MENGALAMI KASIH YANG SEJATI
 
oleh:Pdt. David
Santoso Kosasih, M.Div.
 
 
Nats: 1
Yohanes 4:7 – 5:3
 
 
Ada pepatah yang mengatakan, "Buah jatuh
tak jauh dari pohonnya". Pepatah tersebut ingin mengatakan bahwa karakter
seorang anak tidak jauh berbeda dibandingkan dengan orangtuanya. Kalau kita
menyatakan diri sebagai anak Allah, maka sudah selayaknya bahwa kita juga
memiliki karakter-karakter yang seperti Allah dan karakter yang akan kita
pelajari adalah kasih. 
1.        Hidup merefleksikan kasih Allah.
Allah adalah sumber kasih (ay. 7) dan kasih
adalah natur Allah (ay. 8). Kasih itu bukan hanya dinyatakan melalui
pengorbanan Yesus, melainkan juga melalui pengorbanan Bapa yang telah merelakan
Anak-Nya. Barangsiapa yang menyatakan bahwa ia lahir dari Allah atau bahwa ia 
mengenal
Allah, ia harus mengasihi saudara-saudara seiman sebagai sesama anggota tubuh
Kristus. Tidaklah mungkin saat kita menyatakan diri sebagai anak Allah dan
mengasihi Allah, lalu pada saat bersamaan membenci saudara kita. Karena kita
adalah anak-anak Allah dan kita mengalami kehadiran-Nya di dalam hidup kita,
maka seharusnya kita merefleksikan karakter Bapa yang adalah kasih. Orang yang
mengasihi membuktikan bahwa ia telah lahir dari Allah.

2.    Hidup berproses dalam
mengasihi
Rasul Yohanes dengan tegas mengatakan, jika
tidak ada kasih kepada umat Allah di dalam hati kita, jangan pernah menyatakan
bahwa kita mengenal Allah. Meski kasih itu belum sempurna, harus tetap
dinyatakan dan harus tetap bertumbuh. Kasih seharusnya tak bersyarat, dimiliki
oleh semua orang dan ditujukan untuk siapa pun. Kita harus berusaha untuk
mengasihi ketika tiap syaraf di dalam tubuh kita berdenyut di dalam kebencian
dan keinginan membalas dendam. Salib Kristus tidak memberi kita pilihan tentang
kasih. Kita harus mengatasi keangkuhan kita dan dengan taat berusaha
mempraktekkan kasih di dalam tiap situasi.

3.    Hidup Berelasi dengan Allah
Jika kita ingin lebih mengasihi, kita perlu
belajar lebih dekat dengan Allah. Relasi yang lemah di antara dua pihak akan
dikuatkan bila keduanya semakin dekat dengan Allah. Sebaliknya, kita tidak
dapat bertumbuh dalam pengalaman kita dengan Allah tanpa mengasihi satu sama
lain. Jika kita sudah mampu mengasihi, kita mesti bersyukur pada Allah. Namun
jika kita merasa kurang mengasihi, kita harus berdoa, meminta Allah merubah
hati kita. Dengan kasih, kita akan menemukan sukacita yang lebih besar di dalam
hidup.
 
         
          
 
Sumber:
Ringkasan khotbah
Pdt. David S. Kosasih di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Pregolan Bunder,
Surabaya tanggal 11 Agustus 2013
http://www.gki-pregolan.org/front/index.php/ringkasan-kotbah/601-kotbah-11-agustus-2013
 
 
 
"Kerendahan hati yang rohani merupakan suatu kesadaran yang dimiliki seorang 
Kristen tentang betapa miskin dan menjijikkannya dirinya, yang memimpinnya 
untuk merendahkan dirinya dan meninggikan Allah semata."
(Rev. Jonathan Edwards, A.M., Pengalaman Rohani Sejati, hlm. 100)

Kirim email ke