KEPEKAAN AKAN KARYA ALLAH oleh:Pdt. Sia Kok Sin, D.Th. Dalam sepanjang hidupnya seseorang dapat saja mengalami banyak peristiwa dan kejadian. Peristiwa dan pengalaman itu nampaknya seperti hal-hal yang terjadi kebetulan dan sporadis (terpisah-pisah). Tetapi apakah hal-hal yang terjadi dalam hidup kita tak merupakan suatu rangkaian yang mempunyai tujuan tertentu? Sebagai orang percaya atau murid Kristus, kita harus menyakini bahwa hidup kita merupakan hidup yang dirangkai oleh Allah. Tak ada yang kebetulan terjadi dalam hidup orang percaya atau murid Kristus. Yang penting bagi kita adalah peka terhadap karya Allah dalam hidup kita, sehingga kita memahami apa karya Allah dalam hidup kita. Kehidupan Yusuf merupakan kehidupan yang berwarna-warni. Ada saat di mana ia berada di atas, tetapi ada saat di mana di bawah dan bahkan sangat terpuruk. Tetapi di balik semuanya itu Yusuf telah sampai pada kesadaran di mana bahwa segala peristiwa – termasuk pengalaman buruk- dirangkai oleh Allah untuk menggenapi suatu tujuan. Kejadian 50:20 “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” Tuhan mengizinkan Yusuf mengalami banyak hal. Ia dilahirkan sebagai anak emas (Kej. 37) yang menyeretnya menjadi anak yang tak disukai oleh saudara-saudara lainnya. Belum lagi mimpi-mimpinya yang menyebabkan kemarahan saudara-saudaranya. Ketidaksukaan saudara-saudaranya berbuahkan bahwa Yusuf dijual sebagai budak dan harus tinggal di negeri asing dan kehilangan segala kenikmatan sebagai anak emas. Di Mesir Yusuf yang bekerja sebagai budak itu berhasil meraih kesuksesan sebagai orang kepercayaan Potifar, tuannya. Namun oleh karena ia tak menuruti keinginan nafsu istri Potifar, Yusuf difitnah dan dijebloskan dalam penjara (Kej. 39) Di penjara ia berhasil menjadi orang kepercayaan kepala penjara dan menolong menafsirkan mimpi 2 pembesar kerajaan (Kej. 40) Walaupun jasa Yusuf awalnya terlupakan oleh pembesar yang ditolong itu, namun pembesar itu teringat ketika saat yang tepat. Yusuf akhirnya diangkat menjadi orang kedua di Mesir, oleh karena dapat menafsirkan mimpi Firaun dan memberikan solusi yang jitu (Kej. 41). Kehidupan Yusuf yang naik, turun, naik, turun, naik itu merupakan kehidupan dalam kendali Allah yang mempunyai rencana yang khusus dalam hidupnya. Karya Allah dalam hidup Yusuf bukan berfokuskan untuk menjadikan dia sebagai pembesar di Mesir, tetapi melalui kedudukannya itu ia dipakai Allah untuk memelihara rencana Allah. Keluarga Yakub yang merupakan cikal bakal bangsa pilihan Allah terpelihara dari bahaya kepunahan oleh karena bencana kelaparan. Walaupun Yusuf berhasil di Mesir, tetapi ia tahu bahwa Mesir bukanlah tanah perjanjian Allah. Oleh karena itu ia minta bahwa tulang-tulangnya harus dibawa ke Kanaan, pada saat keturunan Israel meninggalkan Mesir (Kej. 50:24-25). Yusuf tahu rencana dan karya Allah dalam hidupnya. Hidup kita diwarnai dengan pelbagai peristiwa dan pengalaman. Kita harus menyakini bahwa setiap peristiwa atau pengalaman dikendalikan oleh Tuhan. Tak ada suatu peristiwa yang terjadi secara kebetulan. Baik itu peristiwa dan pengalaman yang menyenangkan ataupun yang tak kita sukai. Yang penting adalah kita minta kepekaan dari Tuhan untuk dapat menemukan dan memahami rencana dan karya Allah dalam hidup kita. Marilah kita menemukan karya Allah dalam hidup kita supaya kita tak menyesali masa lampau kita dan menyongsong hari depan kita dengan keyakinan. Sumber: Ringkasan Khotbah KebaktianUmum di Gereja Kristus Tuhan (GKT) Hosana, Surabaya hari Minggu, 6 Mei 2012 http://www.gkthosana.org/index.php/80-ringkasan-khotbah/161-kepekaan-akan-karya-allah Profil Pdt. Dr. Sia Kok Sin: Pdt. Sia Kok Sin, D.Th.adalah dosen di Sekolah Tinggi Theologi Aletheia, Lawang. Beliau menamatkan studi Bachelor of Theology (B.Th.), Sarjana Theologi (S.Th.), dan Master of Divinity (M.Div.) di Institut Injil Indonesia (sekarang: STT I-3), Batu pada tahun 1988, 1989, 1991; Master of Theology (Th.M.) di Calvin Theological Seminary, U.S.A. pada tahun 1994; dan Doctor of Theology (D.Th.) di South East Asia Graduate School of Theology (SEAGST) – Universitas Kristen Duta Wacana pada tahun 2009. "Kerendahan hati yang rohani merupakan suatu kesadaran yang dimiliki seorang Kristen tentang betapa miskin dan menjijikkannya dirinya, yang memimpinnya untuk merendahkan dirinya dan meninggikan Allah semata." (Rev. Jonathan Edwards, A.M., Pengalaman Rohani Sejati, hlm. 100)

