Pernikahan Arwah

GloriaNet - Bukan orang hidup saja yang menikah. Di sebuah kuil kecil di 
Singapura, bagi yang sudah wafat pun tersedia kesempatan menikmati
kebahagiaan itu.

Selama 98 tahun, Kuil Seng Wong Beo di Tanjong Pagar, Singapura, berperan
sebagai biro jodoh bagi mereka yang belum menikah ketika wafat. "Ada yang
menyebut ini takhayul, ada yang menyebutnya warisan budaya. Terserah," ujar
Ny Tham (60 tahun), pengurus kuil. Sudah tak terhitung berapa kali ia
berperan sebagai pengiring "pengantin" sekaligus "mak comblang" bagi
muda-mudi arwah.

Kuil itu kecil ukurannya, kira-kira sama dengan dua lapangan tenis
dijejerkan. Ia merupakan salah satu kuil tertua di Singapura, didirikan 1904
oleh Swee, seorang pemimpin Taoisme (ajaran dari Tiongkok yang mulai dikenal
enam tahun sebelum Masehi). Swee menyelenggarakan ritual Tao bagi komunitas
Tionghoa generasi pertama yang menetap di Tanjong Pagar.

Ny Tham menceritakan "kisah cinta" seorang anak yang wafat sebelum sempat
dilahirkan karena ibunya keguguran. Dua puluh tahun kemudian, orangtua
mencarikan jodoh bagi putranya itu. 'Calon menantu' yang dicarinya berasal
dari dunia yang sama dengan dunia anaknya alias alam baka.

Pada cerita lain yang mirip, sang putra menghampiri ibunya dalam mimpi,
minta diselenggarakan upacara perkawinan dengan pasangan yang dipilihnya
sendiri. Ia memberikan alamat kekasihnya melalui tanda-tanda yang biasanya
tidak jelas bentuk atau artinya. Kedua orangtua mencoba mengartikan apa yang
mereka terima melalui mimpi-mimpinya dengan menggabungkan berbagai tanda
dalam mimpi masing-masing. Bila usaha itu gagal, ada Ny.Tham yang akan
berperan sebagai 'mak comblang'. "Kami menyediakan biro jodoh," katanya.

Sepintas agak menakut-kan mendengar paparan pemikiran tak masuk akal itu,
tapi di dalamnya terdapat selera berbisnis yang baik.

Ny Tham membuat catatan mengenai orang-orang yang berdoa di kuilnya. "Kami
bertemu dengan segala macam orang yang datang karena merasa hilang
kedudukannya di masyarakat atau lama menderita penyakit. Mereka mencari
pertolongan, dan menceritakan sejarah pribadinya. Kami jadi tahu siapa-siapa
yang kehilangan anaknya, siapa yang mengalami peristiwa aneh. Kami membantu
mempertemukan arwah-arwah yang bisa menjadi calon pasangan."

Perkenalan pria-wanita dari alam lain itu dilakukan melalui upacara singkat
di sebuah altar kuno di kuil itu.

Bila 'hubungan cinta' sudah terjalin, ditetapkanlah tanggal perkawinan
berikut pakaian pengantin dan perabotan rumah tangga.

Awal September lalu, berlangsung upacara perkawinan termaksud. Hadir
keluarga dari masing-masing pihak yang dijodohkan. Semua orang berkumpul
tanpa suara. Hampir semuanya baru pertama kali itu datang ke sana.

Ibu pengantin pria adalah wanita berusia 60 tahun yang pernah menerima
tanda-tanda dalam mimpinya dari putranya yang wafat karena ia mengalami
keguguran 30 tahun yang lalu. Ibu itu berada di Kuil Seng Wong Beo untuk
membantu putranya menikahi gadis pilihannya sendiri di dunia lain.

Di meja persembahan dideretkan perabot rumah tangga terbuat dari karton,
termasuk ranjang pengantin. Terdapat juga sebuah mobil mewah dan satu set
karaoke, lengkap dengan piringan-piringan CD-nya.

Beberapa setelan baju dari kertas mengkilat dan gaun-gaun berhias renda
dimasukkan ke beberapa kotak. Setiap satu set pakaian itu tak mahal
harganya, tapi perabotan rumahtangganya mencapai ratusan dolar Singapura.
Biaya pembelian semua benda itu ditanggung keluarga pria. Di penghujung
upacara, semua benda itu dilempar ke tungku perapian.

Kata Ny Tham, "Banyak orang yang berpendapat bahwa tindakan ini buang-buang
uang saja. Tapi orang yang membuat barang-barang itu harus ahli. Mereka
tidak boleh salah."

Pasangan pengantin yang bonekanya dari kertas diberi warna putih pada bagian
wajahnya, didandani seperti boneka Barbie berukuran besar. Boneka-boneka itu
dibuat membungkuk ketika 'mengucapkan' janji perkawinan mereka di hadapan
dewa-dewa kuil. Dua buah cincin kawin (dari kertas juga) saling
dipertukarkan.

Ibu pengantin pria tersedu-sedu perlahan sambil mengamati anak-anaknya yang
hidup yang tengah mengambil bagian dalam upacara itu, sebuah kegiatan yang
seharusnya merupakan acara gembira.

Tidak terjadi hal yang aneh seperti di film-film horor. Boneka-boneka itu
tidak mendadak jadi hidup, nyala api lilin pun tidak tertiup hingga mati
oleh angin yang tak tahu datang dari mana. Namun suasananya tenang. Bulu
kuduk jadi berdiri.

Pemimpin upacara Taois-me itu, Lu Rongxin berkata, "Sudah bertahun-tahun
saya melakukan hal ini. Saya tidak takut lagi melihatnya."

Warisan Leluhur
Tapi mengapa menikahkan arwah? Menurut Ny Tham, hal itu dimulai oleh dinasti
Qing (1644-1911) di Tiongkok kuno, yang memberlakukan peraturan bahwa hanya
orang-orang dewasalah -dibuktikan dengan sudah menikah atau berpendidikan
tinggi- yang boleh makan dengan duduk di sekitar meja makan. Anak-anak dan
mereka yang belum menikah boleh ikut makan tapi duduk di lantai.

Akibatnya, jiwa para janin yang gugur atau bayi yang terlahir wafat tidak
dapat masuk dalam persembahan yang diberikan di meja persembahan yang
umumnya ada di setiap rumah.

Oleh karena itu, 'pernikahan para arwah' perlu dilakukan untuk meningkatkan
status mereka dan merupakan cara untuk boleh ikut makan semeja dengan
seluruh anggota keluarga.

Sulit untuk menarik garis bilamanakah agama meninggalkan takhayul untuk
menjadi yang disebut kebudayan. Tapi bagi Ny Tham, batasan itu menjadi jelas
ketika datang kekuatan yang lebih besar daripada dewa-dewa di situ, yaitu
badan pemerintah untuk pembangunan wilayah urban di Singapura.

Setiap bulan, Ny Tham harus membayar perpanjangan izin pemakaian kuil itu
sebesar 600 dolar Singapura kepada pemerintah agar kuilnya tidak diratakan
dengan tanah oleh buldoser.

"Kami tak punya dana untuk memperbaiki gedung ini. Untuk bertahan saja
sulit," ujar Ny Tham, generasi keempat pengurus kuil itu.

Di sebuah ruangan lain di kuil itu, tampak beberapa orang sedang berdoa,
menggerak-gerakkan hio di hadapan patung yang telah menjadi hitam karena
hampir seratus tahun lamanya terkena jelaga setiap hari.

Upacara perkawinan tadi berlangsung satu jam dan berakhir pukul 9 pagi.
"Semua orang -saudara-saudara dari pengantin itu- harus berangkat kerja,"
kata Ny Tham, "Maka kami lakukan upacara itu lebih pagi supaya tidak
mengganggu jadwal mereka."

Begitulah selalu bila bicara tentang dunia tak nyata. Ia memang berkaitan
erat dengan orang-orang nyata, kesibukan kerja yang nyata, dan -dalam hal
ini- dana sewa gedung yang nyata. (GCM/SP)


---------------------------------------------------------------------
Milis Kelenteng - Quan Shui
URL: http://lists.quanshui.org
Posting, email: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke