Bismillahirrahmanirrahim,

Assalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Berikut ini saya sertakan sebuah artikel yang semoga membantu kita semua 
dalam berhari raya sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa 
sallam. Maaf jika terlalu panjang. Semoga tetap bermanfaat.

----------

HARI RAYA DENGAN TUNTUNAN RASULULLAH[1]
 
Oleh Syaikh Ali Bin Hasan bin Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari


Dari Anas Radliallahu 'anhu ia berkata : "Nabi Shallallahu 'alaihi wa 
sallam datang ke Madinah sedang penduduknya memiliki dua hari raya 
dimana mereka bersenang-senang di dalamnya di masa jahiliyah[2]. Maka 
beliau bersabda :
"Artinya : Aku datang pada kalian sedang kalian memiliki dua hari yang 
kalian besenang-senang di dalamnya pada masa  jahiliyah. Sungguh Allah 
telah menggantikan untuk kalian yang lebih baik dari dua hari itu yaitu 
: hari Raya Kurban dan hari Idul Fithri".  (Hadits Shahih, dikeluarkan 
oleh Ahmad (3/103,178,235), Abu Daud (1134), An-Nasa'i (3/179) dan 
Al-Baghawi (1098).
 
Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata.
"Ibnu Abi Dunya dan Al-Baihaqi telah meriwayatkan dengan isnad yang 
shahih yang sampai kepada Ibnu Umar bahwa Ibnu Umar biasa memakai 
pakaiannya yang paling bagus pada hari Idul Fithri dan Idul 
Adha".[Fathul Bari 2/439]

 
KELUAR MENUJU MUSHALLA
(Tanah Lapang Yang Digunakan Untuk Shalat Ied)

Dari Abu Said Al Khudri Radliallahu 'anhu, ia berkata :
"Artinya : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam biasa keluar menuju 
mushalla (tanah lapang) pada hari Idul Fitri dan Idul Adha, maka pertama 
kali yang beliau lakukan adalah shalat ..." [Hadits Riwayat Bukhari 956, 
Muslim 889 dan An-Nasaa'i 3/187]
Berkata Al-Alamah Ibnul Hajj Al Maliki :
"Sunnah yang telah berlangsung dalam pelaksanaan shalat Idul Fitri dan 
Idul Adha adalah di mushalla (tanah lapang), karena Nabi Shallallahu 
'alaihi wa sallam bersabda :
"Artinya : Shalat di masjidku ini (masjid Nabawi -pen) lebih utama dari 
seribu shalat yang dilaksanakan di masjid lainnya kecuali masjid 
Al-Harram". [Hadits Riwayat Bukhari 1190 dan Muslim 1394]
Kemudian, walaupun ada keutamaan yang besar seperti ini, beliau 
Shallallahu 'alaihi wa sallam tetap keluar ke mushalla (tanah lapang) 
dan meninggalkan masjidnya. [Al-Madkhal 2/283].
 

MENGAMBIL JALAN YANG BERLAINAN KETIKA PERGI DAN KEMBALI DARI MUSHALLA
 
Dari Jabir bin Abdillah Radliallahu 'anhu, ia berkata :
"Artinya : Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pada hari raya biasa 
mengambil jalan yang berlainan (ketika pergi dan ketika kembali dari 
mushalla-pen)" [Hadits Riwayat Bukhari 986].
 

TAKBIR PADA IDUL FITHRI DAN IDUL ADHA

Telah pasti riwayat bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :
"Artinya : Beliau keluar pada hari Idul fitri, maka beliau bertakbir 
hingga tiba di mushalla (tanah lapang), dan hingga ditunaikannya shalat. 
Apabila beliau telah menunaikan shalat, beliau menghentikan takbir". 
[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam "Al-Mushannaf" dan Al-Muhamili 
dalam "Kitab Shalatul 'Iedain" dengan isnad yang shahih akan tetapi 
hadits ini mursal. Namun memiliki pendukung yang menguatkannya. Lihat 
Kitab "Silsilah Al Hadits As-Shahihah" (170). Takbir pada Idul Fithri 
dimulai pada waktu keluar menunaikan shalat Id]

APAKAH ADA SHALAT SUNNAH SEBELUM DAN SESUDAH SHALAT ID

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma, ia berkata :
"Artinya : Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat dua raka'at pada 
hari Idul Fithri, beliau tidak shalat sebelumnya dan tidak pula 
sesudahnya...." [Hadits Riwayat Bukhari 989, At-Tirmidzi 537, An-Nasa'i 
3/193 dan Ibnu Majah 1291]

KAPAN DISUNAHKAN MAKAN PADA HARI IDUL FITRI DAN IDUL ADHA ?

Dari Anas Radliallahu anhu, ia berkata :
"Artinya : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pergi (ke 
tanah lapang) pada hari Idul Fitri hingga beliau makan beberapa butir 
kurma". [Hadits Riwayat Bukhari 953, Tirmidzi 543, Ibnu Majah 1754 dan 
Ahmad 3/125, 164, 232]
 
Dari Buraidah Radliallahu anhu ia berkata :
"Artinya : Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak keluar pada hari 
Idul Fitri hingga beliau makan, sedangkan pada hari Raya Kurban beliau 
tidak makan hingga kembali (dari mushalla) lalu beliau makan dari 
sembelihannya" [Diriwayatkan Tirmidzi 542, Ibnu Majah 1756, Ad-Darimi 
1/375 dan Ahmad 5/352 dan isnadnya hasan]

UCAPAN SELAMAT PADA HARI ID

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya tentang ucapan selamat pada hari 
raya maka beliau menjawab [3] :
 
"Ucapan pada hari raya, di mana sebagian orang mengatakan kepada yang 
lain jika bertemu setelah shalat Id :
 
Taqabbalallahu minnaa wa minkum
"Artinya : Semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian"
 
Dan ( Ahaalallahu 'alaika), dan sejenisnya, ini telah diriwayatkan dari 
sekelompok sahabat bahwa mereka mengerjakannya. Dan para imam memberi 
rukhshah untuk melakukannya seperti Imam Ahmad dan selainnya, akan 
tetapi Imam Ahmad berkata : Aku tidak pernah memulai mengucapkan selamat 
kepada seorangpun, namun bila ada orang yang mendahuluiku mengucapkannya 
maka aku menjawabnya. Yang demikian itu karena menjawab ucapan selamat 
bukanlah sunnah yang diperintahkan dan tidak pula dilarang. Barangsiapa 
mengerjakannya maka baginya ada contoh dan siapa yang meninggalkannya 
baginya juga ada contoh, wallahu a'lam.[4]
 
Berkata Al Hafidh Ibnu Hajar[5] :
 
"Dalam "Al Mahamiliyat" dengan isnad yang hasan dari Jubair bin Nufair, 
ia berkata :
"Artinya : Para sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bila bertemu 
pada hari raya, maka berkata sebagian mereka kepada yang lainnya : 
Taqabbalallahu minnaa wa minka (Semoga Allah menerima dari kami dan 
darimu)".
Ibnu Qudamah dalam "Al-Mughni" (2/259) menyebutkan bahwa Muhammad bin 
Ziyad berkata : "Aku pernah bersama Abu Umamah Al Bahili dan selainnya 
dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka bila 
kembali dari shalat Id berkata sebagiannya kepada sebagian yang lain : 
Taqabbalallahu minnaa wa minka
 
Imam Ahmad menyatakan : "Isnad hadits Abu Umamah jayyid (bagus)" [6]
 
Adapun ucapan selamat : (Kullu 'aamin wa antum bikhair) atau yang 
semisalnya seperti yang banyak dilakukan manusia[7], maka ini tertolak 
tidak diterima, bahkan termasuk perkara yang disinggung dalam firman Allah.
"Artinya : Apakah kalian ingin mengambil sesuatu yang rendah sebagai 
pengganti yang lebih baik.?"

Bid'ah-bid'ah yang dilakukan oleh kebanyakan orang dengan pengakuan 
bertaqqarub (mendekatkan diri) kepada Allah Ta'ala, padahal tidak ada 
asalnya sama sekali dalam agama Allah. Bid'ah itu banyak sekali[8]. Aku 
hanya menyebutkan satu saja di antaranya, yaitu kebanyakan para khatib 
dan pemberi nasehat menyerukan untuk menghidupkan malam hari Id (dengan 
ibadah) dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah[9]. Tidak hanya 
sebatas itu yang mereka perbuat, bahkan mereka menyandarkan hadits palsu 
kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, yaitu hadits yang berbunyi.
"Artinya : Barangsiapa yang menghidupkan malam Idul Fithri dan Idul Adha 
maka hatinya tidak akan mati pada hari yang semua hati akan mati" 
[Hadits ini palsu (maudlu'), diterangkan oleh ustazd kami Al-Albani 
dalam "Silsilah Al-Ahadits Adl-Dlaifah" 520-521]
Hadits ini tidak boleh sama sekali disandarkan kepada Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk 
Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.

***

[1] Diringkas dari buku Ahkaamu Al' Iidaini Fii Al-Sunnah Al-Muthahharah 
edisi Idonesia Hari Raya Bersama Rasulullah, oleh Syaikh Ali bin Hasan 
bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari, hal. 8-11 terbitan Pustaka 
Al-Haura', penerjemah Ummu Ishaq Zulfa Hussein.

[2] Yaitu hari Nairuz dan hari Mahrajan. Lihat "Aunul Ma'bud" (3/485) 
oleh Al-Adhim Abadai.

[3] Majmu Al-Fatawa 24/253

[4] Al Jalal As Suyuthi menyebutkan dalam risalahnya " Wushul Al Amani 
bi Ushul At Tahani" beberapa atsar yang berasal lebih dari satu ulama 
Salaf, di dalamnya ada penyebutan ucapan selamat.

[5] Fathul Bari 2/446

[6] Lihat Al Jauharun Naqi 3/320. Berkata Suyuthi dalam 'Al-Hawi: (1/81) 
: Isnadnya hasan

[7] Seperti halnya ucapan-ucapan mohon maaf lahir batin, minal aidin wa 
faidzin, dan lain-lain yang tidak ada dasarnya sedangkan ucapan yang 
dicontohkan para shahabat Rasulullah hampir-hampir dilupakan. (peringkas)

[8] Lihat beberapa di antaranya dalam kitab A'yadul Islam 58 pasal 
Bida'ul Iedain

[9] Seperti di Indonesia berkembang budaya takbiran berkeliling kota di 
malam ‘Idul Fithri padahal telah nyata bahwa takbir dilakukan saat 
berjalan ke tanah lapang. (peringkas)

----------

Allahu a'lam.

-- 
Ahmad Ridha ibn Zainal Arifin ibn Muhammad Hamim
(l. 1400 H/1980 M)


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/tBfwlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Hemat bandwith. Hapus pesan yang tidak perlu. Subscribe milis: [EMAIL 
PROTECTED] Unsubscribe milis: [EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kasma1/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke