RELA DITEGUR
TUHAN
 
oleh:Pdt.
Em. Agus Surjanto, S.Th., M.K.
 
 
 
Nats: Wahyu 2:1-7
 
 
Malaikat Jemaat di Efesus
adalah jemaat yang banyak dipuji oleh Tuhan Yesus. Kata malaikat jemaat yang
dipakai adalah kata tunggal. Mungkin yang dimaksud adalah pemimpin jemaat atau
gembala jemaat. Akan tetapi mungkin juga yang dimaksud adalah kelompok
pemimpin. 
 
Mereka berjerih lelah dan
bertekun, tidak dapat sabar, tidak dapat toleran terhadap ajaran sesat. Berani
menegur mereka yang mengaku dirinya rasul dan dapat membuktikan bahwa mereka
itu rasul palsu. Mereka juga punya kesabaran, bahkan rela menderita demi nama
Tuhan Yesus. Mereka juga tidak mengenal lelah, rajin melayani Tuhan. Bahkan
mereka ikut membenci pengikut Nikolaus yang juga dibenci Tuhan. Akan tetapi
mereka juga dicela oleh Tuhan karena sudah meninggalkan kasih yang semula. Dan
Tuhan memandang hal itu sangat fatal. Dikatakan “betapa dalamnya” engkau telah
jatuh. Berarti kehilangan kasih yang semula merupakan dosa yang sangat fatal di
mata Tuhan.
 
Ada tiga hal yang mendasari
motivasi seseorang dalam melakukan perbuatannya. Yang pertama adalah karena
takut. Artinya dia mungkin tidak pernah melanggar peraturan, akan tetapi hal
itu dilakukan karena takut terhadap sangsi atau akibat pelanggaran itu. Yang
kedua adalah karena ingin dipuji atau memperoleh berkat dari apa yang
dilakukannya. Motivasi dasarnya adalah ingin memperoleh berkat. Yang ketiga
adalah karena kasih. Artinya ketika seseorang melakukan tugas pelayanannya, hal
itu karena mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Dua hukum utama dalam
kehidupan umat Allah adalah mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Rupanya
malaikat jemaat di Efesus hanya melakukan tugasnya karena takut atau ingin
berkat dan tidak memiliki kasih.
 
Tuhan mengancam akan menghukum
malaikat jemaat Efesus dengan mengambil kaki diannya. Berarti seluruh pelayanan
malaikat jemaat di Efesus tidak lagi dipercayakan kepada malaikat jemaat.
Apakah Allah begitu kejam? Tidak. Karena teguran dan hukuman dilakukan oleh
Tuhan justru karena Dia mengasihi anaknya. Kasih yang benar pasti akan menegur
bahkan mendisiplin atau menghukum. Boleh juga dikatakan bahwa kasih yang
mendisiplin ini merupakan tanda yang paling kuat bahwa Allah sungguh mengasihi
Dia. Jangan sampai Allah membiarkan kita (Rm. 1:24, 26, 28), karena itu berarti
Allah tidak lagi peduli dengan kita. Ibrani 12:5-6 dengan jelas mengatakan
bahwa mereka yang dikasihi Allah dan dianggap sebagai anak pasti akan dihajar
atau disesah. Tetapi apakah mungkin bahwa seseorang ketika dihajar oleh Allah
dapat merasakan kasih-Nya itu?
 
Dalam Alkitab, ada seorang
manusia biasa yang ketika dihukum Allah dapat merasakan bahwa sangat besar
kasih Allah itu. Orang itu adalah Daud (1Taw. 21:13). Ketika harus mengalami
hukuman Allah karena dosanya maka dia dengan rela menyerahkan penghukuman itu
sepenuhnya kepada Allah dan tetap dapat merasakan kasih sayang Allah yang
sangat besar. Kerelaan inilah yang dilihat oleh Allah sehingga walaupun Daud
pernah membuat kesalahan yang sangat dahsyat, dia tetap merupakan orang yang 
dikenan
Allah (Kis. 13:22). Bayangkan bahwa orang yang melanggar 3 dari 10 Perintah
Allah (melanggar perintah nomor 10, nomor 7 dan kemudian nomor 6) dianggap
Allah orang yang berkenan dihati Tuhan. Hati yang rela dihukum inilah yang
membuat Allah memandang tinggi Daud. 
 
 
 
Sumber:
Ringkasan Khotbah KebaktianUmum di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Pregolan 
Bunder, Surabaya hari Minggu, 22 April 2012
http://www.gki-pregolan.org/front/index.php/ringkasan-kotbah/215-kotbah-22-april-2012
 
 
 
Profil
Pdt. Agus Surjanto:
Pdt.
Em. Agus Surjanto, S.Th., M.K.adalah pendeta yang melayani di GKI Pregolan 
Bunder, Surabaya. Beliau
menamatkan studi Sarjana Theologi (S.Th.)
dan Magister Konseling (M.K.) di
Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang.
 
 
 
"Kerendahan hati yang rohani merupakan suatu kesadaran yang dimiliki seorang 
Kristen tentang betapa miskin dan menjijikkannya dirinya, yang memimpinnya 
untuk merendahkan dirinya dan meninggikan Allah semata."
(Rev. Jonathan Edwards, A.M., Pengalaman Rohani Sejati, hlm. 100)

Kirim email ke