Sebutan “Kristen” berarti pengikut Kristus dan kita diperintahkan Kristus
untuk menjadi garam dan terang dunia. Namun fakta mengatakan bahwa banyak orang
Kristen yang tidak sungguh-sungguh mengikut Kristus, sehingga mereka pun tidak
menggarami dan menerangi dunia sekitarnya. Lalu, bagaimana kita dapat menjadi
para pengikut Kristus yang mempengaruhi dunia sekitar?
 
Temukan jawabannya dalam:
Buku
BECOMING A CONTAGIOUS CHRISTIAN
(Menjadi Orang Kristen yang Menular)
 
oleh:
Rev. William (Bill) Hybels, D.D. (HC)
dan
Mark Mittelberg, D.D. (HC)
 
Penerbit: Literatur Perkantas Jatim, Surabaya, 2012
 
Penerjemah: Slamat P. Sinambela dan Tim Literatur Perkantas Jawa
Timur
 
 
 
Di dalam bagian 1 bukunya, Rev. Bill Hybels mengajar kita signifikansi
kita menjadi orang Kristen yang menular. Lalu, beliau mengajar sebuah rumus
untuk menjalankannya yaitu potensi tinggi (memperbaiki diri kita) + kedekatan
hubungan (membina persahabatan) + komunikasi yang jelas (memberitakan Injil
dengan benar dan tepat) = pengaruh yang maksimal. Keempat elemen dalam rumus
ini dijelaskan satu per satu dalam 4 bagian selanjutnya di dalam bukunya.
Potensi tinggi artinya kita harus memperbaiki diri kita sendiri sebelum kita
dapat menjadi orang Kristen menular yaitu dengan menjadi orang Kristen yang
menjadi diri sendiri baik dalam kepribadian maupun dalam batin, jujur mengakui
kesalahan, sungguh-sungguh, mengasihi orang lain, dan berkorban. Membenahi diri
tidaklah cukup harus disertai dengan membina persahabatan dengan orang lain.
Setiap kita perlu mengetahui bagaimana berelasi dengan orang lain entah itu
orang yang sudah kita kenal, orang yang sudah lama kita kenal, ataupun orang
yang belum kita kenal sama sekali. Setelah itu, kita perlu mengetahui
pendekatan persahabatan yang cocok dengan kita di mana Rev. Bill Hybels
mengemukakan ada 6 pendekatan membina relasi dari Alkitab khususnya Perjanjian
Baru, yaitu: pendekatan langsung ala Petrus, pendekatan intelektual ala Paulus,
pendekatan kesaksian ala orang buta di Yohanes 9, pendekatan antar pribadi ala
Matius, pendekatan undangan ala perempuan Samaria di Yohanes 4, dan pendekatan
pelayanan ala Tabita di Kisah Para Rasul 9:36. Setelah membina relasi dengan
orang lain, kita juga perlu memberitakan Injil dengan jelas kepada orang-orang
tersebut. Sebelumnya, Rev. Bill Hybels menjelaskan dasar-dasar Injil untuk
menguatkan kita dan orang lain yang kita injili. Kemudian, beliau mengajar kita
tentang tips-tips mengomunikasikan Injil dengan jelas dan tepat bagi orang lain
khususnya para pencari iman yang baru, salah satunya dengan tidak menggurui
atau membuat orang lain terus memperhatikan kita yang berbicara. Dan terakhir,
di dalam proses mengomunikasikan Injil tersebut, kita juga perlu mengetahui
halangan apa saja yang membuat orang lain meragukan Injil, misalnya halangan
intelektual atau moral, dll. Kita perlu mengetahui halangan-halangan tersebut
dan mengatasinya, tetapi tentu saja dengan pimpinan Roh Kudus. Setelah
mengikuti 3 elemen dalam rumus tersebut, maka hasilnya adalah pengaruh yang
maksimal di mana kita bukan hanya belajar teori-teorinya, tetapi kita
menjalankannya sendiri dan berusaha menginvestasikan hidup kita untuk menjadi
orang Kristen yang menular. Meskipun ada sedikit prinsip dari Rev. Bill Hybels
yang kurang saya setujui, namun saya tetap menghargai buku karya Rev. Bill
Hybels ini menyadarkan saya agar menjadi orang Kristen yang menular di
tengah-tengah dunia.
 
 
 
Rekomendasi:
“Apakah
kasih Anda kepada Yesus menular? Itu bisa! Dalam buku ini, Bill Hybels
menjelaskan bagaimana Anda bisa mengalami kesenangan hidup terbesar, dengan
embawa teman atau orang yang Anda kasihi kepada Juruselamat.”
Dr. Luis Palau
(Penginjil
Internasional)
 
 
 
Profil
Rev. Bill Hybels:
Rev. William (Bill) Hybels, D.D. (HC)adalah pendiri dan pendeta senior di 
Willow Creek Community Church di South
Barrington, Illinois. Beliau juga pendiri dan ketua yayasan dari Willow
Creek Association dan juga pencipta dari Global Leadership Summit.
Beliau menamatkan studi Bachelor dalam
bidang Studi Biblika di Trinity International University (TIU), dekat Chicago 
dan dianugerahi gelar Doctor of Divinity (D.D.)
dari TIU’s Trinity Evangelical Divinity School,
U.S.A.
 
Mark Mittelberg, M.A., D.D. (HC)adalah penulis, pembicara, dan ahli strategi 
penginjilan. Beliau
menyelesaikan studi Master of Arts (M.A.)
bidang Filsafat Agama di Trinity
Evangelical Divinity School di Deerfield, Illinois dan dianugerahi gelar Doctor 
of Divinity (D.D.) dari Southern
Evangelical Seminary di Charlotte, North Carolina. Beliau dan istrinya, Heidi
dikaruniai 2 anak-anak remaja dan mereka tinggal dekat Denver, Colorado. Beliau 
adalah penulis buku “Building
a Contagious Church”, “Choosing
Your Faith ... In a World of Spiritual Options”, dll. Buku terbaru yang beliau 
tulis: “The Questions
Christians Hope No One Will Ask”.
 
"Kerendahan hati yang rohani merupakan suatu kesadaran yang dimiliki seorang 
Kristen tentang betapa miskin dan menjijikkannya dirinya, yang memimpinnya 
untuk merendahkan dirinya dan meninggikan Allah semata."
(Rev. Jonathan Edwards, A.M., Pengalaman Rohani Sejati, hlm. 100)

Kirim email ke