http://kompas.com/utama/news/0501/13/010108.htm

Sarapan Pagi
Tidak Semua Orang Kaya Bolot

Jakarta, KCM






Dalam situasi bangsa yang sedang prihatin, ada baiknya tayangan yang 
mempertajam perbedaan seperti iklan layananan masyarakat tentang BBM 
dipertimbangkan.

Dalam iklan layanan masayarakat BBM yang menampilkan pelawak Bolot dan 
Nasrullah alias Mat Solar alias Bajuri, diperlihatkan tentang subsidi BBM 
yang ternyata jauh dinikmati oleh kelompok ekonomi atas.  Kedua tokoh 
tersebut mengecam kelompok "penikmat subsidi" BBM ini yang disimbolkan 
dengan golongan yang mengenakan baju berdasi dan mengendarai mobil mewah 
seperti BMW.

Dalam akhir tayangan, Mat Solar dengan mengendarai bajajnya mengecam 
kelompok yang sedang mendemo kenaikan harga BBM. "Mau bela siapa? Mau bela 
Boss?"

Banyak media yang kemudian mengkontraskan pesan yang disampaikan Nasrullah 
dengan sikap yang diambil Rieke Diah Pitaloka pemeran Oneng dalam serial 
"Bajaj Bajuri." Onengnya ikut demo, sementara suaminya, Bajuri menentang 
demo tersebut. "Bebas saja," kata Rieke.

Memang menjadi hak setiap orang untuk bersikap.  Setahu saya, sewaktu kuliah 
di jurusan Sosiologi FISIP Universitas Indonesia pada 1980-an, Nasrullah 
bukan tipikal mahasiswa yang tertarik dengan teori-teori pertentangan kelas. 
Nasrullah atawa Bajuri tentunya hanya menjalani peran berdasar nasakah yang 
ada.

Iklan layanan masyarakat ini dikeluarkan oleh Kementerian Komunikasi dan 
Informasi (Kominfo). Lembaga negara ini tentunya mempropagandakan 
kepentingan pemerintah, mencoba menjelaskan mengapa pemerintah harus 
menghapus subsidi BBM secara bertahap, dimulai dari Pertamax dan Elpiji yang 
diasumsikan selama ini subsidinya hanya dinikmati golongan kaya.

Dengan durasi hanya sekian detik, memang sulit bagi pemerintah untuk 
menjelaskan bahwa sistem yang selama ini berlangsung memang menguntungkan 
sekelompok masyarakat saja. Banyak yang kemudian menjadi kaya dengan 
memanfaatkan sistem yang timpang tersebut. Namun -ini faktanya- banyak pula 
yang kaya meski tidak memanfaatkan sistem yang timpang tersebut. Dengan 
durasi yang singkat memang lebih mudah memunculkan tokoh hitam - putih, 
protagonis-antagonis dan maaf saja, dalam  situasi tertekan beban hidup yang 
berat memang paling mudah mengacungkan telunjuk pada orang yang lebih makmur 
daripada kita.

Ini memang hak pemerintah dalam hal ini Kominfo. Sayangnya -ya sayangnya- 
tayangan layanan masyarakat ini  tetap ditayangkan selama masa-masa 
berkabung pasca bencana gempa bumi dan tsunami di Nangroe Aceh Darussalam 
dan Sumatera Utara pada 26 Desember lalu.

Bencana Aceh mengajarkan kepada kita bahwa untuk mengatasi hal tersebut 
semua daya harus dikerahkan.  Tidak pandang bangsa, suku, ras, agama, 
kelompok, status sosial, golongan ekonomi. Makanya di wilayah-wilayah 
bencana bisa dilihat kelompok mapan dari negara-negara AS dan Eropa, Jepang, 
Singapura ada di sana. Sementara relawan pun beragam, dari yang didukung 
modal kuat hingga mereka yang bermodalkan semangat dan keluhuran hati 
belaka, seperti dua sukarelawan lokal yang kabarnya harus kehilangan telapak 
tangannya yang terkena infeksi.

Tidak dapat dipungkiri dana kemanusiaan yang mengalir ke dompet-dompet 
peduli Aceh di mana pun berasal dari segenap lapisan masyarakat. Jumlah 
miliaern rupiah yang terkumpul melalui Kompas, Metro TV, atau pun di 
sekolah-sekolah berasal dari perusahan-perusahaan besar hingga anak-anak 
yang mungkin hanya bisa menyumbangkan Rp2000,- uang jajannya sehari.

Saat ini bukan saatnya untuk mempertajam perbedaan. Dana yang terkumpul di 
pelelangan barang dan suara artis di Hard Rock Cafe pekan lalu berasal dari 
"boss-boss" seperti Adrie Subono atau Setiawan Djody. Namun daba yang 
terkumpul di Pantai Karnaval Ancol, Minggu (9/1) lalu antara lain juga 
berasal dari para Slankers dan anggota OI "gembel" yang bersedia membeli 
karcis seharga Rp10 ribu.

Dalam situasi seperti ini, ujian terberat justru seharusnya dirasakan oleh 
mereka yang berkecukupan. Apakah mereka mau menjadi pelopor perbaikan 
keadaan di NAD pasca apa yang disebut Oneng "tusami" (tsunami) tersebut. 
Atau mereka mau menjadi orang kaya yang mapan dengan simbol-smbol seperti 
mobil mewah, tetap berfoya-foya di malam tahun baru dan -sayangnya- menembak 
orang?
(Tjahjo Sasongko)

[EMAIL PROTECTED]




----- Original Message ----- 
From: "Edo" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>; <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Wednesday, January 12, 2005 3:09 PM
Subject: [kasma1] Subsidi BBM 84%-nya dinikmati orang mampu?


>
> Kemaren liat iklan layanan masyarakat soal subsidi BBM versi bajuri.
> Disebutkan angka 72 trilyun (klo gak salah pertahunnya).
> Soal besarnya subsidi, gak usah dibahas lah...
> Entah itu betul atau bohong pertamina rugi, jg terserahlah.
> Intinya gw sih gak keberatan klo cuma BBM yang naik, tanpa efek domino
> ke harga lain.
> Gw gak banyak make bensin kok. Dan gw bukan anak mall yang suka
> keluyuran gak jelas.
>
> Yang menggelitik itu, disebutkan bahwa 84% besar subsidi itu dinikmati
> orang mampu.
> Dari mana pemerintah bisa nyebut angka itu???
> Dari yang beli BBM?
>
> Justru itu nunjukin piciknya pemerintah bukan?
> Secara langsung, memang.
> Tapi harga2 turunannya kan dinikmati semua orang.
> Klo pemerintah menaikkan premium sampe 40%...
>
> mungkin kopi yang dinikmati bajuri itu 1000 perak segelas.
> Tapi klo BBM naik? bisa 2000 perak bukan?
>
> Belum lagi PLN yang sudah ikut2an 'pasang badan'...
> Klo BBM naik sampe segitunya, pokoknya listrik harus ikut naik!
>
> Pemerintah MUNGKIN dapet dana ekstra 72 trilyun.
> Tapi rakyat PASTI bakal mengeluarkan dana ekstra total lebih dari 72 
> trilyun.
>
> Lagipula, yakin tuh... 72 trilyun itu bakal bener2 jadi 'barang' ?
> Bukannya cuma bakal 'mensubsidi' lebih sedikit orang?
>
> Pemerintah cuma bisa kaya mpok minah:
> 'maaf... bukan kami mau mempersulit hidup rakyat...
> tapi maaf... harga BBM memang harus naik'
>
> Mungkin harus dibuat iklan layanan masyarakat tandingan...
> Orang2 berdasi yang pada ngisi bensin ngobrol sambil ngeliat ke bajuri...
> 'orang2 kaya gitu tuh yang kesian klo bensin naek...
> Klo buat gw, paling gw gak bisa sering2 nongkrong di PS lagi...
> Nongkrong dirumah aja, nonton DVD...'
>
> -- 
> Kind Regards,
>
>
> Edo 




Hemat bandwith. Hapus pesan yang tidak perlu. Subscribe milis: [EMAIL 
PROTECTED] Unsubscribe milis: [EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kasma1/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke