HIDUP ADALAH KRISTUS

 

oleh: Pdt.
Tommy Elim, M.Div.

 

 

Nats: Filipi 1:18-26

 

 

Kalau kita perhatikan perkataan Rasul
Paulus dalam Filipi 1 ini khususnya ayat 21 dikatakan : “Karena bagiku hidup
adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Perkataan ini menjadi fondasi atau
dasar yang perlu ada dan perlu dibangun di dalam hidup kita. Kalau fondasi ini
terus kita pertahankan, kita pelihara dan terus kita tumbuhkan maka fondasi ini
akan menjadi fondasi yang mengarahkan seluruh aktifitas yang kita jalankan
dalam segala aspek kehidupan kita. 

 

Kata “mati adalah keuntungan” di sini dapat
diganti dengan “mati adalah Kristus”, karena dalam ayat-ayat selanjutnya Rasul
Paulus mengungkapkan bahwa meninggalkan dunia ini berarti berdiam bersama
dengan Kristus, sehingga hidup adalah Kristus dan mati adalah pergi berdiam
bersama Kristus. Dapat dikatakan di sini hidup adalah Kristus dan mati adalah
Kristus. Bagi Rasul Pausul, seluruh kehidupannya yang menjadi pengarah atau
yang menggerakkannya adalah karena Kristus. 

Ilustrasi: Seorang ibu yang harus mengasuh anaknya
dan menjadi tiang keluarga karena suaminya meninggal. Ibu ini bisa menjadi
kokoh, kuat karena keberadaan anak yang masih kecil, yang membuatnya harus
berjuang hidup dan melawan semua keletihan hidup. Dalam hal ini maka bagi ibu
ini, hidup adalah anak dan mati adalah anak. Baginya anak itu adalah sesuatu
yang menggerakkannya, yang mengarahkannya sehingga seluruh hidup berjuang untuk
anak.

 

Ketika Rasul Paulus berkata hidup adalah
Kristus dan mati adalah Kristus maka mati berarti kembali bersama-sama dengan
Kristus. Ini berarti seluruh kehidupan kita harus kembali kepada Kristus.
Perjalanan di tengah-tengah dunia ini jangan pernah kita menjalaninya tanpa
kembali dan tanpa terarah kepada Kristus. Setiap kita seharusnya mempunyai
akar, karena kalau kita tidak mempunyai akar maka hidup kita tidak akan kuat
dan akar kita itu seharusnya adalah kembali kepada Kristus. Inilah yang Rasul
Paulus katakan. Kesukaan kita bukan sekedar menikmati apapun juga tetapi lebih
daripada itu, kesukaan kita adalah kembali kepada Kristus. Apa artinya kembali
kepada Kristus?artinya hidup itu harus kita arahkan kepada Dia. Hidup adalah
Kristus bukan berarti kita harus berada di gereja terus menerus. Kita boleh
menikmati hidup dengan pergi berjalan-jalan tetapi hidup kita bukan hanya
pelampiasan rasa kepenatan kita dengan pergi jalan-jalan, Hidup bukan hanya
pelampiasan karena pelampiasan tersebut bisa menjadi hedonis, semangat untuk
menikmati dunia yang begitu luar biasa sehingga hal itu bisa mendominasi hidup
kita dan bukan ini yang menjadi arti hidup kita.tetapi yang harus terjadi
adalah hidup kita kembali kepada Dia. Kita boleh menikmati semuanya itu, tetapi
ketika menikmati baik itu pergi jalan-jalan, mudik atau merayakan liburan maka
kita harus melihat bahwa semua itu adalah anugerah Tuhan, berkat dari Tuhan.

 

Sebagai orang Kristen kita harus mempunyai
perspektif yang berbeda. Mazmur 113:3 mengatakan : “Dari terbitnya sampai
kepada terbenamnya matahari terpujilah nama TUHAN.”
Dari terbit sampai terbenamnya matahari, ada banyak hal yang kita lalui tetapi
kita harus tetap berkata : Terpujilah nama Tuhan. Kalimat dalam Mazmur 113:3
ini mengajak kita untuk mengkonsentrasikan hidup kita di mana hidup adalah
Kristus. Pertanyaannya adalah dari semua aktifitas yang kita lakukan, dari
terbitnya matahari sampai terbenamnya, apakah kita betul-betul sudah memuji
nama Tuhan? Dari semua itu kalau kita melihat Kristus yang menjadi sentralnya
maka kita akan melihat perjalanan hidup meskipun berat tetapi di daam perjalan
itu tetap ada Kristus yang harus dinyatakan.

 

Ketika Rasul Paulus berkata hidup adalah
Kristus dan mati adalah keuntungan, maka ada dua sisi yang dapat kita lihat. 

1.            
Kita dapat melihatnya dalam ayat 21
dan dikaitkan dengan ayat 20 maka Rasul Paulus mengatakan : “Sebab yang sangat
kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh
malu, melainkan seperti sediakala, demikian pun sekarang, Kristus dengan nyata
dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.”

Di sini Rasul Paulus berbicara kepada kita,
ternyata ketika kita hidup di tengah dunia ini maka ada suatu penilaian yang
bukan saja Tuhan yang menilai tetapi juga dunia menilai kita,. Rasul paulus
berkata kalau hidup adalah Kristus maka itu membuat kita dalam melakukan segala
aktifitas jangan sampai membuat malu. Ketika kita akan menjalani hari esok maka
kita harus menjalani dengan perspektif yang berbeda. Ketika Iblis datang dan
bertemu dengan Tuhan dalam kisah Ayub, Iblis berkata kepada Allah mengenai Ayub
tetapi Allah tidak speechless terhadap kehidupan Ayub yang demikian
saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Jangan sampai
Allah speechless terhadap kehidupan kita. Kita ke gereja, kita
pelayanan, kita melakukan ini itu tetapi hidup kita bukan adalah Kristus. Mari
kita kembali dengan perspektif bahwa hidup adalah Kristus dan jangan sampai
membuat hidup kita menjadi malu. Ada sebuah kualitas kehidupan yang harus kita
nyatakan dan kita harus mengupayakan hal itu meskipun itu tidak mudah karena
hidup adalah Kristus.

 

2.            
Kita dapat melihat ayat 21 dan
dikaitkan dengan ayat 22 maka Rasul Paulus mengatakan : “Tetapi jika aku harus
hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang
harus kupilih, aku tidak tahu.”

Di sini Rasul Paulus berbicara mengenai
hidup adalah Kristus artinya hidup bekerja memberi buah. Seluruh hidup kita
pasti kita menginginkan hasil. Kita bekerja pun menginginkan hasil tetapi hasil
apa yang mengerakkan hidup kita untuk membanting tulang, baik bekerja, study,
atau melakukan perjalanan hidup keluarga, hasil apa yang kita harapkan? Sangat
mungkin buah yang kita harapkan, kita ingin menghasilkan materi yang lebih.
Tidak salah memang, tetapi kalau ini yang menjadi orientasi kita maka
pertanyaannya apakah ini yang menjadi artinya hidup adalah Kristus dengan buah
seperti itu? Atau kita ingin mendapatkan prestasi yang lebih tinggi lagi, lebih
terkenal, lebih hebat lagi, apakah itu yang ingin kita capai? Dalam dunia saat
ini memang itu yang ditawarkan dan itu yang memacu kerja kita. Ketika Rasul
Paulus berkata hidup artinya bekerja memberi buah maka bukan buah itu yang
paling utama. Kalau kita perhatikan di dalam ayat-ayat selanjutnya maka yang
Rasul Paulus maksudkan adalah adanya sebuah warisan yang bukan bersifat fisikal
tetapi sesuatu yang kita wariskan secara moral, rohani kepada orang-orang yang
ada di sekeliling kita. 

 

Ketika kita menghadapi hari esok dengan
tanggung jawab yang begitu banyak maka mari kita berprinsip bahwa hidup adalah
Kristus dan kita boleh lebih berkenan dihadapan Dia. Biarlah kita mengarahkan
hidup kita kepada Kristus sehingga ketika kita menjalani seluruh permasalahan,
kejenuhan dan keletihan hidup maka kita tetap menjalaninya dengan sebuah
perjalanan yang tetap menjadi kekuatan karena hidup ini kita arahkan hanya
kepada Kristus.

Tuhan Yesus memberkati kita semua.

 

 

 

Sumber:

Ringkasan Khotbah Kebaktian Umum I di
Gereja Kristus Yesus (GKY) Green Ville, Jakarta hari Minggu, 4 September
2011

http://www.gkyjgv.org/index.php?option=com_blog_calendar&view=blogcalendar&Itemid=587

 

 

 

Profil
Pdt. Tommy Elim:

Pdt.
Tommy Elim, S.Th., M.Div.
yang lahir di Kupang, 15 September 1971 adalah gembala sidang Gereja Kristus
Yesus (GKY) Green Ville, Jakarta. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi 
(S.Th.) dan Master of Divinity (M.Div.) di Sekolah
Tinggi Theologi Reformed Injili Indonesia (STTRII) Jakarta. Beliau menikah
dengan Suk Ie dan dikaruniai seorang anak: Charissia (Tjia Ce).

 



“Alkitab harus menjadi tolok ukur dan sarana untuk menilai segala hal dalam 
hidup setiap orang percaya.”
(Rev. Prof. Donald S. Whitney, Th.D., Spiritual Check-Up, hlm. 40)

Kirim email ke