KEKRISTENAN dan YUDAISME

Akhir-akhir ini ada kalangan di Indonesia yang mempopulerkan kembali
Yudaisme yaitu kembali ke akar yudaik, ke bahasa ibrani, dan kepada ajaran
yudaik seperti kembali menyebut nama YHWH, menjalankan hari-hari raya
yahudi, dan melakukan syariat taurat. Berikut beberapa tanggapan yang
diterima serta diskusinya:

(Tanggapan-1) Saya ingin bertanya hubungan antara orang Kristen dengan orang
Yahudi. Saya mengerti bahwa orang Kristen adalah orang Israel/Yahudi secara
rohani. Namun bagaimana hubungannya secara fisik? Saya melihat ada kalangan
di Indonesia yang kelihatannya cukup "dekat" dengan Israel, terlihat dari
sikap mereka kembali menjalankan hari-hari raya dan tahun baru Yahudi.

(Diskusi-1) Di seluruh dunia, sejak abad ke-19 memang ada gerakan untuk
kembali ke Zion karena orang-orang Israel yang eksklusif makin sulit hidup
dinegeri orang dan timbulnya anti-semitisme mendorong mereka rindu kembali
ke Zion untuk mendirikan negara sendiri (Zion diartikan kota Yerusalem dan
juga tanah Israel). Gerakan yang kemudian dikenal sebagai Zionisme itu
semula bersifat politik karena kebanyakan orang yahudi sudah menjadi
sekuler, namun gerakan ini makin meluas dan sebagian kecil diantaranya ada
yang bermotif agama yang beranggapan bahwa kesatuan Israel hanya bisa
diperoleh melalui kembali kepada akar yudaik, yaitu kebangsaan, keagamaan,
dan bahasa Ibrani.

            Gerakan Zionisme sangat aktif di USA apalagi ditunjang
orang-orang yahudi Amerika yang kaya serta berpengaruh, dan disana gerakan
ini mempengaruhi kalangan kristen terutama beberapa sekte kristen tertentu
yang tumbuh diakhir abad ke-19, seperti Saksi-Saksi Yehuwa  yang menekankan
nama  Jehovah/Yehuwa, Gerakan Adventisme yang menekankan hari Sabat, dan
Gerakan Nama Suci yang menekankan penggunaan nama YHWH dan merayakan
hari-hari raya dan tahun baru Yahudi.

            Yesus dan para Rasul tidak mengajarkan kembali ke agama yahudi
melainkan kembali kepada Allah, pencipta langit dan bumi. Kita sudah
dimerdekakan hukum Taurat dan syariatnya oleh Injil Anugerah Keselamatan
yang diajarkan dan ditebus oleh Tuhan Yesus diatas kayu salib. Jadi kalangan
yang disebut diatas ingin kembali kepada tradisi dan ajaran Perjanjian Lama
sebagai usaha manusia, sedangkan kekristenan mengajarkan agar kita
memperbaharui PL dengan hati yang baru dan mengikuti Perjanjian Baru dan
dipenuhi Roh Kudus agar umat dipenuhi dengan iman, pengharapan, dan kasih.
Sikap kita sebagai umat kristen sebaiknya tidak kembali kepada ke'yahudi'an
melainkan kembali kepada Yesus sebagai Tuhan dan Kristus, dan hubungan
kekristenan dengan yudaisme tidak ada kecuali bahwa yudaisme berkaitan
dengan kebangsaan dan tradisi yahudi yang kita mengerti dalam terang
Perjanjian Lama.

(Tanggapan-2)  Bagaimana dengan adanya kalangan yang mendorong jemaatnya
untuk berziarah ke Israel dan mendoakan kota Yerusalem dan berorientasi
kepada ibadat di Yerusalem? 

(Diskusi-2) Bila ada orang yang ingin berkunjung (bukan ziarah yang artinya
kunjungan yang berkaitan dengan ritual agama) ke Israel dan menapak-tilasi
perjalanan hidup Yesus dan para Rasulnya ketika mereka melayani di Yudea,
tentu tidak apa-apa karena umumnya umat kristen yang mampu dapat pergi,
namun kalau kunjungan itu kemudian dibelokkan oleh semangat zionisme tentu
tidak sesuai Injil apalagi kalau kita terseret sikap politik yahudi. Kita
semua harus mendoakan kota Yerusalem maupun kota-kota lain diseluruh dunia,
Yerusalem secara khusus yang rawan konflik politik, namun itu tidak perlu
dibelokkan seakan-akan kita mau berorientasi kembali kepada ibadat yang
berkiblat ke Yerusalem (sentripetal). Yesus dalam amanat agung
penginjilannya mengingatkan kita agar menerangi Yerusalem dan ke seluruh
Yudea sebagai saksi Injil kasih karunia, dan terus ke Samaria sampai keujung
bumi (Kis.1:8, sentrifugal). Demikian juga ketika wanita Samaria menanyakan
mengenai kiblat ibadat ke Yerusalem atau Gunung Gerizim di Samaria, Yesus
mengatakan bahwa mereka tidak beribadat di keduanya melainkan menyembah Bapa
dalam 'roh dan kebenaran' (Yoh.4:21-23). Menyembah dalam roh dan kebenaran
banyak diuraikan oleh Yesus dan para rasul terutama Paulus, bahwa itu
berarti ibadat secara rohani dalam iman, pertobatan dan kasih, dan
meninggalkan ritual merayakan hari-hari raya Yahudi termasuk hari Sabat
sesuai tradisi taurat PL melainkan berakar dalam Injil kasih karunia PB.

(Tanggapan-3)  Bukankah sebaiknya kita kembali ke akar yudaik karena baik
bangsa dan bahasa Ibrani itu adalah bahasa asal bangsa-bangsa dan
bahasa-bahasa dunia dan digunakan di surga sejak awal?

(Diskusi-3) Perlu dipahami dengan benar bahwa dari sejarah bangsa-bangsa dan
bahasa, kita mengetahui behwa bangsa dan bahasa Ibrani itu bukan bangsa dan
bahasa awal. Bangsa Ibrani semula berasal keturunan bangsa Aram, dan mereka
disebut orang Ibrani sejak mereka menyeberang ke Kanaan (Ibri = yang
menyeberang). Semula bangsa yang disebut 'orang ibrani' itu belum berbahasa
dan bertulisan Ibrani, melainkan berbahasa Aram, tetapi setelah pertemuan
dengan bangsa Kanaan dan Funisia, mereka baru mengembangkan bahasa tulis
ibrani. Bahasa Ibrani kuno masih ditulis dengan aksara Funisia. Ketika bani
Israel masih di Mesir mereka masih disebut keturunan Aram, dan baru pada
abad 12 SM, ketika mereka sudah merupakan satu kesatuan bangsa maka
terbentuklah bahasa tulis Ibrani. Jadi, berdasarkan hal ini, maka kita tidak
perlu menjadikan yudaisme sebagai akar apalagi kalau menyebutnya sebagai
bahasa surga karena ia sebenarnya berakar dalam bahasa dan budaya lain. 

(Tanggapan-4)   Tapi bukankah YHWH itu bahasa Ibrani dan merupakan nama Bapa
dari kekal sampai kekal sejak di taman Eden?

(Diskusi-4) Tidak ada bukti arkeologis yang menunjukkan bahwa nama YHWH itu
berasal dari taman Eden dan sudah disembah sejak zaman awal sejarah, soalnya
ketika keluarga nenek moyang  Israel masih di Kanaan, mereka menyembah dalam
nama 'Elah Yisrael' (band. Ezr.5:1: 6:14 dalam bahasa Aram. Elah dalam
bahasa Arab dibaca alah). Nama YHWH tidak diturunkan di tanah Israel
melainkan di tanah Arab sebagai tuhannya orang Median (atau Keni) dan banyak
petunjuk menunjukkan nama itu baru dikenal di Sinai oleh Musa dan ditengarai
berasal dari kata Arab yang artinya mengarah pada 'angin/badai gurun').

Berdasarkan beberapa tanggapan dan diskusi diatas hendaklah kita maklum
bahwa umat kristen menganut ajaran Yesus dan para rasul seperti yang ditulis
dalam Perjanjian Baru, sehingga kita perlu melihat Perjanjian Lama dengan
kacamata Yesus dan para Rasul dan bukan sebaliknya seakan-akan kita harus
kembali kepada ibadat yudaik atau kembali kepada semangat yudaisme. 

Kiranya Diskusi diatas memperjelas Tanggapan yang diajukan.

Salam kasih dari YABINA ministry  <http://www.yabina.org> www.yabina.org.

Kirim email ke