Rekan-rekan, Ada satu artikel yang saya dapat di Internet. Bagaimana pendapat rekan-rekan?
Handoyo =============================================================== Sumber: Suman Personal Webpage URL: http://www.geocities.com/Athens/Pantheon/3723/ Pengaruh Ajaran Conficius dan Lauzi dalam Buddhisme Perkembangan Ajaran Buddha Gautama di daratan Tiongkok mempengaruhi filsafat hidup yang mendasari kehidupan di Tiongkok waktu itu yaitu paham ajaran Confucius dan Lau-Zi. Ajaran Confucius yang bersifat positif terhadap realitas dunia dan hubungan kemanusiaan serta bersifat menghindari pikiran-pikiran spekulatif dapat menerima kehadiran Buddhisme. Demikian juga ajaran Lau-Zi yang terkenal dengan gagasan 'Wu Wei' atau 'tidak berbuat ' atau membiarkan segala sesuatu terjadi sesuai dengan hukum alam , sehingga dapat disandingkan dengan 'sunyata' yang dianut dalam Buddhisme. Sekilas Pandang Sejarah Perkembangan Buddhisme di Tiongkok Walaupun terdapat literatur yang menyatakan bahwa Buddhisme telah berkembang di Tiongkok pada permulaan abad ke-3 SM (masa dinasti Kaisar Pertama - Shih Huang-Ti, 246-210 SM ), namun dipercayai Ajaran Buddha Gautama belumlah secara aktif dipropagandakan sampai awal abad pertama masehi (masa dinasti Han, Kaisar Ming Ti, 58-76 M). Diceritakan bahwa Kaisar Ming-Ti bermimpi tentang makhluk terbang yang bercahaya emas yang ditafsirkan sebagai perwujudan dari Sang Buddha. Kemudian Kaisar mengirimkan duta ke India yang berhasil membawa pulang Sutra Empat Puluh Dua Bagian (Sshu-shih-erl-chang-cing) yang tersimpan di vihara di luar kota Lo-Yang. Sutra ini dipercayai telah diterjemahkan oleh Kashyapamatanga dan Mdian Dharmaraksha. Pada kenyataannya, Buddhisme memasuki Tiongkok secara bertahap yang dimulai dari Asia Tengah dan kemudian melalui jalur sutra yang melewati Asia Tenggara. Abad Permulaan di Tiongkok Buddhisme yang mulai menyebar di Tiongkok selama dinasti Han, pada awalnya sarat dengan praktek mistik dalam usahanya beradaptasi dengan ajaran Taoisme yang lebih dikenal oleh masyarakat pada masa tersebut. Ajaran Buddhisme pada masa awal tersebut tidak begitu menekankan konsep tanpa diri atau roh [anatman/anatta], tetapi dalam usahanya menyesuaikan kepercayaan yang berkembang saat itu mengenai roh yang kekal, maka ditekankan mengenai Nirvana yang merupakan suatu alam yang kekal. Selain itu diperkenalkan juga hukum karma sebagai suatu nilai moral dan cinta kasih dan perlunya menahan nafsu keinginan. Sampai akhir dinasti Han masih tercatat adanya gambaran keterpaduan antara ajaran Taoisme dan Buddhisme khususnya dalam penekanan konsep kekekalan melalui praktek yang kontroversial. Dipercayai juga bahwa Lau-Zi telah bertumimbal lahir di India sebagai Buddha Gautama, sehingga terdapat banyak kaisar saat itu yang menyembah Lau-Zi dan Buddha Gautama dalam suatu altar yang sama. Terjemahan pertama sutra-sutra Buddhis dalam bahasa China, khususnya yang berkaitan dengan topik pengendalian napas dan meditasi mistik, banyak menggunakan kosa kata yang terdapat dalam Taoisme. Setelah dinasti Han, di Tiongkok bagian Utara, terdapat banyak bhikshu yang saat itu dimanfaatkan oleh kaisar sebagai penasihat pemerintahan khususnya yang berkaitan dengan politik militer dan keahlian mistik lainnya. Sementara itu di Tiongkok bagian Selatan, Buddhisme mulai menembus aspek filsafat dan Dharma sebagai pokok ajaran Sang Buddha. Salah satu kontribusi yang terpenting dalam perkembangan Buddhisme di Tiongkok saat itu adalah berbagai pekerjaan penerjemahan. Penerjemah yang terkenal saat itu adalah bhikshu Kumarajiva yang menguasai Veda Hindu, metafisika, astronomi, termasuk berbagai sutra dari Hinayana dan Mahayana. Selama abat ke-5 sampai ke-6 Masehi, telah bermunculan berbagai sekte dari India termasuk sekte baru di Tiongkok. Buddhisme menjadi suatu kekuatan intelektual yang sangat berpengaruh saat itu, sehingga mengalami perkembangan yang pesat sekali. Tidak mengherankan juga bahwa Buddhisme dinyatakan sebagai agama negara pada masa dinasti Sui (581-618 M) yang berhasil mempersatukan seluruh daratan Tiongkok. Buddhisme selama Dinasti T'ang Masa kejayaan Buddhisme di Tiongkok terjadi selama masa pemerintahan dinasti T'ang (618-907 M). Walaupun kebanyakan kaisar T'ang saat itu adalah pengikut Taoisme, mereka juga menghormati Buddhisme yang telah begitu terkenal. Selama masa pemerintahan dinasti T'ang, vihara dan sangha mendapatkan perlakuan yang baik dari pemerintahaan dan kehidupan bhikshu diakui secara sah oleh negara. Selama periode tersebut, tercatat banyak sekte yang berdiri dan beberapa diantaranya berhasil dengan tekun menyebarkan Dharma, serta telah berhasil mengajarkan sutra-sutra secara terpadu dan sistimatik. Tercatat banyak sekali jumlah vihara yang berhasil didirikan dan daerah-daerah yang dikuasai. Demikian juga dalam periode ini, tercatat banyak sekali para cendekiawan yang melakukan perjalanan ke India, suatu perjalanan suci yang sulit, berhasil memperkaya literatur Buddhisme di Tiongkok dalam bentuk naskah dan inspirasi intelektual ataupun spiritual yang dibawa pulang dari India. Walaupun begitu, Buddhisme tidak pernah berhasil menggantikan secara total kepercayaan Taoisme dan Confucianisme yang sama-sama berkembang saat itu. Hingga akhirnya pada tahun 845, pada masa pemerintahan kaisar Wu-tsung, dimulailah pemberantasan agama yang berasal dari luar Tiongkok. Menurut catatan yang ada, terdapat 4.600 vihara dan 40.000 tempat pemujaan Buddhis lainnya yang dimusnahkan, termasuk 260.500 bhikshu dan bhikshuni yang dipaksa untuk menjalani kehidupan dalam masyarakat sebagai orang biasa. Buddhisme setelah dinasti T'ang Walaupun Buddhisme di Tiongkok belumlah pulih kembali secara total sesudah era pemusnahan tahun 845, namun tetap dapat memainkan suatu peranan yang penting dalam kehidupan rakyat kebanyakan di Tiongkok waktu itu, berbagai tradisi dan peninggalan tetap dapat dipertahankan. Di satu sisi, Buddhisme berhasil mempertahankan identitasnya dan menghasilkan berbagai bentuk pemahaman baru yang dituangkan lewat berbagai karya naskah yang bernafaskan Buddhisme. Antara lain karya yang penting seperti, yu lu (Pepatah Tercatat), Hsi-yu-chi (Perjalanan Ke Barat), dsb. Di sisi lainnya, Buddhisme mulai menyatukan konsep ajarannya dengan ajaran Confucius dan tradisi Taoisme dengan membentuk suatu gabungan kepercayaan yang mencerminkan ketiga tradisi kepercayaan tersebut secara menggembirakan. Di antara berbagai sekte yang ada, terdapat dua sekte mempunyai pengaruh paling besar, yaitu sekte Ch'an (Zen) yang menekankan meditasi [dhyana/jhana], dan sekte Tanah Suci [Ching-Tu] yang menekankan puja bhakti. Sekte Ch'an membawa pengaruh cukup besar dalam kebudayaan melalui berbagai sarana termasuk hasil seni. Sebagai contoh, seniman Ch'an selama dinasti Sung (960-1279) sangat mempengaruhi hasil kreasi seni yang tertuang dalam lukisan alam Tiongkok. Para seniman tersebut menyampaikan citra bunga, sungai, dan pohon, yang dituangkan secara spontan, dengan tarikan yang penuh arti untuk mencerminkan pemahaman terhadap alunan dan kekosongan atas segala realitas. Sedangkan sekte Tanah Suci membawa pengaruh yang besar terhadap keseluruhan rakyat Tiongkok saat itu yang adakalanya dikaitkan dengan kegiatan kelompok rahasia, dan kegiatan pemberontakan rakyat yang menentang pemerintahan. Tetapi kedua sekte yang kelihatan memiliki tradisi yang berbeda sering saling berhubungan. Selama awal abad ke-20, Tiongkok mengalami gerakan pembaharuan Buddhis yang bertujuan untuk membangun kembali tradisi Buddhis China dengan menerapkan berbagai ajaran dan institusi yang disesuaikan dengan kondisi modernisasi saat itu. Namun, pengaruh perang China dan Jepang, dan pendirian partai komunis saat itu tidak begitu mendukung kegiatan Buddhis yang ada. Umat Buddhis menjadi korban tekanan pemerintahan pada masa Revolusi Kebudayaan (1966-1969). Sejak tahun 1976, pemerintahan China sudah mulai menunjukkan sikap kebijaksanaan yang lebih bertoleransi, tetapi perkembangan agama Buddha tetap sulit untuk ditentukan. Buddhisme Ch'an Tokoh utama perkembangan Buddhisme Ch'an di daratan Tiongkok adalah Bodhidarma (Tat Mo Cou Su), seorang bhikshu dari India Utara yang merantau ke Tiongkok pada tahun 520 M. Sehingga berkembang ajaran Ch'an Buddhisme yang merupakan salah satu aliran Buddhisme Mahayana dengan enam sesepuh yang dikenal , yaitu , Bodhidarma, Hui Khe, Shen Chie, Tao Sin, Hung Jen dan Hui Neng. Melalui sesepuh VI, Hui Neng , Ch'an Buddhisme berkembang dengan pesat. Dari Tiongkok ajaran Ch'an berkembang ke Jepang dan terkenal dengan istilah Zen. Ch'an diasosiasikan sebagai ajaran yang membatasi kata-kata, karena kata-kata tidaklah identik dengan Kebenaran. Hal ini dapat diibaratkan dengan telunjuk yang menunjuk bulan tetapi bulan tidak dapat menunjuk telunjuk dimana sesuai dengan sifat Tao dalam ajaran Lau-Zi, yaitu "Tao yang dapat dibicarakan bukanlah Tao yang sebenarnya atau yang abadi dan nama yang dapat diberikan bukanlah nama yang sejati" (Tao Tee Cing Bab I, 1. ) demikian juga bunyi ayat berikut , "Tiada nama itulah kondisi permulaan terjadinya Langit dan Bumi. Setelah ada nama itulah sumber dari segala benda." (Tao Tee Cing Bab I, 2) . Dalam Buddhisme dapat disamakan dengan ketidakkekalan [anicca] dan ketanpa-intian/ketanpa-akuan [anatta]. Ajaran Lau-zi yang menekankan Jalan Ketuhanan [TAO] yang mengatur hubungan antara manusia dengan alam semesta atau gejala-gejala alam di luar sifat manusia, dan ajaran Confucius yang melengkapinya dengan Jalan Kemanusiaan [JEN] dengan menekankan hubungan antar manusia dan lingkungannya dalam kehidupan bermasyarakat. Ajaran Buddha Gautama pada dasarnya dapat melengkapi ajaran Lau-Zi dan ajaran Confucius dengan menghubungkan TAO dan JEN dalam suatu perwujudan yang merupakan perluasan pengertian dari Jalan Tengah. --------------------------------------------------------------------- Milis Kelenteng - Quan Shui URL: http://lists.quanshui.org Posting, email: [EMAIL PROTECTED] Subscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
