Sahibul hikayat.......... Di jaman penjajahan dulu, banyak orang Jawa yang dibawa paksa ke Sumatera Utara dan dipekerjakan di perkebunan2 Belanda pada waktu itu. Setelah Indonesia merdeka, orang-orang jawa itu tetap tinggal di daerah tersebut. Selain karena mereka telah berbaur dengan penduduk asli termasuk adat istiadatnya, perkawinan antar suku, dll.
Generasi keturunan mereka sering disebut sebagai Jadel atau Jawa Deli. Bisa dikatakan, mereka telah berbaur 100% dengan penduduk asli. Alkisah, ada seorang pemuda Jadel yang bekerja sehari-hari sebagai mandor perkebunan. Walaupun jabatannya adalah mandor, tetapi sifat pekerjaan sehari-hari banyak menguras tenaga fisiknya. Pemuda Jadel ini, sebut saja namanya BENO, telah mempunyai pacar seorang gadis Batak asli yang sehari-hari dipanggil BUTET. Singkat cerita, keduanya kemudian menikah. Minggu-minggu pertama yang namanya pengantin baru, ya lancar-lancar saja. Tetapi baru saja perkawinan mereka berjalan 1,5 bulan lebih dua minggu, BENO mulai mengeluh. Rupanya BUTET ini punya penyakit yang boleh dibilang enak-enak, ngga-enak. Penyakit tersebut, kalau itu bisa diklasifikasikan sebagai "penyakit", adalah nymphomania atau hypersex. Tiap hari "nagih" dan ngga cukup sekali dua. Padahal si BENO setiap hari kalau pulang, sering merasa capai dan ngantuk. Akhirnya karena ngga tahan, BENO membawa BUTET untuk konsultasi ke Mantri perkebunan. Setelah diceritakan persoalannya,akhirnya Pak Mantri memberi saran ke BENO dan BUTET agar kalau "main" jangan tiap hari. Tapi supaya diatur pada hari-hari yang ada huruf "u"-nya, seperti Rabu, Sabtu atau Minggu. Keesokan harinya, pada saat BENO baru pulang kerja, si BUTET sudah mulai merayu-rayu. BENO yang sudah paham akan tingkah lakunya kemudian berkata: "Ah, kau ini BUTET! Kan baru hari Senin kemarin kita ke Pak Mantri, sekarang kau sudah nagih pula. Memangnya sekarang hari apa BUTET?" BUTET kemudian menjawab: "Ya kan sekarang hari SULASA Bang. Kalau di Batak bacanya memang Sulasa Bang. Boleh dong, kan ada "u"-nya". "Mak!, kalau begini caranya tiap hari juga jadinya", pikir BENO. Karena cara pertama gagal, Pak Mantri memberi strategi lain. "Sekarang begini saja deh", kata Pak Mantri. "Opung anjurkan pakai sistim bayaran aja". Siapa yang "ngajak" duluan", petuah Pak Mantri lagi, "dia musti bayar dimuka ke partnernya. Rp 5000 kalau mainnya di lantai, Rp 10000 di sofa atau Rp 20000 di tempat tidur" Baru kemarin ke Pak Mantri, besoknya saat BENO pulang kerja, BUTET sudah duduk santai di sofa ruang tamu. Kakinya menyilang agak diangkat sambil mengipas-ngipas uang sepuluh ribuan dua lembar. Pada saat BENO masuk, BUTET pura-pura tak melihatnya sambil tetap mengipas-ngipas uang yang dipegangnya. BENO yang sudah paham betul segala tingkah laku BUTET, menarik napas lega begitu melihat uang yang dipegang BUTET."Ah, dua puluh ribu. Lumayan di tempat tidur, ngga terlalu capai", pikir BENO. "Sebentar BUTET ya", kata BENO. "Abang mandi dulu. Kau tunggulah dulu di tempat tidur". BENO sambil bersiul-siul kecil melenggang lenggok menuju kamar mandi. Baru beberapa langkah mendadak berhenti. "Kenapa musti ke tempat tidur Bang?", tanya BUTET. "Itu kau pegang dua puluh ribu BUTET", jawab BENO dengan sedikit cemas. "Ingat perjanjian kita di Pak Mantri kemarin?" "Ya, BUTET ingat betul Bang", kata BUTET lagi. "Tapi ini dua puluh ribu bukan buat di tempat tidur Bang. Tetapi buat main di LANTAI EMPAT KALI ...".
