KERINDUAN AKAN ALLAH oleh:Ev. Jimmy Setiawan, M.T.S. Nats: Kidung Agung 3:1-4 Apa perasaan kita setiap kali datang beribadah tiap minggu? Apakah penuh sukacita atau berbeban? Apakah penuh kegairahan atau justru merasa bosan? Merasa merdeka atau bersalah? Apakah hati kita bersyukur atau menggerutu? Jika kita bertemu dengan Allah dengan perasaan biasa2 saja maka ada yang salah dengan hidup kita. Bagian dalam Kitab Agung ini menggambarkan hubungan antara Allah dan manusia yang disimbolkan lewat hubungan suami-istri. Menurut para Sarjana Alkitab, istri merupakan simbol kita (umat Tuhan) sedangkan suami merupakan simbol dari Tuhan sendiri. Simbolisasi kembali muncul dalam Kitab Wahyu. Ketika Kristus datang untuk yang kedua kali, Kristus digambarkan sebagai mempelai pria dan kita sebagai mempelai wanita. Istri dalam Kidung Agung 3 merupakan cermin untuk kita berefleksi apakah kerinduan kita sama dengan yang digambarkan di sana. Mari kita lihat apa yang terjadi? Saat suaminya hilang (tidak diketemukan), istri ini tidak pikir panjang lalu mencarinya. Istrinya merindukan suaminya. Dalam konteks penyembahan, mengapa merindukan TUHAN begitu penting? Ada 2 jawaban. Pertama, kerinduan berbicara tentang hati kita. Allah menginginkan penyembah-penyembah yang berangkat dari hati yang mencintai Dia. Berulang-ulang Tuhan menegaskan dalam Firman-Nya untuk sungguh-sungguh menyembah Dia dengan bersumber dari hati kita. Pentingnya hati terungkap dalam Yesaya 29:13, dan dikutip kembali oleh TUHAN Yesus dalam Matius 15:8-9. Allah menegur mereka yang menyembah dengan mulutnya namun hatinya menjauh dari TUHAN. TUHAN tidak terpesona lebih dulu dengan perilaku penyembahan kita, Ia terlebih dahulu melihat dan menunggu hati kita. Kedua, kerinduan berbicara tentangsiapa yang terutama dalam hidup kita. Semakin kita mencintai seseorang, kita semakin merindukannya. Jika kita mencintai TUHAN, kita merindukan Dia. Lalu kerinduan macam apa yang Tuhan inginkan dari kita? Yang pertama, kerinduan akan pribadi Allah sendiri. Sang Istri menyebut suaminya ‘Jantung hatiku’. Artinya, istri tidak bisa hidup tanpa suaminya. Kita harus sampai pada satu-titik dimana kita tidak dapat hidup tanpa TUHAN. Jangan pernah kita merasa mandiri dalam hal rohani. Kehidupan rohani yang sehat justru ditandai dengan kebergantungan kepada TUHAN. Yang menyedihkan adalah kita sering merindukan pengalaman penyembahan, musik, orang-orang, berkat-berkat-NYA, dan lain sebagainya ketimbang TUHAN sendiri. Yang kedua, kerinduan yang tidak dipengaruhi oleh situasi atau perasaan sesaat. Sang Istri tidak peduli malam sudah larut dan tidak takut resiko yang akan dihadapi. Cintanya pada suami mengalahkan segalanya. Kita perlu terus mendisiplinkan hati kita untuk menyembah Allah apapun situasinya. Tidak mudah, namun kita perlu terus belajar. Yang ketiga adalah kerinduan yang bertindak. Apa yang ada dalam hati (cinta) harus termanifestasi. Sang Istri berkeliling kota, bertanya kepada orang-orang, bertemu suaminya lalu ia dekap/rangkul. Kalau kita berkata bahwa kita merindukan TUHAN, apa buktinya? Sering kali kita masih bermain-main dengan ALLAH lewat perilaku kita saat beribadah. Jika kita beribadah, hormatilah Dia! Bagian terindah dalam bagian Firman ini adalah bukan saja kita perlu datang dengan kerinduan kepada Allah, tetapi Allah terlebih dahulu merindukan kita satu per satu. Tahu dari mana? Lihat Yohanes 4:24 di mana Allah Bapa menghendaki (lebih tepat mencari/merindukan) penyembah-penyembah. Tuhan merindukan kita! Apakah kita menyadarinya? Apa bukti tertinggi akan hal ini?SALIB! Ia mati menderita di kayu salib karena merindukan kita. IA sadar tanpa karya penebusan tak seorangpun menjadi penyembah-penyembah-Nya. Seberapa besar kerinduan kita akan TUHAN hari ini? Apa penyembahan kita kini begitu dingin dan casual? Kesembuhan hati kita (yang tidak merindukan Allah ini) hanya terjadi ketika kita melihat kembali Salib Kristus. Pandang salib-Nya dan hidup dekat-Nya tiap-tiap hari. (Diringkas oleh Ivan Butar Butar) Sumber: Ringkasan khotbah Ev. Jimmy Setiawan pada Kebaktian di Indonesian Christian Church (ICC) Melbourne pada hari Minggu, 4 Maret 2012 (http://www.icc-melbourne.org/sermons/sermon/kerinduan-akan-allah) Profil Ev. Jimmy Setiawan: Ev. Jimmy Setiawan, S.Psi., M.T.S. adalah seorang hamba Tuhan yang terpanggil secara khusus untuk mendalami dan membagikan theologi penyembahan kepada gereja-gereja Protestan di Indonesia. Ia menyelesaikan studi Sarjana Psikologi (S.Psi.) di Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta dan Master of Theological Studies (M.T.S.) dalam theologi penyembahan dengan predikat memuaskan di bawah bimbingan worship scholars seperti Dr. John Witvliet dan Dr. Howard Vanderwell di Calvin Theological Seminary, Amerika Serikat. Calvin Institute of Christian Worshipdari Calvin College menganugerahkannya CICW Liturgical Studies Award atas prestasinya dalam studi penyembahan. Setelah kembali ke Indonesia, ia mendirikan Mentoring Center for Worship Renewal. Sekarang ia juga melayani sebagai Gembala Ibadah di Gereja Kristen Baptist Jakarta jemaat Taman Kencana, Konsultan penyembahan di gereja-gereja, dan Pengajar kuliah intensif dalam theologi penyembahan di Sekolah Tinggi Theologi Reformed Injili Indonesia (STTRII). Sebelum masuk Seminari, ia pernah menjadi pemimpin paduan suara gereja selama kurang lebih 15 tahun. "Kerendahan hati yang rohani merupakan suatu kesadaran yang dimiliki seorang Kristen tentang betapa miskin dan menjijikkannya dirinya, yang memimpinnya untuk merendahkan dirinya dan meninggikan Allah semata." (Rev. Jonathan Edwards, A.M., Pengalaman Rohani Sejati, hlm. 100)

