Artikel ini persis sama dengan yang dimuat di harian kompas beberapa 
hari yang lalu. Apakah penulisnya melakukan posting ganda?
ini dari kompasnya:

http://kompas.com/kompas%2Dcetak/0507/15/politikhukum/1897341.htm



Di artikel ini juga tidak tercantum sumbernya.


Herman Abdullah wrote:

> Menuju Indonesia yang lebih baik.....
>
> Di Balik Tembok KPK,
> Mencetak Kultur Baru
> Oleh: VINCENTIA HANNI S
>
> MALAM sudah larut, waktu sudah beranjak mendekati pergantian hari. Di
> tengah
> Jakarta yang mulai terlelap, beberapa penyidik Komisi Pemberantasan
> Korupsi
> justru baru saja meninggalkan Gedung KPK yang renta.
>
> Dengan tas ransel punggung, para penyidik yang rata-rata masih berusia
> sekitar 30 tahun itu menuju sebuah mobil sambil berbincang seru dan saling
> menggoda rekannya. Mereka hendak pulang bersama. Seorang di antaranya
> berjalan kaki ke luar gedung berarsitektur Belanda itu, mencari sebuah
> angkutan umum untuk pulang ke rumah.
>
> Pemandangan itu adalah pemandangan umum yang setiap hari terjadi di KPK.
> Bila kantor pemerintah lain pada pukul 17.00 sudah mulai sepi ditinggalkan
> para karyawan dan pejabatnya, Gedung KPK justru nyaris tak pernah sepi.
> Minimal untuk saat sekarang ini.
>
> Pimpinan KPK pun kerap kali pulang larut malam, sama seperti anak buahnya
> yang baru pulang saat hari sudah mau berganti. Tak jarang pula, Wakil
> Ketua
> KPK Bidang Penindakan Tumpak Hatorangan Panggabean rela tak pulang ke
> rumah,
> menunggu anak buahnya menyelesaikan tugas pemeriksaan, terlebih bila
> sedang
> terjadi penangkapan.
>
> Anak-anak belum pulang dan masih memeriksa, masak saya tinggal pulang,
> ujar
> Panggabean yang juga seorang jaksa.
>
> Mereka tak lagi memusingkan lewatnya batas waktu kerja. Bahkan, mereka pun
> rela meninggalkan keluarga mereka demi pilihan bekerja di KPK. Bekerja
> demi
> sebuah perubahan.
>
> Khaidir Ramly, misalnya, rela meninggalkan keluarganya di Padang, Sumatera
> Barat, untuk bekerja di KPK. Jaksa yang pernah menyeret bupati aktif
> Padang
> Pariaman, Nasrul Sahrul, dan beberapa anggota DPRD Sumatera Barat ke
> pengadilan ini cuma berpesan kepada putra putrinya di Padang.
>
> Saya ingin negara ini berubah. Sedih rasanya melihat rakyat yang selalu
> saja
> miskin, sementara para pejabat begitu kayanya, berganti mobil dengan enak,
> memiliki rumah banyak. Padahal, rakyat untuk makan saja sulitnya minta
> ampun, kata Khaidir.
>
> Khaidir memang sosok sederhana. Meski sudah 18 tahun menjadi jaksa, ia
> tetap
> hidup sederhana. Hanya rumah BTN yang baru lunas dua tahun lalu dan mobil
> Toyota Kijang tua buatan tahun 1982. Padahal, rekan- rekan seangkatannya
> pun
> terbilang makmur dan menduduki posisi penting di kejaksaan.
>
> Jalan hidup orang lain-lain, saya masih beruntung dibandingkan dengan
> banyak
> rekan jaksa yang lain, ujar Khaidir.
>
> Bagi Khaidir, kemewahan hidup hanyalah bisa dirasakan sebatas tenggorokan,
> tak lebih. Ia tak pernah menyesal bertahan pada prinsipnya.
>
> Selama menjalankan tugasnya, bukan berarti tak ada tawaran atau
> iming-iming
> yang berseliweran. Namun, toh ia memilih hidup cukup dengan gaji jaksa Rp
> 2,7 juta sebulan serta rumah BTN dan mobil tuanya. Khaidir merasa
> beruntung,
> anak tertuanya sudah kuliah dan anak keduanya duduk di bangku SMA.
>
> Saat terpilih menjadi penuntut umum di KPK, Khaidir berharap ia bisa
> meningkatkan kesejahteraan keluarganya dari penghasilan resmi yang ia
> peroleh, bukan dari penghasilan plus entah dari mana.
>
> Saya bilang sama anak-anak, saya hidup jauh dari mereka supaya hidup kami
> lebih sejahtera. Saya berharap dengan bekerja di KPK, saya bisa
> menyekolahkan anak-anak saya ke perguruan tinggi dengan penghasilan resmi
> saya, jelas Khaidir yang jadi jaksa penuntut umum dalam kasus terdakwa
> Abdullah Puteh.
>
> Untuk itu, Khaidir berharap pemerintah segera mengeluarkan Peraturan
> Pemerintah (PP) Kepegawaian KPK, agar para pegawai KPK semakin pasti
> memperoleh penghasilan resmi dari pemerintah. Hal ini penting untuk
> membentengi pertahanan bagi pegawai KPK dari tawaran dalam berbagai bentuk
> untuk menyuap pegawai KPK. Teror pun sudah menjadi bagian dari pekerjaan.
>
> Jangan pernah coba-coba menyuap atau menyogok penyidik dan penuntut umum
> KPK. Kami bekerja di KPK dengan niat ingin negara ini berubah, kata
> Khaidir.
>
> Pendapat Rony Samtana dan Adi Deriyan Jayamarta, dua penyidik KPK asal
> Polri, pun sama. Bekerja di KPK pasti tak lepas ada tawaran atau
> iming-iming
> uang atau yang lain.
>
> Kalau kami menerima suap, kami kehilangan semuanya, kehilangan harga diri.
> Bukan cuma nama baik kami saja, keluarga pasti malu, dan yang lebih parah
> nama KPK pasti hancur di mata dunia. Kami sungguh berhati- hati membawa
> nama
> KPK, ujar Adi, mantan pengawal Amien Rais saat kampanye calon presiden.
>
> Menggali talenta
>
> Enjoy banget kerja di KPK, jelas Rony. Ada dua alasan, menurut Rony,
> pertama
> kebutuhan dasarnya terbilang tercukupi dan persoalan aktualisasi diri
> menjadi perhatian utama di KPK.
>
> Di KPK kebutuhan aktualisasi diri terpenuhi, tidak ada intervensi
> macam-macam, tidak ada tuntutan macam-macam. Beban yang kami tanggung
> adalah
> beban kerja, tidak ada tuntutan lain di luar tugas kami sebagai penyidik,
> jelas Rony yang pernah lama bertugas di Timor Timur.
>
> Adi pun berpendapat sama. Hal yang menyenangkan bagi penyidik di KPK
> adalah
> mereka bisa bekerja secara otonom, tidak pernah ada intervensi dari
> pimpinan. â?�Saya belajar banyak dari rekan-rekan lain, seperti jaksa dan
> BPKP. Dalam mengungkap kasus korupsi, bendera kami satu, yaitu KPK,â?�
> jelas
> mantan Kepala Kepolisian Sektor Jonggol dan Anyer ini.
>
> Para pegawai KPK memang berasal dari berbagai latar belakang. Jumlah
> pegawai
> seluruhnya 158 orang, terdiri dari polisi 31 orang, jaksa 19 orang, Badan
> Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) 27 orang, dan selebihnya staf
> KPK.
>
> Iswan Elmy, Direktur Penyelidikan, misalnya, memiliki latar belakang BPKP.
> Dulu, pola pikirnya masih audit investigatif yang berangkat pada sistem
> dan
> aturan. Kini saya belajar banyak soal hukum, jelas Iswan.
>
> Sistem satu atap antara penyelidik, penyidik, dan penuntut umum membuat
> semua pihak memahami perjalanan perkara sejak awal. Komunikasi antara
> penyelidik, penyidik, dan penuntut umum, kata Adi, tak terlalu formal.
> Komunikasi bisa dilakukan di mana saja, di ruangan, di dapur, bahkan di
> kamar mandi.
>
> Tak heran jika surat dakwaan jaksa penuntut umum KPK jauh lebih runut,
> logika mudah dipahami, dan duduk perkara jelas. Beda sekali kalau kita
> bandingkan surat dakwaan antara jaksa KPK dan jaksa dari kejaksaan. Surat
> dakwaan jaksa KPK runut dan logis, ujar seorang panitera di Pengadilan
> Negeri Jakarta Pusat.
>
> Manajemen modern
>
> Schiller dalam bukunya Beyond the Chains of Illusion di tahun 1788 sudah
> mengingatkan pentingnya peran manusia sebagai kekuatan. Ia menulis, Negara
> hanyalah hasil dari kekuatan manusia. Manusia adalah kekuatan dan sumber
> itu
> sendiri serta pencipta pemikiran.
>
> Pentingnya peran manusia di dalam sebuah organisasi sangat disadari KPK.
>
> Wakil Ketua KPK Erry Rijana Hardjapamekas mengatakan, sumber daya manusia
> adalah kekuatan dan modal utama KPK meski mereka berasal dari latar
> belakang
> yang berlainan.
>
> Pimpinan KPK pun menyiapkan suasana kerja, kultur kerja, dan
> memperjuangkan
> sistem imbalan, serta meningkatkan kompetensi pegawai KPK. Aturan main
> bersama dan kode etik yang disepakati oleh semua.
>
> Kami, pimpinan, memberikan otonomi yang cukup memadai bagi penyelidik dan
> penyidik. Pimpinan tidak akan intervensi dan dilarang untuk membuat nota
> dinas dan e-mail yang bersifat instruktif kepada penyidik, kata Erry.
>
> Aneka pelatihan pun digelar, termasuk bantuan pelatihan yang diberikan
> oleh
> lembaga- lembaga donor. Salah satunya pelatihan modern investigation
> dengan
> mendatangkan polisi dari Jepang, Australia, dan FBI. Tukar-menukar
> pengalaman dengan lembaga antikorupsi dari negara lain.
>
> Erich Fromm, seorang filsuf, mencatat, Satu dunia baru akan terwujud hanya
> bila manusia baru muncul. Manusia yang mencintai negaranya karena dia
> mencintai umat manusia. Manusia yang mencintai kehidupan, bukan hanya
> dirinya sendiri.
>
>
>~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
>"There are people who give me comfort in my life. Who
>when the going gets rough, i can always count on them
>for a shoulder to cry on. They'l pick me up when i
>fall. Hold me in their arms whil i cry and tell me
>that everything is going to be allright. I'm so
>thankfull for these people, they are priceless"
>
>----------------------
>Herman Abdullah
>PT Siko Engineering Indonesia
>Permata Plaza Lt. 8
>M.H. Thamrin 57 Jakarta
>Tel. 3903403
>Fax 3903405
>


Hemat bandwith. Hapus pesan yang tidak perlu. Subscribe milis: [EMAIL 
PROTECTED] Unsubscribe milis: [EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kasma1/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke