pak jhon, mangkin menggigit,ya esai and sajak-sajak-nya yg diposting
di f.s.
posting di milis or website lah :)
ps.KBMSB'ers,berikut sebuah cerpen:"Epilog Seorang Jhon"--by R.P.D
-bobby formula
Epilog Seorang John
Cerpen: Radhar Panca Dahana
Sumber: Suara Pembaruan
________________________________________
Lelaki itu pun limbung dan akhirnya jatuh menghujam bumi. Darah
seperti diludahkan dengan dahsyat dari sebuah lubang di kepalanya.
Dunia gelap di imajinasinya pecah luar biasa bagai big bang yang
melahirkart semesta. Sebuah peluru yang ia lepaskan sendiri dari
pistol kaliber 45 menembus dahi kirinya, dengan kecepatan tinggi,
dengan suara mendengking yang menghancurkan seluruh alat
pendengarannya. Di bulan sepuluh tahun itu, John telah memutuskan,
ia akan mempertanggungjawabkan semua perbuatan dan kesalahannya,
langsung di akhirat.
Sudah ia lakukan sebelumnya, kunjungan minta maaf kepada seluruh
keluarga, termasuk kepada empat anaknya yang telah berkeluarga, cucu-
cucu, terutama pada ibu dan ayahnya di sebuah pemakaman di desa.
Bahkan ia telah berkunjung ke beberapa pesantren, ternama maupun tak
ternama. Bukan untuk membersihkan diri, nama, pangkat, martabat,
atau dosa-dosanya, tapi untuk seluruh hartanya. Untuk sekitar enam
belas pesantren, dua belas panti asuhan, sembilan panti jompo, enam
yayasan, lima sekolah dasar, dan tiga lembaga swadaya masyarakat, ia
telah membagi rata kekayaannya. Tentu saja dengan rasa kaget luar
biasa dari seluruh penerima sumbangan, karena memang jumlahnya yang
mengejutkan.
Beberapa bulan terakhir, John melakukan apa yang hampir 40 tahun
terakhir tak pernah lagi dilakukannya, sembahyang, salawat, hampir
tiada habisnya. Di minggu terakhir, ia memutuskan memusnahkan
seluruh data dan prestasi yang dimilikinya, pangkat, jasa, riwayat
jabatan, gelar-gelar (akademis maupun kenegaraan), piala golf,
bridge, bahkan gelar pemberian negara sahabat; sebuah karier
gemilang di militer, pemerintahan, bisnis, akademis, juga
percintaan. Semua ia musnahkan dengan alat penghancur logam yang
paling kejam. Bukan untuk membersihkan sejarah keluarga dan namanya.
Bukan untuk menyelamatkan keturunannya (bagaimanapun semua catatan
itu tersimpan di berbagai lembaga resmi). Tapi karena ia tahu, semua
itu nol! Bahkan kata-kata kekaguman, ungkapan cinta dari anak buah,
sekretaris, artis, atau lainnya. Semua nol! Tidak lebih dari hasil
persengkokolan nafsu, ambisi, akal licik dan kegelapan hatinya
selama ini. Karenanya: nol!
Di bulan kelima tahun itu, John menyadari apa yang selama ini ia
hasilkan, sesungguhnya hanya menjadi racun di dalam darahnya
sendiri. Lepas tengah hari, di ujung pekan, ia melihat seorang anak
delapan tahunan, hampir seusia cucu tersulungnya, terkapar di puing
pertokoan yang terbakar. Kedua tangannya masih menggenggam pistol-
pistolan dan sebungkus kembang gula. Napasnya satu-dua, seluruh
tubuhnya hangus terbakar. Mulut kecilnya berkerjap-kerjap. John
mendekatinya, matanya memerah, tangannya bergerak ingin meraih,
ketika serombongan anak muda tampak bergegas datang. Entah siapa.
Yang jelas, ia hampir tertabrak jika tak segera membuang diri ke
belakang. Namun jelas ia melihat beberapa kaki menginjak tubuh anak
itu, yang hitamnya memang serupa dengan puing lainnya.
Seseorang yang merasa telah menginjak sesuatu yang agak ganjil,
sempat berhenti dan menoleh sejenak ke arah anak yang masih sempat
mengejat. Namun cepat kemudian ia bergegas, menyusul rekan-rekannya.
Seperti yang lain, di punggungnya bergantung buntelan besar: barang
jarahan. John berseru kecil, lalu segera menoleh ke tubuh anak kecil
itu: napasnya sudah berhenti, pistol-pistolan dan kembang gula remuk
di sisinya.
Tidak hanya pikiran dan hatinya gemetar, seluruh tubuhnya dengan
keras bergetar melihat dirinya di detik nyawa anak itu tercabut.
Bukan sebagai malaikat, tentu saja, namun lebih sebagai iblis
penyebabnya. John bergidik, melihat tangannya memutih. Inilah puncak
kegelisahannya: sebuah mimpi tentang puncak prestasi di usia
pensiunnya yang kini buyar begitu saja. Sebuah rencana besar,
tepatnya ambisi besar, lebih tepat lagi ambisi konyol, paling
tepatnya: tolol. John meyakininya kini.
Sebenarnya ia datang ke pertokoan itu memang dengan hati yang
bimbang. Juga dengan rasa ingin tahu. Semua memang menjadi bagian
dari rencananya yang ia susun berbulan-bulan bersama rekan-rekannya.
Mesti diciptakan kerusuhan besar untuk menciptakan instabilitas,
kebingungan masyarakat, runtuhnya kepercayaan pada segala otoritas,
hilangnya wibawa pemerintah, dan akhirnya jatuhnya kekuasaan. Ini
skenario klasik sebenarnya. Tapi itu perlu untuk melawan kekuasaan
yang terlalu kuat bahkan cenderung mutlak. Kekuasaan seperti itu
harus diganti, dibagi-bagi, tepatnya: harus digilir.
Dalam kelompoknya, John mendapatkan informasi dari sejawat luar
negeri, kekuasaan yang absolut seperti itu sangat menyulitkan proses
diplomasi. Tegasnya, sangat menghambat pergaulan - dalam istilah
mereka - antarnegara, baik dalam urusan politik, militer, dagang,
maupun kebudayaan. "Itu kan artinya, kita tidak sejalan dengan arus
dunia," komentar salah satu temannya, pensiunan gubernur dan duta
besar. "Arus kebebasan, arus demokrasi!" kata yang lainnya,
pengusaha besar, tidak karena turunan. Lalu mereka mengadu bibir
gelas minumannya.
Slogan-slogan itu sekian lama menghantuinya. Kebebasan, demokrasi,
apa pun, beriringan dengan pengganyangan pada: koruptor, nepotis,
komprador, apa pun. Dan siapa pun tahu, seluruh kehormatan (termasuk
imperium bisnis hampir lima triliunan) yang ia miliki kini tidak
semata karena kecerdasaan dan keahlian belaka. Ia sadari dengan
sempurna, semua itu ia dapat dengan kegiatan-kegiatan yang dimaki
habis oleh ribuan pemuda di jalan raya depan rumahnya. Namun di
depan teman-temannya ia sepakat membantu sebuah rencana besar,
sebuah perjuangan besar. Sebagaimana biasanya, seluruh temannya
mengenal John sebagai: pribadi yang sangat kooperatif.
Sebagai salah satu lulusan terbaik sekolah perwira, yang juga
kemudian menyandang dua gelar akademik- sosial-politik dan master
administrasi- John memang memberi banyak harapan pada keluarga dan
sejawatnya. Karier mulus memang telah dikira. Itu betul. Namun ia
berjalan lebih mulus karena diikuti fulus dan rayuan halus (justru
dua hal itulah yang lebih berperan). la ingat betul, bagaimana ia
mendapatkan promosi di bidang apa pun dengan satu kunci: menjiplak
ambisi dan opini pimpinannya. Dan tentu saja, hampir sepertiga harta
ia habiskan untuk kado lebaran, ulang tahun, tahun baru, perkawinan,
apa pun.
Susah payah ia menjelaskan hal itu pada ayahnya -semasa beliau
hidup - sebagai "kenyataan masa kini". Ayahnya membanting pintu dan
wafat di keesokan harinya. itulah penyesalan awal John. Awal ?
Rasanya, tidak. Ia ingat saat harus menyelesaikan studi politiknya,
ia banyak dibantu oleh pengusaha keturunan Cina dalam soal biaya.
Walau bercanda, ia mengaku akan membalas jasa itu. Sang pengusaha
cuma tertawa. Kenyataan: hampir semua bisnisnya ia bangun bersama
pengusaha tersebut.
Tapi itu pun bukan penyimpangan pertama yang ia lakukan, jika
didasarkan pada tradisi keluarga yang dibangun dari disiplin ketat
taman siswa dan keprajuritan. Tentu saja juga disiplin agama ayah
dan kakeknya. Disiplin-disiplin yang memberinya keuntungan dalam
prestasi-prestasi sosial di kemudian hari. Tapi juga disiplin
pertama yang yang telah ia khianati. Terutama melalui Murni,
istrinya. Lewat lima tahun dari perkawinannya, John berselingkuh.
Tidak dengan sekretaris atau artis berkelas seperti di masa tuanya.
Tapi dengan seorang hostes sebuah bar di hotel ternama di Jakarta
Pusat. Terus terang, bersama D, hostes itu, John mendapatkan
segalanya dari seorang wanita (juga istri) yang dibayangkannya.
Hampir dua tahun hubungan itu berlangsurtg, tentu saja dibiayai
teman pengusahanya. Murni minta cerai setelah membongkar
perselingkuhan itu, dan John yang sangat kuatir dengan kariernya,
diselamatkan oleh ibunya. Perkawinan itu selamat oleh jaminan sang
ibu. Tapi jaminan itu sendiri tidak selamat: setahun kemudian John
berselingkuh lagi, kali ini lebih sempurna rahasianya. Kesempurnaan
itu bukan suatu hal yang luar biasa bagi seorang John yang cerdas.
Riwayat masa muda dan remajanya sangat dikenal karena kecerdasaan,
terutama kemampuannya menciptakan dan memainkan taktik dan strategi;
kemam-puan yang memberinya hasil besar dalam karier berikutnya. Dan
satu tambahan menarik : semua rekan remajanya tahu, John adalah
contoh prestasi yang diiringi ketekunan ibadah agama. Sempurna.
Walau sesungguhnya, tidak sesempurna itu. Hampir lepas dari es em a,
John pernah terbawa gembira bersama teman-temannya dan melewatkan
malam dengan pertama kali merasakan hisapan tembakau. Lalu beberapa
teguk bir, dart disudahi dengan beberapa lembar stensilan cerita
porno. Pada kesempatan ke sekian kalinya, John merasa menyesal,
terutama karena bir itu. Tapi Wanda, gadis yang memang ditaksirnya,
merayu dan mengejek. John tidak hanya kalah pada ejekan itu, bahkan
pada akhirnya ia -dalam mabuk-untuk kali pertama tidur dengan
wanita. Bukan dengan Wanda. Tapi Wati, gadis yang sejak lama menaruh
hati padanya.
Beberapa minggu John menyesali kejadian itu. Namun ia selalu
menjumpai teman-temannya, seperti hantu pohon nangka yang menguntit:
merayu dan mengejeknya. Terutama yang satu itu: Wanda. Mereka
berhasil. John tidak. Ia tetap tak memperoleh Wanda, namun Wati
selalu bergairah. Bahkan dengan genit, Wati mengubah sedikit sebutan
nama kecilnya, dari Jono menjadi 'Jon'. "Biar keren; " katanya. John
sangat tidak suka, namun kemudian terbiasa, karena hampir semua
teman, mungkin dengan nada mengejek, memanggilnya demikian. Bahkan
ia sendiri yang menambahkan 'h' sebelum huruf terakhir. Lengkaplah
nama lengkap 'tidak resmi - nya : John S. Ardiputra (S di tengah,
tentu saja, Sujono, nama aslinya).
Peristiwa di akhir sekolah menengah itu memang menjadi penanda utama
perubahan dalam diri John. Terutama kerajinannya dalam beribadah
yang kemudian menurun drastis, bahkan lenyap begitu cepat (kecuali
jika ada upacara penting untuk orang penting di kemudian hari).
Kehidupan halus dan indah masa remaja menjadi petualangan yang penuh
warna. Siapa menyangka. Juga tidak Pak Ardi Sukirman dan Ibu
Ganarsih, kedua orangtuanya.
Sejak masa kanak, anak-anak, Pak Sukirman dididik dengan keras.
Sebagai anak tertua, John mendapat tempaan istimewa untuk
menjadi "penerus tanggung jawab orangtua" terutama untuk delapan
adiknya. Nilai enam dalam pelajaran 'haram', nilai tujuh 'tolol',
delapan 'harus belajar keras', sembilan 'bagus', dan sepuluh 'memang
sudah seharusnya'. Dengan moral angka itulah John berkembang menjadi
anak yang dikagumi teman-temannya. Nilai rapornya sejak sekolah
dasar selalu berhasil sedikitnya mendapatkan dua '10', sebanyaknya
tiga `8', sisanya '9'.
Tak banyak yang mengetahui, mungkin kecuali ibu dan adik
terdekatnya, Dono, prestasi itu memang sama sekali menjadi pilihan
satu-satunya jika ia tidak ingin mendapat dampratan bapaknya, bahkan
rotan pengiring waktu belajar, hukuman berdiri di atas bak kamar
mandi sepanjang makan malam, pengurangan waktu bermain, atau
dianggap "tidak layak menyandang nama Ardiputra". John melewatkan
lebih banyak waktunya di kamar, belajar, membaca, atau termenung di
bawah pohon rambutan atau tembok besar peninggalan Belanda.
Tak banyak yang tahu, sesungguhnya di dalam kamar, John tidak cuma
belajar, tapi juga menulis banyak catatan harian, tentang cita-
citanya, kebenciannya pada Pak Guru Mardi yang sering memegang
pantatnya. Memaki-maki 'Saudara Sukirman' ayahnya sendiri, juga rasa
sukanya pada Ibu Guru Tursinah yang 'teteknya seperti balon'. Tak
ada yang tahu, di bawah pohon rambutan atau di balik tembok Belanda
itu, John tidak hanya termenung ("Seperti pilsup; 'kata Bu Tantri,
tetangga) tapi juga menangkap beberapa capung atau burung kecil,
yang ia mainkan hingga sulit terbang, lalu ia cabuti bulu sayapnya
satu per satu, kemudian ia tindih dengan batu besar untuk ia temukan
esok harinya: telah menjadi bangkai.
Satu kejadian yang paling mengesankan untuknya adalah saat suatu
kali ia memergoki Bu Tursinah yang hendak mandi di pancuran. John
terpana oleh tubuh sintal Bu Tursinah yang dibalut jarik batik. Ia
tidak segera menyingkir namun malah mencari posisi, untuk mengintip
dengan bebas. Tapi peristiwa yang tak mungkin hilang dari kepalanya
adalah saat ia berebut rambutan dengan Kuncir, temannya. Di atas
pohon mereka bertengkar, hingga -entah sengaja atau tidak, John pun
lupa, ia menghajar pelipis Kuncir. Anak itu bergoyang, hilang
keseimbangan, dan jatuh dengan bebas ke bumi. John gagap tapi tak
gugup. Ia sangat terkejut, tapi ia loncat dengan tangkas, lari dan
hilang.
Kampung itu segera ramai, Kuncir dalam keadaan gawat di rumah sakit.
John diserbu perasaan takut. Tapi ia tak terlihat takut saat diserbu
pertanyaan. Ia tak tahu-menahu tentang jatuhnya Kuncir, biarpun la
kerap ke pohon rambutan itu. Tapi semua anak pun pernah ke situ. Dan
siapa yang tak mempercayainya, anak Pak Ardi Sukirman, yang cerdas
itu. Tapi, bagaimana Kuncir? John kembali diserang takut, Kuncir
tidak mati. John bernapas lega. Tapi Kuncir kini gila. Belakang
kepalanya tepat menghantam akar pohon yang menonjol.
Dan rahasia itu tak pernah terbongkar. John tetap anak pilihan
kampung, teladan yang tak pernah tinggal kelas dan luput dari surau.
Tak pernah sungkan membantu teman atau tetangganya yang kerepotan
membawa dagangan. Tak heran jika penduduk di kampung bagian timur
Jawa itu sangat mengenalnya, bahkan dengan senang hati memberinya
sebutan: 'Jono yang berbudi'. "Gelar yang akan menjadi modal untuk
gelar-gelar suksesmu di masa nanti," kata ayahnya. Ayahnya benar.
Tapi John tidak.
Semua kisah itu melesat begitu cepat dan begitu dekat, di detik
terakhir ia masih merasakan napasnya. Seperti penutup sebuah lagu
yang paling tak nikmat didengarnya. Tubuhnya berayun dan tumbang.
Bumi menerima badan besar dan berdarah itu, dalam slow motion,
seperti menahannya. Hingga ia berdebam di karpet kamar hotel mewah
miliknya. Tanpa suara.