--- In [email protected], Deswita Herlina Herlina 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:

>   Saya satu angkatan dengan Heni, Akmaloni, Harmalini ,Riviera 
YUana, Marfen ,ADI salmi dll
>   Saat ini saya lagi menyesaikan tesis topiknya tentang analisis 
preferansi konsumen dengan metodelogi conjint analysis, buat rekan -
rekan yang mempunyai bahan tentang topik tersebut saya mohon 
bantuannya.
>   Dan kapan-kapan kalau ado Reuni Akbar SMAN 1 padang saya ingin 
ikut 




gmn ni, ada yg pingin reuni lagi,,......????
kyknya dari dlu wacana aja,..boleh donk, saya insyaAllah mau jadi 
seksi sibuknya..(dlm batas tertentu)




andri 
3ipa6-2000







>   
> > 
> Herman Abdullah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:      v\:* {  BEHAVIOR: url
(#default#VML) } o\:* {  BEHAVIOR: url(#default#VML) } w\:* {  
BEHAVIOR: url(#default#VML) } .shape {  BEHAVIOR: url
(#default#VML) }      st1\:*{behavior:url
(#default#ieooui) }             
>   Kenapa harus selalu anak2 yang jadi korban?
>   Berapa banyak lagi para pengecut di bumi ini??
>    
>   Mampukah kita sebagai masyarakat mengambil peran melindungi
>   mereka? Ketika beberapa orangtua dan keluarga dekat telah
>   lari dari tanggung jawab mereka.......
>    
>    
>   ------------
>    
>   
>  Dari milis tetangga, sedih banget ya...
> 
>  Taman Yang Paling Indah Hanya Taman Kami
>  - untuk RR
> 
> 
>  Allah yang baik,
>  senang deh aku sudah di sini
>  tak ada lagi mama yang galak
>  dan paman yang sering membentak
> 
>  Allah yang baik,
>  bolehkah aku bergabung
>  dengan teman-temanku di sebelah sana
>  yang sedang menyanyi gembira,
>  "taman yang paling indah hanya taman kami..."
> 
>  aku suka sekali lagu itu
>  tapi tak pernah bisa menyanyikannya sepenuh hati
>  karena sebelum ini,
>  aku hanya bisa mendengar lagu itu
>  dari balik dinding rumah
>  sayup-sayup
>  seperti memanggil-manggil untuk bergabung, bergembira
>  tapi aku bukan burung yang punya sayap
>  aku tak bisa terbang ya Allah,
>  keluar barang sebentar dari rumahku yang pengap
> 
>  Setiap pulang sekolah
>  dan ayah sedang tak ada di rumah
>  paman menyuruhku rebah
>  kadang-kadang menghadapnya, kadang-kadang
>  membelakanginya.
>  lalu aku tak tahu apa yang dilakukannya, ya Allah
>  tapi rasanya sakit sekali
>  badanku sakit
>  tulangku sakit
>  pahaku sakit
>  mataku sakit
>  karena airmataku habis menahan jerit.
> 
>  Allah yang baik,
>  aku kangen ibu, bukan mama
>  mama bukan ibu yang melahirkanku
>  mama adalah istri ayah yang baru
>  yang lebih sayang pada anaknya sendiri
>  bayi mungil yang lucu
> 
>  aku sih sayang pada adikku itu, ya Allah.
>  tapi aku takut, setiap kali aku mencium adik
>  tangan mama mampir di wajahku,
>  rasanya lebih sakit dari kejedot kusen pintu.
>  setiap kali aku mencubit pipi montok adik
>  tangan mama memuntir kupingku
>  sampai hampir putus rasanya, ya Allah.
>  mungkin satu kali pernah berdarah aku tak ingat lagi
> 
>  Allah yang baik,
>  pernah satu kali mama membekap mulutku rapat-rapat
>  aku seperti ikan di pasar, yang megap-megap ingin
>  hidup
>  aku menjerit memanggil-manggil ayah
>  tapi mama semakin kencang mencekik leherku
>  seperti film-film pembunuhan yang pernah kulihat
>  di televisi. betul ya Allah, aku nggak bohong, lho.
>  di sekolah aku kan diajar bu guru nggak boleh bohong,
>  baik kepada orang lain apalagi kepada Allah.
> 
>  Tapi mungkin memang aku yang cengeng ya Allah,
>  aku selalu menangis bila paman
>  melakukan terus menerus perbuatannya yang membuatku
>  sakit
>  aku pernah berpikir untuk mengambil pisau dan
>  menusuknya seperti pada sinetron-sinetron yang pernah
>  kulihat.
>  tapi aku tak pernah berani.
>  bahkan ketika ayah sedang di rumah, dan memelukku pun,
>  aku tak berani bercerita apa-apa kepadanya.
> 
>  Di buku-buku cerita, aku lihat anak-anak seumurku
>  selalu manja
>  pada ayah dan ibunya
>  mereka bisa naik pundak sampai menginjak kepala
>  lalu tertawa-tawa bersama.
>  lalu orangtua menggelitiki perut anak-anaknya
>  menciumi sepuasnya-puasnya, sampai si anak memang
>  rasanya
>  seperti hampir mati juga
>  tapi mati karena rasa geli dan bahagia
>  mengapa hal itu tak pernah terjadi padaku, ya Allah?
> 
>  Apakah para penulis di buku-buku cerita itu berbohong,
>  mereka hanya mengarang yang indah-indah saja?
>  kalau begitu hukumlah mereka ya Allah
>  karena membuat anak-anak sepertiku tambah sedih
>  tak pernah merasakan apa yang mereka tulis di
>  buku-buku itu.
> 
>  Teman-temanku di sekolah selalu ngomong tentang plei
>  stesyen
>  dan boneka berbi,
>  aku tak pernah iri lho, ya Allah.
>  bener deh, suwer!
>  aku tak pernah iri soal mainan
>  aku ingin hanya ada dua ciuman berbarengan
>  dari mama di pipi kanan, dari ayah di pipi kiri
>  kalau ayah pulang ke rumah,
>  mama kadang-kadang mau tersenyum padaku, aku akui itu
>  ya Allah,
>  tapi tetap saja dia tidak pernah mau menciumku.
> 
>  Aku ingin sekali ingin bercanda dengan mama dan adik
>  kecilku yang lucu,
>  apalagi kalau ayah sedang tidak di rumah.
>  tapi selalu aku disuruh mama menemani paman,
>  yang membuatku terus menjerit kesakitan.
> 
>  Ya Allah,
>  kenapa mama tak pernah mengelus airmataku ketika aku
>  kesakitan?
>  kenapa mama malah menampar wajahku berulang kali?
>  kenapa mama malah membekap mulutku begitu kencang?
>  kenapa mama malah mencekik leherku seperti teman-teman
>  mencekik belut sampai mati pada perlombaan tujuh belas
>  agustus di sekolah?
> 
>  Allah yang baik,
>  tapi sekarang aku gembira, suwer!
>  di sini banyak sekali teman-temanku
>  yang bernyanyi riang.
> 
>  bolehkah aku bergabung dengan mereka sekarang ya
>  Allah,
>  aku ingin sekali menyanyikan, "taman yang paling
>  indah..."
>  mumpung sedang nggak ada mama dan paman.
>  boleh ya?
> 
>  Oh iya, kalau Allah nggak keberatan
>  sekalian panggil saja semua kawan-kawanku yang tak
>  pernah menyanyikan
>  lagu di rumah mereka dengan bahagia. semua
>  kawan-kawanku yang selalu menangis kesakitan.
> 
>  biarkan kami semua bernyanyi di sini saja ya Allah,
>  menyanyi bersama-sama, menari bersama-sama, tertawa
>  bersama-sama,
>  berpelukan bersama-sama, dorong-dorongan,
>  pukul-pukulan, cubit-cubitan,
>  lalu menyanyi lagi bersama-sama sambil bergandengan
>  tangan.
> 
>  boleh kan ya Allah?
> 
>  oh iya, sebelum aku bergabung bersama teman-teman di
>  sana,
>  namaku Riska Rosiana.
>  Allah bisa memanggilku Riska atau Rosi,
>  atau dipanggil Ana juga boleh.
> 
>  Dadah Allah,
>  aku mau ikut nyanyi dulu ya?
>  Allah nggak akan marah seperti mama, 'kan?
> 
> 
> 
>  akmal n. basral
>  jakarta. 17.01.06
> 
>  * * * *
> 
> 
>  ANAK-ANAK ITU PERGI DENGAN LUKA
> 
>  ...
> 
> 
>  ***
> 
>  LUPAKAN sejenak kepedihan Lintar. Lihatlah kegemparan
>  yang meledak di Perumahan Sengkang, Cilincing, Jakarta
>  Utara, pada suatu pagi Senin dua pekan lalu. Warga
>  menemukan pemandangan mengenaskan. Riska Rosiana, 7
>  tahun, meninggal di rumahnya dengan sebagian tubuhnya
>  sudah dikerumuni semut. Di rumah petak itu pelajar
>  kelas dua Madrasah Al-Islamiyah tersebut tinggal
>  bersama ayahnya, Daeng Amran, 55 tahun, dan ibu
>  tirinya, Idawati, 39 tahun, dan seorang adik tirinya
>  yang berumur 14 bulan.
> 
>  Riska meregang nyawa dengan kepedihan. Malam sebelum
>  ia meninggal, ia diperkosa dan disodomi oleh adik
>  ibunya, Ambo Ase, 25 tahun, di kamarnya. Tindakan sang
>  paman membuat Riska menangis kesakitan. Gadis cilik
>  ini membawa tangisnya ke ruang tamu. Bukannya bantuan
>  yang datang, tangis itu justru membuat Idawati murka.
>  Idawati naik pitam dan membekap mulut Riska dengan
>  kain dan kemudian mencekiknya. Riska terdiam. Idawati,
>  yang menyangka bocah perempuan itu sudah tertidur,
>  segera meninggalkan Riska. Ia tak sadar, saat itu
>  bocah malang tersebut sudah menjadi mayat.
> 
>  Kepada tetangganya, Idawati dan Amran, suaminya, yang
>  baru pulang pada pagi hari, menyatakan Riska meninggal
>  karena sakit. Tapi sejumlah warga yang curiga
>  melaporkan peristiwa tersebut ke polisi. Polisi datang
>  dan mengirim mayat itu ke RSCM. Dokter Mun'im Idris,
>  pakar forensik yang melakukan autopsi terhadap jasad
>  Riska, memastikan: bocah malang itu meninggal karena
>  kehabisan napas akibat cekikan. Â"Ada bekas kuku di
>  dekat telinganya,Â" kata Mun'im.
> 
>  Idawati dan Ambo kini mendekam di tahanan Polsek
>  Cilincing. Ambo mengaku perbuatan bejatnya itu sudah
>  dilakukannya selama dua bulan. Â"Saya sudah sepuluh
>  kali memperkosa Ika,Â" katanya. Idawati juga mengaku
>  dirinya mencekik Riska. Â"Karena tidak diam-diam, dia
>  saya cekik dan mulutnya saya sumpel pakai kain,Â"
>  ujarnya. Polisi menjerat Ambo dan Idawati dengan
>  pasal-pasal KUHP tentang perbuatan cabul terhadap anak
>  dan menghilangkan nyawa orang. Ancaman terhadap pelaku
>  perbuatan ini, penjara 15 tahun. Selain itu, ujar
>  Kapolres Jakarta Utara Komisaris Besar Dede Suryana,
>  kedua orang ini akan dijerat dengan Undang-Undang
>  Perlindungan Anak.
> 
>  Adapun jasad Riska kini sudah terbaring di kampung
>  halaman ibu kandungnya di Desa Tanjungkerta,
>  Indramayu. Sejumlah warga menancapkan pisau dan alu di
>  atas kuburannya. Warga percaya arwah Riska akan
>  menuntut balas. Â"Gunakan pisau itu untuk membalas
>  dendam, Nak. Balaskan kemarahan kami...,Â" ujar
>  sejumlah warga sambil menaburkan kembang di atas
>  pusara Riska.
> 
>  ***
> 
>  Sumber: Tempo, 16 Januari 2006

>






Hemat bandwith. Hapus pesan yang tidak perlu. Subscribe milis: [EMAIL 
PROTECTED] Unsubscribe milis: [EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kasma1/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke