Hidup
manusia adalah hidup yang bernilai, karena manusia diciptakan segambar dan
serupa dengan Allah. Karena bernilai, maka manusia perlu mengembangkan suatu
pola hidup yang beres yang memiliki etika. Dengan beretika, manusia bisa
membedakan mana yang benar dan salah dan kemudian melakukan apa yang benar. Di
dalam Kekristenan, hal ini lebih dimungkinkan, karena standar kebenaran itu ada
di dalam Allah dan firman-Nya. Seperti apakah etika Kristen itu?

 

Temukan jawabannya dalam:

Buku

ETIKA KRISTEN: Pilihan dan Isu

 

oleh: Prof. Norman L. Geisler, Ph.D.

 

Penerbit: Literatur Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang,
2001

 

Penerjemah: 

Wardani Mumpuni, S.S. dan Pdt.
Rahmiati Tanudjaja, D.Miss.

 

 

 

Pada 7
bab awal di buku ini, Prof. Norman L. Geisler, Ph.D. mengemukakan 6 pandangan
etika yang berlaku baik dalam Kekristenan maupun non-Kristen, yaitu:
antinomianisme, situasionisme, generalisme, absolutisme total, absolutisme
konflik, dan absolutisme bertingkat. Keenam pandangan tersebut diuraikan oleh
Dr. Geisler mulai dari latar belakang munculnya pandangan-pandangan tersebut,
para tokoh, pandangan-pandangan mereka, dan evaluasi Dr. Geisler terhadap
keenam pandangan tersebut. Dari keenam pandangan tersebut, tampaknya Dr.
Geisler memegang pandangan terakhir, yaitu absolutisme bertingkat yang
mengajarkan bahwa ada hukum moral Allah yang absolut dan universal, namun
karena kita hidup di dunia yang tidak sempurna, maka tentunya kita pasti
menghadapi konflik antara 2 hukum moral (misalnya mengasihi dan berkata jujur),
jadi solusinya: kita harus mengutamakan hukum kasih (kita harus memilih salah
satu dari hukum moral Allah tersebut), bukan absolutisme kaku/total. Dr.
Geisler menjelaskan bahwa pandangan ini TIDAK sama dengan etika situasionisme
ala Joseph Fletcher, karena situasionisme hanya mengakui kasih sebagai hukum
absolut, akibatnya kalau semua dilakukan oleh dasar kasih, maka free-sex pun 
dilegalkan, sedangkan
absolutisme bertingkat tidak demikian.

Dengan
pandangan absolutisme bertingkat ini, Dr. Geisler mulai masuk ke dalam
aplikasinya dari bab 8 s/d 16 yang membahas isu-isu etika, seperti: aborsi,
eutanasia, biomedis, hukuman mati, perang, sikap terhadap pemerintah,
homoseksualitas, pernikahan dan penceraian, dan ekologi. Bagi saya, 
pendekatan-pendekatan
yang Dr. Geisler ambil adalah pendekatan-pendekatan yang seimbang dan bijaksana
sesuai dengan Alkitab. Biarlah melalui buku ini, kita makin mengerti seberapa
dalam dan bijaknya etika Kristen yang Alkitabiah dan kita dipanggil untuk
mengerjakan etika itu di dalam kehidupan kita sehari-hari demi memuliakan
nama-Nya. Soli Deo Gloria.

 

 

 

Profil
Dr. Norman L. Geisler:

Prof. Norman L. Geisler, B.A., M.A., Th.B., Ph.D. (http://www.normangeisler.net)
adalah president di Southern Evangelical Seminary, Charlotte,
Carolina Utara, U.S.A. Beliau juga ikut menandatangani the 1978 Chicago 
Statement on Biblical
Inerrancy. Beliau menyelesaikan studi Bachelor of Arts (B.A.) dalam bidang 
Filsafat dan Master of Arts (M.A.)  dalam bidang Theologi dari Wheaton
College, U.S.A.; Bachelor of
Theology (Th.B.) dari William Tyndale College, U.S.A.; dan Doctor of Philosophy 
(Ph.D.) dalam
bidang Filsafat dari Loyola University, Chicago, U.S.A. Beliau
menulis banyak buku, di antaranya: General
Introduction to the Bible (Moody), Christian
Apologetics (Baker), Inerrancy
(Zondervan), The Battle for the
Resurrection (Thomas Nelson), When
Critics Ask (Victor Books), dll.

 



“Alkitab harus menjadi tolok ukur dan sarana untuk menilai segala hal dalam 
hidup setiap orang percaya.”
(Rev. Prof. Donald S. Whitney, Th.D., Spiritual Check-Up, hlm. 40)

Kirim email ke