JANGAN BERSUMPAH, TETAPI BERKATALAH BENAR oleh: Pdt. Daniel Fu Nats: Matius 5:33-37
Pendahuluan Tuhan Yesus dengan jelas mengatakan bahwa janganlah sekali-kali kita bersumpah. Sumpah adalah suatu pernyataan yang diucapkan oleh seseorang untuk menjamin bahwa apa yang dikatakan atau diperbuat adalah sungguh benar adanya. Sumpah sering kali diucapkan demi seseorang atau sesuatu yang lebih tinggi kedudukannya, misalnya: demi Tuhan, demi langit, demi bumi, atau demi nama seseorang. Kalau kita memperhatikan Alkitab Perjanjian Lama, kita banyak menemukan orang mengucapkan sumpah, misalnya: hamba Abraham bersumpah kepada Abraham ketika ia diminta mencari istri bagi Ishak (Kej. 24), Daud bersumpah untuk tidak akan membunuh raja Saul sampai dengan keturunannya (1Sam. 24:23). Isi Jangan bersumpah palsu tetapi peganglah sumpahmu dihadapan Tuhan. Dalam Perjanjian Lama banyak sekali orang yang membuat sumpah. Tetapi ditegaskan supaya jangan bersumpah palsu. Kalau sudah bersumpah, peganglah sumpah itu. Lakukan sumpah itu dihadapan Tuhan. Itulah yang sudah didengar di dalam Perjanjian Lama. Tetapi Tuhan Yesus berkata: “Janganlah engkau bersumpah, baik demi Tuhan, baik demi Yerusalem, demi bait Allah, bahkan demi kepalamu juga. Jika Iya, hendaklah kamu katakan iya. Jika tidak, hendaklah kamu katakan tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat.” Pengajaran tentang bersumpah inilah yang selama ini dipegang oleh orang-orang Yahudi. Tetapi bukan saja jangan bersumpah palsu, pegang komitmen, tetapi Tuhan Yesus berkata supaya jangan sekali-kali bersumpah. Berkatalah benar berarti menyatakan kualitas yang lebih tinggi daripada sumpah itu sendiri. Sumpah berarti perkataan saja tidak cukup untuk meyakinkan seseorang tetapi perlu satu lapisan perkataan lagi untuk membuat orang lain percaya kepada perkataan itu. Kualitas perkataan jauh lebih bernilai daripada sumpah itu sendiri. Kualitas tercermin dari perilaku yang telah diucapkan. Pada zaman itu, orang Yahudi mengenal dua jenis sumpah: 1. Sumpah yang memakai nama Tuhan. Sumpah yang memakai nama Tuhan adalah sumpah mutlak di mana sumpah yang telah diucapkan tersebut mutlak dilakukan. Sumpah yang tidak mengikat adalah sumpah yang diucapkan tanpa memakai nama Tuhan tetapi memakai nama yang lain seperti langit, bumi, dan lainnya. 2. Sumpah yang tidak mengikat. Sumpah yang tidak mengikat tersebut boleh dilakukan dan jika tidak dilakukan pun tidak apa-apa. Oleh karena itu, orang Yahudi pada saat itu lebih sering menggunakan sumpah jenis yang kedua. Sumpah jenis pertama sangat berat resikonya sedangkan sumpah jenis kedua lebih fleksibel. Dalam ayat yang kita baca, Tuhan Yesus menyatakan tidak boleh untuk melakukan baik sumpah jenis pertama maupun kedua. Socrates pernah berkata: “orang harus berusaha menjalankan kehidupan yang lebih banyak mendatangkan kepercayaan pada dirinya daripada kepercayaan yang diperoleh melalui sumpah.” Artinya seluruh perkataan dan hidup kita seharusnya menjadi jaminan bahwa apa yang kita perbuat adalah benar sehingga setiap orang yang melihat perkataan dan perbuatan kita, tanpa disertai sumpah pun mereka bisa percaya dan menerima. Inilah usaha dalam menjalani hidup tanpa kita harus dengan susah payah bersumpah ataupun berjanji. Orang bisa percaya kepada perkataan karena kita berkata jujur. Orang-orang Kristen harus menjalani kehidupannya dengan memperhatikan sifat-sifat dan karakter dari Kristus sehingga masyarakat disekitarnya tidak memerlukan sumpah untuk dapat percaya kepadanya. Pada zaman Tuhan Yesus, ada satu golongan yang mempunyai prinsip hidup untuk saling percaya dan untuk menjadi pelayan pendamaian bagi masyarakat. Prinsip tersebut sangat penting bagi golongan tersebut sehingga segala perkataan mereka harus dapat dipercaya melebihi sumpah. Dan mereka tidak boleh mengucapkan sumpah. Karena mereka beranggapan bahwa sumpah bisa lebih buruk daripada perkataan palsu. Bagi golongan ini, orang yang memakai sumpah baru dapat dipercaya adalah sama dengan orang-orang yang terkutuk. Di dalam Alkitab, Tuhan Yesus sering memakai kata “Sesungguhnya” dengan maksud menyatakan bahwa apa yang dikatakannya adalah benar dan untuk menekankan perhatian yang lebih. Tuhan Yesus sendiri tidak pernah menggunakan sumpah untuk mempertegas apa yang Ia katakan tetapi menggunakan kata “sesungguhnya”. Tuhan Yesus mengajarkan untuk jangan sekali-kali bersumpah karena di dalam sumpah menunjukkan kepercayaan kita dalam satu komunitas sangat rendah. Karena kepercayaan yang rendah membutuhkan satu peneguhan yaitu sumpah. Itu juga berarti orang yang mengucapkan sumpah tersebut memiliki komitmen yang sangat kurang dan buruk. Berkata benar dan jujur merupakan etika hidup di dalam Kerajaan Allah. Etika hidup kita sebagai umat milik Allah yang sudah ditebus oleh Allah. Dalam Injil Matius 5-7 ada satu bagian mengenai pengajaran khotbah di bukit oleh Tuhan Yesus. Pengajaran khotbah di bukit juga dikatakan oleh sebagian theolog sebagai etika hidup dalam Kerajaan Allah. Artinya kita yang telah ditebus oleh Tuhan harus memiliki standar atau etika hidup yang ditentukan oleh Tuhan seperti tercatat dalam Matius 5-7. Penutup Kita sering kali sulit untuk mengatakan sesuatu yang benar karena ada natur dosa dalam diri kita yang sering mempengaruhi kita untuk berkata tidak benar. Di sini kita membutuhkan kekuatan dari Roh Kudus yang menyadarkan hati nurani kita supaya kita dapat dan mampu mengatakan yang benar walaupun itu sulit. Pada saat menghadapi situasi yang sulit itu maka kita harus berani mengucapkan yang benar dan di situlah nilai karakter dan kepercayaan kita dapat teruji. Kalau kita berkata-kata dengan benar dan jujur maka kata-kata itu menentukan mutu dan karakter hidup kita di hadapan Tuhan dan di hadapan sesama manusia. Juga kalau kita berkata-kata dengan benar dan jujur maka kata-kata yang kita ucapkan menjadi suatu kekuatan yang bisa membangun relasi kita satu dan yang lain di dalam satu kepercayaan yang tulus dan di dalam suatu kehidupan yang harmonis dan diberkati Tuhan. Sumber: http://www.gkyjgv.org/ringkasan.php?kode=1559 "Kerendahan hati yang rohani merupakan suatu kesadaran yang dimiliki seorang Kristen tentang betapa miskin dan menjijikkannya dirinya, yang memimpinnya untuk merendahkan dirinya dan meninggikan Allah semata." (Rev. Jonathan Edwards, A.M., Pengalaman Rohani Sejati, hlm. 100)

