MENGENAL KARUNIA-KARUNIA ROH KUDUS
Bagian 11: Karunia Penafsiran Bahasa Lidah (1Kor. 12:10)
 
oleh:Denny Teguh Sutandio
 
 
 
Sebagaimana karunia nubuat harus
disertai karunia pembedaan roh-roh, maka karunia bahasa lidah harus disertai
karunia penafsiran bahasa lidah. Kata Yunani yang dipakai adalah ἑρμηνεία 
γλωσσῶν(hermēneia glōssōn). Kata ἑρμηνεία(hermēneia) yang berbentuk kata benda
berarti penafsiran dan γλωσσῶν(glōssōn) berarti bahasa/lidah, sehingga
artinya penafsiran bahasa/lidah. Kata ἑρμηνεία(hermēneia) sebagai kata benda 
hanya
ditemukan di 1 Korintus 12:10 dan 1 Korintus 14:26[1] di mana semuanya 
berkaitan dengan karunia penafsiran bahasa. Kata kerjanya
adalah ἑρμηνεύω(hermeneuō) dipakai 3x di dalam
Perjanjian Baru, yaitu di Yohanes 1:42[2];
9:7[3];
Ibrani 7:2[4].[5] 
Lalu, apa
arti penafsiran bahasa lidah? Apakah ini berarti bahasa lidah itu diterjemahkan
kata per kata? Tidak. Kalau kita memperhatikan kembali definisi bahasa lidah di
mana bahasa lidah ini bukan bahasa manusia biasa, maka menafsirkan bahasa lidah
tentu bukan menafsirkan kata per kata dalam bahasa tersebut. Oleh karena
itu, sangat tepat jika kata ἑρμηνεία(hermēneia) diterjemahkan sebagai
penafsiran (bukan penerjemahan). Prof. David E. Garland, Ph.D. mengungkapkan
arti dari penafsiran bahasa lidah, “It is
not a word-for-word translation but more likely an interpretation of the
meaning of what was said, the “mysteries” spoken to God, or an explanation of
the experience.”[6] (Itu bukan penerjemahan kata per kata, tetapi lebih mungkin 
sebuah penafsiran
arti dari apa yang dikatakan, “misteri” yang diucapkan kepada Allah, atau
penjelasan pengalaman.) Prof. Anthony Thiselton, Ph.D., D.D. menafsirkan
“penafsiran bahasa lidah” ini sebagai penguraian/pengungkapan dengan perkataan
(to put into words).[7]
Dari penjelasan di atas, maka dapat
disimpulkan karunia penafsiran bahasa lidah berarti seseorang diberikan karunia
untuk menafsirkan bahasa lidah ke dalam beberapa kalimat penguraian di dalam
bahasa yang dapat dimengerti.

________________________________
 
[1]Hasan Sutanto, PBIK Jilid II: Konkordansi Perjanjian Baru,
hlm. 316.
[2]LAI: “artinya.” YLT:
“which is interpreted” (yang
diartikan/diterjemahkan) 
[3]LAI: “artinya”; YLT:
“which is, interpreted” (yang
diartikan)
[4]LAI: “Menurut arti
namanya.” YLT: “being intepreted”
(diartikan).
[5]Hasan Sutanto, Konkordansi Perjanjian Baru, hlm. 316.
Khusus ἑρμηνεύω(hermeneuō), sesuai konteksnya, kata
kerja ini diterjemahkan sebagai “diartikan/diterjemahkan.”
[6]David E. Garland, 1 Corinthians, hlm. 586.
[7]David L. Baker, Roh dan Kerohanian Dalam Jemaat, hlm.
66.
 
"Kerendahan hati yang rohani merupakan suatu kesadaran yang dimiliki seorang 
Kristen tentang betapa miskin dan menjijikkannya dirinya, yang memimpinnya 
untuk merendahkan dirinya dan meninggikan Allah semata."
(Rev. Jonathan Edwards, A.M., Pengalaman Rohani Sejati, hlm. 100)

Kirim email ke