Sajak-sajak Klasik Dinasti Tang
 Diterjemahkan oleh Wilson Tjandinegara

Liu Zongyuan:

TINGGAL DI TEPI SUNGAI KECIL

Sejak lama
 aku terbelenggu jabatan
 kini bersyukur
 dibuang ke selatan, negeri luas dan liar.
 Waktu senggang aku ikut para petani
 hidup bertetangga dengan mereka
 kadang mirip
 petapa dari hutan dan gunung
 yang sedang bertamu

Pagi hari menggarap tanah
 mata bajak menggali rumput bertetesan embun
 malam hari berlayar
 dayung perahu membentur batu kali di dasar sungai.
 Hilir mudik kesana kemari sesuka hati
 namun takkan berjumpa pejalan kaki,
 lepas suara bernyanyi
 muka tengadah ke langit negeri Chu yang luas
 ya langit maha biru sejauh mata memandang.


 Li Bai:

RINDU DI MUSIM SEMI

Oh, rumput musim semi tanah Yan
 baru hijau tua seperti sutera,
 sementara pohon murbeiku di tanah Qin
 terlebih dulu merunduk berat
 tangkai lunaknya hijau muda
 ketika hari-hari engkau rindu kembali ke rumah
 hari-hariku jua
 rindu dendam padamu

Oh, engkau angin musim semi yang mengusik,
 engkau dan aku tak saling kenal,
 mengapa tanpa sebab musabab
 menyelinap memasuki tirai dan kelambuku?


 Meng Jiao:

NYANYIAN PENGELANA

Jarum dan benang di tangan ibunda,
 sedang menjahit baju anaknya yang akan pergi jauh
 ketika menjelang si anak berangkat
 jahitannya dirapatkan dan dikuatkan
 dalam hatinya
 ia was-was anaknya tak cepat kembali.

Oh,
 siapa bilang secuil warna hijau dari rumput kecil
 bisa membalas budi
 cahaya matahari di sepanjang musim semi?


 Chen Zi Ang:

NYANYAIN MENDAKI
 POS YOU ZHOU TAI

Sebelum tuan, wahai raja Yan Zhao Wang
 belum pernah menyaksikan
 orang zaman dulu membangun
 panggung emas
 merekrut cendekiawan
 berbudi luhur dan cakap
 Setelah tuan
 tak pernah lagi melihat
 raja yang setara dengan tuan.

Oh,
 mengingat betapa luasnya dunia ini
 maha luas, tiada batas akhir,
 aku sendiri haru sedih
 menyeka air mata.


 Wang Wei:

SENJA HARI MUSIM GUGUR DI DESA

Di lembah luas membentang
 sesaat setelah terguyur hujan
 udara sejuk segar
 terasa akhir musim gugur 'kan tiba
 senja nanti
 rembulan
 menyinari hutan pohon pinus
 oh, air kali jernih
 gemericik mengalir di antara bebatuan.

Di tengah rumpun bambu, terdengar risik suara
 perempuan-perempuan yang pulang
 sehabis mencuci pakaian
 daun teratai bergoyang
 muncul perahu-perahu kecil penangkap ikan

Oh
 walau musim semi yang merbak
 telah berlalu
 namun pemandangan di gunung
 masih juga menambatku untuk tinggal di sini.


 Wang Wei:

KETIKA KEMBALI
 KE GUNUNG SONG SAN

Kedua tepi sungai bening
 terbayang hamparan rumput digenangi air
 kereta yang kutumpangi
 melaju dengan tenang, santai dan nyaman
 oh, aliran air, seakan
 membersitkan rasa cinta yang dalam
 burung-burung senja
 berbondong-bondong, satu per satu
 pulang ke sarang

Benteng tandus dan sunyi
 tepat di depan dermaga purba
 sisa cahaya mentari senja
 penuh sinari gugusan gunung di musim gugur,
 perjalanan panjang tak kunjung henti
 akhirnya aku kembali ke kaki gunung Song San,
 sekali kembali
 takkan kuterima tamu
 sering pula kututp pintu ini.


---------------------------------------------------------------------
Kelenteng.com - http://www.kelenteng.com
To subscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke