Dongeng Tentang Pendidikan--Kalo Memang Benar Adanya

oleh Bobby Formula
 
Pertumbuhan budaya sains (cultural development) negara-negara di Eropa, berangkat dari filsafat (Socrates, Plato,Aristoteles, etc), kemudian menjadi matematika (Thomas Aquinas, Francis Bacon, Renee Descartes,etc), fisika (Newton, Einstein,etc) dan selanjutnya diinovasikan ke dalam teknologi industri lewat revolusi industri yang membahana pada abad ke-18 di negara-negara Eropa.
Industri kemudian menghasilkan produk-produk baru dalam jumlah besar. Lalu produk-produk yang baru ini (melalui determinasi teknologi) mengubah dinamika social dan meningkatkan kesejahteraan social.
 
Sains-teknologi, sebagai produk (output) dari budaya kemudian di-"tendang balik" (feedback) menjadi input terhadap budaya itu sendiri yang mengakibatkan terjadinya distorsi atawa dinamika pada system social--orang-orang menyebutnya perubahan atau pergeseran peradaban. 
Maka untuk menanggulangi hal tersebut secara simultan dengan pertumbuhan konsep-konsep sains, muncul konsep baru di bidang ilmu-ilmu social-ekonomi yang mencoba mencari bentuk-bentuk penataan social baru yang dapat mengimbangi determinasi teknologi tersebut dalam social masyarakat.
Mulailah zaman mendengar istilah-istilah: Demokrasi, Kapitalisme/Liberalisme, Sosialisme, Komunisme, Humanisme, dan sebagainya itu.
 
Dan Sains-Teknologi yang sejak semula berkembang di Eropa melesat maju melalui research yang dilakukan dan diimplementasikan dalam kegiatan industri secara positif mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di negara-negara Eropa terutama Amerika yang menganut paham Liberalisme/Kapitalisme, serta mampu menguasai pasar global dan menancapkan pengaruhnya di segala lini. Dan dari disinilah dongeng  akan  dimulai.
 
Begitu kuat dan luasnya pengaruh dan cengkraman Kapitalisme--dengan logika formal (identity dan kontradiksi)--, terutama di negara-negara berkembang dimana mereka menanamkan modal (capital) dalam kegiatan industri, yang kemudian telah memasuki segala lini, tanpa terkecuali di lini pendidikan dengan terciptanya kaum borjuis di birokrasi pendidikan .
 
Sebuah lembaga pendidikan yang akan menghasilkan keluaran (output) manusia yang mempunyai kualitas pengetahuan ,ketrampilan, serta prilaku  akan ditempa sesuai dengan permintaan pasar (industri).
Maka idealisme kampus pun rubuh yang seharusnya menjadi lembaga riset dengan pedang naga puspa sains yang akan membedah secara empiris dan mengamati material alam dalam labsacle dan dilanjutkan dengan penerapan ke teknologi untuk mengasilkan produk yang dapat memenuhi kesejahteraan masyarakat akan ditinggalkan oleh para sarjana-sarjananya yang lebih menuju industri.
 
Sepertinya, system seperti ini  mengusik pemikiran  mereka  kaum kiri.
Mereka ini yang sering disebut dengan penganut  paham Sosialisme dengan logika materialisme-nya (materialisme dialektis--marxisme) menentang logika formal milik Kapitalisme.
Dan perseteruan ini sudah sejak lama terjadi dari tepi ke tepi, memperebutkan "market" untuk dijadikan sebagai ideology..
Namun pondasi Kapitalisme sepertinya masih terlalu kuat untuk digoyang. Perubahan radikal pada system yang tampak selalu terburu-buru ingin diwujudkan membuat pergerakkan kaum kiri ini selalu kandas di tengah jalan.
Dengan menggunakan logika materalisme-nya sendiri, aku katakan bahwa negasi dari negasi system yang mereka bangun gugur oleh negasi system yang dibangun oleh kaum kapitalis.
KAPITALISME dengan logika formal-nyalah yang mampu menjalankan systemnya secara global, termasuk mempengaruhi system yang ada di negera-negara dunia ketiga, termasuk Indon ini.
Mau tak mau suka atau tidak suka untuk menjaga kestabilan ekonomi makro sebuah bangsa maka angka tenaga kerja harus ditingkatkan. Perguruan Tinggi (pendidikan formal) memproduksi para sarjana siap pakai untuk dipasok ke industri (swasta). Kurikulum dikemas sedemikian rupa menjadikan Perguruan Tinggi bukan lagi lembaga research atau intelektual development yang lewat sains seharusnya concern mengamati material alam lalu diterapkan dalam teknologi untuk mengahasilkan produk yang berguna untuk mensejahterakan rakyat.
 
Tapi apakah ini menjadikan pemikiran Sartre Satire bahwa pendidikan itu tidak seharusnya dibuat formal menjadi sesuatu yang dapat kita terima?TIDAK.  
Pendidikan dalam Perguruan Tinggi itu harus tetap fomal dan diperlukan penataan. Dengan ini Perguruan Tinggi akan menjadi sebuah kesatuan social (social entity) dengan batas-batas yang relative dapat diidentifikasi dan dapat dikendalikan.
So, ini semua tergantung pada para leader di birokrasi pendidikan yang memegang pengehela-nya.
Sayang untuk mereka aku tidak sudi memberi komentar karena dongeng telah berhenti sampai disini.
 
Bobby Formula


Anda ber-Yahoo!?
Kini dengan simpanan sebanyak 1GB
http://my.mail.yahoo.com/


_____________________________________________________________

Keluarga Besar Mahasiswa Siantar-Bandung (KBMSB)
[email protected]
http://groups.yahoo.com/group/KBMSB
http://www.mail-archive.com/[email protected]

Disclaimer : Isi tanggung jawab pembaca !




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke