Forward jg ya.

----- Original Message -----
From: Novianto
To: sektor
Sent: Thursday, February 15, 2007 8:25 AM
Subject: [milis-sektor] Fwd: Low Trust Society


.
 hi all...

apakabar semua nih?

semoga menambah wawasan

minta maaf buat yang sudah pernah dapet :-)

salam

anto

----------
Low Trust Society

Rhenald Kasali (Pengajar Program MM dan Pascasarjana UI)

Saya baru saja memeriksa ujian mahasiswa saya. Ketika akan menyerahkan nilai
akhir mereka, saya terpaksa menoleh kepada berita acara ujian yang
mencantumkan nama beserta tanda tangan mereka masing-masing. Astaga. Tak ada
satu pun nama yang dapat saya kenali dari tanda tangannya. Hal ini
mengingatkan saya pada peristiwa unik yang saya alami hampir tujuh tahun
silam ketika baru saja memulai program doktoral saya di Amerika Serikat.

Baru tiba beberapa hari, adviser saya menyuruh saya membuka bank account di
bank mana saja di kota itu. Saya pun menurutinya. Maklum,tanpa punya buku
cek, hidup di Amerika akan terasa sulit. Hampir semua transaksi dilakukan
melalui pos. Bayar listrik, telepon, air, tagihan kartu kredit, beli buku,
bayar pajak, kena tiketlalu lintas (tilang), sampai bayar uang sekolah.
Semuanya menggunakan cek.

Tanpa cek, hidup di Amerika kok rasanya susah sekali.
Setelah punya bank account dan mulai berbelanja dengan menggunakan cek,
ternyata saya pun mengalami kesulitan. Pasalnya, petugas bank memanggil saya
karena mengalami kesulitan membaca tanda tangan saya. Saya mencoba
menjelaskannya bahwa itu benar tanda tangan milik saya, dan saya
melakukannya kembali di depan petugas itu. Petugas tetap menolak dan
mengatakan itu bukan tandatangan. Kalau bukan tanda tangan lantas apa? "Itu
urek-urek!" ujarnya sambil tersenyum. Sejak itu saya pun mulai berlatih
membuat tanda tangan baru,yaitu tanda tangan yang namanya mudah
teridentifikasi. Maka, sejak saat itu saya mulai terbiasa memiliki dua jenis
tanda tangan. Saya menyebutnya satu tanda tangan lokal (yang dikatakan
urek-urek tadi) dan satu lagi tanda tangan Amerika.

Kalau Anda pernah hadir dalam seminar saya dan meminta saya menandatangani
buku saya yang Anda baru beli, Anda pasti ingat bahwa saya selalu mengatakan
itu adalah tanda tangan Amerika: mudah dibaca dan diidentifikasi. Ada juga
pembaca yang minta dua-duanya, dan ada kalanya saya pun meluluskannya.

Tanda tangan lokal itu biasanya hanya saya gunakan untuk urusan bank dan
menandatangani transkrip nilai mahasiswa.
Dalam salah satu seminar saya pernah meminta agar para peserta menggoreskan
tanda tangannya di atas kertas dan meminta rekan disebelahnya yang baru
dikenalnya mengenali nama mereka. Ternyata tak banyak di antara mereka yang
dapat mengenali nama orang dari tanda tangannya. Ketika ditanya mengapa
mereka membuat tanda tangan seruwet itu, semuanya menjawab bak koor:

"Biar tidak mudah ditiru orang lain."
Mengapa kita semua melakukan hal yang sama? Mudah ditebak jawabnya. Sejak
kecil kita telah diajari orang-orang tua dan guru-guru kita agar tidak mudah
percaya pada orang lain. "Buatlah tanda tangan yang tidak mudah ditiru agar
jangan sampai dipalsukan orang lain." Kita menurutinya, dan tanpa kita
sadari roh-roh ketidakpercayaan ini sudah melekat dalam pikiran kita.

"Trust," kata Francis Fukuyama, adalah "the social virtues and the creation
of prosperity." Rasa percaya adalah suatu ikatan sosial yang penting untuk
menciptakan kemakmuran. Kalau tidak ada rasa percaya, mestinya tidak ada
bisnis.Bagaimana mungkin kita berbinsis dengan orang yang tidak kita
percaya?

Rasa percaya itu pula yang akan menentukan bangunan organisasi perusahaan
Saudara. Makin rendah rasa percaya kita terhadap orang lain, makin banyak
pula kita melibatkan sanak saudara kita, teman sealmamater,sesuku dan
sebagainya terlibat dalam bisnis kita. Kita makin menutup pintu bagi orang
lain,dan akibatnya potensi kita untuk menjadi besar akan terhambat.

Pengalaman lainnya yang saya dapatkan di Amerika barangkali dapat
menjelaskan betapa berbedanya tingkat rasa percaya. Menjelang pulang ke
tanah air, setelah menyelesaikan program studi, saya pun melakukan moving
sale melego barang-barang yang nilai bukunya masih cukup tinggi. Misalnya
saja ada sebuah dishwasher (mesin pencuci piring) elektrik yang usianya baru
tiga tahun dan nilainya masih cukup tinggi namun harus dilepas dengan harga
yang sangat murah. Pembelinya tentu saja masyarakat komunitas tempat tinggal
kami, yang umumnya adalah keluarga muda atau para mahasiswa asing yang dari
mancanegara. Kalau calon pembelinya datang dari negara-negara seperti Rusia,
Yugoslavia, Ceko, Turki, Portugal, Brazil, Irak, Pakistan, India, atau
negara-negara Afrika, biasanya transaksi berjalan tersendat-sendat. Mereka
umumnya tidak percaya terhadap kualitas mesin (apakah masih tetap baik) dan
harga yang ditawarkan.

Mereka mengutak-atik mesin, menghabiskan waktu berjam-jam, mengajukan
pertanyaan, lalu menawar di bawah separo dari harga yang ditawarkan.
Prosesnya sama seperti Anda menawar harga sepasang sepatu di pasar Senen
atau pasar lainnya di Indonesia. Dan akhirnya pun dapat diterka: tidak ada
transaksi.

Hal yang berbeda dialami kalau pembelinya berasal dari negara-negara yang
barangkali dapat kita sebut sebagai high trust society, seperti Amerika,
Inggris, Finlandia, bahkan Jepang yang rata-rata sudah lebih makmur
hidupnya.

Mereka cuma bertanya tiga hal:
mengapa dijual, apakah ada kerusakan, dan berapa harganya. Kalau mereka
suka, mereka tidak menawar, langsung angkat. Dalam kepala mereka, kalau
barang ini rusak maka mereka akan kembalikan segera. Mereka percaya bahwa
orang lain dapat dipercaya, dan kalau mereka menipu mereka akan ditangkap
polisi, diadili, dan dijatuhi hukuman.

Pembaca, apakah implikasi melakukan kegiatan bisnis di sebuah low trust
society?
Mudah-mudahan Saudara sudah dapat menangkapnya: jangan langsung melakukan
transaksi. Selalu mulailah dengan membangun rasa percaya dari lawan-lawan
bisnis Anda. Jangan sesekali melakukan penawaran kalau lawan bisnis Anda
disini belum mengenal betul Anda. Kalau ada jalan pintas yang dapat
ditawarkan, barangkali cuma satu ini: carilah jembatan melalui orang-orang
yang sudah dikenal dandipercaya oleh lawan bisnis Anda. Tanpa itu, Anda cuma
melakukan upaya sia-sia.

Selebihnya marilah kita serahkan kepada partai-partai baru yang akan
memimpin bangsa ini kelak (kalau ada) untuk membangun bangsa ini ketingkatan
rasa percaya yang lebih tinggi.

Kelak anak-anak kita akan membuat tanda tangan yang namanya dapat dibaca
oleh orang lain.

Kirim email ke