Betul

----- Original Message ----
From: BOBBY FORMULA <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, 26 April, 2007 10:54:46 AM
Subject: [KBMSB] -Epilog Seorang John -









  


    
            pak jhon, mangkin menggigit,ya esai and sajak-sajak- nya yg 
diposting 

di f.s.

posting di milis or website lah :)



ps.KBMSB'ers, berikut sebuah cerpen:"Epilog Seorang Jhon"--by R.P.D



-bobby formula



Epilog Seorang John  

Cerpen: Radhar Panca Dahana  

Sumber: Suara Pembaruan 

____________ _________ _________ _________ _

Lelaki itu pun limbung dan akhirnya jatuh menghujam bumi. Darah 

seperti diludahkan dengan dahsyat dari sebuah lubang di kepalanya. 

Dunia gelap di imajinasinya pecah luar biasa bagai big bang yang 

melahirkart semesta. Sebuah peluru yang ia lepaskan sendiri dari 

pistol kaliber 45 menembus dahi kirinya, dengan kecepatan tinggi, 

dengan suara mendengking yang menghancurkan seluruh alat 

pendengarannya. Di bulan sepuluh tahun itu, John telah memutuskan, 

ia akan mempertanggungjawab kan semua perbuatan dan kesalahannya, 

langsung di akhirat. 



Sudah ia lakukan sebelumnya, kunjungan minta maaf kepada seluruh 

keluarga, termasuk kepada empat anaknya yang telah berkeluarga, cucu-

cucu, terutama pada ibu dan ayahnya di sebuah pemakaman di desa. 

Bahkan ia telah berkunjung ke beberapa pesantren, ternama maupun tak 

ternama. Bukan untuk membersihkan diri, nama, pangkat, martabat, 

atau dosa-dosanya, tapi untuk seluruh hartanya. Untuk sekitar enam 

belas pesantren, dua belas panti asuhan, sembilan panti jompo, enam 

yayasan, lima sekolah dasar, dan tiga lembaga swadaya masyarakat, ia 

telah membagi rata kekayaannya. Tentu saja dengan rasa kaget luar 

biasa dari seluruh penerima sumbangan, karena memang jumlahnya yang 

mengejutkan. 



Beberapa bulan terakhir, John melakukan apa yang hampir 40 tahun 

terakhir tak pernah lagi dilakukannya, sembahyang, salawat, hampir 

tiada habisnya. Di minggu terakhir, ia memutuskan memusnahkan 

seluruh data dan prestasi yang dimilikinya, pangkat, jasa, riwayat 

jabatan, gelar-gelar (akademis maupun kenegaraan), piala golf, 

bridge, bahkan gelar pemberian negara sahabat; sebuah karier 

gemilang di militer, pemerintahan, bisnis, akademis, juga 

percintaan. Semua ia musnahkan dengan alat penghancur logam yang 

paling kejam. Bukan untuk membersihkan sejarah keluarga dan namanya. 

Bukan untuk menyelamatkan keturunannya (bagaimanapun semua catatan 

itu tersimpan di berbagai lembaga resmi). Tapi karena ia tahu, semua 

itu nol! Bahkan kata-kata kekaguman, ungkapan cinta dari anak buah, 

sekretaris, artis, atau lainnya. Semua nol! Tidak lebih dari hasil 

persengkokolan nafsu, ambisi, akal licik dan kegelapan hatinya 

selama ini. Karenanya: nol! 



Di bulan kelima tahun itu, John menyadari apa yang selama ini ia 

hasilkan, sesungguhnya hanya menjadi racun di dalam darahnya 

sendiri. Lepas tengah hari, di ujung pekan, ia melihat seorang anak 

delapan tahunan, hampir seusia cucu tersulungnya, terkapar di puing 

pertokoan yang terbakar. Kedua tangannya masih menggenggam pistol-

pistolan dan sebungkus kembang gula. Napasnya satu-dua, seluruh 

tubuhnya hangus terbakar. Mulut kecilnya berkerjap-kerjap. John 

mendekatinya, matanya memerah, tangannya bergerak ingin meraih, 

ketika serombongan anak muda tampak bergegas datang. Entah siapa. 

Yang jelas, ia hampir tertabrak jika tak segera membuang diri ke 

belakang. Namun jelas ia melihat beberapa kaki menginjak tubuh anak 

itu, yang hitamnya memang serupa dengan puing lainnya. 



Seseorang yang merasa telah menginjak sesuatu yang agak ganjil, 

sempat berhenti dan menoleh sejenak ke arah anak yang masih sempat 

mengejat. Namun cepat kemudian ia bergegas, menyusul rekan-rekannya. 

Seperti yang lain, di punggungnya bergantung buntelan besar: barang 

jarahan. John berseru kecil, lalu segera menoleh ke tubuh anak kecil 

itu: napasnya sudah berhenti, pistol-pistolan dan kembang gula remuk 

di sisinya. 



Tidak hanya pikiran dan hatinya gemetar, seluruh tubuhnya dengan 

keras bergetar melihat dirinya di detik nyawa anak itu tercabut. 

Bukan sebagai malaikat, tentu saja, namun lebih sebagai iblis 

penyebabnya. John bergidik, melihat tangannya memutih. Inilah puncak 

kegelisahannya: sebuah mimpi tentang puncak prestasi di usia 

pensiunnya yang kini buyar begitu saja. Sebuah rencana besar, 

tepatnya ambisi besar, lebih tepat lagi ambisi konyol, paling 

tepatnya: tolol. John meyakininya kini.

 

Sebenarnya ia datang ke pertokoan itu memang dengan hati yang 

bimbang. Juga dengan rasa ingin tahu. Semua memang menjadi bagian 

dari rencananya yang ia susun berbulan-bulan bersama rekan-rekannya. 

Mesti diciptakan kerusuhan besar untuk menciptakan instabilitas, 

kebingungan masyarakat, runtuhnya kepercayaan pada segala otoritas, 

hilangnya wibawa pemerintah, dan akhirnya jatuhnya kekuasaan. Ini 

skenario klasik sebenarnya. Tapi itu perlu untuk melawan kekuasaan 

yang terlalu kuat bahkan cenderung mutlak. Kekuasaan seperti itu 

harus diganti, dibagi-bagi, tepatnya: harus digilir.

 

Dalam kelompoknya, John mendapatkan informasi dari sejawat luar 

negeri, kekuasaan yang absolut seperti itu sangat menyulitkan proses 

diplomasi. Tegasnya, sangat menghambat pergaulan - dalam istilah 

mereka - antarnegara, baik dalam urusan politik, militer, dagang, 

maupun kebudayaan. "Itu kan artinya, kita tidak sejalan dengan arus 

dunia," komentar salah satu temannya, pensiunan gubernur dan duta 

besar. "Arus kebebasan, arus demokrasi!" kata yang lainnya, 

pengusaha besar, tidak karena turunan. Lalu mereka mengadu bibir 

gelas minumannya. 



Slogan-slogan itu sekian lama menghantuinya. Kebebasan, demokrasi, 

apa pun, beriringan dengan pengganyangan pada: koruptor, nepotis, 

komprador, apa pun. Dan siapa pun tahu, seluruh kehormatan (termasuk 

imperium bisnis hampir lima triliunan) yang ia miliki kini tidak 

semata karena kecerdasaan dan keahlian belaka. Ia sadari dengan 

sempurna, semua itu ia dapat dengan kegiatan-kegiatan yang dimaki 

habis oleh ribuan pemuda di jalan raya depan rumahnya. Namun di 

depan teman-temannya ia sepakat membantu sebuah rencana besar, 

sebuah perjuangan besar. Sebagaimana biasanya, seluruh temannya 

mengenal John sebagai: pribadi yang sangat kooperatif. 



Sebagai salah satu lulusan terbaik sekolah perwira, yang juga 

kemudian menyandang dua gelar akademik- sosial-politik dan master 

administrasi- John memang memberi banyak harapan pada keluarga dan 

sejawatnya. Karier mulus memang telah dikira. Itu betul. Namun ia 

berjalan lebih mulus karena diikuti fulus dan rayuan halus (justru 

dua hal itulah yang lebih berperan). la ingat betul, bagaimana ia 

mendapatkan promosi di bidang apa pun dengan satu kunci: menjiplak 

ambisi dan opini pimpinannya. Dan tentu saja, hampir sepertiga harta 

ia habiskan untuk kado lebaran, ulang tahun, tahun baru, perkawinan, 

apa pun. 



Susah payah ia menjelaskan hal itu pada ayahnya -semasa beliau 

hidup - sebagai "kenyataan masa kini". Ayahnya membanting pintu dan 

wafat di keesokan harinya. itulah penyesalan awal John. Awal ? 

Rasanya, tidak. Ia ingat saat harus menyelesaikan studi politiknya, 

ia banyak dibantu oleh pengusaha keturunan Cina dalam soal biaya. 

Walau bercanda, ia mengaku akan membalas jasa itu. Sang pengusaha 

cuma tertawa. Kenyataan: hampir semua bisnisnya ia bangun bersama 

pengusaha tersebut. 



Tapi itu pun bukan penyimpangan pertama yang ia lakukan, jika 

didasarkan pada tradisi keluarga yang dibangun dari disiplin ketat 

taman siswa dan keprajuritan. Tentu saja juga disiplin agama ayah 

dan kakeknya. Disiplin-disiplin yang memberinya keuntungan dalam 

prestasi-prestasi sosial di kemudian hari. Tapi juga disiplin 

pertama yang yang telah ia khianati. Terutama melalui Murni, 

istrinya. Lewat lima tahun dari perkawinannya, John berselingkuh. 

Tidak dengan sekretaris atau artis berkelas seperti di masa tuanya. 

Tapi dengan seorang hostes sebuah bar di hotel ternama di Jakarta 

Pusat. Terus terang, bersama D, hostes itu, John mendapatkan 

segalanya dari seorang wanita (juga istri) yang dibayangkannya. 

Hampir dua tahun hubungan itu berlangsurtg, tentu saja dibiayai 

teman pengusahanya. Murni minta cerai setelah membongkar 

perselingkuhan itu, dan John yang sangat kuatir dengan kariernya, 

diselamatkan oleh ibunya. Perkawinan itu selamat oleh jaminan sang 

ibu. Tapi jaminan itu sendiri tidak selamat: setahun kemudian John 

berselingkuh lagi, kali ini lebih sempurna rahasianya. Kesempurnaan 

itu bukan suatu hal yang luar biasa bagi seorang John yang cerdas. 

Riwayat masa muda dan remajanya sangat dikenal karena kecerdasaan, 

terutama kemampuannya menciptakan dan memainkan taktik dan strategi; 

kemam-puan yang memberinya hasil besar dalam karier berikutnya. Dan 

satu tambahan menarik : semua rekan remajanya tahu, John adalah 

contoh prestasi yang diiringi ketekunan ibadah agama. Sempurna. 



Walau sesungguhnya, tidak sesempurna itu. Hampir lepas dari es em a, 

John pernah terbawa gembira bersama teman-temannya dan melewatkan 

malam dengan pertama kali merasakan hisapan tembakau. Lalu beberapa 

teguk bir, dart disudahi dengan beberapa lembar stensilan cerita 

porno. Pada kesempatan ke sekian kalinya, John merasa menyesal, 

terutama karena bir itu. Tapi Wanda, gadis yang memang ditaksirnya, 

merayu dan mengejek. John tidak hanya kalah pada ejekan itu, bahkan 

pada akhirnya ia -dalam mabuk-untuk kali pertama tidur dengan 

wanita. Bukan dengan Wanda. Tapi Wati, gadis yang sejak lama menaruh 

hati padanya. 



Beberapa minggu John menyesali kejadian itu. Namun ia selalu 

menjumpai teman-temannya, seperti hantu pohon nangka yang menguntit: 

merayu dan mengejeknya. Terutama yang satu itu: Wanda. Mereka 

berhasil. John tidak. Ia tetap tak memperoleh Wanda, namun Wati 

selalu bergairah. Bahkan dengan genit, Wati mengubah sedikit sebutan 

nama kecilnya, dari Jono menjadi 'Jon'. "Biar keren; " katanya. John 

sangat tidak suka, namun kemudian terbiasa, karena hampir semua 

teman, mungkin dengan nada mengejek, memanggilnya demikian. Bahkan 

ia sendiri yang menambahkan 'h' sebelum huruf terakhir. Lengkaplah 

nama lengkap 'tidak resmi - nya : John S. Ardiputra (S di tengah, 

tentu saja, Sujono, nama aslinya). 



Peristiwa di akhir sekolah menengah itu memang menjadi penanda utama 

perubahan dalam diri John. Terutama kerajinannya dalam beribadah 

yang kemudian menurun drastis, bahkan lenyap begitu cepat (kecuali 

jika ada upacara penting untuk orang penting di kemudian hari). 

Kehidupan halus dan indah masa remaja menjadi petualangan yang penuh 

warna. Siapa menyangka. Juga tidak Pak Ardi Sukirman dan Ibu 

Ganarsih, kedua orangtuanya.

 

Sejak masa kanak, anak-anak, Pak Sukirman dididik dengan keras. 

Sebagai anak tertua, John mendapat tempaan istimewa untuk 

menjadi "penerus tanggung jawab orangtua" terutama untuk delapan 

adiknya. Nilai enam dalam pelajaran 'haram', nilai tujuh 'tolol', 

delapan 'harus belajar keras', sembilan 'bagus', dan sepuluh 'memang 

sudah seharusnya'. Dengan moral angka itulah John berkembang menjadi 

anak yang dikagumi teman-temannya. Nilai rapornya sejak sekolah 

dasar selalu berhasil sedikitnya mendapatkan dua '10', sebanyaknya 

tiga `8', sisanya '9'. 



Tak banyak yang mengetahui, mungkin kecuali ibu dan adik 

terdekatnya, Dono, prestasi itu memang sama sekali menjadi pilihan 

satu-satunya jika ia tidak ingin mendapat dampratan bapaknya, bahkan 

rotan pengiring waktu belajar, hukuman berdiri di atas bak kamar 

mandi sepanjang makan malam, pengurangan waktu bermain, atau 

dianggap "tidak layak menyandang nama Ardiputra". John melewatkan 

lebih banyak waktunya di kamar, belajar, membaca, atau termenung di 

bawah pohon rambutan atau tembok besar peninggalan Belanda. 

Tak banyak yang tahu, sesungguhnya di dalam kamar, John tidak cuma 

belajar, tapi juga menulis banyak catatan harian, tentang cita-

citanya, kebenciannya pada Pak Guru Mardi yang sering memegang 

pantatnya. Memaki-maki 'Saudara Sukirman' ayahnya sendiri, juga rasa 

sukanya pada Ibu Guru Tursinah yang 'teteknya seperti balon'. Tak 

ada yang tahu, di bawah pohon rambutan atau di balik tembok Belanda 

itu, John tidak hanya termenung ("Seperti pilsup; 'kata Bu Tantri, 

tetangga) tapi juga menangkap beberapa capung atau burung kecil, 

yang ia mainkan hingga sulit terbang, lalu ia cabuti bulu sayapnya 

satu per satu, kemudian ia tindih dengan batu besar untuk ia temukan 

esok harinya: telah menjadi bangkai. 



Satu kejadian yang paling mengesankan untuknya adalah saat suatu 

kali ia memergoki Bu Tursinah yang hendak mandi di pancuran. John 

terpana oleh tubuh sintal Bu Tursinah yang dibalut jarik batik. Ia 

tidak segera menyingkir namun malah mencari posisi, untuk mengintip 

dengan bebas. Tapi peristiwa yang tak mungkin hilang dari kepalanya 

adalah saat ia berebut rambutan dengan Kuncir, temannya. Di atas 

pohon mereka bertengkar, hingga -entah sengaja atau tidak, John pun 

lupa, ia menghajar pelipis Kuncir. Anak itu bergoyang, hilang 

keseimbangan, dan jatuh dengan bebas ke bumi. John gagap tapi tak 

gugup. Ia sangat terkejut, tapi ia loncat dengan tangkas, lari dan 

hilang. 



Kampung itu segera ramai, Kuncir dalam keadaan gawat di rumah sakit. 

John diserbu perasaan takut. Tapi ia tak terlihat takut saat diserbu 

pertanyaan. Ia tak tahu-menahu tentang jatuhnya Kuncir, biarpun la 

kerap ke pohon rambutan itu. Tapi semua anak pun pernah ke situ. Dan 

siapa yang tak mempercayainya, anak Pak Ardi Sukirman, yang cerdas 

itu. Tapi, bagaimana Kuncir? John kembali diserang takut, Kuncir 

tidak mati. John bernapas lega. Tapi Kuncir kini gila. Belakang 

kepalanya tepat menghantam akar pohon yang menonjol. 

Dan rahasia itu tak pernah terbongkar. John tetap anak pilihan 

kampung, teladan yang tak pernah tinggal kelas dan luput dari surau. 

Tak pernah sungkan membantu teman atau tetangganya yang kerepotan 

membawa dagangan. Tak heran jika penduduk di kampung bagian timur 

Jawa itu sangat mengenalnya, bahkan dengan senang hati memberinya 

sebutan: 'Jono yang berbudi'. "Gelar yang akan menjadi modal untuk 

gelar-gelar suksesmu di masa nanti," kata ayahnya. Ayahnya benar. 

Tapi John tidak.

 

Semua kisah itu melesat begitu cepat dan begitu dekat, di detik 

terakhir ia masih merasakan napasnya. Seperti penutup sebuah lagu 

yang paling tak nikmat didengarnya. Tubuhnya berayun dan tumbang. 

Bumi menerima badan besar dan berdarah itu, dalam slow motion, 

seperti menahannya. Hingga ia berdebam di karpet kamar hotel mewah 

miliknya. Tanpa suara.





    
  

    
    




<!--

#ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean, sans-serif;}
#ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}
#ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial, helvetica, clean, 
sans-serif;}
#ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;}
#ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;}
#ygrp-text{
font-family:Georgia;
}
#ygrp-text p{
margin:0 0 1em 0;}
#ygrp-tpmsgs{
font-family:Arial;
clear:both;}
#ygrp-vitnav{
padding-top:10px;font-family:Verdana;font-size:77%;margin:0;}
#ygrp-vitnav a{
padding:0 1px;}
#ygrp-actbar{
clear:both;margin:25px 0;white-space:nowrap;color:#666;text-align:right;}
#ygrp-actbar .left{
float:left;white-space:nowrap;}
.bld{font-weight:bold;}
#ygrp-grft{
font-family:Verdana;font-size:77%;padding:15px 0;}
#ygrp-ft{
font-family:verdana;font-size:77%;border-top:1px solid #666;
padding:5px 0;
}
#ygrp-mlmsg #logo{
padding-bottom:10px;}

#ygrp-vital{
background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;padding:2px 0 8px 8px;}
#ygrp-vital #vithd{
font-size:77%;font-family:Verdana;font-weight:bold;color:#333;text-transform:uppercase;}
#ygrp-vital ul{
padding:0;margin:2px 0;}
#ygrp-vital ul li{
list-style-type:none;clear:both;border:1px solid #e0ecee;
}
#ygrp-vital ul li .ct{
font-weight:bold;color:#ff7900;float:right;width:2em;text-align:right;padding-right:.5em;}
#ygrp-vital ul li .cat{
font-weight:bold;}
#ygrp-vital a {
text-decoration:none;}

#ygrp-vital a:hover{
text-decoration:underline;}

#ygrp-sponsor #hd{
color:#999;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov{
padding:6px 13px;background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;}
#ygrp-sponsor #ov ul{
padding:0 0 0 8px;margin:0;}
#ygrp-sponsor #ov li{
list-style-type:square;padding:6px 0;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov li a{
text-decoration:none;font-size:130%;}
#ygrp-sponsor #nc {
background-color:#eee;margin-bottom:20px;padding:0 8px;}
#ygrp-sponsor .ad{
padding:8px 0;}
#ygrp-sponsor .ad #hd1{
font-family:Arial;font-weight:bold;color:#628c2a;font-size:100%;line-height:122%;}
#ygrp-sponsor .ad a{
text-decoration:none;}
#ygrp-sponsor .ad a:hover{
text-decoration:underline;}
#ygrp-sponsor .ad p{
margin:0;}
o {font-size:0;}
.MsoNormal {
margin:0 0 0 0;}
#ygrp-text tt{
font-size:120%;}
blockquote{margin:0 0 0 4px;}
.replbq {margin:4;}
-->








      ___________________________________________________________ 
Yahoo! Mail is the world's favourite email. Don't settle for less, sign up for
your free account today 
http://uk.rd.yahoo.com/evt=44106/*http://uk.docs.yahoo.com/mail/winter07.html 

Kirim email ke