|
fyi
----- Original Message -----
From: Yudiana
To: [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ;
[EMAIL PROTECTED] ;
[EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ;
[EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Wednesday, July 20, 2005 11:18 AM
Subject: [partailgein] PENGENDALIAN PROSES SIX SIGMA MOTOROLA
(Forwarding Opinion) Mungkin ada hal-hal mendasar yang ternyata selama ini masih misperception
atau bahkan mungkin ada hal-hal yang selama ini belum ditemukan penjelasan yang
gamblang, berikut saya share opini lain (dari luar LG, dari seorang yang namanya
sudah sangat dikenal sebagai penulis berbagai buku, Vincent Gaspersz). Mudah2an
bermanfaat.
======================================================================================
Date: Mon, 18 Jul 2005 15:04:46 -0000 From: "Vincent Gaspersz" <[EMAIL PROTECTED]> To: "Yudiana" <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re: Pengendalian Proses Six Sigma Motorola PENGENDALIAN PROSES SIX SIGMA MOTOROLA Pada saat ini, masih terdapat kerancuan di banyak pihakterutama di kalangan dunia industri dan akademik, tentang prinsip-prinsip Six Sigma Motorola, yang seolah-olah menafsirkan bahwa prinsip-prinsip pengendalian six sigma merupakan pengembangan dari "3-sigma statistical quality control". Memang ide dasar dari prinsip-prinsip Six Sigma diambil dari 3-sigma statistical quality control, tetapi implementasinya berbeda sama sekali. Saya ingin membahas pemahaman Six Sigma berdasarkan "statistical thinking" dan "statistical tools". Pada dasarnya pelanggan akan puas apabila mereka menerima nilai yang dibutuhkan mereka. Apabila produk (barang dan/atau jasa) diproses pada tingkat kualitas Six Sigma, maka perusahaan boleh mengharapkan 3,4 kegagalan per sejuta kesempatan (DPMO) atau mengharapkan bahwa 99,99966 persen dari apa yang diharapkan pelanggan akan ada dalam produk itu. Dengan demikian Six Sigma dapat dijadikan ukuran target kinerja sistem industri, tentang bagaimana baiknya suatu proses transaksi produk antara pemasok (industri) dan pelanggan (pasar). Semakin tinggi target sigma yang dicapai, maka kinerja sistem industri akan semakin baik. Sehingga 6-sigma otomatis lebih baik daripada 4-sigma, lebih baik daripada 3-sigma. Six Sigma juga dapat dianggap sebagai strategi terobosan yang memungkinkan perusahaan melakukan peningkatan luar biasa (dramatik) di tingkat operasional. Six Sigma juga dapat dipandang sebagai pengendalian proses industri berfokus pada pelanggan, melalui memperhatikan kemampuan proses (process capability). Ukuran kegagalan dalam Program Peningkatan Kualitas Six Sigma biasanya dinyatakan sebagai kegagalan per sejuta kesempatan. Target dari pengendalian kualitas Six Sigma Motorola adalah 3,4 DPMO, harusnya tidak diinterpretasikan sebagai 3,4 unit output yang cacat dari sejuta unit output yang diproduksi, tetapi diinterpretasikan sebagai dalam satu unit produk tunggal terdapat rata-rata kesempatan untuk gagal dari suatu karakteristik CTQ (critical-to-quality) adalah hanya 3,4 kegagalan per satu juta kesempatan (DPMO). Misalkan pencucian sebuah karpet rumah tangga yang berukuran 1500-square-foot yang dilakukan oleh suatu proses berkemampuan 4-sigma yang memiliki target 6.210 DPMO, maka akan terdapat sekitar 9,3 square feet dari area karpet itu yang tidak tercuci bersih (6.210/1.000.000 x 1500 = 9,3). Selanjutnya untuk karpet berukuran sama itu apabila pencuciannya dilakukan oleh suatu proses berkemampuan 6-sigma yang memiliki target 3,4 DPMO, maka hampir seluruh area karpet akan tercuci bersih, karena kemungkinan kegagalan hanya: 3,4/1.000.000 x 1.500 = 0,005 square feet yang tidak tercuci bersih (hampir mustahil menemukan kegagalan dalam proses pencucian karpet itu). Pemahaman terhadap DPMO ini sangat penting dalam pengukuran keberhasilan aplikasi program peningkatan kualitas Six Sigma. Pemahaman lain yang sangat penting dalam pengendalian proses statistikal adalah memahami kemampuan dari proses itu sendiri (process capability), di mana berdasarkan konsep Motorola yang mengijinkan terjadinya pergeseran dari nilai rata-rata terhadap target sebesar 1,5-sigma, yaitu: u = T +/- 1,5sigma atau: (u T) = +/- 1,5sigma, di mana u = nilai rata-rata proses, T = nilai target yang diinginkan oleh pelanggan, dan sigma merupakan ukuran standar deviasi dari proses. Jika kita memahami kapabilitas proses ini secara baik, maka kita dapat mengetahui bahwa untuk kapabilitas proses 1-sigma akan menghasilkan 691.462 DPMO, kapabilitas proses 2- sigma akan menghasilkan 308.538 DPMO, kapabilitas proses 3-sigma akan menghasilkan 66.807 DPMO, kapabilitas proses 4-sigma akan menghasilkan 6.210 DPMO, kapabilitas proses 5-sigma akan menghasilkan 233 DPMO, dan kapabilitas proses 6-sigma akan menghasilkan 3,4 DPMO. Pernyataan ini merupakan bahasa teknis yang tidak dipahami secara baik oleh para CEO. Kita dapat menerjemahkan kapabilitas proses berdasarkan ukuran DPMO (bahasa teknis) menjadi bahasa "uang" agar dapat dipahami oleh para CEO melalui mengaitkan kapabilitas proses dengan "cost of poor quality (COPQ), di mana untuk kapabilitas proses 1-sigma dan 2-sigma tidak dapat dihitung karena besar kerugian yang sangat besar, untuk kapabilitas proses 3- sigma akan menghasilkan COPQ sekitar 25-40% dari nilai penjualan, untuk kapabilitas proses 4-sigma akan menghasilkan COPQ sekitar 15- 25% dari nilai penjualan, untuk kapabilitas proses 5-sigma akan menghasilkan COPQ sekitar 5-15% dari nilai penjualan, dan untuk kapabilitas proses 6-sigma akan menghasilkan COPQ hanya sekitar kurang dari 1% dari nilai penjualan. Berdasarkan ukuran DPMO dan COPQ, kita mengetahui bahwa semakin tinggi kapabilitas proses yang diukur berdasarkan ukuran sigma, maka akan semakin rendah DPMO dan COPQ. Metodologi Six Sigma bertujuan untuk meningkatkan kapabilitas proses menuju target kapabilitas proses 6-sigma sehingga hanya menghasilkan 3,4 DPMO atau COPQ kurang dari 1% dari nilai penjualan. Saya melihat pemahaman terhadap Six Sigma di Indonesia masih hanya terfokus pada proyek-proyek Six Sigma menggunakan metodologi DMAIC. Dalam banyak perusahaan saya masih melihat bahwa pengendalian proses statistikal yang digunakan adalah "3-sigma statistical quality control", meskipun mereka menerapkan proyek Six Sigma. Hal ini berarti hanya namanya saja yang Six Sigma, tetapi sesungguhnya mereka melakukan pengendalian kapablitas proses 3-sigma yang masih menghasilkan 66.807 DPMO atau COPQ sekitar 25-40% dari nilai penjualan. Dengan demikian yang dimaksudkan dengan "in control" dalam peta-peta kontrol 3-sigma, sesungguhnya mash mengandung atau menghasilkan 66.807 DPMO atau COPQ sekitar 25-40% dari nilai penjualan. Berdasarkan uraian ini, maka ukuran keberhasilan dari proyek-proyek Six Sigma bukan pada penerapan metodologi DMAIC, tetapi diukur berdasarkan apakah mampu membawa proses itu menjadi berkemampuan 6-sigma yang hanya menghasilkan 3,4 DPMO atau COPQ kurang dari 1% dari nilai penjualan. Pertanyaan menarik sekarang adalah bagaimana mengukur kapabilitas proses, sehingga kita dapat mengetahui pada tingkat kapabilitas berapa sigma proses yang sekarang beroperasi?, dan langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan kapabilitas proses itu agar mencapai 6-sigma yang hanya menghasilkan 3,4 DPMO atau COPQ kurang dari 1% dari nilai penjualan. Kapabilitas proses didefinisikan sebagai kemampuan proses untuk memproduksi atau menyerahkan output sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Process Capability merupakan suatu ukuran kinerja kritis yang menunjukkan proses mampu menghasilkan sesuai dengan spesifikasi produk yang ditetapkan oleh manajemen berdasarkan kebutuhan pelanggan. Sebagai misal, pelanggan menginginkan diameter pipa yang diserahkan adalah pipa yang berdiameter 40 cm dengan batas toleransi 0,5 cm, maka kita menyatakan bahwa: nilai target T = 40 cm, USL = upper specification limit (batas spesifikasi atas) = 40 + 0,5 cm = 40,5 cm, dan LSL = lower specification limit (batas spesifikasi bawah) = 40 0,5 cm = 39,5 cm. Ketiga nilai USL, LSL, dan T ditentukan berdasarkan kebutuhan pelanggan. Dalam konteks ini, setiap produk yang diserahkan dan mempunyai diameter di atas 40,5 cm atau di bawah 39,5 cm HARUS DIANGGAP SEBAGAI "GAGAL" MEMENUHI KEBUTUHAN PELANGGAN. Ukuran kegagalan dari proses itu adalah DPMO atau COPQ, yang dalam hal ini sangat tergantung pada kapabilitas proses dalam ukuran sigma itu. Kapabilitas proses dihitung berdasarkan jangkauan tingkat pengendalian sigma (variasi proses) yang mampu dikendalikan dari nilai target T = 40 cm itu (dalam hal ini kita berasumsikan bahwa nilai rata-rata prosesu (baca: mu), sesuai konsep Motorola adalah: u = T +/- 1,5sigma, artinya nilai rata-rata proses boleh bergeser hanya plus-minus 1,5sigma dari nilai target itu. Jika kita hanya mampu mengendalikan dalam jangkauan nilai target plus-minus 3-sigma, berarti jangkauan pengendalian kita adalah: nilai target plus 3- sigma dan nilai target minus 3-sigma, berarti total jangkauan pengendalian adalah 6-sigma, maka indeks kapabilitas proses Cp yang mengukur kapabilitas potensial atau yang melekat dari suatu proses yang diasumsikan stabil, akan didefinisikan sebagai: Cp = [(USL LSL) / 6-sigma. Di sini sigma adalah ukuran standar deviasi dari proses, yang mencerminkan variasi dari proses. Variasi (Variation) Merupakan apa yang pelanggan melihat dan merasakan dalam proses transaksi antara pemasok dan pelanggan itu. Semakin kecil variasi akan semakin disukai, karena menunjukkan konsistensi dalam kualitas. Variasi mengukur suatu perubahan dalam proses atau praktek-praktek bisnis yang mungkin mempengaruhi hasil yang diharapkan Berdasarkan konsep di atas, maka nilai indeks kapabilitas proses Cp, akan dapat dihitung sebagai berikut: Apabila pengendalian proses dilakukan pada tingkat plus-minus 3- sigma dari nilai target, maka kapabilitas proses dihtung sebagai: Cp = [(USL LSL) / 6-sigma, apabila pengendalian proses dilakukan pada tingkat plus-minus 4-sigma dari nilai target, maka kapabilitas proses dihitung sebagai: Cp = [(USL LSL) / 8-sigma, apabila pengendalian proses dilakukan pada tingkat plus-minus 5-sigma dari nilai target, maka kapabilitas proses dihitung sebagai: Cp = [(USL LSL) / 10-sigma, dan apabila pengendalian proses dilakukan pada tingkat plus-minus 6-sigma dari nilai target, maka kapabilitas proses dihitung sebagai: Cp = [(USL LSL) / 12-sigma. Konsep inilah yang dipakai Motorola untuk meningkatkan kapabilitas proses menjadi berkemampuan 6-sigma, yang berarti manajemen mampu mengendalikan proses pada tingkat plus-minus 6-sigma dari nilai target yang diinginkan pelanggan, sehingga Cp = [(USL LSL) / 12- sigma. Banyak praktisi dan akademikus di Indonesia hanya berfokus pada peta- peta kontrol statistikal, di mana sering dipakai peta kontrol 3- sigma, sehingga peta kontrol 3-sigma dibangun berdasarkan konsep: UCL (upper control limitbatas kendali atas) = u (baca: mu) + 3- sigma, LCL (lower control limitbatas kendali bawah) = u 3-sigma. Nilai-nilai u (baca: mu) merupakan nilai rata-rata proses, UCL dan LCL, semuanya berfokus pada prosesbukan berfokus pelanggan, karena nilai-nilai u, UCL, dan LCL ditentukan berdasarkan kemampuan proses yang ada dan sama sekali tidak mencerminkan kebutuhan pelanggan yang ditetapkan melalui nilai-nilai T, USL, LSL. CATATAN: T, USL, dan LSL adalah nilai-nilai yang dibutuhkan pelanggan, sedangkan u, UCL dan LCL merupakan nilai-nilai yang diperoleh dari proses dan fungsinya untuk mengetahui apakah suatu proses stabil atau tidak, tidak mencerminkan kemampuan proses dalam memenuhi kebutuhan pelanggan. Patut dicatat dan dipahami, bahwa program peningkatan kualitas Six Sigma berorientasi pada peningkatan kemampuan proses menuju tingkat kegagalan nol atau menuju nilai spesifikasi target kualitas (T) yang diinginkan oleh pelanggan, maka terdapat hubungan antara pencapaian peningkatan kualitas (target sigma) dan nilai toleransi standar deviasi maksimum (Smaks) yang diijinkan dalam program peningkatan kualitas Six Sigma. Dengan demikian apabila ingin menggunakan konsep pengendalian proses 6-sigma Motorola, harus melakukan langkah-langkah berikut: 1) Kumpulkan data dari proses Anda saat ini. Hitung nilai rata- rata proses (u) dan standar deviasi dari proses (sigma). 2) Buat peta kontrol 3-sigma untuk X-bar dan R, sebagai langkah awal untuk menguji kestabilan proses, apakah proses stabil atau tidak. Jika semua nilai rata-rata ada dalam batas-batas UCL dan LCL, maka berarti proses stabil, lanjutkan ke nomor 3. Namun apabila ada outlier atau nilai rata-rata berada di atas UCL atau di bawah LCL, maka berarti proses tidak stabil, periksa apa yang menyebabkan ketidakstabilan proses itu? Periksa pada variasi input seperti: Mesin, Manusia, Metode, Material, Lingkungan, dll. Catatan: Banyak praktisi justru membuang data outlier agar kelihatan stabil, tetapi justru data oulier itu merupakan INFORMASI YANG SANGAT BERGUNA UNTUK PERBAIKAN PROSES. 3) Lakukan pengujian hipotesis terhadap nilai rata-rata proses, untuk menguji apakah proses mampu memenuhi kebutuhan pelanggan (nilai urata-rata proses dibandingkan dengan nilai target T yang dibutuhkan pelanggan). Berdasarkan konsep Motorola, lakukan pengujian hipotesis berikut: Ho: u = T +/- 1,5sigma atau: Ho: (u T) = +/- 1,5sigma. H1: u tidak sama dengan T +/- 1,5sigma atau: H1: (u T) tidak sama dengan +/- 1,5 sigma. Lakukan pengujian menggunakan uji t-Student, yaitu: t = {(X-bar) (T +/- 1,5sigma)} / (sigma/ akar n), di mana: n = ukuran contoh (sample size), X-bar = nilai rata-rata proses, T = nilai target yang dibutuhkan pelanggan, sigma adalah standar deviasi dari proses. Jika Ho diterima, maka lanjutkan ke langkah 4, tetapi apabila Ho ditolak, maka perbaiki dulu proses melalui menggeser atau membuat nilai rata-rata proses (u) mendekati nilai target (T) yang diinginkan pelanggan. 4) Hitung tingkat kegagalan DPMO dari proses yang sekarang melalui formula: P [z lebih besar (USL X-bar) / Sigma] x 1.000.000 + P [z lebih kecil (LSL - X-bar) / Sigma)] x 1.000.000. Nilai-nilai peluang kegagalan untuk distribusi normal baku, z, diperoleh dari tabel distribusi normal kumulatif (lihat Tabel dalam buku statistika), yang dapat juga dibangkitkan menggunakan formula: =normsdist(nilai Z) pada Microsoft Excel. Berdasarkan nilai DPMO ini lakukan konversi ke nilai kapabilitas proses, sehingga kita dapat mengetahui pada tingkat berapa sigma proses kita beroperasi sekarang? 5) Lakukan perbaikan proses terus-menerus untuk meningkatkan kapabilitas proses menuju tingkat kapabilitas 6-sigma. Keberhasilan implementasi program peningkatan kualitas six-sigma ditunjukkan melalui peningkatan kapabilitas proses dalam menghasilkan produk menuju tingkat kegagalan 3,4 DPMO, yang pada akhirnya menuju kegagalan nol (zero defects). Oleh karena itu konsep perhitungan kapabilitas proses menjadi sangat penting untuk dipahami dalam implementasi program six-sigma. Dari uraian di atas jelas bahwa pengndalian kualitas six sigma, bukan membangun peta kontrol 6-sigma, yaitu: UCL = u + 6-sigma, LCL = u 6-sigma, sehingga membawa semua data oulier ke dalam "in control", tetapi membawa proses menuju kemampuan 6-sigma yang diukur melalui peningkatan terus-menerus dari indeks kapabilitas proses itu. Untuk pengendalian six sigma, maka indeks kapabilitas proses adalah: Cp = (USL LSL) / 12-sigma. Ingat: nilai-nilai u, UCL, LCL dalam peta kontrol TIDAK SAMA DENGAN nilai-nilai T, USL, LSL yang diinginkan pelanggan. Demikian informasi tentang pengendalian proses six sigma berdasarkan konsep Motorola. Penjelasan lebih jauh dapat dilihat dalam buku saya tentang: Panduan Implementasi Program Six Sigma (Penerbit Gramedia, Jakarta). Sekian dan terima kasih. Vincent Gaspersz
Best Regards, Hemat bandwith. Hapus pesan yang tidak perlu. Subscribe milis: [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe milis: [EMAIL PROTECTED] YAHOO! GROUPS LINKS
|
- [kasma1] Fw: [partailgein] PENGENDALIAN PROSES SIX SIGMA MOTOROLA ... andri
