sumber dari suara merdeka - semarang...
 
 
Serambi
Anakku dan VCD Sekolahnya
 
Saya tidak kaget ketika melihat banyak sekali pejabat di negeri ini mencintai anak-anaknya, karena meskipun saya bukan pejabat, saya juga sama seperti mereka; sama-sama bapak bagi anak-anak saya. Kecintaan itulah yang membuat ada seorang memilih dikritik katimbang harus menghentikan bisnis anak-anaknya. ''Lebih baik saya tidak jadi pejabat jika harus melarang anak-anak saya berbisnis,'' kata pejabat ini. Seorang pejabat, yang jika Anda adalah orang Indonesia, pasti akan sangat mengenalnya.
 
Anak memang menakjubkan. Demi anak, jabatan bisa menjadi soal yang tidak penting. Banyak soal penting, jika sudah dibandingkan dengan anak, menjadi tidak penting. Keselamatan itu penting, tapi jika sudah menyangkut anak bisa merosot menjadi biasa-biasa saja. Melihat anak terkurung bahaya, orang tua bisa dengan enteng malabrak bahaya.
 
Kehormatan itu penting, tapi jika sudah menyangkut anak, ia bisa menjadi sesuatu yang remeh belaka. Ada orang tua yang menawari sogok kepada juri, agar anaknya bisa jadi juara. Ada orang tua rela korupsi demi melihat hidup anak-anaknya sejahtera. Ada orang tua yang rela berbuat aib demi menutup aib anaknya.
 
Pertemanan itu penting, tapi jika sudah menyangkut anak, kemarahan bisa jauh lebih penting. Melihat anaknya dicurangi wasit dalam sebuah pertandingan olah raga, seorang petinggi negara bisa memilih baku pukul pada sesama. ''Dia cuma sakit fisiknya. Bandingkan dengan anak saya yang sakit langsung di hatinya,'' begitu kira-kira pernyataanya. Bapak ini tidak cuma berkata-kata. Untuk persoalan itu, ia juga siap mundur dari jabatannya. Sebuah jabatan tinggi, yang pasti tinggi pula bayarannya.
 
Saya sungguh memahami persoalan orang tua ini, karena meskipun bayaran saya tidak setinggi mereka, saya juga orang tua. Maka jika kami, sesama orang tua ini, ketika sudah menyakut soal anak, suatu kali berbuat kurang bermutu, saya, atas nama ikatan orang tua pecinta anak, memintakan maaf sebesar-besarnya. Karena sebagai sesama orang tua, nasib kami relatif sama. Kadang bermutu, kadang tidak. Kadang bijak, kadang nafsu.
 
Saya sendiri sungguh mengalaminya. Terutama ketika belum lama ini, anak saya yang masih TK terpilih menjadi tokoh operet di sekolahnya. Pentasnya baru minggu depan, kebingungannya melanda kami sekarang. Kami menata kostumnya sendiri. Menunggui latihannya, menepuki aktingnya dan berdebar-debar menunggu pementasannya. Saya pernah bermain teater. Paham rasanya nervous ketika hendak manggung. Tapi dibanding saat menunggu anak naik panggung, nervous itu ketemu cuma separohnya.
 
Saya gelisah ketika urutan acara menempatkan operet ini begitu lama. Jauh ada di akhir acara, sementara di belakang panggung, sejak pagi hari, anak saya sudah rapat dengan kostum semut merahnya. Kostum itu pasti gerah, tapi betapa ia amat tabah. Ia menunggu jadwal pentasnya seperti prajurit yang siap mati untuk negaranya. Olala, anak siapa dulu! Belum tau dia, siapa bapaknya!
 
Maka ketika operet Raja Semut itu benar-benar keluar pentas, tepuk tangan pun gemuruh. Tapi dari semua orang tua, tangankulah yang paling keras ayunannya. Di bawah panggung si bapak ini histeris. Memotret ke sana-kemari sambil menabraki apa saja. Ketika dalam sebuah formasi tarian anak saya ada di belakang, pelatih tarinya saya sumpahi dalam hati. Anak saya jadi cuma kelihatan jambul kostumnnya, tertutup oleh anak di depan, entah anak siapa itu, yang celakanya jauh lebih bongsor tubuhnya.
 
Tapi sudahlah. Toh opera ini direkam, disyuting, dan orang tua boleh memesannya salinannya, dengan membayar tentu. Orang tua mana yang pelit untuk kebutuhan semacam ini. Pintar juga sekolah ini, berdagang sesuatu yang sudah pasti siapa pembelinya. Maka jadilah saya orang tua pemesan pertama. Tegang menunggu VCD jadi. Seminggu yang dijanjikan, serasa setahun lamanya. Maka ketika barang itu benar-benar telah berada di tangan, kami sekeluarga tegang di depan televisi. Ketegangan ini ada juga benarnya, karena hingga seluruh operet berakhir, anak saya cuma terekam siku tangannya.
 
Hahaha� ia selalu berada di luar jangkauan kamera. Off screen istilah kerennya. Dasar tukang syuting keparat! Kami sekeluarga terluka. Mata istri saya malah sudah rembes dan berkaca-kaca. Ia marah, sedih, dan kecewa. Ia merasa anaknya teraniaya. Walau sebetulnya tidak� yang kecewa bukan kami sekeluarga. Tapi cuma saya dan istri saja. Anak saya yang cuma kena syuting sikunya itu malah tertawa-tawa terus sepanjang pertunjukan, menertawai wajah teman-temannya. Olala anak sialan! Sementara kami begini berdarah-darah oleh kecewa, ia baik-baik saja. Ia gembira-gembira saja. Ya, kenapa dalam soal kecewa, orang tua selalu berjalan lebih dulu, katimbang anak-anak mereka. (Prie GS)
 


Hemat bandwith. Hapus pesan yang tidak perlu. Subscribe milis: [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe milis: [EMAIL PROTECTED]




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke