Betul, seperti Marbatak Bolu, sama Keju Bakar, pan jarang ada tuh.

Brownise dah ada dimana mana, molen juga, jadi mesti kudu yang aneh tapi
enak.

Pada 30 Januari 2009 15:35, Afri Y <[email protected]> menulis:

>   Hehehe... sudah juga.
> Cuma menurut gue sih biasa aja....
>
> Kalau mau kuliner, mending cari kuliner yang makanan khas jangan yang
> gampang ditemui dimana aja...
>
> Afri
>
> Laurence J. Peter  - "It's better to have loved and lost than to have to do
> forty pounds of laundry a week."
>
> 2009/1/30 Alex Setia <[email protected]>
>
>>  kalo yang ini dijamin 100 persen loe pasti belum fri he he he he
>>
>> copaste dari milis tetangga ... !
>> Hari Sabtu, di bawah guyuran gerimis mengundang, saya, Adi, Endru dan
>> Tita menyusuri pinggiran Gd Sate Bandung. Hari itu, saya berhasil
>> membuat sahabat-sahabat jurig makan saya ini menunjukkan dimana letak
>> temuan rahasia kuliner yang telah lama mereka tutupi. Satu-satunya
>> "kebocoran informasi" mengenai keberadaan tempat ini terjadi ketika
>> Adi mengoleh-olehi Kecap Cap Bintang, Magelang Asli Bandung (bingung
>> kan?), kepada Endru sambil memberi info bisik-bisik, "ini dapetnya di
>> Pak Bera, tukang sate deket Gasibu.. enak pisan siah!".
>>
>> Jadilah, disela acara jadi juri lomba makanan berkeju yang dibikin
>> Kraft kemarin, pada jam makan siang tim Jalansutra terpecah. Sebagian
>> berangkat ke Lapo Siagian dan tim halalan toyibah dengan diam-diam
>> berangkat ke Pak Bera.
>>
>> Warung Sate Pak Bera terletak di Jl. Cimandiri, persis di pinggang
>> kanan Gd Sate (jika anda adalah Gd Sate dan menghadap ke Lapangan
>> Gasibu). Tendanya cukup besar dan lega. Tulisan nama Sate Pak Bera
>> juga cukup jelas terpajang. Entah jam berapa Pak Bera buka, tapi sore
>> itu mereka tutup sekitar pukul 3 karena satenya habis.
>>
>> Tita dan Adi sebagai tuan rumah mengurusi pemesanan, 30 tusuk sate
>> kambing (dibagi 15 berbumbu kacang dan 15 berbumbu kecap) plus 2
>> mangkuk gule kambing dan masing-masing sepiring nasi. Teh anget harum
>> melati secara otomatis dialirkan tanpa henti.
>>
>> Begitu disajikan (dengan kecepatan bakaran yang luar biasa ekspres),
>> saya segera faham mengapa Adi dan Tita mati-matian menjaga rahasia
>> ini. Satenya enak pisaaaaannn!!!!! Potongan daging segede jempol,
>> berbaris di tusukan, dibakar dengan kematangan super pas, bebas gosong
>> di permukaan, sementara ditengahnya bersemu sogan-jambon
>> (pinkish-brown, hehehe..). Satu-satunya bagian yang keras hanyalah
>> tusukan bambunya. Dagingnya.. mulus tak mengganjal gigi. Aroma khas
>> daging kambing nyaris tak terlacak, tapi rasa mantapnya meletup di
>> segenap perasa. Ah, rupanya pantas kalau Pak Bera disebut sebagai
>> orang yang memberi makna "Sate" pada kata Gedung Sate!
>>
>> Di sini lagi-lagi teori bahwa bumbu kacang hanya pas untuk sate ayam
>> kembali terbukti. Aura sate kambing seolah terselimuti berlebihan oleh
>> bumbu kacang. Sate dengan bumbu sederhana, hanya kecap plus bawang,
>> cabe dan tomat terasa lebih menohok. Tapi kalau mau lebih mantap, coba
>> minta satenya disajikan tanpa bumbu sama sekali. Beneran, uji coba
>> nekat ini ternyata menghasilkan daging bakar dengan aroma dan rasa
>> yang berkibar kencang. Tanpa penghalang, tanpa pengantar. Hanya daging
>> bakar saja. Tita bahkan berkomentar "kayak makan steak ya.."
>>
>>
>>
>> *Alex Setia***
>>
>> Policy Owner Services (POS)
>>
>
>  
>



-- 
Salam, OZQY
KHCC OO7 I H # 182 I FSRJ/RSA

Kirim email ke