Menuju Indonesia yang lebih baik.....

 Di Balik Tembok KPK,
 Mencetak Kultur Baru
 Oleh: VINCENTIA HANNI S

 MALAM sudah larut, waktu sudah beranjak mendekati pergantian hari. Di
 tengah
 Jakarta yang mulai terlelap, beberapa penyidik Komisi Pemberantasan
 Korupsi
 justru baru saja meninggalkan Gedung KPK yang renta.

 Dengan tas ransel punggung, para penyidik yang rata-rata masih berusia
 sekitar 30 tahun itu menuju sebuah mobil sambil berbincang seru dan saling
 menggoda rekannya. Mereka hendak pulang bersama. Seorang di antaranya
 berjalan kaki ke luar gedung berarsitektur Belanda itu, mencari sebuah
 angkutan umum untuk pulang ke rumah.

 Pemandangan itu adalah pemandangan umum yang setiap hari terjadi di KPK.
 Bila kantor pemerintah lain pada pukul 17.00 sudah mulai sepi ditinggalkan
 para karyawan dan pejabatnya, Gedung KPK justru nyaris tak pernah sepi.
 Minimal untuk saat sekarang ini.

 Pimpinan KPK pun kerap kali pulang larut malam, sama seperti anak buahnya
 yang baru pulang saat hari sudah mau berganti. Tak jarang pula, Wakil
 Ketua
 KPK Bidang Penindakan Tumpak Hatorangan Panggabean rela tak pulang ke
 rumah,
 menunggu anak buahnya menyelesaikan tugas pemeriksaan, terlebih bila
 sedang
 terjadi penangkapan.

 Anak-anak belum pulang dan masih memeriksa, masak saya tinggal pulang,
 ujar
 Panggabean yang juga seorang jaksa.

 Mereka tak lagi memusingkan lewatnya batas waktu kerja. Bahkan, mereka pun
 rela meninggalkan keluarga mereka demi pilihan bekerja di KPK. Bekerja
 demi
 sebuah perubahan.

 Khaidir Ramly, misalnya, rela meninggalkan keluarganya di Padang, Sumatera
 Barat, untuk bekerja di KPK. Jaksa yang pernah menyeret bupati aktif
 Padang
 Pariaman, Nasrul Sahrul, dan beberapa anggota DPRD Sumatera Barat ke
 pengadilan ini cuma berpesan kepada putra putrinya di Padang.

 Saya ingin negara ini berubah. Sedih rasanya melihat rakyat yang selalu
 saja
 miskin, sementara para pejabat begitu kayanya, berganti mobil dengan enak,
 memiliki rumah banyak. Padahal, rakyat untuk makan saja sulitnya minta
 ampun, kata Khaidir.

 Khaidir memang sosok sederhana. Meski sudah 18 tahun menjadi jaksa, ia
 tetap
 hidup sederhana. Hanya rumah BTN yang baru lunas dua tahun lalu dan mobil
 Toyota Kijang tua buatan tahun 1982. Padahal, rekan- rekan seangkatannya
 pun
 terbilang makmur dan menduduki posisi penting di kejaksaan.

 Jalan hidup orang lain-lain, saya masih beruntung dibandingkan dengan
 banyak
 rekan jaksa yang lain, ujar Khaidir.

 Bagi Khaidir, kemewahan hidup hanyalah bisa dirasakan sebatas tenggorokan,
 tak lebih. Ia tak pernah menyesal bertahan pada prinsipnya.

 Selama menjalankan tugasnya, bukan berarti tak ada tawaran atau
 iming-iming
 yang berseliweran. Namun, toh ia memilih hidup cukup dengan gaji jaksa Rp
 2,7 juta sebulan serta rumah BTN dan mobil tuanya. Khaidir merasa
 beruntung,
 anak tertuanya sudah kuliah dan anak keduanya duduk di bangku SMA.

 Saat terpilih menjadi penuntut umum di KPK, Khaidir berharap ia bisa
 meningkatkan kesejahteraan keluarganya dari penghasilan resmi yang ia
 peroleh, bukan dari penghasilan plus entah dari mana.

 Saya bilang sama anak-anak, saya hidup jauh dari mereka supaya hidup kami
 lebih sejahtera. Saya berharap dengan bekerja di KPK, saya bisa
 menyekolahkan anak-anak saya ke perguruan tinggi dengan penghasilan resmi
 saya, jelas Khaidir yang jadi jaksa penuntut umum dalam kasus terdakwa
 Abdullah Puteh.

 Untuk itu, Khaidir berharap pemerintah segera mengeluarkan Peraturan
 Pemerintah (PP) Kepegawaian KPK, agar para pegawai KPK semakin pasti
 memperoleh penghasilan resmi dari pemerintah. Hal ini penting untuk
 membentengi pertahanan bagi pegawai KPK dari tawaran dalam berbagai bentuk
 untuk menyuap pegawai KPK. Teror pun sudah menjadi bagian dari pekerjaan.

 Jangan pernah coba-coba menyuap atau menyogok penyidik dan penuntut umum
 KPK. Kami bekerja di KPK dengan niat ingin negara ini berubah, kata
 Khaidir.

 Pendapat Rony Samtana dan Adi Deriyan Jayamarta, dua penyidik KPK asal
 Polri, pun sama. Bekerja di KPK pasti tak lepas ada tawaran atau
 iming-iming
 uang atau yang lain.

 Kalau kami menerima suap, kami kehilangan semuanya, kehilangan harga diri.
 Bukan cuma nama baik kami saja, keluarga pasti malu, dan yang lebih parah
 nama KPK pasti hancur di mata dunia. Kami sungguh berhati- hati membawa
 nama
 KPK, ujar Adi, mantan pengawal Amien Rais saat kampanye calon presiden.

 Menggali talenta

 Enjoy banget kerja di KPK, jelas Rony. Ada dua alasan, menurut Rony,
 pertama
 kebutuhan dasarnya terbilang tercukupi dan persoalan aktualisasi diri
 menjadi perhatian utama di KPK.

 Di KPK kebutuhan aktualisasi diri terpenuhi, tidak ada intervensi
 macam-macam, tidak ada tuntutan macam-macam. Beban yang kami tanggung
 adalah
 beban kerja, tidak ada tuntutan lain di luar tugas kami sebagai penyidik,
 jelas Rony yang pernah lama bertugas di Timor Timur.

 Adi pun berpendapat sama. Hal yang menyenangkan bagi penyidik di KPK
 adalah
 mereka bisa bekerja secara otonom, tidak pernah ada intervensi dari
 pimpinan. �Saya belajar banyak dari rekan-rekan lain, seperti jaksa dan
 BPKP. Dalam mengungkap kasus korupsi, bendera kami satu, yaitu KPK,�
 jelas
 mantan Kepala Kepolisian Sektor Jonggol dan Anyer ini.

 Para pegawai KPK memang berasal dari berbagai latar belakang. Jumlah
 pegawai
 seluruhnya 158 orang, terdiri dari polisi 31 orang, jaksa 19 orang, Badan
 Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) 27 orang, dan selebihnya staf
 KPK.

 Iswan Elmy, Direktur Penyelidikan, misalnya, memiliki latar belakang BPKP.
 Dulu, pola pikirnya masih audit investigatif yang berangkat pada sistem
 dan
 aturan. Kini saya belajar banyak soal hukum, jelas Iswan.

 Sistem satu atap antara penyelidik, penyidik, dan penuntut umum membuat
 semua pihak memahami perjalanan perkara sejak awal. Komunikasi antara
 penyelidik, penyidik, dan penuntut umum, kata Adi, tak terlalu formal.
 Komunikasi bisa dilakukan di mana saja, di ruangan, di dapur, bahkan di
 kamar mandi.

 Tak heran jika surat dakwaan jaksa penuntut umum KPK jauh lebih runut,
 logika mudah dipahami, dan duduk perkara jelas. Beda sekali kalau kita
 bandingkan surat dakwaan antara jaksa KPK dan jaksa dari kejaksaan. Surat
 dakwaan jaksa KPK runut dan logis, ujar seorang panitera di Pengadilan
 Negeri Jakarta Pusat.

 Manajemen modern

 Schiller dalam bukunya Beyond the Chains of Illusion di tahun 1788 sudah
 mengingatkan pentingnya peran manusia sebagai kekuatan. Ia menulis, Negara
 hanyalah hasil dari kekuatan manusia. Manusia adalah kekuatan dan sumber
 itu
 sendiri serta pencipta pemikiran.

 Pentingnya peran manusia di dalam sebuah organisasi sangat disadari KPK.

 Wakil Ketua KPK Erry Rijana Hardjapamekas mengatakan, sumber daya manusia
 adalah kekuatan dan modal utama KPK meski mereka berasal dari latar
 belakang
 yang berlainan.

 Pimpinan KPK pun menyiapkan suasana kerja, kultur kerja, dan
 memperjuangkan
 sistem imbalan, serta meningkatkan kompetensi pegawai KPK. Aturan main
 bersama dan kode etik yang disepakati oleh semua.

 Kami, pimpinan, memberikan otonomi yang cukup memadai bagi penyelidik dan
 penyidik. Pimpinan tidak akan intervensi dan dilarang untuk membuat nota
 dinas dan e-mail yang bersifat instruktif kepada penyidik, kata Erry.

 Aneka pelatihan pun digelar, termasuk bantuan pelatihan yang diberikan
 oleh
 lembaga- lembaga donor. Salah satunya pelatihan modern investigation
 dengan
 mendatangkan polisi dari Jepang, Australia, dan FBI. Tukar-menukar
 pengalaman dengan lembaga antikorupsi dari negara lain.

 Erich Fromm, seorang filsuf, mencatat, Satu dunia baru akan terwujud hanya
 bila manusia baru muncul. Manusia yang mencintai negaranya karena dia
 mencintai umat manusia. Manusia yang mencintai kehidupan, bukan hanya
 dirinya sendiri.


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
"There are people who give me comfort in my life. Who
when the going gets rough, i can always count on them
for a shoulder to cry on. They'l pick me up when i
fall. Hold me in their arms whil i cry and tell me
that everything is going to be allright. I'm so
thankfull for these people, they are priceless"

----------------------
Herman Abdullah
PT Siko Engineering Indonesia
Permata Plaza Lt. 8
M.H. Thamrin 57 Jakarta
Tel. 3903403
Fax 3903405




Hemat bandwith. Hapus pesan yang tidak perlu. Subscribe milis: [EMAIL 
PROTECTED] Unsubscribe milis: [EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kasma1/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke