MENYAMBUT GERAKAN REFORMASI oleh: Pdt. Ir. Andi Halim, S.Th. Menjadi orang Reformed seharusnya menangkap semangat dari gerakan Reformasi. Semangat yang pasti harus ada, adalah semangat pembaharuan yang terus menerus. Orang Reformed seharusnya tidak statis (mandeg) dan puas diri tanpa menuntut diri untuk harus lebih maju. Hal lain yang juga harus diperhatikan adalah semangat untuk berjuang, berkorban dan kerja keras. Menjadi orang Kristen digambarkan sebagai prajurit Kristus. Menjadi prajurit tidak mungkin bersikap santai, enak-enakan dan hidup hanya mementingkan diri sendiri, melainkan terus berjuang mati-matian dengan penuh waspada untuk mematuhi perintah komandannya dalam menghadapi musuh. Perjuangan Reformed bukan untuk mementingkan diri sendiri, tetapi untuk menegakkan kebenaran. Dunia sedang mencari kepuasan untuk diri sendiri, mencari hal-hal yang hanya bersifat sementara, mencari kenikmatan, dan kalau tokh kebenaran, adalah kebenaran yang dibuat dirinya sendiri. Reformed menegaskan, bahwa kebenaran bukan berasal dari logika manusia atau pengalaman, tetapi kebenaran berasal dari wahyu Allah, yaitu firman Tuhan. Orang yang orientasinya mencari kepentingan dirinya sendiri adalah orang yang belum diperbaharui hatinya atau belum tersentuh oleh anugerah Allah yang luar biasa itu. Orientasi pada kepentingan diri sendiri adalah hal yang yang diinginkan manusia duniawi, yang hanya memikirkan kedagingan dan tidak mempedulikan akan nilai-nilai sorgawi yang datang dari Allah. Manusia yang sudah diperbaharui hatinya diproses terus menerus untuk berorientasi hanya bagi kemuliaan Allah (Theocentris). Banyak juga orang yang mau mengutamakan kebenaran, tetapi bagaimana cara menemukan kebenaran yang sungguh-sungguh bersumber dari Alkitab, hal ini membutuhkan ketekunan belajar. Salah satu ciri semangat Reformed yang tidak boleh dibaikan, adalah semangat belajar seumur hidup untuk mengenal kebenaran dan hidup diubahkan makin sesuai dengan kebenaran itu sendiri. Menghadapi ajaran yang menyimpang, adalah bukan hal yang asing sepanjang sejarah gereja. Menjadi orang Reformed bukan cukup puas asal saya tidak sesat, tetapi memiliki hati yang penuh dengan keprihatinan melihat domba-domba yang masih tersesat dengan ajaran-ajaran yang tidak bertanggung jawab. Maka semangat yang dinamis untuk berapologetika, membela untuk mempertanggung jawabkan iman yang dipercayai dalam menghadapi penyesat-penyesat adalah spirit yang harus terus menerus dipelihara dan dikobarkan. Mari, kita bukan hanya jadi penonton dalam gerakan Reformed, tetapi kita adalah pejuang-pejuang Reformed yang boleh dipakai Tuhan untuk pelebaran kerajaan Allah di muka bumi dan menegakkan prinsip-prinsip kitab suci yang secara dinamis mempengaruhi zaman dimana kita hidup dan zaman yang akan datang. Sumber: http://www.remove.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=75:menyambut-gerakan-reformasi&catid=29:artikel&Itemid=44 Profil Pdt. Andi Halim: Pdt. Ir. Andi Halim, S.Th.adalah gembala sidang Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Ngagel, Surabaya dan Ketua Sekolah Theologi Reformed Injili Surabaya (STRIS) Ngagel. Beliau menyelesaikan studi Insinyur (Ir.) di Universitas Kristen Satya Wacana dan Sarjana Theologi (S.Th.) di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang. Beliau menikah dengan Eunice Martini dan dikaruniai 3 orang anak: Abraham Timothy Halim, Esther Priscilla Halim, dan Rebecca Elizabeth. “Alkitab harus menjadi tolok ukur dan sarana untuk menilai segala hal dalam hidup setiap orang percaya.” (Rev. Prof. Donald S. Whitney, Th.D., Spiritual Check-Up, hlm. 40)

