Note: forwarded message attached.


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

_____________________________________________________________

Keluarga Besar Mahasiswa Siantar-Bandung (KBMSB)
[email protected]
http://groups.yahoo.com/group/KBMSB
http://www.mail-archive.com/[email protected]

Disclaimer : Isi tanggung jawab pembaca !




YAHOO! GROUPS LINKS




--- Begin Message ---
 
-----Original Message-----
From: L. Denny Tri Roosmadhy
Sent: Thursday, May 18, 2006 9:14 AM
To: Rosanna Agnes Dameria; Carolina Ayu; Desy Mayasari; Bianca Ramona; Bambang Suratiman; Jimmy Charles P. Tampubolon; Fabiola Lawalata; Kristiana Wahyuningsih
Subject: Mengungkap The Da Vinci Code

 
Film "The Da Vinci Code" yang dibintangani
oleh aktor Tom Hank akan diputar serentak
di seluruh dunia, termasuk Indonesia,
pada 19 Mei 2006.
Novel "The Da Vinci Code", yang mendasari
film itu, sangat menghujat iman Kristen dan
dapat menggoyahkan iman bila tidak dicermati
dengan kritis.
Berikut saya sampaikan ulasan
Pdt Dr Bambang Wijaya,
Ketua Umum Persekutuan Injili Indonesia
(yang juga dicetak dalam buku tipis).
Semoga anda dapat membantu menyebarkan
(dicetak lalu di-photo copy atau lewat
internet) di lingkungan gereja/persekutuan/
rekan seiman anda demi meredam dampak buruk
film tersebut.

Blessings,


---------------

Mengungkap "The Da Vinci Code"

Oleh Pdt Dr Ir Bambang Wijaya/
Ketua Umum Persekutuan Injili Indonesia

THE Da Vinci Code adalah salah satu novel
terlaris dekade ini, sejak diterbitkan pada
2003, di seluruh dunia buku ini telah
terjual lebih dari 40 juta copy!
Bila jumlah tersebut didistribusikan di
seluruh Indonesia, sama dengan setiap rumah
tangga memiliki sebuah buku tersebut.
Buku ini tentu dapat berdampak pada pola
pikir masyarakat.
Dampak yang diharapkan secara jelas
dituliskan pada sampul depan edisi bahasa
Indonesianya, yaitu "memukau nalar,
mengguncang iman!"
Dampak yang dalam edisi bahasa Inggris
tidak dicantumkan ini, dapat semakin besar
dengan tayangan versi layar lebarnya,
melalui film yang dibintangi Tom Hanks,
aktor Hollywood yang sangat terkenal,
dan diluncurkan serempak di seluruh dunia
pada 19 Mei 2006 ini.

Hujatan terhadap Iman Kristiani
Buku ini memang diharapkan untuk
mengguncang iman karena novel ini,
edisi bahasa Indonesianya setebal 624
halaman, terang-terangan menghujat
pokok-pokok iman Kristiani.
Berikut adalah hujatan tersebut yang
merupakan pandangan si penulis:
1. Yesus bukanlah Tuhan, melainkan manusia
biasa.
Kaisar Konstantin dari kerajaan Romawilah
yang menjadikan Yesus sebagai Tuhan,
melalui konsili Nicea pada tahun 325 demi
kepentingan politiknya.
2. Kitab Perjanjian Baru yang digunakan
oleh orang Kristen saat ini adalah himpunan
dari kitab-kitab yang disusun oleh
Kaisar Konstantin melalui konsili Nicea.
Sedangkan kitab-kitab suci yang benar,
yaitu yang digunakan oleh para pengikut
Yesus yang asli, justru dibakar berdasarkan
putusan konsili tersebut sebab berisikan
"kebenaran" yang sesungguhnya, yaitu bahwa
Yesus adalah seorang manusia biasa dan
bukan Tuhan.
3. Yesus menikah dengan Maria Magdalena
dan memiliki seorang putri. Maria terpaksa
harus mengungsi ke Prancis, berlindung di
antara masyarakat Yahudi dan melahirkan
anaknya di sana.
Hal ini antara lain dikarenakan rasul
Petrus merasa cemburu sebab Maria Magdalena,
sebagai seorang perempuan, telah dipilih
oleh Yesus untuk menjadi kepala gereja.

Untuk mengemukakan hujatannya tersebut sang
penulis dengan sangat licin telah memadukan:
1. Cerita-cerita khayalan, fiksi
2. Fakta-fakta sejarah
3. Data yang tidak akurat dan tafsiran yang
melenceng terhadap beberapa fakta sejarah
4. Keyakinan teologisnya yang bersifat anti
Kristen

Karena keempat hal tersebut dijalin rapi di
dalam sebuah tulisan yang rancak dan dengan
setting cerita thriller yang menarik,
menegangkan serta penuh kejutan,
maka dengan mudah orang terhanyut dalam
alur cerita tanpa dapat membedakan fakta
dan fiksi.
Akibatnya bagi yang tidak paham sejarah
gereja dengan mudah akan terperangkap
kedalam jerat keyakinan teologis sang
penulis. Bahkan, orang dapat terbawa kepada
ajaran sang penulis yang merupakan ajaran
kafir, seperti memandang hubungan seks
bebas sebagai sarana untuk berhubungan
dengan Tuhan.

Ringkasan Plot Cerita
Buku ini diawali dengan pembunuhan terhadap
Jacques Sauniere, kurator Museum Louvre,
di Paris, oleh Silas seorang biarawan
berkulit albino, demi mendapat rahasia batu
kunci Priory of Sion, karena di situ
termuat informasi tentang letak Cawan Kudus
(Holy Grail), yaitu cawan yang digunakan
oleh Yesus dalam perjamuan kudus terakhir
bersama para murid-Nya.
Sebelum meninggal Jacques Sauniere sempat
memberi petunjuk sandi yang mengakibatkan
Robert Landon, ahli ilmu simbol dari
Universitas Harvard, ikut terlibat dalam
kasus ini.
Robert Landon lalu bekerjasama dengan
Sophie Neveu, ahli ilmu sandi pemerintah
Prancis, yang juga cucu perempuan
Jacques Sauniere. Dalam upaya ini,
keduanya terus diburu oleh
Kapten Bezu Fache, anggota reserse kriminal
Prancis, dan Silas.
Kapten Bezu ingin mengungkap kasus
pembunuhan, sedangkan Silas ditugasi
pemimpin Opus Dei, sebuah organisasi
rahasia Gereja Katolik, demi menyelamatkan
Gereja Katolik.
Di tengah cerita, Robert Landon dan
Sophie Neveu berjumpa Sir Leigh Teabing,
ilmuwan yang mendalami rahasia Cawan Kudus.
Teabing memaparkan berbagai "rahasia gereja",
di antaranya: Yesus hanyalah manusia biasa
yang menikah dengan Maria Magdalena.
Sehingga demi kepentingan politiknya Kaisar
Romawi Konstantin menetapkan Yesus sebagai
Tuhan melalui sebuah konsili (sidang gereja)
di kota Nicea pada tahun 325.
Dalam konsili tersebut diputuskan semua
"kitab suci yang benar", yang menyatakan
Yesus manusia biasa, dilarang dan dibakar.
Sedangkan para "pengikut Yesus yang asli",
yaitu mereka yang tak mempercayai ketuhanan
Yesus ditetapkan sebagai kaum bidat,
dan harus dimusnahkan.
Lebih jauh Teabing menjelaskan
Leonardo da Vinci, yang adalah anggota
serikat rahasia Priory of Sion,
mengetahui rahasia pernikahan Yesus dengan
Maria Magdalena, sehingga tugas serikat ini
menjaga rahasia itu.
Namun Leonardo da Vinci membocorkannya
melalui lukisannya yang sangat terkenal,
The Last Supper
(Perjamuan Malam yang Terakhir) yang
melukiskan suasana perjamuan Paskah sebelum
Yesus ditangkap.
Lukisan tersebut menyembunyikan beberapa
kode yang menunjukkan Maria Magdalena
adalah istri Yesus.
Kode-kode tersebut diantaranya: tidak adanya
gambar Cawan Suci pada lukisan tersebut.
Orang yang duduk di sebelah kanan Yesus,
sesungguhnya adalah gambar Maria Magdalena,
bukan rasul Yohanes. Posisi tubuh Yesus
dengan Maria Magdalena di dalam lukisan
tersebut membentuk huruf V, supaya orang
yang mencari-cari gambar Cawan Suci akan
menangkap kode huruf V ini,
mendapati sesungguhnya Maria Magdalenalah
Sang Cawan Suci yang mereka cari.
Huruf V merupakan simbol dari cawan yang
juga simbol seorang perempuan, dan Leonardo
memakai Cawan Suci sebagai kode untuk
memberitahukan Yesus menikah dengan orang
yang duduk di sebelah kanan-Nya,
yaitu Maria Magdalena. Lukisan itu juga
ingin memberitahukan betapa bencinya rasul
Petrus kepada Maria Magdalena, sebab Maria
telah dipercaya Yesus untuk memimpin gereja.
Di situ dilukiskan wajah Petrus penuh
amarah dengan jari telunjuknya diarahkan
ke leher Maria Magdalena.
Teabing juga menjelaskan Gereja Katolik
telah berkonspirasi menutupi fakta Yesus
hanya manusia biasa, dan Vatikan mengetahui
kebohongan ajaran kalau Yesus adalah Tuhan.
Rahasia ini dijaga demi mempertahankan
kekuasaan gereja.
Kejutan di akhir cerita, terungkap bahwa
ternyata Teabing-lah tokoh kunci dalang
pencarian batu kunci Priory of Sion,
dan bahwa Sophie Neveu adalah keturunan
Maria Magdalena dari perkawinannya dengan
Yesus.

Fakta dan Fiksi
Seperti yang saya kemukakan di atas,
Dan Brown, menulis novelnya dengan sangat
licin. Dia menjalin beberapa fakta dan
fiksi, atau kisah khayal, sehingga orang
awam yang tak paham sejarah gereja sulit
membedakannya.
Akibatnya pembaca buku tersebut dapat
menganggap bagian-bagian fiksi sebagai
fakta.
Pelbagai fakta yang disisipkan oleh Dan
Brown dalam novel fiksi ini antara lain:
1.   Detil ruangan Museum Louvre,
tempat kisah ini dimulai, dan detil dari
kapel Rosslyn di Skotlandia,
yang dikisahkan sebagai tempat disimpannya
cawan suci.

2.   Penyelenggaraan Konsili Nicea atas
permintaan Kaisar Konstantin, yang juga
menetapkan bahwa para pengikut Arius yang
tak mempercayai keilahian Yesus sebagai
bidat.

3.   Kedangkalan kekristenan Kaisar
Konstantin, sehingga misalkan ia hanya mau
dibaptis menjelang saat ajalnya,
dan diserapnya beberapa praktik agama kafir
ke dalam kehidupan gereja khususnya sejak
Kaisar Konstantin mengeluarkan edik
toleransi pada tahun 313.
Edik toleransi ini memang pada satu sisi
bersifat positif bagi orang Kristen karena
penganiayaan terhadap mereka dihentikan,
namun di sisi lain bersisi negatif sebab
telah mengakibatkan gereja mengalami
kemerosotan spiritual sehingga terjerumus
ke dalam abad-abad kegelapan.

4.   Sebagian dari detil lukisan
The Last Supper, karya Leonardo Da Vinci
yang terdapat pada dinding
gereja Santa Maria delle Grazie di kota
Milan, Italia.

5.  Serikat Piory of Sion dan Opus Dei yang
memang ada dalam lingkup Gereja Katolik.
Hanya saja lembaga-lembaga tersebut
didirikan bukan untuk melakukan kegiatan
rahasia seperti yang ditulis Dan Brown.

Di luar fakta tersebut bagian yang lain
dari buku tersebut hanyalah fiksi,
khayalan Dan Brown. Data yang
dikemukakannya tidak akurat,
tafsirannya melenceng dari fakta
sesungguhnya. Namun karena gaya
penyajiannya sangat meyakinkan,
maka pembaca yang tidak menggunakan
nalarnya secara kritis akan menganggap itu
semua fakta yang benar.
Pembaca seperti ini akan mudah terperangkap
dalam alur pikir Sophie, tokoh dalam novel
ini, saat ia terpengaruh oleh ceramah
Leigh Teabing, yang sesungguhnya adalah
indoktrinasi dari Dan Brown.
Sebaliknya apabila ketidakakuratan dan
tafsir yang melenceng tersebut diungkap,
dan pada saat yang sama ditunnjukkan
bagian fiksi novel tersebut, maka dengan
mudah pembaca yang berpikiran jernih dan
obyektif dapat menangkap kelicinan dan
kesalahan pandangan Dan Brown,
dan sekaligus akan melihat kebenaran pokok
iman Kristiani.

Kebenaran Konsili Nicea?
Jauh sebelum Konsili Nicea, yang digelar
pada tahun 325, gereja pada zaman para
rasul atau gereja mula-mula telah
mengajarkan bahwa Yesus adalah Tuhan,
dan ini selaras dengan ajaran Yesus Kristus
tentang diri-Nya kepada para murid-Nya
(lihat Injil Matius 16:13-20).
Beberapa bukti keyakinan gereja mula-mula
ini dapat dilihat antara lain di dalam
kitab Didache (ditulis sebelum tahun 100),
yang pada intinya mengajarkan tentang
praktika ibadah Kristiani dan dengan jelas
menuliskan pokok iman Kristiani:
Yesus adalah Tuhan.
Contoh yang lain adalah tulisan-tulisan
Yustinus Martir, bapa gereja dan apologet
terkemuka pada awal abad kedua, yang dua
abad sebelum Konsili Nicea telah menegaskan
keilahian Yesus Kristus.
Bukti lain adalah ajaran Uskup Irenaeus,
dari Lungdunum, tokoh yang sangat
terpandang pada awal abad kedua,
yang mengacu kepada tulisan dalam
1Korintus 8:6, yang berbunyi:
"Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja,
yaitu Bapa, yang daripada-Nya berasal
segala sesuatu dan yang untuk Dia kita
hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus
Kristus."
Dengan kata lain, ajaran Yesus adalah Tuhan
sama sekali bukanlah ide Kaisar Konstantin
yang dalam agenda politiknya bermaksud
menyatukan kaum kafir dengan pemeluk agama
Kristen di negara Romawi,
dengan mencampurkan ajaran kafir dan
Kristen melalui Konsili Nicea.
Diakui dalam Konsili Nicea dirumuskan
syahadat atau pengakuan iman Kristiani,
namun isi pengakuan iman tersebut bukanlah
pemasukan ajaran baru yang bersumber dari
ajaran kafir ke dalam ajaran Kristiani.
Kredo yang dirumuskan itu merupakan
penegasan inti jaran Kristiani yang sudah
ada tiga abad sebelumnya.
Penegasan ini dinilai perlu karena pada
masa itu muncul ajaran baru yang
dikembangkan oleh Arius, seorang teolog
dari Aleksandria, Mesir, yang menyangkali
keilahian Yesus.
Dan Brown melalui mulut tokoh yang ia
ciptakan, Teabing, berkata bahwa di dalam
Konsili Nicea telah diadakan pemungutan
suara, untuk menentukan apakah Yesus adalah
Tuhan atau manusia. Ia mengatakan bahwa
voting tersebut menghasilkan suara yang
hampir seimbang di antara pendukung dan
penentang ajaran Yesus sebagai Tuhan.
Dalam realita sejarah, saat dilakukan
pemungutan suara, dari tiga ratus uskup
yang hadir pada konsili tersebut hanya dua
orang saja yang menentang rumusan
Pengakuan Iman Nicea. Jadi sungguh jauh
dari yang disebut oleh Dan Brown sebagai
suara hampir seimbang! Padahal sebagian
besar dari para uskup yang hadir berasal
dari wilayah Timur, tempat Arius
menyebarkan ajarannya.

Konstantin Penyusun Perjanjian Baru?
Dan Brown sangat benar saat ia menulis
bahwa "Alkitab tidak datang dengan cara
difaks dari surga." Sebab kekristenan tidak
mengajarkan bahwa setiap kata dan kalimat
di dalam Alkitab didikte dari surga kepada
para penulisnya. Tetapi Dan Brown sangat
keliru saat mengatakan Konstantin-lah
penyusun dan yang memilih kitab Injil mana
yang boleh dimasukkan ke dalam
Perjanjian Baru melalui Konsili Nicea.
Menurut Brown, Konstantin telah memilih
kitab-kitab yang membuat Yesus seakan
adalah Tuhan, sedangkan semua kitab Injil
yang berbicara tentang segala perilaku
manusiawi Yesus dikumpulkan lalu dibakar.
Dan Brown keliru, karena ia menyembunyikan
fakta sejarah bahwa sesungguhnya daftar
yang baku, atau kanon, dari kitab-kitab
Perjanjian Baru sudah tersusun dua abad
sebelum Konsili Nicea. Salah satu kanon
yang paling terkenal adalah kanon
Muratorian yang disusun pada tahun 190.
Disitu dicantumkan dua puluh sembilan kitab
dan surat Perjanjian Baru, dua puluh tujuh
kitab di antaranya sama persis dengan kanon
Kitab Perjanjian Baru yang ada saat ini,
dengan dua tambahan yaitu kitab Wahyu
kepada Petrus dan kitab Hikmat Salomo.
Pada masa berikutnya para bapa gereja
mengeluarkan kedua kitab tersebut dari
kanon Perjanjian Baru karena dipandang
isinya tak setara dengan kitab-kitab
kanonik. Kanon lain adalah tulisan Irenaeus
pada awal abad kedua, yang mendaftarkan
keempat Injil dalam Perjanjian Baru yang
ada sekarang sebagai kitab suci.
Jadi, dalam Konsili Nicea tidak disusun
kanon Perjanjian Baru, tetapi diperdebatkan
keabsahan dari beberapa kitab yang ada di
dalam kanon Perjanjian Baru,
khususnya kitab Ibrani dan Wahyu.
Alasan perdebatan tersebut karena pada
kedua kitab tersebut tidak dicantumkan nama
sang penulis secara eksplisit seperti pada
kitab-kitab Perjanjian Baru lainnya.
Bagi para pemimpin gereja di abad mula-mula
kejelasan nama penulis kitab atau surat
sangat menentukan demi memastikan kekokohan
dari kanon.
Lebih lanjut Dan Brown mengatakan kumpulan
kitab-kitab Injil yang sejati yang dicoba
dimusnahkan oleh Kaisar Konstantin ada
yang berhasil diselamatkan.
Kumpulan tersebut ditemukan kembali di
Gua Qumran dekat Laut Mati pada tahun
1950-an, yaitu Dead Sea Scrolls,
dan gulungan kitab di Nag Hammadi pada
tahun 1945.
Memang benar di kedua tempat itu ditemukan
gulungan-gulungan kitab tersebut,
namun gulungan-gulungan tersebut bukan
kitab Injil yang sejati!
Dead Sea Scrolls sama sekali tidak berisi
sepotong pun kitab yang disebut sebagai
Injil, sebaliknya berisi fragmen-fragmen
dari kitab-kitab Perjanjian Lama yang
isinya sangat persis dengan kitab
Perjanjian Lama saat ini. Sehingga ia
justru membuktikan keakuratan isi kitab
Perjanjian Lama dalam Alkitab.
Dalam Dead Sea Scrolls juga ditemukan
catatan tentang aturan kehidupan kaum
petapa Essenes, suatu kelompok agama Yahudi
sebelum masa agama Kristen.
Sedangkan isi kitab-kitab di dalam gulungan
Nag Hammadi sangat jauh untuk dapat
dikatakan sebagai Injil yang sejati.
Kitab-kitab tersebut disebut sebagai kitab
Gnostik, yakni aliran kebatinan yang mulai
muncul di gereja sejak awal abad kedua.
Kitab-kitab dalam gulungan Nag Hammadi
tersebut ditulis oleh pengikut aliran ini
pada akhir abad kedua sampai dengan abad
kelima, bukan pada zaman para rasul!
Kitab-kitab tersebut berisi dongeng dan
mitos khas kaum Gnostik, mutu etikanya
kelewat rendah dan sangat bertentangan
dengan doktrin Perjanjian Lama tentang
pribadi Allah sebagai
Pencipta Langit dan Bumi, sehingga oleh
gereja mula-mula pun sama sekali tidak
dipandang sebagai kitab yang suci.

Yesus Menikah?
Kesimpulan Dan Brown ini tanpa bukti ilmiah,
sebab tak satu pun naskah pada zaman para
rasul dan bapa-bapa gereja yang mencatat
bahwa Yesus menikah. Namun, untuk mendukung
pernyataannya Dan Brown menggunakan tiga
"bukti." Namun bila diteliti tiga "bukti"
itu dengan mudah terlihat sebagai
kesimpulan yang gegabah.
"Bukti" pertamanya adalah lukisan
The Last Supper karya Leonardo Da Vinci.
Tanpa dasar jelas ia mengatakan gambar
orang berwajah halus, yang mirip wanita,
duduk di sebelah kanan Yesus di dalam
lukisan tersebut adalah Maria Magdalena!
Untuk membuktikan pendapatnya bahwa Yesus
menikahi "Maria Magdalena" tersebut,
Dan Brown menggunakan metode otak-atik
gathuk, istilah bahasa Jawa yang berarti
"diotak-atik supaya jadi cocok."
Dia mengotak-atik detil di dalam lukisan
tersebut sedemikian rupa supaya mendukung
pernyataannya. Hanya saja ia tidak
menyebutkan suatu fakta dalam dunia seni
bahwa para pelukis abad pertengahan,
yaitu zamannya Leonardo Da Vinci,
seorang pria belia sering dilukis dengan
wajah feminim. Hal yang sama dilakukan
Leonardo Da Vinci saat melukiskan wajah
Yohanes, murid Yesus Kristus yang termuda,
dalam lukisan The Last Supper di atas.
"Bukti" kedua yang ia gunakan adalah
pendapatnya bahwa dalam kepantasan sosial
pada zaman Yesus Kristus, bahwa seorang
lelaki Yahudi terlarang untuk tidak menikah.
Menurut Brown, dalam adat Yahudi tidak
menikah adalah hal terkutuk.
Jelas pernyataan ini tidak berdasar,
sebab merupakan fakta sejarah ada banyak
pria Yahudi pada zaman itu yang menjadi
nazir, yang karena alasan keyakinan
keagamaan ada di antara mereka yang tidak
menikah. Sebagai contoh adalah kaum Essenes
yang menyimpan gulungan kitab
Dead Sea Scrolls di atas. Di samping itu
merupakan suatu fakta pula bahwa orang
Yahudi sangat menghormati tokoh-tokoh di
dalam Perjanjian Lama yang tidak menikah,
seperti nabi Daniel, yang adalah seorang
sida-sida Yahudi di negara Babilonia.
"Bukti" ketiga yang ia gunakan adalah
Injil Philip yang menyebutkan bahwa Yesus
mencintai Maria Magdalena lebih dari pada
seluruh murid-Nya dan Yesus sering mencium
Maria. Patut diketahui bahwa yang disebut
sebagai Injil Philip sesungguhnya sama
sekali bukan kitab Injil, melainkan sebuah
kitab Gnostik yang ditulis sekitar pada
abad ketiga.
Kitab ini disebut sebagai Injil Philip
bukan karena ia ditulis oleh Rasul Filipus,
tetapi karena di dalam kitab Gnostik
tersebut tidak disinggung nama rasul-rasul
Tuhan Yesus yang lain, kecuali hanya nama
Rasul Filipus. Dan Brown juga tidak
menyebutkan bahwa Injil Philip yang
ditemukan dalam gulungan Nag Hammadi
tersebut tidak ditulis di dalam bahasa
Yunani ataupun berlatar belakang bahasa
Yunani sebagaimana layaknya kitab-kitab
Perjanjian Baru, namun di dalam bahasa
Koptik, yaitu bahasa Mesir dan dengan latar
belakang bahasa Siria!

Kesimpulan
Sejak gereja berdiri dua ribu tahun yang
lampau serangan terhadap pokok-pokok iman
Kristiani tidak pernah berhenti.
Serangan tersebut berasal dari kelompok
bidat di dalam gereja sendiri, maupun dari
orang-orang yang tidak mempercayai Yesus
Kristus adalah Tuhan dan Juru Selamat
manusia. Jadi, hujatan dalam buku
The Da Vinci Code bukan hal baru. Hanya saja
kali ini hujatan ini menjadi meluas karena
ditunjang dengan sistem promosi dan
pemasaran yang sangat canggih,
yang mendatangkan keuntungan finansial
luar biasa bagi pihak penulis dan penerbit
buku ini.
Di samping itu juga karena di
wilayah-wilayah tertentu di dunia buku ini
dipopulerkan oleh pribadi-pribadi yang
tidak menginginkan terbangunnya kerukunan
umat beragama di tengah masyarakat.
Mengapa orang Kristen tidak menanggapi
hujatan di dalam buku The Da Vinci Code
dengan amarah yang membabi-buta dan
berbuat keonaran? Hal ini bukan karena
mayoritas orang Kristen yang terdidik
mengetahui bahwa Yesus memang seorang
manusia yang karena manuver politik
Konstantin telah dijadikan Tuhan,
sehingga tidak mampu menjawab hujatan
tersebut (seperti dikatakan Dan Brown di
dalam bukunya). Justru sebaliknya,
orang Kristen yang berpikir obyektif,
kritis dan memahami metoda ilmiah yang
masuk nalar serta mengetahui sejarah iman
mereka, akan dapat melihat hujatan di
dalam novel The Da Vinci Code tersebut
bersifat fitnah murahan.
Di samping itu orang Kristen menghayati
firman Tuhan bahwa "Janganlah membalas
kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa
yang baik bagi semua orang!
Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung
padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan
semua orang!" (Roma 12:17-18).
Perilaku kasih ini bukanlah tanda
kelemahan, justru sebaliknya kemampuan
untuk mengendalikan emosi secara dewasa
merupakan bukti dari buah Roh
(Galatia 5:22) di dalam kehidupan orang yang
hidup di dalam anugerah Tuhan.
Di sisi yang lain, buku-buku seperti
The Da Vinci Code harus membuat orang
Kristen lebih giat lagi membaca dan
mempelajari Alkitab, memahami pokok-pokok
ajaran iman yang sehat, dan sejarah gereja
dengan baik.
Dengan demikian mereka akan dapat
"menjadi seorang pelayan Kristus Yesus
yang baik, terdidik dalam soal-soal pokok
iman dan dalam ajaran sehat yang telah
mereka ikuti selama ini." (1Timotius 4:6),
serta mampu menjawab setiap hujatan
tersebut sesuai dengan nasihat firman
Tuhan:
"Dan siap sedialah pada segala waktu untuk
memberi pertanggungan jawab kepada
tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan
jawab dari kamu tentang pengharapan yang
ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah
lembut dan hormat, dan dengan hati nurani
yang murni, supaya mereka, yang memfitnah
kamu karena hidupmu yang saleh dalam
Kristus, menjadi malu karena fitnahan
mereka itu." (1Petrus 3:15-16). ***
===========================================







--- End Message ---

Kirim email ke