Wah, kalau memang ada yang seperti itu, rasanya yang melaksanakan hal tersebut saat ini kurang bisa memahami apa tujuan sebenarnya dari saat pertama ritual tersebut muncul. Kalau menurut saya, ritual yang muncul sebenarnya diciptakan oleh orang-orang pintar jaman dulu untuk menyembuhkan secara psikologis mereka yang ditinggal meninggal oleh keluarganya. Seperti contoh cerita ritual di Singapura tersebut, dapat dipastikan bahwa keluarga yang melaksanakan ritual tersebut merasa lega dan terbebas dari beban. Dan menurut penjabaran dalam Agama Tao yang selalu mengikuti jaman, hal-hal semacam itu sudah tidak perlu dilakukan lagi, karena sudah tidak sesuai dengan jaman lagi dan sebenarnya yang diutamakan adalah kesadaran dari kita semua untuk beribadah sesuai dengan kebenaran. Kalau tidak kita sendiri yang akan ditertawain orang. ----- Original Message ----- From: "Handoyo" <[EMAIL PROTECTED]> To: "Kelenteng - Milis" <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Thursday, November 21, 2002 2:27 AM Subject: [Kelenteng] Pernikahan Arwah
Pernikahan Arwah GloriaNet - Bukan orang hidup saja yang menikah. Di sebuah kuil kecil di Singapura, bagi yang sudah wafat pun tersedia kesempatan menikmati kebahagiaan itu. Selama 98 tahun, Kuil Seng Wong Beo di Tanjong Pagar, Singapura, berperan sebagai biro jodoh bagi mereka yang belum menikah ketika wafat. "Ada yang menyebut ini takhayul, ada yang menyebutnya warisan budaya. Terserah," ujar Ny Tham (60 tahun), pengurus kuil. Sudah tak terhitung berapa kali ia berperan sebagai pengiring "pengantin" sekaligus "mak comblang" bagi muda-mudi arwah. Kuil itu kecil ukurannya, kira-kira sama dengan dua lapangan tenis dijejerkan. Ia merupakan salah satu kuil tertua di Singapura, didirikan 1904 oleh Swee, seorang pemimpin Taoisme (ajaran dari Tiongkok yang mulai dikenal enam tahun sebelum Masehi). Swee menyelenggarakan ritual Tao bagi komunitas Tionghoa generasi pertama yang menetap di Tanjong Pagar. Ny Tham menceritakan "kisah cinta" seorang anak yang wafat sebelum sempat dilahirkan karena ibunya keguguran. Dua puluh tahun kemudian, orangtua mencarikan jodoh bagi putranya itu. 'Calon menantu' yang dicarinya berasal dari dunia yang sama dengan dunia anaknya alias alam baka. Pada cerita lain yang mirip, sang putra menghampiri ibunya dalam mimpi, minta diselenggarakan upacara perkawinan dengan pasangan yang dipilihnya sendiri. Ia memberikan alamat kekasihnya melalui tanda-tanda yang biasanya tidak jelas bentuk atau artinya. Kedua orangtua mencoba mengartikan apa yang mereka terima melalui mimpi-mimpinya dengan menggabungkan berbagai tanda dalam mimpi masing-masing. Bila usaha itu gagal, ada Ny.Tham yang akan berperan sebagai 'mak comblang'. "Kami menyediakan biro jodoh," katanya. Sepintas agak menakut-kan mendengar paparan pemikiran tak masuk akal itu, tapi di dalamnya terdapat selera berbisnis yang baik. Ny Tham membuat catatan mengenai orang-orang yang berdoa di kuilnya. "Kami bertemu dengan segala macam orang yang datang karena merasa hilang kedudukannya di masyarakat atau lama menderita penyakit. Mereka mencari pertolongan, dan menceritakan sejarah pribadinya. Kami jadi tahu siapa-siapa yang kehilangan anaknya, siapa yang mengalami peristiwa aneh. Kami membantu mempertemukan arwah-arwah yang bisa menjadi calon pasangan." Perkenalan pria-wanita dari alam lain itu dilakukan melalui upacara singkat di sebuah altar kuno di kuil itu. Bila 'hubungan cinta' sudah terjalin, ditetapkanlah tanggal perkawinan berikut pakaian pengantin dan perabotan rumah tangga. Awal September lalu, berlangsung upacara perkawinan termaksud. Hadir keluarga dari masing-masing pihak yang dijodohkan. Semua orang berkumpul tanpa suara. Hampir semuanya baru pertama kali itu datang ke sana. Ibu pengantin pria adalah wanita berusia 60 tahun yang pernah menerima tanda-tanda dalam mimpinya dari putranya yang wafat karena ia mengalami keguguran 30 tahun yang lalu. Ibu itu berada di Kuil Seng Wong Beo untuk membantu putranya menikahi gadis pilihannya sendiri di dunia lain. Di meja persembahan dideretkan perabot rumah tangga terbuat dari karton, termasuk ranjang pengantin. Terdapat juga sebuah mobil mewah dan satu set karaoke, lengkap dengan piringan-piringan CD-nya. Beberapa setelan baju dari kertas mengkilat dan gaun-gaun berhias renda dimasukkan ke beberapa kotak. Setiap satu set pakaian itu tak mahal harganya, tapi perabotan rumahtangganya mencapai ratusan dolar Singapura. Biaya pembelian semua benda itu ditanggung keluarga pria. Di penghujung upacara, semua benda itu dilempar ke tungku perapian. Kata Ny Tham, "Banyak orang yang berpendapat bahwa tindakan ini buang-buang uang saja. Tapi orang yang membuat barang-barang itu harus ahli. Mereka tidak boleh salah." Pasangan pengantin yang bonekanya dari kertas diberi warna putih pada bagian wajahnya, didandani seperti boneka Barbie berukuran besar. Boneka-boneka itu dibuat membungkuk ketika 'mengucapkan' janji perkawinan mereka di hadapan dewa-dewa kuil. Dua buah cincin kawin (dari kertas juga) saling dipertukarkan. Ibu pengantin pria tersedu-sedu perlahan sambil mengamati anak-anaknya yang hidup yang tengah mengambil bagian dalam upacara itu, sebuah kegiatan yang seharusnya merupakan acara gembira. Tidak terjadi hal yang aneh seperti di film-film horor. Boneka-boneka itu tidak mendadak jadi hidup, nyala api lilin pun tidak tertiup hingga mati oleh angin yang tak tahu datang dari mana. Namun suasananya tenang. Bulu kuduk jadi berdiri. Pemimpin upacara Taois-me itu, Lu Rongxin berkata, "Sudah bertahun-tahun saya melakukan hal ini. Saya tidak takut lagi melihatnya." Warisan Leluhur Tapi mengapa menikahkan arwah? Menurut Ny Tham, hal itu dimulai oleh dinasti Qing (1644-1911) di Tiongkok kuno, yang memberlakukan peraturan bahwa hanya orang-orang dewasalah -dibuktikan dengan sudah menikah atau berpendidikan tinggi- yang boleh makan dengan duduk di sekitar meja makan. Anak-anak dan mereka yang belum menikah boleh ikut makan tapi duduk di lantai. Akibatnya, jiwa para janin yang gugur atau bayi yang terlahir wafat tidak dapat masuk dalam persembahan yang diberikan di meja persembahan yang umumnya ada di setiap rumah. Oleh karena itu, 'pernikahan para arwah' perlu dilakukan untuk meningkatkan status mereka dan merupakan cara untuk boleh ikut makan semeja dengan seluruh anggota keluarga. Sulit untuk menarik garis bilamanakah agama meninggalkan takhayul untuk menjadi yang disebut kebudayan. Tapi bagi Ny Tham, batasan itu menjadi jelas ketika datang kekuatan yang lebih besar daripada dewa-dewa di situ, yaitu badan pemerintah untuk pembangunan wilayah urban di Singapura. Setiap bulan, Ny Tham harus membayar perpanjangan izin pemakaian kuil itu sebesar 600 dolar Singapura kepada pemerintah agar kuilnya tidak diratakan dengan tanah oleh buldoser. "Kami tak punya dana untuk memperbaiki gedung ini. Untuk bertahan saja sulit," ujar Ny Tham, generasi keempat pengurus kuil itu. Di sebuah ruangan lain di kuil itu, tampak beberapa orang sedang berdoa, menggerak-gerakkan hio di hadapan patung yang telah menjadi hitam karena hampir seratus tahun lamanya terkena jelaga setiap hari. Upacara perkawinan tadi berlangsung satu jam dan berakhir pukul 9 pagi. "Semua orang -saudara-saudara dari pengantin itu- harus berangkat kerja," kata Ny Tham, "Maka kami lakukan upacara itu lebih pagi supaya tidak mengganggu jadwal mereka." Begitulah selalu bila bicara tentang dunia tak nyata. Ia memang berkaitan erat dengan orang-orang nyata, kesibukan kerja yang nyata, dan -dalam hal ini- dana sewa gedung yang nyata. (GCM/SP) --------------------------------------------------------------------- Milis Kelenteng - Quan Shui URL: http://lists.quanshui.org Posting, email: [EMAIL PROTECTED] Subscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] --------------------------------------------------------------------- Milis Kelenteng - Quan Shui URL: http://lists.quanshui.org Posting, email: [EMAIL PROTECTED] Subscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
