Bagaimana dengan istiadat adat batak?? 
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: "Redaksi" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sat, 14 Jan 2012 11:19:16 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: JNM - Sincia dan Tradisi Tionghoa

SINCIA & TRADISI TIONGHOA

"Mengapa kamu pun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek
moyangmu? Sebab Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu." (Matius
15:3-4a)

Bulan Januari tahun 2012 diisi dua perayaan tahun baru yaitu Tahun Baru
Masehi (1 Januari) yang dirayakan secara global mengikuti peredaran bumi
mengelilingi matahari (tahun matahari), dan Tahun Baru Imlek (Sincia, 23
Januari ) yang dirayakan di kalangan Tionghoa/Cina mengikuti perputaran
bulan mengelilingi bumi (tahun bulan). Bagaimana sikap orang Tionghoa yang
telah mengaku percaya dalam menghadapi perayaan Sincia itu? 

Selain orang Yahudi, tradisi/adat-istiadat orang Tionghoa terbilang tua yang
dipegang secara turun-temurun oleh masyarakat Tionghoa pada umumnya dan
sekalipun mereka tinggal di perantauan, umumnya masih menjalankan tradisi
nenek-moyang itu secara eksklusif di China Town / Pecinan. Untuk mengetahui
seluk beluk perayaan Sincia kita perlu mengetahui latar belakang budaya di
Tiongkok dan bagaimana isi perayaan Sincia itu.

Tradisi Jalan Tengah 

Setidaknya dikalangan Tionghoa ada lima pengaruh akar budaya yang secara
turun-temurun diikuti masyarakat tradisional, yaitu: (1)
animisme/spiritisme/okultisme; (2) mistik I-Ching; (3) Konfusianisme; (4)
Taoisme; dan Buddhisme. Tradisi Jalan Tengah yang meresap di kalangan
Tionghoa menempatkan orang Tionghoa pada umumnya cenderung mencampur adukkan
semua tradisi budaya secara sinkretis, dan sekalipun sudah ada tiga agama
(konfusianisme, Taoisme, dan Buddhisme) yang relatif lebih muda umurnya yang
mempengaruhi orang Tionghoa (tridharma), orang Tionghoa masih mempercayai
kepercayaan kuno nenek moyang mereka.

(1)  Animisme/Spiritisme/Okultisme bisa dilihat dari kepercayaan yang kuat
akan dunia roh terutama penyembahan roh leluhur;

(2)  Mistik I-Ching bisa dilihat dari unsur keseimbangan alam Yin-Yang yang
membentuk perpaduan trigram, hexagram dst. yang digambarkan dalam skema Luo
Pan yang menempatkan orang Tionghoa ke dalam kepercayaan akan nasib dengan
ramalan seperti guamia dan ciamsi;

(3)  Konfusianisme (500 SM) mengajarkan etika hubungan tingkah laku terutama
hormat rakyat kepada pemerintah; isteri kepada suami; anak kepada orang tua;
adik kepada kakak; dan teman lebih muda kepada yang lebih tua;

(4)  Taoisme (500 SM) meneruskan tradisi I-Ching dan mendiskripsikan secara
filosofis dan mistis dalam konsep 'Tao' yang tersurat dalam buku Tao The
Ching. Dalam perkembangannya unsur okultisme kuno juga berkembang dalam
Taoisme seperti pengusiran setan; dan

(5)  Buddhisme yang datang dari India yang membawa pengaruh meditasi tentang
pencerahan diri.

Kelima kepercayaan itu sedikit banyak akan diikuti oleh masyarakat Tionghoa
pada umumnya, dan sekalipun waktu pemerintahan Komunis tradisi budaya religi
itu coba dilenyapkan, namun dikalangan generasi tua terutama yang tinggal di
kawasan pedesaan dan perantauan masih secara turun-temurun diikuti sampai
sekarang. Sekalipun seseorang telah masuk kristen, tradisi nenek-moyang itu
tidak begitu saja hilang dan tetap dijalankan sedikit atau banyak.

Perayaan Sincia 

Perayaan Sincia biasa dirayakan selama 22 hari dimulai dengan hari ke-tujuh
sebelum Sincia dimana dipercaya Toa Pek Kong Dapur (dewa penunggu dapur)
naik ke langit melaporkan situasi rumah tangga kepada Thian dan malam
sebelum Imlek dilakukan sembahyang 'Sam Seng' (babi, ikan dan ayam). Pada
Hari Sincia dilakukan kunjungan kepada orang tua untuk menghormat dan juga
sembahyang didepan meja sembahyang nenek-moyang yang telah meninggal, pada
kesempatan ini juga dibagikan Angpao yaitu uang yang dibungkus amplop
berwarna merah dengan tulisan Fu/Hu. Angpao bukan sekedar dianggap hadiah
namun lebih merupakan wisit yaitu jimat yang akan membawa rejeki bagi yang
menerima, ini diperkuat dengan penggunaan warna merah yang mengandung arti
magis keberuntungan dan Fu/Hu yang merupakan kata mantra.

Pada hari keempat setelah Sincia Toa Pek Kong Dapur kembali dari langit dan
disambut dengan permainan Barongsai dan Bilekhud diiringi petasan dan tambur
+ simbal dengan maksud mengusir roh-roh kegelapan yang akan mengganggu,
biasanya barongsai masuk ke rumah-rumah untuk mengusir roh gelap di rumah
itu. Pada hari ke-lima-belas ketika bulan purnama dirayakan Cap Go Meh
dengan hiasan Lampion berwarna merah dan sembayang 'Sam Kai' kepada langit,
bumi dan manusia.

Seluruh rangkaian perayaan Sincia itu dirayakan secara komunal
beramai-ramai, bahkan sekarang tradisi Barongsai sudah menghiasi acara
Sincia di mal-mal dan tempat-tempat hiburan umum. Lalu bagaimana sekarang
kalau seseorang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus apakah ia masih tetap
mempraktekkan semua perayaan Sincia tersebut atau adakah pembaharuan hidup
dalam dirinya dalam sikapnya terhadap adat-istiadat/tradisi?

Sikap Umat Kristen Tionghoa 

Bahaya sinkretisme yang mendarah daging dalam etnis Tionghoa tidak mudah
dihilangkan begitu saja sebab sekalipun seseorang menjadi kristen, banyak
yang masih menjalankan tradisi apa adanya, namun pertumbuhan iman
berangsur-angsur membawa umat Kristen Tionghoa menjauhi praktek
adat-istiadat tradisi budaya leluhur yang mendukakan Tuhan. Di kalangan
Tionghoa totok, tidak mudah meninggalkan tradisi turun-temurun kalau mereka
menjadi kristen, namun di kalangan peranakan dan Tionghoa modern umumnya
hal-hal yang berbau mistis-magis terutama penyembahan roh leluhur yang
menjadi jantung budaya Tionghoa berangsur-angsur sudah tidak lagi
mempengaruhi dirinya sekalipun mereka mengalami ketegangan dengan bagian
keluarga besarnya yang masih kolot dan masih mempercayainya.

Merayakan Sincia adalah netral seperti halnya merayakan Tahun Baru Masehi
selama hari ini mengenang kondisi nenek-moyang yang dalam situasi agraris
mernyambut bulan baru dan mulai siap bercocok tanam, dan pertemuan
kekeluargaan dimeja makan menjadi bagian perayaan Sincia yang baik juga
diikuti. Pemberian hadiah antar anggota keluarga terutama kepada orang tua
baik juga dilakukan hanya perlu ditekankan bahwa itu adalah ungkapan kasih
dan syukur dan bukan wisit (benih rejeki) yang kita berikan kepada seseorang
dengan Angpao, karena itu hadiah uang tidak perlu dibungkus dengan amplop
warna merah dengan tulisan Fu/Hu karena itu berarti jimat.

Merayakan Sincia bisa dilakukan umat kristen Tionghoa selama unsur
adat-istiadat tradisi budaya religi seperti penyembahan dewa-dewi dan roh
nenek-moyang tidak kita lakukan, memasang lampion bisa saja dilakukan selama
kita tidak terikat warna magis merah melainkan lampion aneka warna. Kita
tidak perlu mengundang Barongsai masuk ke dalam rumah (apalagi ke dalam
gereja) karena rumah umat Kristen (terlebih gereja) adalah rumah Roh Kudus
maka dengan mendatangkan Barongsai pengusir roh, roh yang mana mengusir roh
yang mana?

Ayat pembuka artikel ini membawa kita kepada ketaatan akan perintah Allah
dan agar kita tidak lagi terikat adat-istiadat nenek moyang yang mendukakan
Tuhan, demikian juga maksud baik pertemuan keluarga dihari Sincia juga
merupakan perintah Allah yang wajib dilakukan umat Kristen namun dilakukan
dengan hormat dan kasih terutama kepada orang tua, dengan demikian umat
kristen Tionghoa bisa ikut merayakan Sincia dengan misi kesaksian Injil
bahwa sebagai umat tebusan Tuhan, umat kristen tidak lagi perlu percaya akan
segala permainan roh dewa-dewi dan nenek-moyang yang tidak berdaya melainkan
bergantung pada iman akan Allah pencipta langit dan bumi, dan Tuhan Yesus
Kristus, juruselamat manusia. ***

Salam kasih dari YABINA ministry (www.yabina.org)

 


Kirim email ke