http://www.kompas.com/kompas-cetak/0606/24/humaniora/2760738.htm

Realitas Bukan Diteliti, tetapi Diproduksi

Untuk alasan yang berbeda, banyak orang memelihara skeptisisme terhadap 
sains. Sementara sebagian masyarakat memandang takzim operasi 
transplantasi seraut wajah oleh tim dokter Rumah Sakit Umum Dr Soetomo, 
Surabaya, sebagian lagi menganggap sains masih berutang obat HIV/AIDS. 
Sains juga ditunggu pencapaiannya menyembuhkan penyakit flu burung.

Alih-alih sains menuai kritik, sudah cukup lama skeptisisme versi lain 
tumbuh di ranah laboratorium. Sekurangnya tiga tahun sebelum pergantian 
milenium (1997), terbit buku yang melukiskan skeptisisme ilmuwan. Di 
bawah judul The End of Science: Facing the Limits of Knowledge in the 
Twilight of the Scientific Age, John Horgan, penulisnya, melontarkan 
antitesis pemujaan terhadap sains; bahwa sains sedang menuju abad 
senjanya. Ini bukan lantaran adanya skeptisisme kalangan ilmuwan yang 
sofis, tapi justru sains telah bekerja dengan sangat sempurna (?).

Sains tak menyisakan celah eksploratif bagi munculnya temuan dan 
terobosan besar. Ahli astrofisika Amerika Serikat, Martin Hewit, 
meramalkan bahwa nasib sains berada pada posisi terbaiknya tahun 2000. 
Pada tahun itu, sains telah mengungkapkan separuh dari seluruh fenomena 
semesta yang tertangkap oleh manusia. Sekitar 90 persen dari fenomena 
tersebut, apa boleh buat, baru bisa diakses pada 2200. Sisanya akan 
turun tetes demi tetes dengan tingkat kecepatan seperti proses 
terbentuknya stalagtit dan stalagnit dalam gua beribu-ribu tahun.

Publik yang berharap

Isu ketidakmampuan sains mengangkat martabat kehidupan muncul sejak awal 
abad ke-20. Pandangan masyarakat yang mendewa-dewakan sains mulai 
berubah kritis sejak implikasi buruk dari aplikasi fisika atom terasa 
sepanjang Perang Dunia II. Sains sejak itu selalu dicurigai, diawasi, 
dan dicegah jika dianggap berpotensi mengancam kehidupan. Paralel dengan 
itu, banyak riset—baik pemerintah maupun swasta, baik sipil mapun 
militer—dirahasiakan dari pengetahuan publik.

Kecurigaan mendalam kembali memuncak menjelang abad ke-21, ketika virus 
bernama bovine spongiform enchephalophaty (BSE) ditemukan di Inggris. 
Penyakit yang menyerang sistem syaraf sapi itu dipercaya dapat 
menginfeksi daging dan menurunkan penyakit lain yang disebut 
Creutzfeldt-Jakob (vJCD) atau BSE yang menyerang manusia. Kita 
mengenalnya sebagai penyakit sapi gila.

Di tangan ilmuwan, urusan sepele jadi rumit dan mahal. Pada November 
2001, proyek riset senilai 217.000 poundsterling (sekitar Rp 3,36 
miliar) untuk menyelidiki kemungkinan BSE menyebar dari sapi ke domba 
menjadi sia-sia ketika terungkap bahwa para ilmuwan mungkin telah 
mengacaukan sampel otak sapi dengan domba. Celakanya, dua penelitian 
lanjutan senilai 55.000 poundsterling gagal memastikan benar-tidaknya 
kekacauan itu. Kecemasan baru muncul pada Januari 2002 saat tersiar 
kabar bahwa vaksin polio yang terinfeksi telah menyulut tercetusnya 
vCJD, sebagaimana temuan di laboratorium tentang penyebab penyakit itu.

Kasus sesamar sapi gila kini terjadi pada flu burung. Sejak ditemukan 
pertama kali pada 1996 di Hongkong, virus maut flu burung telah menyebar 
sejauh tujuh ribu mil melintasi Asia Pasifik. Sejauh ini penularan dari 
unggas ke manusia tercatat 192 kasus; 109 di antaranya meninggal dunia 
(Kompas, 12 April 2006). Tak kurang dari 150 miliar ekor unggas mati 
karenanya. Kematian yang merenggut keluarga Iwan Siswara Rafei di 
Tangerang dan Rini Dina di Jakarta Selatan pada September 2005, 
menyisakan misteri: dari mana penularan virus flu burung bersumber?

Selain obat, sains berutang vaksin berkualitas. Sebab, meski kualitasnya 
tergolong baik, vaksin itu tak mampu membunuh 100 persen virus di dalam 
tubuh unggas yang telah divaksinasi. Alhasil, kendati unggas tidak jadi 
sakit, ia tetap membiarkan sebagian kecil virus hidup.

Dua contoh kasus di atas memberi kontribusi terhadap skeptisisme publik 
bahwa ilmuwan tak bisa lagi diharapkan untuk memperbaiki keadaan. 
Ilmuwan dan dokter menyatakan kepada publik sesuatu itu aman, padahal 
tidak; atau sesuatu itu tidak aman, tapi mereka tidak dapat atau tak 
bersedia menegaskannya.

Sains takkan mati

Skeptisisme semacam itu menerangkan mengapa penyembuhan alternatif 
berkembang melampaui batas kemampuan sains kedokteran dalam sejumlah 
kasus. Para penyembuh alternatif bahkan cepat bermetamorfosis; dari 
sosok yang berbaju gelap kumal dan bersolo karier menjadi sosok yang 
berbaju putih bersih dan punya beberapa asisten medis. Meski belum ada 
selentingan para penyembuh ini dapat mengobati penyakit sapi gila dan 
flu burung, di mata publik reputasi mereka setara dengan dokter.

Dalam beberapa hal, sains dianggap sebagai otoritas tertinggi, namun 
dalam hal lain tak dipercaya dan dipersalahkan karena menimbulkan 
ancaman baru. Masyarakat mengenali fenomena bahwa obat-obatan sekarang 
tidak pernah muncul tanpa risiko. Artinya, jika kita menginginkan 
manfaat dari obat-obatan hasil riset sains, maka kita harus berani 
menghadapi efek samping yang merugikan.

Tali empiris-rasional ternyata bukan simpul yang menguatkan ikatan sains 
dan publiknya. Ketergantungan publik pada sains memang begitu besar, 
tapi publik berharap agar ilmuwan dapat menenggang rasa dengan tidak 
menciptakan temuan- temuan memukau tapi ironis. Misalnya, di saat Eropa 
tengah bergelut melawan penyakit sapi gila, pada 25 November 2001 para 
ilmuwan di Massachussetts, AS, mengumumkan keberhasilan mereka 
mengkloning embrio manusia. Tentu saja dinyatakan, eksperimen ini bukan 
bertujuan menciptakan bayi-bayi unggul, melainkan untuk landasan riset 
lanjutan tentang kloning terapeutik manusia. Toh, selain bikin bulu 
kuduk berdiri, temuan tadi telanjur dianggap takabur.

Dalam kasus lain, ironi serupa berlangsung di Indonesia. Ketika 
masyarakat mencemaskan nasib 2.163 pengidap HIV/AIDS, suatu prevalensi 
yang meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir di Provinsi Papua dan 
Irian Jaya Barat (Kompas, 12 April 2006), tim dokter di Surabaya sedang 
memantau hasil operasi mereka yang menakjubkan terhadap Siti Nur Jazilah 
setelah wajahnya tersiram air keras.

Hubungan antara sains dan publik kian renggang setiap kali penghargaan 
prestisius seperti Nobel diberikan kepada ilmuwan brilian. Prestasi 
sains mereka mungkin bermanfaat di masa mendatang; jelas bukan sekarang, 
yang sebetulnya lebih dibutuhkan. Tugas-tugas mendasar Newton, Mendel, 
Darwin, Bohr, Einstein, dan ilmuwan lain sudah paripurna. Tapi, 
skeptisisme ilmuwan bahwa sains akan mati paripurna secara perlahan tak 
berarti banyak bagi publik, tempat sains mengabdi.

Publik abad ke-21 mungkin tak memerlukan lagi temuan mutakhir sekaliber 
para ilmuwan di dua abad sebelumnya. Mungkin benar bahwa hasil riset 
abad ini dan mendatang, sebagaimana klaim biolog kawakan Richard Dawkins 
dalam The Blind Watchmaker (1986), sekadar catatan kaki bagi temuan- 
temuan besar di masa lalu. Tapi, apa urusannya temuan besar atau catatan 
kaki bagi publik?

Refleksi atas perkembangan dalam sains modern mengisyaratkan, sains 
tidak terwujud dari dasar hukum-hukum abadi yang menguasai pemikiran 
manusia, sebagaimana tradisi pemikiran Kantian. Eksistensi sains tidak 
berasal dari suatu pendasaran logis atau filosofis, namun bergantung 
pada duduknya persoalan suatu ilmu pada saat tertentu dalam perkembangan 
historisnya.

Zaman kita sekarang, menurut filosof sains Gaston Bachelard (1884-1962), 
ditandai oleh le nouvel esprit scientifique (suasana ilmiah yang baru), 
fase ketiga dalam perkembangan sains. Fase pertama (prailmiah) yang 
meliputi zaman purba hingga renaisans ditandai oleh bentuk-bentuk 
pengenalan yang konkret. Fase kedua (ilmiah) dimulai pada akhir abad 
ke-18, tatkala berdasarkan penggunaan ilmu ukur muncul bentuk-bentuk 
abstraksi yang pertama atau "konkret-abstrak". Di fase terakhir, yang 
tengah berlangsung, sains mendapat sifatnya yang benar-benar abstrak. 
Bachelard berpendapat, temuan Einstein mengawali fase ketiga 
(1916-sekarang).

Ciri mencolok di fase ketiga ialah bahwa praktik ilmiah secara radikal 
terpisah dari pengalaman sehari-hari. Sains tak lagi meneliti—tapi 
menghasilkan— fenomena-fenomena. Sebab, yang disebut fenomena sekarang 
merupakan efek dari aktivitas teknis-teoretis. Sains tidak lagi 
mencerminkan realitas, tapi memproduksi dan mengoperasikan realitas. Tak 
heran, matematika begitu penting pada fase ketiga. Obyek-obyek ilmiah 
tak ubahnya konstruksi-konstruksi matematis atau relasi-kombinasi yang 
dirumuskan secara matematis.

Sejarah sains yang terpetakan lewat tiga fase tadi menyiratkan adanya 
diskontinuitas atau evolusi yang tidak kontinu. Teori relativitas 
Einstein, misalnya, tak mungkin diturunkan dari mekanika Newton. 
Terdapat suatu keretakan epistemologis (rupture épistémologique) antara 
fisika Einstein dan fisika Newton, yang justru merupakan prasyarat untuk 
mencapai kemajuan sains.

Sejarah sains memang mengalami periode-periode mandul dan stagnan akibat 
hambatan epistemologis. Hambatan yang dimaksud bukanlah halangan 
lahiriah seperti rumitnya materi yang diteliti atau kesukaran menangkap 
fenomena-fenomena tertentu. Bukan pula soal kelemahan indera manusia 
atau keterbatasan pemikiran manusiawi. Suatu hambatan epistemologis 
terjadi, jika manusia "buta" terhadap kemungkinan-kemungkinan dan 
kesempatan-kesempatan yang secara obyektif telah tersedia bagi sains.

A Bakti Tejamulya, Peneliti Budaya di Masyarakat Indonesia Sadar Budaya 
(Mesiass)

-- 
Ronsen
Yet another Gindis player, http://tinyurl.com/pgohk


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Check out the new improvements in Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/6pRQfA/fOaOAA/yQLSAA/uBfwlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

_____________________________________________________________

Keluarga Besar Mahasiswa Siantar-Bandung (KBMSB)
[email protected]
http://groups.yahoo.com/group/KBMSB
http://www.mail-archive.com/[email protected]

Disclaimer : Isi tanggung jawab pembaca !
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/KBMSB/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke