Tanya Jawab Dhamma:
Bersama YM. Bhikkhu Uttamo Thera

Pandangan Agama Buddha Tentang Homoseksuality 


Apakah agama Buddha menerima kaum Homoseksual ?

Dalam Agama Buddha seseorang diajarkan untuk bisa mengendalikan diri dari
ketamakan, kebencian dan kegelapan batin. Seseorang yang berprilaku seksual
menyimpang (Homoseksual, red) bisa saja mengikuti Buddha Dhamma. Karena ia
juga memiliki hak untuk itu. Kita harus mengerti bahwa penyimpangan pada
dirinya adalah bagian dari keputusan pribadinya, sedangkan pemilihan Buddha
Dhamma juga merupakan keputusan pribadinya yang lain. Memang idealnya,
setelah ia mengenal Dhamma, lambat laun,ia akan memperbaiki prilakunya
sehingga hilanglah kebiasaan yang dikatakan oleh lingkungannya sebagai
prilaku yang menyimpang itu.


Apakah Homoseksuality dilarang dalam Agama Buddha, dalam hal ini Umat Buddha
berkeluarga ?

Ya, karena ini termasuk melanggar Sila ke 3, yaitu melakukan perbuatan
asusila yang maksudnya adalah melakukan pemuasan nafsu indriawi yang
menyimpang. Apalagi jika yang di tekankan disini adalah 'umat berkeluarga',
karena bagi umat yang berkeluarga, hanya boleh melakukan hubungan seksual
dengan pasangannya yang resmi telah dinikahinya, maka seorang pria hanya
boleh berhubungan seksual dengan istrinya.


Apakah yang menyebabkan seseorang dilahirkan menjadi Homoseksual ?

Homoseks sebenarnya tidak harus karena kelahiran, ada juga yang terkondisi
oleh lingkungannya. Jenis ini, keputusan menjadi homoseks adalah keputusan
pribadinya, dan dia sendirilah yang menentukan karmanya saat ini yang akan
berbuah di masa mendatang.

Sedangkan, kalau homoseksual dianggap sebagai buah akusala kamma pada
kehidupan yang lampau, maka hal itu bisa terjadi karena kemelekatan
seksualnya pada kehidupan yang lampau. Mungkin pada kehidupan yang lampau si
homoseksual tersebut adalah seorang wanita yang melekat kepada pria
pujaannya, dan saat kehidupan yang sekarang, karma mereka menjadikan
terlahir dalam jenis kelamin yang sama. Padahal dorongan saling mencintainya
masih kuat. Akibatnya, mereka menjadi homoseks. Jadi Akusala Kamma yang
paling berpengaruh adalah kemelekatan tsb. 


Apakah kaum Homoseksual diperbolehkan menjadi seorang anggota Sangha ?

Sebenarnya tidak masalah, karena prilaku homoseks adalah merupakan kehidupan
masa lalu si calon bhikkhu. Sedangkan, apabila dia hendak memasuki kehidupan
kebhikkhuan, dia harus telah menghilangkan dahulu kebiasaan dia ini. Kalau
dia masih mempertahankan kebiasaannya seperti sewaktu sebagai umat, ia bisa
dikeluarkan dari kebhikkhuan.


Kusala Kamma (perbuatan baik) apakah yang dianjurkan kepada mereka agar
dapat menghilangkan kebiasaan tersebut ?

Sebenarnya kamma masa lampau pengaruhnya sedikit sekali pada kehidupan saat
ini, pengaruh terbesar dari kamma lampau adalah hanya pada saat kelahiran
(dimana dan dalam keadaan apa kita dilahirkan), untuk selanjutnya dalam
kehidupan saat ini yang berpengaruh adalah niat kita sendiri. Jadi jika si
homoseksual tersebut benar-benar berniat/ bertekad akan menghilangkan
kebiasaan tersebut maka kebiasaan itu dapat saja dihilangkan, karena kamma
tidaklah sama dengan 'nasib' yang dipercaya oleh banyak orang bahwa nasib
tidak bisa diubah. 

Salah satu cara untuk memperbaiki keadaan adalah banyak mempelajari dan
berdiskusi Dhamma, serta melaksanakan latihan sila dan bermeditasi. Dengan
memiliki pengertian dan latihan Dhamma yang memadai maka secara bertahap
pengertian akan sikap yang benar dan sesuai Dhamma akan muncul dan
berangsur-angsur kebiasaan tersebut akan berkurang lalu hilang.
 

---------------------------------------------------------------------
Milis Kelenteng - Quan Shui
URL: http://lists.quanshui.org
Posting, email: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke