silahkan anda melewati jalan casablanca pas di depan mal ambassador antara pukul 17.00 - 20.00 WIB, banyak taksi yang beralih fungsi menjadi "bajaj"... seenaknya menaik turunkan penumpang, malang melintang di pinggir dan tengah jalan... gak kalah sembrononya dengan bajaj sungguhan...
regards, gandhi KHCC 128 --- Andry B <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > dari Wikimu > > *Bajaj, Hanya Sopir dan Tuhan yang Tahu Kapan Akan > Belok* > > oleh: illian deta arta sari > Kanal: Layanan Publik > > Bajaj memang benar-benar luarrrr biasa. Tanpa lampu > sign, si langsing yang > bersuara cempreng ini bisa seenaknya belok > sesuka-sukanya abang sopir. > Wuss.. Lampu merah pun diterobos... > > Selama sekitar dua tahun tinggal di Jakarta, jumlah > saya naik bajaj hanya > itungan jari saya. Itupun karena terpaksa soalnya > diajak sang suami. Kakang > mas bukannya hobi naik bajaj, tapi dia selalu bilang > mau memberi rejeki pada > sopir-sopir bajaj. ''Kalau semua orang maunya naik > taksi aja dan nggak mau > naik bajaj kan kasian mereka,'' katanya dengan raut > muka innocent. Alhasil, > sayapun bisa manut mau naik bajaj. > > Tiap kali naik bajaj, saya rasanya ketar-ketir dan > ikut melotot ke depan, ke > kiri atau ke kanan. Terutama pas mau belokan atau di > pertigaan atau > perempatan atau pas melewati rel kereta api. Ampun > deh, saya benar-benar > takut kalau bajaj yang merupakan hasil impor barang > bekas dari India tahun > 60an itu macet di tengah rel trus ada kereta lewat. > > Terakhir naik bajaj kebetulan dua hari lalu. Saya > perhatikan, sopir yang > saya tumpangi sama saja dengan sopir-sopir yang l > ain. Cuek bebek selama di > jalan, seolah jalan milik embahnya. Dengan tubuh > bergetar kena goncangan > mesin bajaj, saya terus berpegangan sandaran kursi > sopir yang penuh karat > dan terus melihat sekitar jalan. > > Saat di lampu merah di dekat Plaza Arion Jakarta > Timur, si sopir terlihat > tengok kanan, tengok kiri. Kemudian, sedikit demi > sedikit memajukan bajajnya > sampai melebihi garis batas. Seperti yang saya duga > dan saya kira, pas agak > sepi, pak sopir langsung aja tancap gas dan suara > bajajnya seperti > kepayahan.. walahh. Saya hanya bisa ngelus dada. > Kalau saja bajaj bisa > ngomong, mungkin dia akan menjerit njerit dipaksa > kerja berat meski sudah > reot. hehe > > Soal belok, bajaj tampaknya juga cukup lihai dan > cenderung nekat. Dari > pengamatan saya, kayaknya hampir semua bajaj lampu > signnya mati. Tul gak?? > Nah, untuk belok, modalnya cuma melambaikan tangan. > Padahal, kalau dilihat > dari luar bajaj, tangan si sopir hanya kelihatan > telapat tangan dadah-dadah > saja.. Dan kemungkinan besar, kendaraan yang melaju > kenceng di belakangnya > atau di depannya akan sulit melihat.. Bisa > dikatakan,hanya sopir dan Tuhan > yang tahu kapan bajaj akan belok..ya tho? > > Meski kondisi bajaj memprihatinkan, angkutan ini > kayaknya nggak ada matinya. > Dari jaman dulu kala, sampai sekarang tetep saja ada > yang naik. Mungkin apa > yang dipikirkan para penumpang itu kayak suami > saya.. Kalau dilihat dari > segi kenyamanan, ya semua tentu milih naik taksi. > Toh tarifnya nggak > jauh-jauh beda amat. Ya tho? Tapi kenyataannya bajaj > tetap laris manis. > > Walau saya tidak suka naik bajaj, tapi rasanya > kasian kalau pemda DKI mau > memusnahkan begitu saja keberadaan mereka tanpa > memberi alternatif > pekerjaan bagi para sopirnya. Bayangin saja, berapa > kepala yang > menggantungkan hidup dari kerja pak sopir-sopir ituÂ… > > -- > <B 6123 KMJ Blaze Red Vario> > KHCC 011 <> F.S.R.J > http://lampuhijau.wordpress.com/ > http://revo-me.blogspot.com/ > ---------------------------------------------- > ____________________________________________________________________________________ Be a better sports nut! Let your teams follow you with Yahoo Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/sports;_ylt=At9_qDKvtAbMuh1G1SQtBI7ntAcJ

