Salam
Lagi suka-sukanya membongkar-bongkar posting di milis; tulisan amang Mula
Harahap sy forwardkan.
Mohon maaf bila tidak berkenan.
Txs
----- Original Message -----
From: "Matias_Saragih" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, July 20, 2006 9:41 PM
Subject: Fwd: Kristenisasi Bukan Ilusi (Cerita Tentang "Honda Bebek" Pak
Ustad)
--- In [EMAIL PROTECTED], Mula Harahap <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
I
Beberapa waktu lalu, di milis ini saya membaca
transkripsi wawancara Pdt. Dr. Martin L. Sinaga dengan
sebuah radio swasta. Sebagai transkripsi dari sebuah
wawancara, maka saya sadar bahwa tentu banyak
pernyataan dari Martin L.Sinaga yang pengutipan dan
penyimpulannya kurang tepat. Misalnya, saya tidak
percaya kalau Martin L. Sinaga secara gamblang
menyatakan bahwa ada keselamatan di luar Kristus,
sebagaimana yang menjadi bahan kontroversi di milis
ini dan di beberapa media kristiani lainnya. (Saya
juga pernah membaca rumusan Konsili Vatikan II
mengenai agama-agama di luar Katolik. Dan seingat
saya, rumusan tersebut tidaklah segamblang dan
sesederhana yang dikutip orang dari pernyataan Dr.
Magnis Suseno).
Kendati pun saya lebih banyak setuju dengan apa yang
dikatakan oleh Martin L. Sinaga, namun saya tertarik
juga untuk menanggapi esensi (bukan kata per kata
atau kalimat per kalimat) dari wawancara tersebut.
Dan izinkanlah saya memulai tanggapan ini dengan
sebuah cerita berikut:
II.
Di sebuah perkampungan yang padat dan relatif kumuh di
sebuah kota metropolitan Indonesia, hiduplah
bertetangga seorang pastor dengan seorang ustad.
Sedemikian baiknya hubungan mereka, sehingga apapun
yang dimiliki oleh yang satu pasti akan dibaginya
kepada yang lain.
Begitulah, suatu hari Pastor mendadak mendapat tugas
untuk melayani penguburan seorang anggota jemaatnya.
Karena tempat yang hendak dituju relatif jauh dan
tidak terjangkau oleh angkutan umum, maka Pastor
datang menjumpai Pak Ustad untuk meminjam sepeda
motornya.
"Pak Ustad, bolehkah saya meminjam honda bebeknya
barang satu-dua jam?" tanya Pastor.
"Oh, silakan, slakan, Pastor...." kata Pak Ustad
dengan ramahnya sambil memberikan kunci kontak sepeda
motor yang dimaksud. Dan pergilah Pastor membawa
sepeda motor itu ke tempat tugasnya.
Dua jam kemudian, Pastor pun telah kembali. Ketika itu
musim penghujan, karena itu sepeda motor yang tadinya
bersih kini telah berlepotan lumpur.
Dalam semangat hidup bertetangga yang baik, maka
Pastor berniat untuk lebih dahulu membersihkan sepeda
motor itu sebelum dikembalikan ke pemiliknya.
Sebagaimana layaknya kehidupan di perkampungan kumuh,
maka air adalah barang yang sangat langka. Karena itu,
untuk menghemat air, Pastor hanya memercik-mercikkan
air di seantero sepeda motor itu dan mengelapnya.
Cilakanya, tingkah-laku Pastor terlihat oleh Pak
Ustad.
"Astaga! Sudah dibaptisnya pula honda bebekku menjadi
Kristen..." gerutu Pak Ustad di dalam hati.
Sementara itu, selesai membersihkan, Pastor pun
mendorong sepeda motor itu ke rumah Pak Ustad. "Ini
hondanya...Terimakasih ya, Pak Ustad?!"
"Hmm, hmm... Letakkan sajalah di situ, Pastor," kata
Pak Ustad dengan nada dingin. Ia menjadi begitu kecewa
dan tidak berani lagi menyentuh sepeda motornya.
"Aduh, apakah yang harus saya lakukan sekarang?" pikir
Pak Ustad dengan masygulnya. "Tadi pagi ia masih
Islam, tapi kini di tangan Si Pastor brengsek itu ia
telah menjadi Kristen..." Pak Ustad berpikir keras
untuk kembali "memenangkan" honda bebeknya.
"Oh, ada akal!" Tiba-tiba Pak Ustad mendapat sebuah
gagasan yang cemerlang. Ia pergi ke kamar, mencari
peti tempat menyimpan alat-alat bertukang dan
mengambil sebuah gergaji besi.
Mulailah Pak Ustad berjongkok di belakang sepeda motor
itu. Srek..srek..srek...Ia menggergaji ujung knalpot
"hoda bebek" tersebut. Tak lama kemudian, tentu saja,
putuslah ujung knalpot tersebut. Pak Ustad tersenyum
lebar. "Nah, kini honda bebek saya sudah kembali
menjadi Islam....
Cerita yang sama seperti di atas, tapi dalam kadar
yang lebih dramatis, saya baca dalam sebuah edisi
Newsweek ketika Maluku sedang dilanda kerusuhan.
Laporan itu menceritakan sebuah desa Kristen yang
telah ditaklukkan oleh Laskar Jihad. Lalu diceritakan
pula bagaimana para pria dewasa desa itu mengalami
sunat secara paksa dan menjadi Islam.
III.
Sejarah perjumpaan misi Kristen dengan Islam di negeri
ini memang tidak lepas dari klaim-mengklaim atau
"cop-mencop" (kata orang Medan) atas hal-hal lahiriah
seperti kisah "honda bebek" di atas.
Baru-baru ini saya membaca sebuah buku "Pembaptisan
Massal dan Pemisahan Sakramen" karangan Dr. I.H.
Enklaar. Buku ini diterjemahkan oleh Th. van den End
dan diterbitkan oleh P.T. BPK Gunung Mulia, Jakarta.
Di dalam buku ini saya membaca bagaimana pada masa
lalu pekabaran Injil di banyak tempat negeri ini
dilakukan dengan metode pemisahan Baptisan dengan
Perjamuan Kudus.
Penduduk, yang umumnya menganut agama-agama suku,
secara massal dan tergesa-gesa dibaptis. Barulah
beberapa waktu kemudian, setelah mereka lebih memahami
imannnya yang baru itu, mereka diizinkan untuk
mengikuti Perjamuan Kudus. Tapi karena kurangnya
tenaga, maka acapkali orang-orang yang telah dibaptis
itu kembali ke agamanya semula atau menjadi Islam.
Di dalam buku ini saya juga membaca betapa upaya
memberitakan Kabar Baik itu ternyata tidak lepas dari
kepentingan-kepentingan politik dan ekonomi kolonial
(Portugis maupun Belanda).
Di kepulauan Maluku misalnya ada pertimbangan bahwa
penduduk (yang tadinya beragama suku) tapi yang
secara formal telah dibaptis menjadi Kristen itu akan
lebih gampang diatur dan diajak bekerja-sama daripada
mereka tetap dalam agamanya yang asli atau berubah
menjadi beragama Islam. ("Kekristenan-nama itu
menghasilkan keuntungan bagi Kompeni, karena ia
mendapat tambahan orang-orang yang diperintah, sebab
kalau Kompeni menguasai negeri yang penduduknya telah
dibaptis maka penduduk negeri itu akan takluk kepada
kita; jika tidak mereka akan takluk kepada orang
Islam, yang berperang dengan kita. Di pihak lain,
penduduk pulau-pulau itu sendiri pun kerap ingin
beralih agama dan menjadi Kristen karena alasan
politis, sebab mereka tahu bahwa sebagai rakyat
Kompeni mereka tidak usah takut lagi kepada
sultan-sultan yang menindas mereka. Menjadi Kristen
dan menempatkan diri di bawah pemerintahan dan
perlindungan Kompeni, merupakan dua hal yang saling
bertindihan..").
IV.
Dari buku karangan Dr. I.H. Enklaar ini saya juga
melihat bahwa ternyata upaya "memenangkan" jiwa itu
lebih signifikan terjadi di daerah-daerah yang masih
menganut agama suku. Dan agama suku selalu erat
kaitannya dengan keterbelakangan pendidikan, sosial
dan ekonomi.
Saya tidak melihat "kemenangan" yang berarti di
daerah-daerah yang penduduknya telah menganut agama
Islam. Dan dari sejarah dunia pun saya belajar, bahwa
hal yang sama juga terjadi di luar Indonesia. Kecuali
Semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugis) yang direbut
kembali dari Islam (itupun dengan kekerasan senjata),
maka nyaris tak ada daerah baru yang "dimenangkan"
oleh Kristen.
VI.
Dari paparan Dr. I.H.Enklaar tersebut di atas maka ada
beberapa hal yang membuat saya termenung:
Kalau memang penduduk yang menganut agama-suku (yang
notabene merupakan lahan yang empuk bagi
pengkristenan) sudah tidak ada lagi, maka haruskah
kita menerapkan strategi "pemenangan" yang sama
seperti yang diterapkan oleh pemerintah kolonial dalam
mewartakan Kabar Baik di tengah saudara-saudara yang
beragama Islam?
Rencana atau slogan "memenangkan daerah anu (yang
penduduknya beragama Islam) di tahun sekian-sekian"
seperti yang dipakai oleh sebuah kelompok penginjilan;
jelas masih belum terlepas dari semangat kolonial
seperti yang digambarkan di atas. Dan kalau gara-gara
rencana atau slogan itu timbul reaksi yang
kontra-produktif; maka saya rasa hal itu adalah
sah-sah saja.
Hal yang nyaris sama adalah apa yang saya dengar dari
mulut seorang pemilik jaringan televisi evangelikal
TBN (Trinity Broadcasting Network) yang siang-malam
(melalui Indovision atau Kabelvision) siarannya dapat
ditangkap di Indonesia. Pada suatu kebaktian di sebuah
stadion di Amerika, yang diadakan pasca penyerbuan
Amerika ke Irak, ia berkata bahwa kemenangan Amerika
Serikat atas rezim Saddam Hussein adalah bukti campur
tangan Tuhan. Dan di dalam visinya ia melihat
bagaimana dalam waktu dekat stasiun pemancar TBN akan
berdiri dengan gagahnya di Irak, Afghanistan dan Saudi
Arabia. (Semua hadirin yang ada di stadion itu
bertepuk tangan...).
Saya menilai bahwa yang sedang dilakukan oleh Martin
L. Sinaga adalah sebuah upaya untuk mencari teologi
kesaksian (saya lebih suka memakai kata "kesaksian"
daripada "pemenangan") yang paling pas dan produktif
bagi sebuah Gereja yang dihadirkan Allah di nusantara
yang mayoritas penduduknya beragama Islam.
Dan disamping melihat apa yang tertulis di dalam
Alkitab, maka seyogianya upaya ini dilakukan dengan
melihat kenyataan sejarah dan budaya.
Horas!
Mula Harahap
(Sehari-hari saya hidup di tengah kawan-kawan Islam
yang tingkat ekonomi, moralitas dan pendidikannya
relatif tinggi. Karena itu, kecuali berupaya untuk
menjadi murid yang baik dan tidak mempermalukan
Kristus Sang Guru, maka tak pernah terpikir oleh saya
bagaimana cara menelikung kawan-kawan ini dan
membaptis mereka menjadi Kristen).
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
See what's inside the new Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/2pRQfA/bOaOAA/yQLSAA/uBfwlB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
_____________________________________________________________
Keluarga Besar Mahasiswa Siantar-Bandung (KBMSB)
[email protected]
http://groups.yahoo.com/group/KBMSB
http://www.mail-archive.com/[email protected]
Disclaimer : Isi tanggung jawab pembaca !
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/KBMSB/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/