HIDUP TETAPI
MATI

 

oleh: Pdt.
Bigman Sirait

 

 

 

KATA Yesus kepadanya: Akulah jalan dan
kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak
melalui Aku (Yoh. 14:6). Ayat ini agung sekali, untuk kita mengenal
Yesus.  Jalan di sini bukan jalan yang dinjak-injak, tetapi yang membawa
kita kepada Tuhan. Kebenaran di sini bukan benar dalam ukuran sebuah status,
tetapi yang membenarkan. Dan hidup bukan seperti hidup yang bisa kita amati,
tetapi yang menghidupkan. Dia adalah Kristus yang menghidupkan hidup orang
sesudah jatuh ke dalam dosa. Alkitab berkata, “Kalau kau memakan buah itu kau
mati”. Manusia memakannya, lalu mati. Rohaninya mati, jasmani juga dalam proses
menuju kematian. Di era Adam umur orang masih ribuan tahun. Di zaman Nuh 
kira-kira
120 tahun, dan di zaman Musa sisa 70 tahun.

Dari perubahan itu kita bisa melihat perubahan manusia yang sangat luar biasa.
Manusia yang tadinya hidup sempurna di Taman Eden kini tidak lagi sempurna.
Manusia yang punya kekekalan dalam dirinya kehilangan nilai itu. Maka manusia
mengalami keterpisahan dari Allah, membuat manusia tidak bisa kembali kepada
Allah. Mau kembali, jalan sudah ditutup. Yang bisa bikin manusia kembali cuma
Yesus. Karena manusia sudah berdosa, tidak bisa ketemu Allah. Yesus membenarkan,
lalu ketemu Allah. Karena sudah dibenarkan, manusia sekarang punya kehidupan.

 

Karena sudah dibenarkan manusia dilepaskan
dari kuasa dosa, dan punya kehidupan. Manusia mempunyai harapan, dikembalikan
ke kekekalan, dikembalikan ke gambar semula, citra yang sejati. Manusia hidup,
bukan saja hidup di dalam fisik tetapi juga di dalam kerohaniannya karena sudah
berdamai dengan Allah, kembali kepada khaliknya. Kalau manusia mencari lewat
agama apa pun tidak akan pernah bertemu, tetapi Yesus membawanya untuk bertemu.
Tetapi untuk menghidupkan manusia yang telah mati, Yesus harus mengalami
kematian itu, dan menjamin kehidupan itu. Dia bangkit dari kematian. Mati-Nya
membayar kematian kita, bangkit-Nya menjamin hidup kita. Mati-Nya membayar dosa
kita, bangkit-Nya menjamin hidup kita. Ini kelebihan Kekristenan yang harus
dipikirkan orang-orang Kristen dan memegangnya teguh.

 

Banyak konsep tentang hidup tetapi tidak
ada yang bisa menjelaskan hidup itu apa. Pertama, konsep materialisme.
Materialisme maksudnya bahwa segala yang ada cuma materi, yang bisa diukur dan
dilihat. Jadi orang materialisme tidak percaya adanya roh, tidak percaya yang
tidak kelihatan, tidak percaya Tuhan, sekaligus tidak percaya setan. Mati bagi
mereka adalah mati. Hidup adalah yang kelihatan saja. Jadi hidup mati biasa
saja. Kemudian ada konsep dualisme, yang mengatakan bahwa tubuh adalah penjara.
Jiwa ada di dalamnya. Karena jiwa bersifat kekal tidak mungkin mati. Jika tubuh
mati, jiwa kembali. Tetapi kembali ke mana, tidak jelas. Siapa yang mengatur
kembalinya jiwa itu, tidak ada yang bisa menjawab.

 

Apa kata Alkitab tentang hidup? Kitab
Kejadian 2:7 mengatakan, Allah menciptakan manusia dan memberi napas kehidupan,
dan mulai beraktivitas. Hidup adalah napas Allah, anugerah Allah.  Tidak ada
manusia yang hidup karena ingin hidup, atau memilih hidup. Tidak ada manusia
yang hidup dengan sendirinya. Manusia hidup karena Allah memberi kehidupan.
Sayang, manusia tidak menaati ketentuan Alah.  “Jangan makan buah itu!”
Tetapi manusia memakannya dan kehilangan hidup itu. Manusia sekarang hidup
dalam dosa. Manusia sekarang hidup dalam kekacauan. Amos 5: 6 berkata, “Carilah
Tuhan maka kamu akan hidup”. Karena Tuhanlah yang memberi hidup. Karena Dialah
sumber hidup. Di luar Dia engkau tidak akan bisa hidup. Kalau begitu manusia
harus kembali kepada Allah, manusia harus  berdamai dengan Allah, tetapi
bagaimana caranya? Di situ Yesus menjawab: “Akulah jalan. Akulah yang
menyucikan dosamu sehingga engkau bisa bersekutu dengan Allah. Dengan demikian
kau dapat hidup, karena Akulah kehidupan yang menghidupkan engkau”. 





Struktur yang Kuat

Struktur ini kuat sekali. Mau dihantam dari
logika mana, silahkan. Paling tidak coba bandingkan dengan agama lain.
Tunjukkan di mana kelemahan konsep Kekristenan ini. Kalau orang tidak bisa
menerima, itu masalah lain lagi. Soal dia menerima, itu urusan Tuhan. Hanya
saja, kita sebagai orang Kristen, dalam persekutuan kita dengan Tuhan, harusnya
memahami hal ini. Kalau tidak, buat apa kita hidup. Itu namanya kita menghina
iman kita. Buat apa percaya kepada Yesus? Buat apa percaya kepada salib jika
kita tidak mengerti nilai hidup yang sudah diberikan? 

 

Sesudah manusia ditebus Yesus, pencarian
akan Tuhan sudah selesai, tetapi bukan karena manusia menemukan Tuhan tetapi
karena Yesus datang mencari manusia.  Ini iman yang kuat dalam orang Kristen:
“Aku hanya beriman kepada Anak Allah, kalau tidak beriman sama saja dengan
mati”. Jadi banyak orang hidup yang mati. Ini istilah dari Nabi Yehezkiel:
Orang-orang Israel seperti mayat  berjalan. Ini untuk menggambarkan orang
yang di luar Yesus: hidup tetapi mati. Yesus mengkritik ahli-ahli Taurat, “Hai
orang-orang Farisi, kalain ini tidak lebih daripada kuburan. Luarnya dilapisi
marmer putih, dalamnya busuk luar biasa!”  Ini juga kritikan terhadap
orang Yahudi.

 

Jadi hidup bukan tentang aktivitas, tetapi
kualitas (mutu di dalam). Dikatakan dalam Wahyu, orang percaya tidak perlu
takut, karena orang percaya mati satu kali hidup dua kali. Orang yang tidak
percaya, hidup satu kali mati dua kali. Artinya, hidup setelah mati, itu hidup
kekal. Sementara orang di luar Kristus, hidupnya satu kali, matinya dua kali.
Sudah mati meninggalkan dunia mati pula dalam kekekalan. Mati dua kali. Karena
itu, jangan takut mati. 

 

Maka kehidupan membuat kita bergairah.
Kehidupan membuat kita kuat, kita mempunyai pengharapan yang kuat akan Tuhan.
Mestinya sudah sepantasnya orang Kristen kuat,  wong hidup sudah menjadi
kekuatan hebat, dan mati bukan apa-apa. Lalu apa lagi yang kau takutkan? Yang
paling ditakuti orang adalah kematian. Sekarang kematian sudah jelas bagi kita,
yaitu hidup yang kekal. Lalu apa yang ditakutkan? Ketakutan hanya muncul karena
ketidaktahuan. Ketakutan hanya muncul karena kurang iman kepada Tuhan,

Waktu kapal guncang murid-muris ketakutan. Yesus bangun menghardik ombak.
Berhenti! Usai menghardik ombak, Yesus menghardik murid: Hai kalian yang tidak
percaya berapa lama lagi kalian akan percaya? Tragis. Yesus bersama mereka,
masih takut. Kita juga begitu, mengaku percaya kepada Yesus tetapi masih luar
biasa takut. Kristus adalah kehidupan. Jadi untuk apa kita takut? Kalau kita
beriman kepada Dia, kenapa takut?
Takutlah kalau kau hidup dalam dosa. Takutlah kalau kau hidup di luar Kristus.
Takutlah kalau kau hidup tidak dalam doa, atau tidak bersekutu dengan Dia.
Takutlah jika kau sudah tidak punya rasa takut lagi terhadap Tuhan. Orang yang
hidup di dalam Tuhan berjalan menuju surga yang kekal. Mereka hidup menerima
anugerah Tuhan yang kekal.



(Diringkas dari CD khotbah
oleh Hans P. Tan)

 

 

 

Sumber: http://reformata.com/news/view/5896/hidup-tetapi-mati

 

 

 

Profil
Pdt. Bigman Sirait:

Pdt.
Bigman Sirait
adalah Ketua Sinode dan gembala sidang Gereja Reformasi Indonesia (GRI)
Antiokhia, Jakarta (www.gri.or.id) sekaligus sebagai Pemimpin
Umum Tabloid Reformata. Beliau mendirikan Yayasan MIKA yang bergerak dalam
dunia pendidikan dengan Sekolah Kristen Makedonia, di Kalimantan Barat. Beliau
saat ini sedang mengambil studi Master of
Divinity (M.Div.) di Sekolah Tinggi Theologi Reformed Injili Indonesia
(STTRII) Jakarta.

 

 

 

Editor
dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio

 



“Alkitab harus menjadi tolok ukur dan sarana untuk menilai segala hal dalam 
hidup setiap orang percaya.”
(Rev. Prof. Donald S. Whitney, Th.D., Spiritual Check-Up, hlm. 40)

Kirim email ke