Waduh bang bob...
  Kok jadi kaya gitu pula ceritanya...
  di awal paragraph, udah awak bayangkan daerah perkebunan tercinta itu,
  udah sampe agak2 muncul nasionalisme awak...
  Pokoknya udah kaya tulisannya si bpk Pram lah awak rasakan...
  yang tentang "jalan daendels" itu lho..
   
  Tapi...
  kok malah jadi lain...
  ngeri awak bacanya..
  hahahaahahaha....
   
  Apa kabar b'bob...?
   
  -ilvirgo manurung-
  

BOBBY FORMULA <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Sahibul hikayat..........

Di jaman penjajahan dulu, banyak orang Jawa yang dibawa paksa ke
Sumatera Utara dan dipekerjakan di perkebunan2 Belanda pada waktu itu.
Setelah Indonesia merdeka, orang-orang jawa itu tetap tinggal di
daerah tersebut. Selain karena mereka telah berbaur dengan penduduk
asli termasuk adat istiadatnya, perkawinan antar suku, dll.

Generasi keturunan mereka sering disebut sebagai Jadel atau Jawa Deli.
Bisa dikatakan, mereka telah berbaur 100% dengan penduduk asli.

Alkisah, ada seorang pemuda Jadel yang bekerja sehari-hari sebagai
mandor perkebunan. Walaupun jabatannya adalah mandor, tetapi sifat
pekerjaan sehari-hari banyak menguras tenaga fisiknya. Pemuda Jadel
ini, sebut saja namanya BENO, telah mempunyai pacar seorang gadis
Batak asli yang sehari-hari dipanggil BUTET.
Singkat cerita, keduanya kemudian menikah. Minggu-minggu pertama yang
namanya pengantin baru, ya lancar-lancar saja. Tetapi baru saja
perkawinan mereka berjalan 1,5 bulan lebih dua minggu, BENO mulai
mengeluh.

Rupanya BUTET ini punya penyakit yang boleh dibilang enak-enak,
ngga-enak. Penyakit tersebut, kalau itu bisa diklasifikasikan sebagai
"penyakit", adalah nymphomania atau hypersex. Tiap hari "nagih" dan
ngga cukup sekali dua. Padahal si BENO setiap hari kalau pulang,
sering merasa capai dan ngantuk.

Akhirnya karena ngga tahan, BENO membawa BUTET untuk konsultasi ke
Mantri perkebunan. Setelah diceritakan persoalannya,akhirnya Pak
Mantri memberi saran ke BENO dan BUTET agar kalau "main" jangan tiap
hari. Tapi supaya diatur pada hari-hari yang ada huruf "u"-nya,
seperti Rabu, Sabtu atau Minggu.

Keesokan harinya, pada saat BENO baru pulang kerja, si BUTET sudah
mulai merayu-rayu. BENO yang sudah paham akan tingkah lakunya kemudian
berkata: "Ah, kau ini BUTET! Kan baru hari Senin kemarin kita ke Pak
Mantri, sekarang kau sudah nagih pula. Memangnya sekarang hari apa BUTET?"

BUTET kemudian menjawab: "Ya kan sekarang hari SULASA Bang. Kalau di
Batak bacanya memang Sulasa Bang. Boleh dong, kan ada "u"-nya".

"Mak!, kalau begini caranya tiap hari juga jadinya", pikir BENO.
Karena cara pertama gagal, Pak Mantri memberi strategi lain.

"Sekarang begini saja deh", kata Pak Mantri. "Opung anjurkan pakai
sistim bayaran aja". Siapa yang "ngajak" duluan", petuah Pak Mantri
lagi, "dia musti bayar dimuka ke partnernya. Rp 5000 kalau mainnya di
lantai, Rp 10000 di sofa atau Rp 20000 di tempat tidur"

Baru kemarin ke Pak Mantri, besoknya saat BENO pulang kerja, BUTET
sudah duduk santai di sofa ruang tamu. Kakinya menyilang agak diangkat
sambil mengipas-ngipas uang sepuluh ribuan dua lembar.

Pada saat BENO masuk, BUTET pura-pura tak melihatnya sambil tetap
mengipas-ngipas uang yang dipegangnya. BENO yang sudah paham betul
segala tingkah laku BUTET, menarik napas lega begitu melihat uang yang
dipegang BUTET."Ah, dua puluh ribu. Lumayan di tempat tidur, ngga
terlalu capai", pikir BENO.

"Sebentar BUTET ya", kata BENO. "Abang mandi dulu. Kau tunggulah dulu
di tempat tidur". BENO sambil bersiul-siul kecil melenggang lenggok
menuju kamar mandi. Baru beberapa langkah mendadak berhenti.

"Kenapa musti ke tempat tidur Bang?", tanya BUTET.

"Itu kau pegang dua puluh ribu BUTET", jawab BENO dengan sedikit
cemas. "Ingat perjanjian kita di Pak Mantri kemarin?"

"Ya, BUTET ingat betul Bang", kata BUTET lagi.

"Tapi ini dua puluh ribu bukan buat di tempat tidur Bang. Tetapi buat
main di LANTAI EMPAT KALI ...".



         

 
---------------------------------
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.

Kirim email ke