Pemujaan Malaikat Sumber: Wawasan Cyber Edition URL: http://www.wawasan.co.id
Dalam hikayat budaya Cina, selain dewa-dewa, juga mengenal adanya malaikat yang sangat dipuja-puja. Malaikat tersebut, dipercaya juga dapat memberikan ketenangan hidup, dan memberikan berkah. Di antara Malaikat itu adalah, Qie Lan Ye (Ka Lam Ya-Hokkian) yakni salah satu Malaikat Pintu versi Buddha yang sering digambarkan di daun pintu bersama-sama Wei Tuo. Dia dipuja secara tersendiri terutama di kabupaten Chao-zou, propinsi Guang-dong sebagai pelindung bangunan-bangunan suci kuil-kuil Buddha. Di kelenteng-kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok Semarang, ia dilukiskan di daun pintu besar, berpasangan dengan Wei Tuo, Qie Lan bertampang bengis, wajahnya hitam berewok dan membawa sebatang kapak dan berpakaian perang lengkap. Di Jakarta pemujanya terdapat di kelenteng Kong Hoa Si. Hari lahirnya diperingati pada tanggal 1 bulan 4 Imlek. Selain itu ada pula malaikat pelindung kelenteng yakni Wu Ying Jiang. Wu Ying Jiang dipuja bersama-sama sebagai kelompok pelindung kelenteng Wang Ye Miao. Mereka itu terdiri dari lima orang, yaitu Zhong Tan Yuan Shui (Tiong Dan Gwam swe-Hokkian), Li Ne Zha (Lie Loo Djia-Hokkian). Dong Ying Zhang Yuan Shui (jenderal Chang dari Tangsi Timur), Nan Ying Xiao Yuan Shui (jenderal Liu dari Tangsi Barat), Bei Ying Yuan Shui (jenderal dari Tangsi Utara). Ada lagi Malaikat Pelindung keamanan umum Bu Zhen Si Ye, yang juga dipuja-puja. Malaikat ini mengawasi keamanan umum, mungkin seperti polisi dalam masyarakat. Ia mempunyai kekhususan yaitu membantu orang-orang yang kehilangan barang. Di Taiwan, dewa ini dipuja di dalam kelenteng Ling Qing Dian di kota An Ping. Hari She-jiet tidak jelas. Sedangkan Cang Shen, dikenal sebagai Malaikat Pelindung gudang. Cang Shen adalah malaikat yang melindungi gudang. Biasanya diadakan sembahyang untuk menghormatinya pada pertengahan musim semi atau pertengahan musim gugur. (Zhong-qiu). Di sebelah utara Chi Gan Lou diTaiwan terdapat sebuah kelenteng yang memuja dewa ini. Kelenteng ini didirikan oleh Kaisar Yong Zhen pada jaman pemerintahan tahun kesepuluh Dinasti Qing. Sayang pada mas perang melawan Jepang, kelenteng ini hancur dan patungnya entah dibawa kemana. Sementara itu hikayat budaya Cina juga mengenal adanya Dewa penguasa waktu, Tai Sui Ye atau secara umum disebut Tai Sui Xing Jun atau Tai Sui Ye (Thay Swe Ya-Hokkian). Yakni Dewata atau sekelompok Dewata yang menguasai peredaran waktu. Sebab itu Dewata ini sangat disegani sekaligus dihormati. Sebagai kelompok, Tai Sui terdiri 120 Dewata yang masing-masing punya tugas tersendiri dalam mengawasi peredaran jam, hari, bulan dan tahun. Pemujaan Tai Sui tercatat mulai jaman dinasti Yuan (1280-1368), yaitu pada waktu diadakan diadakan sembahyang besar yang dilakukan oleh para menteri dan cendekiawan yang tergabung dalam Akademi Penelitian sejarah Kerajaan. Dalam upacara-upacara keagamaan pada jaman sebelumnya yaitupada jaman Tang dan Song, sembahyang kepada Dewata tersebut belum ditemui. Sembahyang kepada Tai Sui Ye dilakukan apabila ada sesuatu pekerjaan besar dan penting akan dilaksanakan. Tai Sui Ye adalah termasuk Dewa Bintang, yang kira-kira disamakan dengan Yupiter. Oleh sebab itu altar untuk upacara sembahyang kepadanya didirikan di tempat terbuka. Pemujaan besar-besaran di altar seperti ini dimulai pada jaman permulaan dinasti Ming, ketika Kaisar Ming pertama, Tai Zu memerintahkan agar pemujaan Dewata ini dilakukan di seluruh negeri. (Yanuar Dwi Sardjono) --------------------------------------------------------------------- Kelenteng.com - http://www.kelenteng.com Posting, email: [EMAIL PROTECTED] Subscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
