapi bagaimana firman Tuhan itu ada di dalam diri kita. Ini bukan
sekadar membawa Alkitab dan membaca Alkitab, tetapi lebih dalam lagi yaitu
bagaiman proses firman yang kita baca atau kita dengar menjadi bagian di hidup
kita. Kita harus mengaplikasikan dalam hidup kita, barulah itu menjadi firman
yang hidup di dalam diri kita. Ribuan khotbah yang kita dengar, apakah otomatis
menjadi bagian yang kita lakukan? Banyak orang yang pikirannya penuh dengan
ayat-ayat Alkitab tetapi di hatinya tidak ada firman Tuhan. Melihat orang lain
tidak berbelas kasihan. Kita menjadi Farisi-Farisi yang tahu kebenaran tetapi
tidak pernah berusaha mengalami kebenaran itu di hati kita. Oleh karena ada
proses yang tidak dilakukan, koneksi yang terputus yaitu di mana kita berusaha
secara sengaja untuk melakukan firman Tuhan. Tidak mudah memang dan ini tidak
terjadi secara otomatis karena kita sudah terlalu terbiasa di dalam dosa dan
terbiasa untuk tidak melakukan firman. Untuk itu kita harus memulainya dari
sekarang melalui proses dengan melakukan firman Tuhan setiap hari dan bergumul
dengan firman Tuhan. Seperti Petrus yang berkata: “Guru, telah sepanjang malam
kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau
menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Kita tahu Petrus adalah seorang
nelayan yang berpengalaman dalam mencari ikan dan dia sudah bekerja keras
tetapi jawaban Petrus: karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga”
(Luk. 5:1-6). Perkataan ini menjadi lebih penting dan hasilnya terlihat. Mereka
menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Dengan
kekuatan kita maka kita tidak akan mampu tetapi dengan kekuatan Tuhan, kita
dapat melakukannya. Belajarlah untuk melakukan firman Tuhan, belajarlah untuk
melakukan kasih, Tanpa itu sulit bagi kita untuk mendapatkan perubahan dan
pertumbuhan yang signifikan. Banyak orang hanya mengklaim janji Tuhan tetapi
prosesnya tidak dilakukan, tidak melakukan perubahan sehingga janji itu tidak
pernah terjadi. 

 

4.       Proses aktif yaitu proses membuang.

Di sini dikatakan “Setiap ranting pada-Ku
yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah,
dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.” Artinya ada proses yaitu
membuang dan Tuhan akan melakukannya yaitu membuang apa yang tidak perlu di
dalam diri kita supaya kita bisa melangkah lebih lagi dan menghasilkan buah. Di
dalam prosesnya untuk menghasilkan buah bagi Tuhan, mungkin ada banyak hal yang
tidak perlu di dalam diri kita. Terlalu banyak rutinitas yang kita lakukan,
juga terlalu banyak rutinitas yang gereja lakukan tetapi tidak menghasilkan
apa-apa. Segala sesuatu yang tidak efektif dan yang membuat kita tidak berbuah
haruslah dibuang.

 

Penekanan berlebihan kepada theologi
tentang anugerah yang tidak dibarengi dengan buah menjadikan orang-orang
Kristen seperti pohon yang rindang, penuh dengan nyanyian, penuh dengan ornamen
tetapi tidak menghasilkan apa-apa. Marilah kita mengukur diri sendiri. Sudahkah
kita ada pertumbuhan? Sudahkah kita berbuah? Buah itu harus nyata, bisa
dibuktikan dan bisa dirasakan oleh orang lain. Jangan ada apapun yang membuat
kita tidak berbuah karena setiap ranting yang tidak berbuah akan dipotong-Nya. 

Tuhan Yesus memberkati kita semua. 

 

 

Sumber:

Ringkasan Khotbah Kebaktian Umum I Minggu, 21 Agustus 2011

http://www.gkyjgv.org/index.php?option=com_blog_calendar&view=blogcalendar&Itemid=587

 

 

 

Profil
Pdt. Agus Gunawan:

Pdt.
Agus Gunawan, S.Th., Th.M.
adalah Ketua sekaligus dosen Theologi Historika dan Theologi Sistematika di
Sekolah Tinggi Theologi Bandung. Beliau menamatkan studi Sarjana Theologi 
(S.Th.) di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT)
Malang; Master of Theology (Th.M.) di
Trinity Theological College, Singapore; dan Th.M. bidang Theologi Sistematika
di International Theological Seminary, U.S.A.

 



“Alkitab harus menjadi tolok ukur dan sarana untuk menilai segala hal dalam 
hidup setiap orang percaya.”
(Rev. Prof. Donald S. Whitney, Th.D., Spiritual Check-Up, hlm. 40)

Kirim email ke