Sastra Tionghoa dan Prasangka "Politik Identitas"
 Catatan Muhammad Al-Fayyadl*

Perhatian publik sastra saat ini tampaknya tertuju pada bangkitnya genre
sastra Tionghoa, tepatnya Melayu-Tionghoa, kembali ke kancah sastra 
Indonesia modern. Gejala kebangkitan ini merupakan sesuatu yang layak 
disambut luas. Seyogianya memang demikian, karena kita sudah lama 
kehilangan "saudara kembar" (twin sister) dalam genre sastra kita, yang 
umumnya didominasi sastra Melayu saja. Ini penting dimengerti, sebab selama 
ini perkembangan sastra modern kita seolah-olah berjalan terlepas dari 
konteks sejarah, yang dulu melahirkannya. Yaitu, saat-saat di mana sastra 
kita masih bergulat dengan tema-tema pemerdekaan dan penjajahan, yang tentu 
melibatkan genre sastra Tionghoa juga. Atau, kalau mau dilacak lebih awal 
lagi, yang sering terlupakan adalah peran masyarakat Tionghoa dalam proses 
akulturasi budaya antara bangsa pribumi dengan kaum pendatang.

Kalau begitu, kebangkitan sastra Tionghoa memang positif, untuk mengingatkan 
kita akan latar belakang kesejarahan tentang proses lahirnya sastra modern 
di awal abad 19. Namun, harus diakui, terlalu sedikit dan amat jarang 
ditemukan kajian yang secara komprehensif membandingkan bagaimana kedua 
genre sastra itu berhubungan secara timbal-balik. Karena itu, agaknya ada 
kesan kedua-duanya sama sekali tak berhubungan atau-minimal-tidak memiliki 
akar sejarah yang sama. Maka, kiranya jelas keperluan untuk membicarakan 
suatu perbandingan yang mengupayakan sejumlah catatan kritis, utamanya 
terhadap sastra Tionghoa.

Merenungkan kembali sastra Tionghoa akan sangat signifikan dalam konteks 
mencari berbagai hal yang selama ini tak tersingkap yang, bagi saya, 
merupakan "ideologi tersimpan" yang memiliki ranah penafsirannya yang unik. 
Kita bisa mengatakannya sebuah alamat yang samar-samar bermain di balik 
"politik identitas": bagaimana mereka mendefinisikan "orang lain" di luar 
komunitas mereka; serta prasangka-prasangka apa yang tampak dari permainan 
ini.

Setting Sastra Tionghoa

Komunitas-komunitas sosial yang hidup pada masa kalabendu politik Orde Lama
akan merasakan betul dampak revolusi dan konflik-konflik yang memuncak saat
itu. Dua ideologi besar yang terkenal dan paling populer, komunisme dan 
Islam, tampaknya lebih dari sekadar membawa perubahan dalam lingkup politik 
belaka. Ideologi-ideologi itu, tak kalah pentingnya, juga merubah sejumlah 
sendi kebudayaan. Salah satu gejala yang tak boleh diabaikan adalah 
polarisasi kepentingan dan kecenderungan untuk menyudutkan 
kelompok-kelompok di luar kedua mainstream tersebut.

Stigmatisasi yang paling mencolok, misalnya, dilakukan terhadap minoritas 
Tionghoa. Kekalutan politik waktu itu mempertajam kesan buruk Tionghoa, 
yang dianggap merepresentasikan "imperialisme baru" yang ingin menanamkan 
pengaruh dalam ekonomi pribumi. Sebabnya, harus diakui, masyarakat Tionghoa 
hidup dan berkembang karena akses ekonomi yang tidak dimiliki kaum pribumi. 
Mau tak mau hal ini memancing kecemburuan di antara masyarakat pribumi yang 
merasa dirugikan dengan kehadiran mereka.

Kesan "imperialisme" ala Tionghoa tumbuh karena karakteristik masyarakat 
Indonesia yang kurang menerima masuknya unsur-unsur budaya asing dalam
kehidupan sosial mereka. Keadaan ini diperuncing dengan tindakan elitis 
komunitas Tionghoa, terutama dalam setiap tindakan yang menguntungkan
ekonominya sendiri. Masyarakat Tionghoa memang akhirnya menguasai aset-aset 
ekonomi yang berhubungan dengan kebutuhan orang banyak. Krisis ekonomi di
zaman Orde Lama menghantam seluruh bangunan perekonomian nasional dan
mengakibatkan turunnya pendapatan masyarakat umum secara drastis. Tak ada
yang menyangkal, situasi yang makin memburuk, ditambah kekisruhan politik
yang terjadi di mana-mana, mendorong timbulnya frustasi dan kecemasan 
masyarakat. Sejak pecahnya G30S yang berdarah, mereka seolah makin percaya 
bahwa kehancuran masa depan akan segera tiba. Namun, apa yang tersisa dari 
semua itu, adalah kepenguasaan sejumlah aset publik oleh masyarakat 
Tionghoa. Di sini, krisis mutidimensional yang mengguncang waktu itu, 
tampaknya tidak terlalu mempengaruhi aktivitas ekonomi minoritas Tionghoa 
sendiri.

Mengapa ini terjadi, agaknya lebih disebabkan kedekatan elite Tionghoa 
dengan pemerintah pusat, serta keuletan bekerja yang telah berakar sejak 
lama. Untuk yang terakhir ini, tak ada yang meragukan, kalau mereka memang 
menikmati kerja sebagai kegiatan rutin yang tak boleh ditinggalkan. 
Struktur ekonomi Tionghoa, selain umumnya didukung kecekatan yang luar 
biasa dalam menyikapi perubahan, juga disokong oleh sistem patronage yang 
erat dengan sumber-sumber penghasilan ekonomi yang dinilai menguntungkan. 
Karenanya, wajar bila dalam struktur dan piramida sosial masyarakat 
Indonesia, minoritas Tionghoa menempati posisi dan status kelas menengah 
(middle class) yang patut diperhitungkan.

Mobilisasi sosial dan ekonomi semacam itu mempercepat terjadinya proses
penyerapan budaya dengan kaum pribumi. Problem ini tentu dilematis bagi
mereka. Di satu sisi, akulturasi budaya meniscayakan bercampur-baurnya
kekhasan identitas yang mereka pertahankan dengan penduduk lokal, dan hal 
ini jelas akan mengendurkan "elitisme" ekonomi, yang selama ini lekat dan 
identik dengan masyarakat Tionghoa sendiri. Tapi, di sisi lain, memang tak 
mudah menghindari-diri dari tuntutan transformasi budaya, khususnya setelah
lambat-laun konflik antar-golongan mulai berhasil diredam dengan berdirinya
rezim Orde Baru.

Uraian di atas akan lebih berarti, kalau sastra Tionghoa dipahami dalam
konteks sosiologis masyarakat Tionghoa. Ada dua karakteristik yang menjadi
ciri khas sastra Tionghoa. Yang pertama menyangkut obyek tematik yang
diangkat sastrawan Tionghoa dalam jangka waktu yang lama, dan yang kedua
lebih berurusan dengan struktur sintaksis karya-karya sastra, yang meliputi
corak dan alur cerita dan gaya perwatakan tokoh-tokohnya.

Dalam kaitannya dengan latar belakang yang meliputinya, bisa dipastikan 
kalau sastra Tionghoa lebih suka menonjol-nonjolkan sifat dan karakter 
komunitas masyarakat Tionghoa sendiri. Ini bisa dilihat dari style yang 
ditampilkan karya-karya prosais, yang menceritakan bagaimana ikatan 
hubungan keluarga Tionghoa dilestarikan, serta melalui apa mereka 
berinteraksi dengan individu-individu yang berlainan etnis. Ekonomi 
keluarga inti juga seringkali diilustrasikan panjang lebar, terutama bila 
terjadi kebangkrutan dan kegagalan dalam aktivitas perdagangan mereka.

Suatu prosa panjang berjudul "Dengen Duwa Cent Jadi Kaya", ditulis oleh
sastrawan terkemuka Tionghoa, Thio Tjin Boen, terbit pada 1920_(1). Novelet
ini menggambarkan dengan baik sejumlah kenyataan ekonomi yang dihadapi
masyarakat Tionghoa. Yang menarik, apa yang ditunjukkan dalam karya ini
tampaknya lebih ditujukan agar kelompok pribumi memahami kebiasaan-kebiasaan
masyarakat Tionghoa secara wajar. Sebab, kalau tidak begitu, akan muncul
kesalahpahaman dan prasangka-prasangka buruk yang merugikan mereka. Dalam 
dua
jilid novelet ini, watak tokoh-tokoh cerita dideskripsikan secara gamblang.
Apa yang dimaksudkan dari semua ini adalah, sekali lagi, menghindari kesan
eksklusif dan tertutup dari pergaulan mereka dengan "dunia luar". Kita akan
lihat nanti, bagaimana "ketakutan" ini begitu kuat menghampiri narasi-narasi
sastra Tionghoa, yang tak pernah luput dari pengaruh dan pergesekan
faktor-faktor sejarah, sosial, dan budaya.

"Luka" Sejarah dan Pencarian Identitas

Masyarakat Tionghoa hampir tak pernah terbebas dari stigma dan upaya
stereotyping yang acap menyesakkan dada. Yang paling terasa adalah tidak
diakuinya bahasa sehari-hari mereka, yaitu Melayu-Tionghoa, sebagaimana
lazimnya bahasa Melayu "formal" lainnya. Sengaja atau tidak, imej yang
akhirnya terbangun, bahwa bahasa Tionghoa identik dengan bahasa Melayu 
rendah (laag Maleisch), Melayu pasar (passermaleisch), Melayu ceracau 
(brabbelmaleisch), yang kesemuanya merupakan olok-olok terhadap gaya
berbahasa murahan. Meskipun nadanya jelas mengejek, sebutan-sebutan ini 
sungguh menyudutkan pemakai bahasa Melayu, yang kebanyakan Tionghoa, 
minimal secara psikologis.

Bagi masyarakat Melayu yang terbiasa hidup di tengah-tengah birokrasi 
kolonial dan kehidupan elite priyayi, penggunaan Melayu-rendah boleh 
dianggap sebuah "pembangkangan" kultural yang berpotensi untuk menggerogoti 
otoritas Melayu-tinggi (hoog Maleisch). Karena itu, dalam keadaan yang 
serba terjepit, mau tak mau karakter bahasa Melayu-rendah yang lebih 
egaliter dan menjunjung asas persamaan semakin terjebak dan kemudian larut 
dalam bahasa Melayu-tinggi "resmi", sebagaimana diinstruksikan Charles 
Adriaan van Ophuijsen_(2), seorang ahli Bahasa Hindia-Belanda. Akibatnya, 
masyarakat Tionghoa tanpa disadari mulai mengalami "pengaburan" identitas, 
dan mereka pun terasing dari bahasa percakapan mereka sendiri. Komunitas 
Tionghoa tidak mempunyai saluran komunikasi yang efektif "ke luar", kecuali 
lewat bahasa Melayu-tinggi yang kurang mereka pahami. Dalam keadaan 
demikian, mereka makin terisolasi dari pergaulan publik luas, kecuali dalam 
segelintir hubungan ekonomi saja.

Barangtentu, dalam jiwa masyarakat Tionghoa diam-diam merambah rasa tak
percaya diri yang dilematis: antara mempertahankan karakter egalitarianisme
dan elitisme sosial. Sikap egalitarian hanya mungkin dicapai, bila mereka
berbicara dengan bahasa Melayu yang "liar" itu. Sementara, seperti disadari,
kesempatan ini telah hilang seiring gencarnya politisasi bahasa, yang
dipelopori para pejabat, residen, dan pemimpin-pemimpin bumiputera yang
menyetujui gagasan van Ophuijsen.

Mengapa hal ini saya anggap "luka sejarah"? Karena, bagaimanapun, setelah
harapan untuk berbaur dengan masyarakat luas menipis, minoritas Tionghoa
tampaknya lebih memilih berdiam-diri dalam keterkungkungan isolasi dan
eksklusivisme, sehingga berhamburan sikap-sikap sinis dan apatis terhadap
keberadaan mereka. Tuduhan-tuduhan "neo-imperialisme", seperti dikutip di
atas, mencerminkan betapa pada gilirannya komunitas Tionghoa terpojok dan
pada saat yang sama, kehilangan "kontak" dengan komunitas masyarakat 
lainnya. Malahan, seperti dituturkan Dede Oetomo_(3), politik bahasa yang 
digulirkan penguasa sejak masa kolonial hingga Orde Baru akhirnya memang 
meruntuhkan "garis kesederajatan" antar-berbagai etnik yang umumnya hidup 
di tanah Jawa. Politik bahasa kemudian melahirkan politik identitas. Pada 
era Orba, nasib masyarakat Tionghoa tak kunjung membaik, meski sebagian di 
antara mereka masuk ke dalam lingkaran kekuasaan rezim dan memperoleh 
privilese yang tak murah.

Pencarian identitas semacam itu jelas tak akan mudah ditemui pada 
karya-karya sastra awal Tionghoa yang menghirup kebebasan dan berada dalam 
iklim keterbukaan. Banyak novel dan prosa yang ditulis para jurnalis dan 
penulis Tionghoa, pada saat itu, begitu transparan melukiskan pergulatan
nasionalisme. Seperti pernah saya tulis, salah satu penyebab mengapa sastra
Tionghoa bergairah meletupkan nasionalisme, terlepas dari figur-figur
terkenal semacam Kwee Tek Hoay dan Thio Tjin Boen, adalah tumbuhnya generasi
muda yang berperan penting dalam menyebarluaskan ide dan impian tentang
sebuah nation yang berdaulat. Generasi sastrawan ini memang pada akhirnya
gagal untuk terus mempertahankan corak dan langgam sastra Tionghoa yang
bertumpu pada bahasa lisan sehari-hari (colloquialism)_(4).

Masa-masa berikutnya menyaksikan fenomena makin merosotnya produktivitas
karya-karya sastra yang diterbitkan, karena selain langkanya media massa 
yang peduli pada perkembangan sastra Tioghoa, juga dipicu oleh bangkitnya 
sastra Indonesia modern. Ini tentu tak lepas dari siasat jitu Balai 
Poestaka (Volkslectuur), dengan memasarkan karya-karya Melayu-tinggi yang 
"layak jual"_(5). Diresmikannya bahasa Indonesia secara politik dan makin
mengaburnya pemaknaan bahasa Melayu sebagai lingua franca mempersempit ruang
gerak masyarakat Tionghoa untuk mengartikulasikan kepentingannya secara 
leluasa. Dalam keadaan demikian, perlahan tapi pasti sastra Tionghoa
mengalami masa-masa tersulit untuk berkembang karena persinggungannya yang
erat dengan terbentuknya sastra Indonesia modern. Dalam upaya sementara
mempertahankan eksistensinya, sastrawan Tionghoa banyak mengikuti berbagai
ragam pengucapan sastrawan yang lahir sesudah Indonesia merdeka. Di sini,
identitas ke-Tionghoa-an menjadi sesuatu yang relatif bisa dipertukarkan 
atau dipertaruhkan, justru melalui sastra, sebagai sarana untuk 
menjauhkan-diri dari kesan eksklusivisme dan prasangka kaum pribumi yang 
mengidentikkan mereka tak ubahnya penjajah.

Politik Identitas dalam Potret Sastra Kontemporer

Sangat sukar untuk tidak mengatakan bahwa dalam tiga dekade terakhir, sastra
Tionghoa telah mati tenggelam. Ibarat "fosil tua", sastra ini hanya
meninggalkan jejak-jejak yang kini mencoba dirunut kembali, meski semuanya
memang tak seutuh dulu. Bahkan, kalau pun penilaian ini tidak benar, boleh
dikatakan bahwa sastra Tionghoa cuma menempati posisi "subkultur", yang
keberadaannya setara dengan genre sastra lokal, yang kini sedang
merevitalisasi-diri.

Apalagi, pada zaman Orba, dengan struktur politik yang mencengkeram,
masyarakat Tionghoa sendiri mendapat perlakuan minor dan diskriminasi yang
sengit. Ini tentu menyulitkan lahirnya kepedulian pada khazanah sastra 
mereka yang kaya. Dikenangnya kembali literatur sastra Tionghoa akhir-akhir 
ini menandai perlunya suatu rekonstruksi atas segala hal yang berhubungan 
dengan sejarah masa lalu mereka, sehingga semuanya tak gampang hilang tanpa 
bekas. Untuk melakukannya, kita tentu tak dapat mengabaikan apa yang
direpresentasikan oleh teks-teks sastra kontemporer dewasa ini, dalam
penggambarannya terhadap sejarah pergumulan masyarakat Tionghoa.

Tentang hal ini, saya merasakan bahwa ada sejumlah novel yang punya daya
cerita yang kuat, yang dikarang oleh sastrawan-sastrawan pribumi sendiri.
Seorang skilled-writer yang layak disebut tentu saja adalah Pramoedya Ananta
Toer. Dalam roman sejarahnya, Hoakiau di Indonesia, yang terbit dan segera
menjadi bacaan kontroversial yang memukau itu, Pram menceritakan berbagai
penderitaan yang menimpa minoritas Tionghoa, dan juga peran mereka dalam
proses asimilasi budaya dengan penduduk setempat. Ada sekian perlakuan tak
wajar yang memang seolah menjadi "kodrat" yang harus mereka terima sebagai
kenyataan sejarah. Isu-isu rasialisme, misalnya, adalah salah satu fakta
pahit yang selalu merebak dan tentu melibatkan, dalam batas-batas tertentu,
politisasi "identitas", di mana kaum pribumi merasa perlu memisahkan-diri
dari masyarakat Tionghoa, atau bahkan membuat jarak dengan adat-istiadat 
yang dianggap asing oleh kultur lokal. Kadangkala hal ini berujung pada 
pengerahan kekerasan fisik dan upaya pembasmian etnik (ethno-genocide).

Pram mengerti betul, bahwa dengan menghadirkan kenyataan di atas, seseorang
tak akan mudah melupakan apa yang telah terjadi di masa lalu. Dalam
kapasitasnya yang penuh beban identitas semacam ini, teks-teks sastra tak
ayal menjadi sasaran tuduhan, prasangka, dan sarkasme, sehingga ia dicap
subversif dan menghasut.

Namun, pada saat yang lain, dalam tetralogi Buru-nya, Pram menuliskan 
karakter tokoh-tokoh berkebangsaan Tionghoa secara simpatik. Ia dengan 
gayanya yang khas memang mengkritik dan menentang mentalitas feodal yang 
dipertunjukkan tokoh-tokoh beretnik Jawa, tapi ini tidak dilakukannya 
terhadap orang-orang Tionghoa. Mungkin yang teristimewa bagi Pram adalah 
karakter masyarakat Tionghoa yang terbuka, egaliter, dan responsif terhadap 
dunia pergerakan. Dalam karya-karyanya, memang terbaca kebencian Pram pada 
kultur aristokratis yang dipertontonkan para ambtenaar dan kaum priyayi 
Jawa. Novelnya, Arok-Dedes, adalah suatu tipikal ekspresi Pram terhadap 
kehidupan dan weltanschauung (alam pikiran) Jawa yang sarat dengan mitologi 
kekuasaan dan kekerasan. Pram tampaknya lebih menyukai sifat-sifat orang 
Tionghoa yang santun tapi berkemauan keras dibanding watak orang Jawa yang 
senang berbasa-basi tapi ambisius dan licik._(6)

Dalam konteks politik identitas, perbedaan tindak-tanduk dan pembawaan 
watak, seperti tersirat jelas di tangan Pramoedya, antara masyarakat 
Tionghoa dengan kelompok-kelompok lainnya harus jeli dibaca sebagai 
perspektif sastra Indonesia modern mengamati bentuk-bentuk pergesekan yang 
terjadi pada lingkup sosial-budaya yang lebih luas. Selama ini, harus 
diakui, Pram merupakan satu-satunya sastrawan yang berhasil mengangkat 
imaji identitas ke-Tionghoa-an dalam kualitas cerita yang kental dan pekat 
dengan intrik-intrik politis yang mencengangkan. Dan kenyataannya, imaji 
itu berhasil direpresentasikannya sesuai fakta dan realitas sejarah yang 
terjadi di masa lampau. Representasi Pram, dalam konteks ini, menjadikan 
fakta sebagai inspirasi bagi terciptanya fiksi yang benar-benar 
"menyejarah"._(7)

Karya sastra lainnya yang cukup berharga adalah novel Remy Sylado,
Ca-bau-kan_(8), yang terbit baru-baru ini. Novel sejarah yang mengambil
background periode penjajahan kolonial ini dengan baik menggambarkan peran
sebagian masyarakat Tionghoa dalam proses perjuangan dan pergerakan mencapai
kemerdekaan. Cuma, yang segera terbetik dalam benak saya, bukanlah alur 
cerita yang luar biasa cerdas, tetapi justru "pendekatan" Remy yang 
berusaha meneropong bagaimana dua identitas pribumi dan non-pri saling 
bermain dan mengisi, tanpa ada kecemasan dan kecemburuan memandang 
identitasnya masing-masing.

Dalam novel ini, politik identitas menjadi sebuah keniscayaan, yang 
diwujudkan dalam adegan percintaan antara Tan Peng Liang dan Tinung alias 
Siti Nurhayati. Di sini, yang nampak bukanlah identitas yang eksklusif, 
tapi, sebaliknya, sebuah keterbukaan untuk menghargai perbedaan dan 
membuang jauh-jauh segala prasangka. Justru, di sisi lain, politik 
identitas terjadi secara ekstrem di tengah-tengah kaum Tionghoa sendiri. 
Alasan yang melatarbelakanginya adalah persaingan bisnis dan prestise, 
sehingga lahirlah pelbagai macam pertentangan, konflik, dan upaya 
menjatuhkan reputasi. Hal inilah yang melekat dalam perwatakan pejabat Kong 
Koan atau Raad van Chinezen: Oey Eng Goan, Thio Boen Hiap, Mr. Liem Kiem 
Jang, Lie Kok Pien.

Tetapi, ada satu kesamaan yang mencolok dalam novel ini, dan juga 
karya-karya sastra lain yang menceritakan kehidupan orang Tionghoa_(9), 
yaitu kenyataan bahwa kaum perempuan selalu terkurung dalam ketertindasan 
dan nasib yang malang. Pertanyaannya sekarang: apakah ini mencerminkan 
bahwa politik identitas juga berlangsung pada wilayah gender? Saya 
khawatir, jangan-jangan sedang terjadi marjinalisasi besar-besaran terhadap 
perempuan, sehingga samar-samar identitas "keperempuanan" pun dibunuh dan 
dicampakkan, tanpa sepenuhnya kita sadari-silent victimization.***


Catatan Kaki:

Termuat dalam Marcus AS-Pax Benedanto (peny.), Kesastraan Melayu Tionghoa 
dan
Kebangsaan, Jilid II, (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, cet I 2001),
157-255.
Benedict Anderson, "Politik Kamus (Bukannja Camus Lho!)", TEMPO (11-17 Maret
2002: 48-9).
Dede Oetomo, "Soal Melaju dan Omong Melaju (Merondai Sang Siluman Sesudah 
400
Tahun?)", TEMPO (25-31 Maret 2002: 100-1).
Faktor kelisanan tidak hanya menjadi ciri-ciri sastra Tionghoa, tetapi juga
sastra Indonesia pada awal perkembangannya. Secara umum lihat, Will Derks,
"Pengarang Indonesia sebagai Tukang Sastra", Jurnal Kebudayaan Kalam 11,
(1998), 90-100.
P. Swantoro, Dari Buku ke Buku: Sambung-Menyambung Menjadi Satu, (Jakarta,
Kepustakaan Populer Gramedia, Cet I 2002) 39-56.
Benedict R.O'G. Anderson, "Sembah-Sumpah: Politik Bahasa dan Kebudayaan
 Jawa", dalam Yudi Latif-Idi Subandy Ibrahim (eds.), Bahasa dan Kekuasaan:
 Politik Wacana di Panggung Orde Baru, (Bandung: Mizan, cet II 1996),
 265-317. Tentang teori dan konsep representasi dalam sastra, lihat, Ignas
 Kleden, "Fakta dan Fiksi tentang Fakta dan Fiksi: Imajinasi dalam Sastra 
dan
 Ilmu Sosial", Jurnal Kebudayaan Kalam 11, (1998), 5-35. Bandingkan, Ihsan
 Ali-Fauzi, "Fiksi dan Sejarah dalam Karya Pramoedya", Kompas, (1 Maret 
2002:
 37).
Remy Sylado, Ca-bau-kan (Hanya Sebuah Dosa), (Jakarta: Kepustakaan Populer
Gramedia, cet IV 2001).
Yang terbaru misalnya kumpulan cerpen Veven Sp. Wardhana, Panggil Aku Pheng
Hwa (KPG 2002), yang mengisahkan penderitaan warga negara minoritas Tionghoa
(waniktio) pada saat kekisruhan sosial-politik Mei 1998. Dan di sini
lagi-lagi perempuan yang menjadi korban.


(*Muhammad Al-Fayyadl, pemerhati sastra, menulis kritik sastra alumnus 
Ponpes
Nurul Jadid Probolinggo, sementara tinggal di Madura).

---------------------------------------------------------------------
Kelenteng.com - http://www.kelenteng.com
To subscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke