KENAIKAN TUHAN YESUS KE SORGA

"Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: "Tuhan, maukah Engkau pada
masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?" Jawab-Nya: "Engkau tidak perlu
mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya.
Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan
kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan
sampai ke ujung bumi." Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia
disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. Ketika
mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua
orang yang berpakaian putih dekat mereka, dan berkata kepada mereka: "Hai
orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini,
yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara
yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga" (Kisah 1:6-11)

Yesus naik ke sorga? Begitulah pertanyaan orang modern, "apakah ia terus
melayang-layang di angkasa diantara bintang-bintang galaxi, lalu kemana?"
cibir para skeptik.  Keragu-raguan demikian dapat dimaklumi, karena kalau
kebangkitan-Nya saja sudah menimbulkan pertanyaan karena melanggar hukum
alam dan banyak yang masih berdalih bahwa kematiannya hanya bersifat 'mati
suri' dan kebangkitannya bersifat 'metafora,' kenaikan-Nya ke sorga lebih
lagi tidak masuk di akal orang modern.

Ayat-ayat di atas memberitakan beberapa hal, yaitu:

Pertama, Yesus yang bangkit itu terangkat dan awan menutupnya dan disebut
'Ia naik ke sorga;'

Kedua, Yesus akan datang kembali dengan cara yang sama seperti yang dilihat
para murid seperti ketika Ia naik ke sorga;

Ketiga, Mengenai masa dan waktu kedatangannya kembali tidak perlu diketahui
oleh para murid karena berada dalam ketetapan kuasa Allah;

Keempat, Kalau Yesus sudah naik, Para murid akan menerima Roh Kudus yang
akan turun atas mereka dan mereka akan menerima kuasa untuk bersaksi;

Kelima, Para murid akan menjadi saksi Yesus di Yerusalem, Yudea, Samaria,
sampai keujung bumi.

Naik ke sorga dan akan datang kembali? itulah gambaran metaforis dalam
angan-angan iman para murid yang merana karena Yesus baru mati, argumen para
skeptik. Yesus tidak bangkit dan hanya dalam iman para murid berkembang
angan-angan iman yang mengganggap Yesus seakan-akan naik kesorga. Pasalnya
kebangkitannya dari makam Talpiot sebenarnya hanya angan-angan iman kata
mereka, kebangkitan yang bersifat roh kata Saksi-Saksi Yehuwa, dan
kebangkitan metaforis yang bersifat maya dan tidak benar-benar terjadi dalam
sejarah. Yesus sejarah mati tetapi tetap hidup sebagai Yesus iman bahkan
sampai ke akhir zaman kata yang tidak percaya.

Konsep seperti itu, yang menggambarkan kenaikan Yesus ke sorga seakan-akan
seperti roket yang terbang ke angkasa, merupakan gambaran kosmologi
Bultmannian yang bertumpu pada alam natural tiga dimensi dan menolak
realitas supranatural. Namun, bila hati dan pikiran mau terbuka terhadap
realita kenyataan supranatural/paranormal, tidak akan sulit untuk mengerti
bahwa kenaikan ke sorga itu adalah tindakan klimaks dari
penampakan-penampakan Yesus yang sewaktu-waktu menghilang dan muncul kembali
di depan murid-murid-Nya sebelumnya Ia naik ke sorga, dan disaksikan banyak
orang secara kasat mata dan banyak saksi-mata yang masih hidup ketika Paulus
menulisnya dalam suratnya. (1Kor.15:3-8) 

Yesus naik ke sorga adalah langkah-Nya yang terakhir di bumi ini untuk
berpindah dari alam tiga dimensi ke alam empat dimensi sepenuhnya, untuk
seterusnya misi pemberitaan Injil itu diserahkan kepada para murid-Nya.
Dalam hal ini, alam tiga dimensi dan empat dimensi itu bertumpang tindih.
Meskipun konsep ruang dan waktunya berbeda, keberadaannya sama. Dengan
demikian, masalah kebangkitan Yesus dan kenaikan Yesus ke sorga menjadi
bagian dari sejarah, sejarah yang seutuhnya, yaitu sejarah yang tidak
dibatasi oleh keterbatasan alam natural, tetapi sejarah yang mencakup
totalitas dari realitas natural dan supranatural.

Petunjuk lainnya yang menguatkan adalah bahwa sebelum Yesus Kristus naik ke
sorga, Ia memberikan 'Perintah untuk memberitakan Injil' (Mat.28:16-20),
suatu perintah dialogis yang terjadi secara nyata dalam ruang dan waktu
sejarah. 'Yesus yang bangkit' dan kemudian 'naik ke sorga' inilah yang
kemudian menggerakkan para murid setelah mereka menerima kuasa Roh Kudus
untuk memberitakan Injil ke seluruh bumi. Yesus yang mati dan tidak bangkit
dan tidak naik ke sorga untuk datang kembali kelak, tidak akan menghasilkan
ledakan PI dan kematian para martir, dan penyebaran beritanya sampai hari
ini oleh begitu banyak orang.

Iman akan Yesus yang telah bangkit secara tubuh kebangkitan dan naik ke
sorga yang terjadi dalam sejarah tidak berhenti dengan kenaikan-Nya ke
sorga, tetapi para murid melayani PI bukan saja karena kesaksian masalalu
yang bersifat nostalgia, tetapi kesaksian yang tertuju ke masa depan, yaitu
'Kedatangan Yesus yang kedua kali.' Namun sekalipun begitu, ayat di atas
tidak boleh membawa kita kepada usaha menghitung-hitung kapan Akhir Zaman
terjadi karena Ia sudah memesan bahwa "mengenai masa dan waktunya berada
dalam ketetapan kuasa Allah." Suatu karya PI tidak akan kuat tanpa dorongan
Roh Kudus dan kekuatan itu ada akhirnya kalau tidak tertuju ke masa depan,
ke arah kedatangan Yesus kedua-kalinya, sehingga sampai hari inipun banyak
orang termasuk para profesional yang mengabaikan masadepan mereka untuk
memberitakan 'Injil Kabar Baik' itu, Injil yang lebih baik dari pengharapan
akan hal-hal dunia yang bersifat sementara yang bisa diperoleh secara materi
dan kerinduan mereka bukan untuk menikmati sendiri hasil peluh kerja mereka,
tetapi mereka membagikannya kepada orang lain agar orang lain juga
memperoleh sukacita dan kemenangan oleh Injil dalam kehidupan ini!

Maranatha, A m i n !

Salam kasih dari YABINA ministry www.yabina.org.

Kirim email ke