SINCIA & SIMBOLISME HEWAN

Artikel 110 berjudul 'Sincia & Tradisi Tionghoa' dan Artikel 111 berjudul
'Simbolisme Hewan Cina' mendapat banyak tanggapan. Banyak yang memberikan
apresiasi karena banyak mendapat informasi baru yang belum mereka ketahui,
namun ada bebeberapa tanggapan yang masuk yang dirasa perlu didiskusikan
lebih lanjut untuk melengkapi artikel yang sudah dikirimkan.

(Tanggapan-1) Kalau kita merayakan Natal dengan latar belakang kultus dewa
mataharinya, bukankah kita bisa sama bebasnya merayakan Sincia dengan kultus
tradisi simbolisme dewa-dewi dan hewan cinanya?

(Diskusi-1) Natal bukan pengganti perayaan dewa matahari, sebab peringatan
Natal sudah terjadi sebelum kaisar Aurelius di tahun 274 meresmikan 25
Desember sebagai hari dewa Matahari. Waktu itu umat kristen memperingati
pembaptisan oleh Yohanes, kunjungan Orang Majus dan sekaligus kelahiran
Yesus sebagai hari Epifani pada tanggal 6 Januari. Pada tahun 325, kaisar
Konstantin yang menjadi Kristen berusaha mengalihkan orang Romawi dari
perayaan dewa matahari maka perayaan Natal Januari digeser menjadi tanggal
25 Desember agar umat romawi tidak lagi merayakan hari dewa matahari
melainkan hari Natal lambang matahari kebenaran. Perayaan minggu Saturnalia
sebelum 25 Desember yang merupakan rangkaian perayaan dewa Matahari tidak
dirayakan lagi. Ini berbeda dengan merayakan 'Imlek' karena orang
Tionghoa/Cina  cenderung menerima begitu saja apa yang ada dalam perayaan
Imlek yang sudah mendarah daging dan sudah diikuti secara turun temurun.

(T-2)   Bukankah orang yang percaya sama Yesus mestinya tidak lagi percaya
dengan roh-roh semacam itu (dewa & hewan) sehingga bila acara2 semacam itu
diadakan...  tidak berarti dan berpengaruh apa2 baginya. Jadi tidak perlu
berhati-hati lagi berkaitan dengan yang dipercayai orang lain. kita sudah
ditebus dan harganya mahal... mengapa masih harus berhati-hati untuk
mengikuti perayaan Imlek? 

(D-2) Seorang kristen seharusnya menerima kenyataan adanya roh-roh diudara
yang mengganggu hidup manusia dalam hubungan dengan Allah yang Esa. Yesus
dalam menghadapi setan hanya mengusirnya tetapi tidak meniadakannya dan
mengajar kita berdoa agar 'dijauhkan dari yang jahat,' demikian juga dalam
kaitan dengan 'berhala,' Rasul Paulus mengatakan ada banyak 'allah' (ilah)
dibumi tetapi hanya ada satu 'Allah,' pencipta langit dan bumi dan pemberi
hidup (1Kor.8; band. Efs.6:11-12). Yang benar adalah bahwa mereka yang kuat
imannya, apa yang ada dalam dirinya (Roh Kudus) lebih besar dari roh-roh
didunia ini, namun seberapa banyakkah orang yang imannya kuat? Bukankah
banyak orang kristen lemah imannya yang mudah dipengaruhi oleh roh-roh
diudara? Karena itulah kita yang kuat harus berhati-hati agar tidak
menjerumuskan yang lemah. Rasul Paulus mengingatkan: "Tetapi jagalah, supaya
kebebesanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah"
(1Kor.8:9).

(T-3)   Bukankah yang mesti dipikirkan adalah iman saudara-saudara Kristen
lain yang lemah... yang melihat tradisi semacam ini sebagai mengancam ....
kalau itu menjadi batu sandungan sebaiknya tidak diikuti... bukan karena
adanya roh-roh yang terlibat dalam perayaan... tetapi karena memerhatikan
iman saudara yang masih lemah....

(D-3) Benar, Paulus juga mengingatkan bahwa kita harus memikirkan iman
mereka yang lemah, tapi bukan karena 'roh tidak ada' melainkan karena sadar
bahwa 'roh-roh itu memang ada dan tetap ada sekalipun kita masuk iman,'
namun bagi yang kuat iman roh itu tidak berpengaruh tapi bagi iman yang
lemah roh itu bisa berpengaruh buruk, apalagi kalau kita mengadakan Imlek di
rumah atau gereja dimana keluarga yang belum beriman ikut diundang, mereka
masih percaya dan dengan adanya simbolisme yang diterima masuk ke dalam
rumah orang kristen dan gedung gereja mereka lebih diperkuat lagi
mempertahankan tradisi penyembahan roh yang mereka sudah percayai secara
mendarah-daging dan turun-temurun itu.

(T-4) Cukup banyak kalangan gereja2 Pentakostal dan Kharismatik menyebarkan
ajaran yang menimbulkan 'antipati' dari kalangan non-Kristen. Khususnya yang
dengan tidak bijaksana mencap segala "simbol" dari tradisi Tionghoa yang
tidak mungkin dibuang begitu saja. Misalnya: gambar2 yang bertulisan huruf
Tionghoa yang artinya memang bagus. Misalnya: Damai sejahtera, Berkat, dls.
Juga gambar2 misalnya: Singa/Barongsai, Naga, Ular, termasuk juga segala
lukisan, guci, dan berbagai barang antik, bahkan photo2 piknik yang diambil
di sekitar tempat ibadah non-Kristen juga diminta dibakar... Katanya ada
setannya lalu minta dibakar dalam nama Yesus... 

(D-4) Secara praktis cara 'bumi hangus' itu memang lebih mendatangkan syak
daripada penyadaran, namun secara prinsip tidak juga bisa disalahkan
sekalipun jangan menyamaratakan semuanya begitu karena banyak juga
simbol-simbol yang tidak dipuja dengan hio sehingga menyebabkan hadirnya
roh-roh jahat diudara dalam obyek penyembahan itu (Barongsai dan Liong biasa
disimpan di klenteng dengan dibakari hio). Bila kita mempelajari sejarah
animisme dan okultisme, kita dapat mengetahui bahwa timbulnya penyembahan
berhala itu semula adanya obyek atau simbol yang disembah. Obyek/simbol yang
terus-menerus disembah itu menarik roh-roh diudara untuk menungganginya dan
menyatakan dirinya dalam obyek/simbol itu seperti misalnya gunung, gua,
pohon, batu besar, patung, dan simbol-simbol lainnya seperti hewan atau
kata-kata sehingga obyek/simbol itu menjadi keramat, berkhasiat, dan
mendatangkan kekuatan magis. Sebagai contoh 'Huruf-huruf Fu (Hu)' yang dalam
terjemahan Alkitab Tionghoa digunakan untuk menerjemahkan kata 'berkat,'
sekalipun arti katanya sama, namun kandungannya beda. 'Fu' dalam Alkitab
Tionghoa lebih menggambarkan berkat yang dijanjikan kepada umat manusia yang
beriman, sedangkan 'Fu' dalam simbolisme Cina dianggap sebagai 'jimat atau
mantra' yang dalam dirinya memiliki kekuatan magis. Simbol 'Naga' dalam
Alkitab menunjukkan gambaran mengenai 'Iblis si jahat' namun simbol 'Naga'
dalam simbolisme hewan cina dalam dirinya memiliki kuasa pengusir roh dan
mendatangkan keberuntungan, itulah sebabnya biasa sepasang patung
'Barongsai' dipasang di pintu masuk gedung (bank) agar roh jahat tidak masuk
ke gedung itu atau orang Tionghoa memasang gantungan simbol Liong di pintu
masuk rumahnya.

(T-5)   Hal2 spt diatas menimbulkan 'permusuhan' dengan mereka yang belum
percaya dan menghambat komunikasi Injil kepada mereka. Saya yakin bila kita
sudah percaya, Roh Kudus yang didalam kita lebih besar dari roh manapun, dan
tidak perlu takut, atau alergi, atau 'menjadi bodoh' hingga memusuhi dan
sembarang membakar hal-hal yang dianggap/ditakuti ada setannya.

(D-5) Memang menyamaratakan semua benda, simbol, dan barang antik mengandung
roh jahat tidak bijaksana apalagi kalau dilakukan didepan orang bukan
Kristen, namun secara terbatas memang ada simbol-simbol kepercayaan tertentu
yang dianggap sebagai jimat/mantra dan ini perlu dibakar untuk memusnahkan
kekuatannya, sebab kalau tetap disimpan oleh umat kristen, hal itu
menduka-citakan Roh Kudus. Tidak semua keris, simbol binatang atau barang
antik mengandung roh jahat sehingga harus dibakar semua kecuali yang
dijadikan obyek penyembahan/jimat. Penulis pernah mengunjungi rumah dimana
kepala keluarga mengalami penyakit aneh yang parah dan sudah berulang-kali
masuk rumah sakit dan tidak sembuh-sembuh. Ketika memasuki rumahnya terlihat
ruangan itu suasananya gelap dan terasa menyeramkan, di dinding yang
warnanya gelap digantung keris keramat termasuk patung-patung kuno dan
pedang perang yang dulunya sudah mengalirkan darah banyak orang. Tidak lain
yang bisa dilakukan seorang pembimbing rohani selain mengajaknya berdoa
yaitu menasehati agar barang-barang antik tertentu yang mencurigakan yang
dijadikan jimat disingkirkan dan agar tidak mempengaruhi orang lain baik
juga kalau dibakar. Ada hamba-hamba Tuhan tertentu yang memang dikaruniai
Tuhan membedakan roh yaitu mana benda antik yang berpenghuni dan mana yang
tidak. Sudah tiba saatnya para hamba Tuhan mulai berhati-hati menghadapi
kuasa kegelapan yang belakangan ini gencar menyesatkan umat kristen.

Akhirnya . . .

Johanes Verkuyl yang menulis seri buku etika yang klasik menulis bahwa dalam
mengambil keputusan etika kita harus berhati-hati untuk tidak terseret pada
ekstrim 'libertinisme' (kebebasan) maupun 'farisiisme' (keterikatan)
melainkan menguduskan semua tindakan etis kita dengan Firman Tuhan.

Demikianlah, marilah kita menghadapi masalah etika dengan berhati-hati,
tidak ekstrim menolak, juga tidak menerima begitu saja melainkan menerima
apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Kiranya Diskusi diatas memperjelas Tanggapan yang diajukan.

Salam kasih dari YABINA ministry  <http://www.yabina.org> www.yabina.org

Kirim email ke