MAMMON, PENGGODA SEXY
 
oleh:Ir. Bachtiar
Candra, M.M.
 
 
Kita
Cenderung Memberikan Cinta Sejati Justru Kepada Mammon dan Kepada Tuhan Sekedar
Cinlok.
 
Krisis ekonomi AS yang
sedang berlangsung adalah potret betapa hidup manusia sangat dikuasai dan
dibuat tidak berdaya oleh Mammon.  Manusia memang cenderung memilih Mammon
dan tidak mampu memilih Tuhan.  Pada saat kita tidak dengan tegas memilih
Tuhan, berarti  kita memilih Mammon dan relasi kita dengan Tuhan pun
menjadi dingin. Mammon memang penggoda nomer wahid, Monster yang tampil sangat 
sexy ibarat  Angelina Jolie yang
tampil telanjang bulat dalam film Beowulf. 
Siapa pun cenderung jatuh ke dalam perangkapnya.  Pendeta yang hampir tiap
minggu khotbah dan tidak jarang memimpin bible
study pun tertangkap basah sedang bercumbu mesra penuh birahi dengan sang
Mammon.
 
Apa yang membuat Mammon
begitu besar pengaruhnya terhadap manusia?
Pertama, karena Mammon bersedia
dikuasai dan diperalat.  Tetapi pada saat dikuasai dan diperalatlah,
Mammon mencengkeram manusia, membuat manusia tidak berdaya untuk dijadikan
budaknya.  Bahkan negara adidaya seperti AS dibuat kelimpungan oleh tipu
daya Mammon seperti krisis keuangan yang sedang terjadi.  Sebaliknya
Tuhan, walaupun maha kasih dan maha baik, tidak akan pernah dapat dikuasai dan
diperalat oleh manusia. Tuhan tetap selalu maha kudus, maha kuasa dan
satu-satunya the Most High.  Sikap manusia terhadap Tuhan hanya
tunduk total, atau meninggalkan Tuhan.  Perbedaan signifikan inilah yang
membuat orang cenderung memilih memberikan cinta sejatinya kepada Mammon, dan
kepada Tuhan hanya cinlok di gereja pada hari minggu.
 
Memang akhir-akhir ini ada
kecenderungan dari beberapa orang yang menyebut diri “pendeta”, berupaya
menguasai dan memperalat Tuhan.  Mereka membual sepertinya 
kesembuhan dan kemakmuran  ada di tangan dan kehendaknya, yang dengan
bebas kapan dan kepada siapa mereka mau berikan.  Mereka mengatas-namakan
Tuhan yang ditampilkan dengan senantiasa memegang  Alkitab terbuka di
tangannya, tetapi  menipu “jemaat”nya dengan pola hidup “matrek” yang
dikuasai Mammon. Sikap mereka sama dengan guru-guru palsu yang diungkapkan
oleh rasul Petrus di gereja mula mula dalam 2 Petrus 2. 
 
Guru-guru palsu masa itu
sepertinya tidak menentang doktrin gereja, tetapi mereka merusak jemaat melalui
“gaya hidupnya” yang immoral (greedy, arrogant, lust, act by instinct like
wild animals, insatiable, slaves of destructive habits) dan menjalin
selingkuh dengan sang Mammon seperti Bileam anak Beor yang cinta uang. 
Mereka hanya mengutamakan bagaimana memuaskan hidup bukan memaknainya dalam
Tuhan.  Kalau cuma memuaskan hidup sebenarnya tidak perlu doktrin, karena
doktrin dan kebenaran hanya dibutuhkan oleh seseorang yang memaknai hidupnya.
Celakanya banyak orang tertarik dengan ajaran dan pola hidup matrek ini. 
Pada akhirnya rasul Petrus mengingatkan bahwa Tuhan sudah menyediakan tempat
yang cocok bagi mereka, yaitu tempat yang gelap sehingga mereka bebas berbuat
semaunya tanpa harus ada rasa was-was ketangkap basah lagi. 
 
Kedua, karena kita manusia sering
tidak puas dengan kehidupan kita, yang berarti, kita sebenarnya tidak puas
dengan Tuhan.  Ketidak-puasan kita kepada Tuhan bukan karena kita
kekurangan trust karena Tuhan tidak riil.  Bukankah di atas uang dolar
tertulis “in God we trust”?  Krisis keuangan yang katanya sudah berubah
menjadi krisis ekonomi di AS adalah bukti bahwa manusia kebablasan trust kepada 
perusahaan-perusahaan yang
sebenarnya mereka tidak kenal.  Mereka berani dan percaya meminjamkan
uang tabungan hidupnya dalam bentuk saham, surat berharga kepada peminjam,
perusahaan atau institusi yang sebenarnya tidak riil bagi mereka karena mereka
belum pernah bertemu.  Jadi bukan masalah tidak adanya trust, tetapi tidak
adanya rasa puas dengan Tuhan. 
 
Rasa tidak puas dengan Tuhan
ini juga yang dialami Hawa sehingga membimbingnya  menghampiri dan
akhirnya memakan buah dari pohon tentang baik dan jahat.  Rasa tidak puas
bahwa Tuhan memberikan yang terbaik kepada setiap anakNya berarti berpersepsi
negatif kepada Tuhan. Rasa tidak puas inilah yang persis diciptakan si ular
pada Hawa, bukan?  Oleh karena rasa tidak puas itu, banyak orang berusaha
cari uang cara cepat dan membangun kehidupan melebihi kemampuannya dengan jalan
KREDIT yang berlebihan, bukan sekedar untuk kebutuhan tetapi untuk keinginan,
seperti perkataan: “We buy things that we don’t need, to attract 
people who don’t care, with money we don’t have.” 
 
Rasa tidak puas sulit
membuat kita dapat bersyukur kepada Tuhan dan mengasihi sesama. 
Sebaliknya, rasa tidak puas akan membawa kita menjadi greedy, rakus
karena takut.  Sejak dulu,  kira-kira tahun 1987,  sudah ada
film yang menggambarkan pola kehidupan ini,  Wall Street yang dibintangi
oleh Michael Douglas sebagai Gordan Gekko dengan statementnya yang terkenal 
“greed… is good & money never
sleeps.”  Di dalam kehidupan yang dikuasai Mammon hanya satu hukumnya, zero sum 
game bukansharing prosperity.  The profit is
mine, the loss is yours. 
 
Selain greedy, Mammon
membuat mangsanya alergi terhadap tanggung jawab.  Padahal tanpa tanggung
jawab tidak mungkin seseorang dapat menyangkal diri dan memikul salib untuk
selanjutnya mengikut Kristus.  Sifat tidak mau bertanggung jawab akan
membuat orang berupaya sebisa mungkin untuk melemparkan semua tanggung jawab ke
pihak lain, yang dalam krisis ekonomi kali ini salah satu wujudnya dikenal
dengan nama CDS (Credit Default Swap).  Maka tidaklah mengherankan
kalau dikatakan bahwa tidak ada satu orang pun yang dapat menghitung secara
pasti berapa besar kerugian dalam krisis ekonomi AS kali ini,  dikarenakan
panjangnya mata rantai  yang diciptakan orang untuk membuang tanggung
jawab.  Sifat tidak mau bertanggung jawab juga terlihat dari sikap gambling 
yang tinggi, tidak peduli terhadap resiko yang mungkin terjadi, seperti yang
terjadi dalam krisis ekonomi saat ini. 
 
Memang sulit bagi orang yang
sudah terbiasa berkubang dalam lumpur Mammon, walau sudah menjadi Kristen
sekali pun, untuk dapat berubah dengan meninggalkan Mammon dan memilih
Tuhan.  Kalau tidak menyangkal diri dan memikul salib tiap hari, seseorang
tidak akan dapat mengikut Yesus (Mat. 16:24).  Sulitnya bagi mereka yang
cinta Mammon untuk mengikut Yesus oleh Tuhan Yesus sendiri diibaratkan seperti
onta yang tinggi masuk lubang kecil di malam hari, karena pintu gerbang kota
sudah tutup.  Onta tersebut harus melipat kakinya dan merangkak perlahan
memasuki “lubang jarum” (Mat. 19:24).  Coba perhatikan cara para pengusaha
(yang katanya Kristen sekali pun) dalam berbisnis.  Kalau bisa semua
pesaingnya dimatikan.  Mereka seperti serigala yang haus memangsa serigala
yang lain – “act by instinct like wild animals” – kata rasul
Petrus.  Jadi tepat benar apa yang dikatakan Tuhan bahwa kita tidak dapat
menyembah Tuhan dan Mammon.  Kita diminta untuk memilih. 
 
Hanya pada saat kita puas
kepada Tuhan, kita mengalami fulfillment dan kita dimampukan bersyukur
dan bahkan mengasihi sesama, sehingga kita dapat berkata seperti Daud
dalam Mazmur 23….
Tuhan
itu gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan  aku di padang yang
berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang: Ia menyegarkan jiwaku. Ia
menuntun aku di jalan yang benar oleh karena namaNya. Sekalipun aku berjalan
dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gadaMu
dan tongkatMu, itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku,
di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh
melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku;
dan aku akan diam dalam rumah Tuhan sepanjang masa.
 
Apakah kita merasakan rasa syukur
bergejolak dalam diri dan rasa takjub kepada Kristus ketika membaca perkataan
Daud ini?  Kalau demikian halnya, berarti kita melihat hidup ini bukan
sekedar harus dipuaskan dengan fokus dari pagi sampai malam mengejar power,
position, pleasure, & possession.  Melainkan hidup ini ada
kaitannya dengan rencana agung Tuhan dalam penciptaan dan penebusan-Nya di
mana kita telah ditetapkan oleh Tuhan sebagai pemeran utamanya. 
Sebaliknya, jika perkataan Daud di dalam Mazmur 23 tidak memberikan effect pada 
saat kita membacanya,
jangan-jangan tipu muslihat Mammon sudah masuk dalam diri kita. 

Selamat merenungkan. Tuhan memberkati. (Bachtiar Candra 10.2008)
 
 
 
Sumber:
http://www.ppa.or.id/artikel/mammon-penggoda-sexy-367.html
 
 
 
Profil
penulis:
Ir.
Bachtiar Candra, M.M.yang lahir pada tanggal 26 Januari 1955 adalah Direktur 
Management Consultant
Quantum.
 
“Alkitab harus menjadi tolok ukur dan sarana untuk menilai segala hal dalam 
hidup setiap orang percaya.”
(Rev. Prof. Donald S. Whitney, Th.D., Spiritual Check-Up, hlm. 40)

Kirim email ke